
Anne dan Jonathan sudah berada di villa milik Maggie Zantman, setelah bersusah payah membujuk Jo dan menenangkan pria itu, akhirnya Anne berhasil membawa Jo pulang menemui ibunya. Di saat yang bersamaan, Frey dan Josh juga datang untuk menjenguk Maggie, ini adalah kali pertama Josh bertamu ke rumah nenek mertuanya.
Josh dan Jo duduk berdampingan, kedua pria itu terlihat gugup apalagi saat Maggie menatap mereka dengan begitu tajam.
"Bagaimana kondisi anda nyonya?" tanya Josh setelah bersusah payah mengumpulkan keberaniannya. Sebenarnya bukan karena dia takut pada Maggie, hanya saja Josh merasa malu karena membiarkan Frey memainkan permainan licik untuk mendapatkan kembali saham miliknya.
"Hm, baik," jawab Maggie dengan datar.
"Syukurlah. Maaf karena aku dan Frey baru sempat mengunjungi anda karena kondisi Frey yang sangat tidak stabil," ujar Josh, kini pria itu memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap Maggie.
"Bagaimana kondisi bayi mu Frey?" Maggie melirik Frey yang duduk bersama Anne.
"Sehat oma, kata dokter bayinya perempuan," jawab Frey sambil mengusap perutnya yang mulai membesar.
"Bagaimana dengan kuliahmu?"
Frey menghela nafas panjang, dia sudah menyiapkan diri saat Maggie akan bertanya mengenai pendidikannya. "Aku cuti, setelah melahirkan aku akan kembali ke kampus. Oma tidak perlu khawatir karena Frey pasti akan melanjutkan study Frey!"
"Hm. Dan kau Ann, apa kau yakin pria itu bersedia menikahimu?"
__ADS_1
Anne menelan ludahnya dengan kasar, wanita itu meremas buku-buku jarinya dan seketika merasa gugup, dia khawatir Jo akan tiba-tiba pingsan dan membuat Maggie tidak merestui mereka. Anne menoleh dan menatap Jo penuh harap, semoga pria itu bisa mengendalikan dirinya.
"Saya bersedia nyonya. Sudah dua tahun sejak saya menunggu untuk menikahi Anne. Hari ini, saya meminta restu dari anda untuk menikahi Anne," Jo menjawabnya dengan lantang tanpa sedikitpun keraguan, meski jantungnya hampir melompat keluar namun Jo harus bisa bersikap tenang demi bisa bersama Anne, dia harus membuktikan pada Anne bahwa dia adalah pria yang tepat untuk Anne.
Anne begitu terharu mendengar jawaban Jo, inilah Jo yang di kenalnya dua tahun lalu, pria yang dengan berani mengungkapkan perasaannya, entah apa yang merasuki Jo kemarin sampai dia pingsan hanya karena Anne mengajaknya menikah.
"Apa kau mencintai Anne?" selidik Maggie.
"Saya sangat mencintainya, saya hampir gila karena Anne selalu menolak lamaran saya!"
"Apa kau bersedia meninggalkan keluarga Janzsen demi Anne?"
"Ibu," protes Anne tak terima dengan ucapan ibunya, seharusnya dia memang tidak boleh berharap lebih pada Maggie karena wanita itu pasti memiliki rencana dengan pura-pura mengizinkan Jo dan Anne untuk menikah.
"Janzsen adalah darah saya dan Anne adalah nafas saya. Saya tidak bisa memilih salah satunya karena saya tidak bisa hidup tanpa mereka," Jo menjawabnya dengan tegas, dia sudah bertekad meski Maggie tak merestui mereka Jo akan tetap menikahi Anne dan membawa wanita itu hidup bersamanya.
Frey dan Josh turut menegang, sepertinya cinta Anne dan Jo akan kembali di uji, mereka merasa prihatin, mereka juga kesal pada Maggie karena wanita tua itu sama sekali tak berubah.
"Anne akan tetap menikahi Jo meski ibu tak merestui hubungan kami! Ibu sama sekali tak berubah, Anne pikir ibu benar-benar merestui kami, tapi ibu tetaplah ibu, wanita egois yang hanya mementingkan hidupnya sendiri. sadarlah bu, keegoisan ibu telah membuat ibu kehilangan orang-orang yang menyayangi ibu, kali ini ibu akan benar-benar kehilangan Anne dan Frey!" Anne begitu kesal pada Maggie sehingga dia mengeluarkan sesutu yang di pendamnya sejak lama. Anne lalu berdiri dan menghampiri Jonathan, Anne lalu menarik tangan Jonathan dan mengajak pria itu pergi. "Ayo Jo kita pergi, kita akan tetap menikah dan hidup bersama!"
__ADS_1
Jo menahan tangan Anne dan menggeleng pelan. "Tidak Ann, kau tidak boleh bersikap seperti itu. Biar bagaimanapun Maggie adalah ibumu, kita harus mendapatkan restu darinya agar pernikahan kita bahagia Ann," ucapan Jo begitu bijak, bahkan Josh tak percaya jika kalimat itu keluar dari mulut saudara kembarnya.
"Tapi kau lihat sendiri kan Jo, wanita tua itu tidak memberi kita restu, dia malah menyuruhmu memilih antara aku dan keluargamu. Itu sangat tidak masuk akal Jo!"
"Oma, tolong pikirkan sekali lagi. Oma lihat sendiri bagaimana Jo mencintai bibi Anne, tolong pikirkan kebahagiaan bibi meski hanya sebentar saja!" sela Frey yang tidak tega melihat bibinya. Selama ini Anne sudah menderita karena merawatnya, Frey pikir kini saatnya Anne bahagia bersama pria yang mencintainya setulus hati.
Maggie menghambuskan nafasnya dengan berat, dia lalu menatap Anne dan Frey secara bergantian. "Seburuk itukah aku di mata kalian? Aku menyuruhnya meninggalkan keluarga Janzsen bukan berarti dia harus memutus hubungan, dia harus meninggalkan keluarga Janzsen karena dia harus membantu Anne mengurus bisnis milik Zantman. Aku juga tidak sejahat itu menyuruh seorang pria memutuskan hubungan keluarga hanya demi putriku!" jawab Maggie dengan sendu, dia sedih karena anak dan cucunya begitu buruk menilainya.
"Benarkah begitu oma?" tanya Frey tak percaya.
"Tanyakan saja pada Andrew. Aku berencana lengser dari jabatanku setelah Anne menikah dan suaminya mau melanjutkan bisnis keluarga kita!"
Andrew yang berdiri di belakang Maggie segera mengangguk saat mendapatkan tatapan penuh tanya dari Anne dan Frey.
"Ibu," pekik Anne dengan mata berkaca-kaca, benarkah Maggie mengatakan itu semuanya. Anne masih sulit untuk mempercayainya.
"Cepat bawa keluargamu kemari, lamar Anne secara resmi dan menikahlah secepatnya!"
"Baik nyonya!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ...