Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Saling peduli


__ADS_3

"Pergi dari sini, aku tak sudi melihatmu lagi!" usir Anne dengan rahang mengeras, dadanya kembang kempis menahan amarah saat tau keponakannya telah menikah tanpa seizinnya.


"Baiklah bi," ucap Freesia pasrah,jawaban gadis itu tentu saja membuat Josh dan Lynda begitu terkejut. "Jaga diri bibi baik-baik," imbuhnya dengan mata memerah, sebisa mungkin Freesia menahan air matanya.


"Ayo kita pergi," ajak Freesia pada dua orang yang sedang menatapnya tak percaya, bagaimana mungkin gadis itu tidak mencoba untuk membujuk Anne.


"Biarkan Granny bicara pada bibimu dulu," ujar Lynda.


Freesia menggeleng dengan cepat. "Tidak sekarang grann, biarkan bibi tenang dulu," lirih Freesia, gadis itu lalu mendorong kursi roda Lynda keluar dari toko bunga tersebut dan di ikuti oleh Josh.


Setelah Lynda masuk ke dalam mobilnya, Freesia menghampiri Josh yang menunggunya di samping mobil.


"Tuan, karena kita sudah menikah apakah artinya saya bisa tinggal di tempat anda?"tanya Freesia dengan wajah datar,namun sorot matanya tak bisa berbohong jika gadis itu sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Tentu," jawab Josh, pria itu semakin merasa bersalah dan menganggap jika dia harus bertanggung jawab atas Freesia selama mereka terikat dalam hubungan pernikahan. "Sekarang kita kemana dulu?"


"Ke rumah, saya harus mengambil baju dan keperluan saya."


Josh mengangguk, pria itu lalu membukakan pintu mobil untuk Freesia.


"Terima kasih tuan," ucap Freesia pelan.


Josh tak menjawab, setelah Freesia berada di dalam mobil pria itu segera menyusulnya dan mengemudikan mobilnya menuju kediaman Freesia. Sekitar lima menit hingga keduanya tiba di depan rumah sederhana, Freesia turun dari mobil begitupun dengan Josh yang menyusul di belakangnya.


"Ya."


Freesia lalu pergi ke kamarnya, di dalam ruangan yang tak terlalu besar itu, Freesia duduk di tepi tempat tidurnya. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya keluar dan membasahi wajahnya yang cantik. Mengingat tatapan kemarahan Anne membuat dada Freesia terasa sakit, namun tak ada yang lebih menyakitkan lagi saat melihat wajah Anne bengkak akibat di pukul preman penagih hutang itu.

__ADS_1


"Maafin Frey bi, Frey tidak sanggup melihat bibi terluka. Semoga bibi mau memaafkan Frey," gumamnya sambil terisak. Setelah cukup puas menangis, Freesia lalu mengeluarkan koper dan mulai memasukkan baju serta keperluannya.


Setengah jam kemudian, Freesia keluar dari kamarnua dengan mendorong koper berukuran sedang serta tas ransel yang berada di punggungnya.


"Sudah selesai?" tanya Josh memastikan.


""Sudah, mari kita pergi."


Josh mengambil alih koper Freesia dan membawanya masuk ke dalam mobil, sementara Freesia masih berada di dalam rumah yang sudah di tempatinya beberapa tahun, rasanya begitu berat meninggalkan rumah yang di penuhi kenangannya saat bersama Anne. Namun Freesia harus kuat, gadis itu sudah bertekad untuk membantu Anne.


Sementara di toko bunga, Anne menatap kepergian mobil yang di tumpangi keponakannya. Wanita cantik itu menyeka air matanya dengan kasar. "Maafkan bibi Frey, bibi tidak bermaksud mengusirmu. Mungkin saat ini membiarkanmu pergi adalah keputusan terbaik yang harus bibi pilih. Bibi tidak ingin kau terlibat dalam masalah ini. Bibi akan mencarimu saat keuangan bibi jauh lebih baik," gumam Anne sedih, sama halnya dengan Freesia yang tak menginginkan bibirnya terluka, Anne pun tidak ingin jika sampai preman-preman itu datang lagi dan menyakiti Freesia. Pada dasarnya kedua wanita itu saling peduli dan menyayangi, hanya saja mereka terlalu gengsi untuk mengucapkannya.


Setelah merasa tenang, Anne kembali membereskan tokonya yang berantakan akibat ulah para preman tersebut. Namun tiba-tiba pintu tokonya terbuka, Anne menoleh dan sedikit terkejut melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Annastasya Zantman."


BERSAMBUNG...


__ADS_2