Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Nenek lampir


__ADS_3

Bersusah payah Jennifer membawa Josh ke kamar hotel yang sudah dia persiapkan. Jennifer merebahkan tubuh setengah sadar Josh di tempat tidur, wanita itu menatap Josh sambil tersenyum penuh kemenangan saat melihat Josh mulai berusaha membuka jas yang dia kenakan.


"Sabar sayang, aku akan melepaskannya untukmu," ujar Jennifer, wanita itu lalu naik ke atas tempat tidur melepaskan jas dan melemparnya ke sembarang arah. Jemari lentiknya mulai membuka satu per satu kemeja yang membungkus tubuh Josh, wanita itu menelan ludahnya berkali-kali melihat dada bidang yang di tumbuhi rambut halus.


Josh menggeliat saat merasakan sesuatu membelai dadanya, desa*han lembut mulai keluar dari mulutnya bersamaan dengan hawa panas yang semakin menguasai tubuhnya. Josh membuka matanya, dia terkejut melihat Jennifer sedang berada di atas tubuhnya seraya membelai dada hingga perutnya.


"Apa yang kau lakukan Jenn?" tanyanya dengan suara parau, Josh ingin pergi namun sesuatu di dalam tubuhnya menahannya dan memerintahkannya untuk tetap diam dan menikmati sentuhan Jennifer.


"Kau bangun dear, aku akan memberikan kenikmatan kepadamu malam ini," ucap Jennifer dengan suara menggoda, wanita itu membuka mantelnya hingga menampakkan gaun tipis transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, Jennifer memang sengaja memakai baju transparan agar membuat Josh semakin tergoda.. "Ayo kita bersenang-senang sayang," imbuhnya, dia lalu mencium bibir Josh dan tangannya mulai menggerayangi titik sensitif Josh.


"Lepas Jenn," meski telah di kuasai gairah, nyatanya Josh masih memiliki sedikit kesadaran, pria itu mendorong tubuh Jennifer meski wanita itu sama sekali tak bergerak.


"Ayolah dear, malam ini aku akan membuatmu puas," Jennifer akan mencium Josh lagi, namun suara ketukan pintu dan bel terus berbunyi membuatnya merasa kesal. Jennifer lalu turun dari tubuh Josh. "Tunggu sebentar dear," ucapnya sambil tersenyum, wanita itu lalu berjalan menuju pintu dan membukanya. Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Jennifer melihat Freesia berdiri di depan kamarnya.


"Kau," pekiknya dengan sorot amarah.


"Akhirnya aku menemukanmu nenek lampir," umpat Freesia. "Dimana suamiku?" tanyanya dengan tatapan jijik, melihat Jennifer yang hanya menggunakan kain tipis untuk menutupi tubuhnya.


"Suamimu, hahah," Jennifer tertawa seolah mengejek Freesia. "Dia itu kekasihku dan kami akan bersenang-senang, anak kecil sepertimu lebih baik pulang dan belajar di rumah!"

__ADS_1


"Kekasih? hahah," kini giliran Frey yang mencemooh Jennifer. "Dengar baik-baik nenek sihir, aku dan Josh sudah menikah, jadi lebih baik kau yang pulang dan beli bahan untuk membuat baju yang layak. Sayang sekali, kau cantik tapi murahan."


"Beraninya kau menghinaku gadis sialan," Jennifer hendak menampar wajah Frey, namun Frey lebih dulu menahan tangannya.


"Semua yang aku katakan adalah fakta, kau bahkan tidur dengan calon mertuamu sendiri, apa namanya kalau bukan murahan?" Frey menghempaskan tangan Jennifer dengan kasar, meski kalah tinggi namun Frey cukup menang soal tenaga.


"Kau," geram Jennifer, tangannya kembali melayang di udara dan kali ini berhasil menampar wajah Freesia dengan keras, meninggalkan bekas kemerahan di wajah cantik Frey.


"Aish, berani kau menamparku," Frey memegangi wajahnya yang terasa panas, gadis kecil itu marah lalu menarik tangan Jennifer dengan kasar hingga tubuh Jennifer terhuyung ke depan dan berakhir terjelembab di lantai. Saat Jennifer sedang berusaha berdiri, dengan cepat Frey masuk ke dalam kamar di mana Josh berada, Frey lalu mengunci pintu dan membiarkan Jennifer berada di luar dengan tubuh yang hanya di tutupi kain tipis.


Jennifer kembali menggeram, wanita itu bangun dan segera menggedor pintu kamar dengan sangat keras. "Buka pintunya gadis sialan," teriaknya dengan amarah yang memuncak. "Buka!" teriaknya lagi hingga menimbulkan kegaduhan, beberapa orang yang menginap di lantai yang sama keluar dari kamar mereka dan menatap aneh ke arah Jennifer, bayangkan saja wanita itu berada di luar kamar dengan pakaian yang begitu tipis dan transparan.


Sementara di kamar hotel, Freesia mendekati Josh yang tengah menggeram menahan hasrat, pria itu kini hanya memakai celana boxer yang membungkus tubuh bagian bawahnya.


"Josh, apa yang terjadi padamu?" tanya Freesia panik saat melihat wajah Josh yang begitu merah.


"Frey kau datang," ucap Josh, tanpa dia sadari seutas senyum terbit di wajahnya. "Frey bantu aku," pintanya dengan suara bergetar, pria itu berjalan lebih dekat meski dengan langkah terseok sehinga keduanya saling berhadapan.


"Apa yang bisa aku bantu Josh?"

__ADS_1


"Tolong bawa aku ke kamar mandi."


Frey mengangguk, dia lalu memapah Josh menuju kamar mandi. Setibanya di dalam kamar mandi, Josh menunjuk shower dan Freesia segera membawa Josh ke bawah shower. Namun belum juga Frey minggir, Josh lebih dulu menyalakan air hingga keduanya terguyur air dingin dari shower tersebut.


"Josh bajuku basah," lirih Freesia, tanpa gadis itu sadari suara lirihnya malah semakin membakar sesuatu di dalam tubuh Josh. Pria itu menatap tubuh Freesia yang basah, tatapannya berhenti tepat di dada sang gadis, bajunya yang basah membuat dadanya terlihat lebih nyata.


"Frey aku tidak tahan lagi," ucap Josh dengan suara serak, matanya kini terselimuti kabut gairah, tanpa aba-aba pria itu mencium bibir Freesia dengan kasar.


"Hemmpp," Freesia berusaha mendorong tubuh Josh. "Apa yang kau lakukan Josh?" tanyanya ketakutan, Frey belum menyadari jika Josh tengah di liputi hormon dewasa akibat obat yang di berikan oleh Jennifer.


"Air dingin ini tak membantu Frey, hanya kau yang bisa membantuku!"


"Tapi apa yang harus aku lakukan?" Freesia bertanya dengan bibir bergetar, antara takut dan dingin bercampur menjadi satu.


"Bercinta denganku."


BERSAMBUNG....


Unboxing nggak nih gays?hahha

__ADS_1


__ADS_2