
Frey dan Axel duduk di taman yang berada di belakang mansion keluarga Janzsen, Josh sengaja mempertemukan mereka berdua agar keduanya bisa bicara dari hati ke hati mengenai fakta di balik kecelakaan pesawat yang menimpa Frey dan kedua orang tuanya.
Axel yang biasanya sangat ceria tiba-tiba berubah menjadi pendiam, pemuda itu bahkan tak memiliki keberanian lagi untuk sekedar menatap wajah Freesia, wajah yang dulunya selalu menjadi medan maghnet ketika mereka bersama.
"It's okay Axe, loe nggak salah apa-apa, loe nggak perlu merasa bersalah sama gue," ya, Freesia memutuskan untuk mengakhiri aksi saling diam mereka, dia tau jika Axel sedang di landa rasa bersalah atas kesalahan dady nya di masa lalu. Namun Frey adalah gadis dengan pikiran terbuka, dia tidak akan menyalahkan Axel hanya karena Axel anak dari Jerry Janzsen. Frey juga sadar, dalam masalah ini, Axel tidak pantas untuk di salahkan.
"Axe, gue nggak papa, gue baik-baik aja sekarang," imbuh Frey karena sejak tadi Axel hanya diam dengan kepala tertunduk.
"Tapi gue nggak baik-baik aja Frey," jawab Axel pada akhirnya, pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Frey dengan mata berkaca-kaca.
"Why? Loe nggak perlu merasa bersalah karena loe sama sekali nggak salah. Gue nggak marah sama loe!"
"Nggak bisa Frey, gue nggak bisa. Gue bener-bener benci sama keadaan ini Frey. Selama ini gue berusaha buat lindungin loe dan nggak mau bikin loe sedih, tapi kenyataannya keluarga gue lah yang paling nyakitin loe. Gue nggak tau apakah besok gue masih punya keberanian buat ketemu loe lagi, buat natap loe lagi atau sekedar nanyain kabar loe!"
Frey memeluk Axel dan menepuk punggung pemuda itu dengan pelan. "Kalau loe emang ngerasa bersalah sama gue, loe harus menebusnya seumur hidup loe!'
"Gue bakal lakuin apapun demi menebus semua kesalahan dady gue!" jawab Axel tanpa keraguan.
"Kalau gitu loe harus selalu jadi sahabat gue, loe harus selalu ada saat gue butuh. Loe harus tetep jadi Axel yang gue kenal. Kalau setelah ini loe berubah, gue nggak bakal maafin loe Axe!" ucap Frey dengan air mata berderai, dia sungguh tidak ingin kehilangan Axel karena selain Cia dan Kayli, Axel juga bagian terpenting dalam hidupnya.
"Loe nggak marah sama gue?" tanya Axel dengan suara parau, entah sejak kapan pemuda itu mulai menangis.
"Buat apa gue marah sama loe. Asal loe janji nggak akan berubah, gue nggak akan marah sama loe!"
Keduanya lalu sama-sama meluapkan kesedihan mereka, Axel bahkan menangis tersedu-sedu di pelukan Frey. Mulai detik ini, dia berjanji akan selalu melindungi Frey dan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Frey meski itu Josh sekalipun.
__ADS_1
Setelah bertemu Axel, Frey kini berada di ruang keluarga bersama anggota keluarga Janzsen. Frey tak banyak bicara karena sejak tadi Jerry dan Willy tak henti-hentinya memohon maaf padanya. Jujur, jauh di dalam lubuk hatinya Frey sunggung menyayangkan sikap tak bertanggung jawab Jerry di masa lalu, jika saja Jerry berani berterus terang sejak awal mungkin saja Frey tak akan menyiakan waktu dua tahunnya untuk berpisah dari Josh. Karena hal ini, Frey juga merasa bersalah pada Maggie, dia pikir Maggie hanyalah wanita tua yang di selimuti dendam, namun jika mengingat perbuatan Jerry, Frey memaklumi mengapa neneknya sampai bertindak sejauh itu.
"Tolong beri Frey waktu. Jujur saja Frey kecewa karena sejak awal uncle Jerry tak pernah mengatakan apapun. Bahkan saat Frey berjuang merebut kembali saham Josh dari oma, uncle tetap diam dan menyembunyikan kesalahan uncle," ucap Frey setelah sekian lama diam, entah karena hormon kehamilannya atau karena dia benar-benar kecewa, sulit sekali bagi Frey untuk memaafkan Jerry Janzsen.
"Josh, ayo kita pulang!" ajak Frey dan Josh hanya mengangguk. Frey beranjak dari tempat duduknya, dan tanpa sepatah katapun wanita hamil itu keluar dari mansion tersebut.
Selama perjalanan pulang, Frey hanya diam. Gadis itu sedang merenungi sepenggal kisah hidupnya yang menyakitkan. Fakta jika kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya adalah sebuah kelalaian membuat Frey merasa hancur, dia marah, namun dia juga tak bisa melampiaskan kemarahannya. Dia hanya bisa menangis dan berharap kedua orang tuanya tak membencinya karena Frey tetap bertahan di tengah keluarga Janzsen.
Josh sesekali mengamati Frey dari kaca spion, melihat raut wajah sang istri membuat Josh merasa bersalah. Sejak awal, seharusnya dia mencari tau yang sebenarnya saat Maggie Zantaman mulai mengganggu keluarganya. Namun bodohnya dia terlalu percaya pada omongan Lynda dan Jimmy dan ikut meyakini jika kecelakaan pesawat itu adalah tanggung jawab pilot yang melakukan aksi bunuh diri.
Setibanya di rumah, Josh membiarkan Frey menenangkan diri. Dia tak mengikuti Frey ke kamar karena dia yakin Frey sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Josh dan Katherine duduk di sofa yang berada di kamar Katherine, mereka sengaja menjaga Frey dari jarak terdekat.
"Momy benar-benar tak percaya jika Jerry yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu," ucap Katherine tak percaya. Dahulu dia bertanya-tanya mengapa tiba-tiba Jerry memutuskan untuk tidak melanjutkan bisnis keluarga dan memilih mendirikan bisnisnya sendiri, kini Katherine sudah tau jawabannya, Jerry ingin lari dari tanggung jawab.
"Mau bagaimana lagi Josh, tugas kita sekarang hanya perlu menjaga Frey dan melindunginya sebagai tanda permintaan maaf, meski perbuatan kita tak bisa di maafkan. Jika momy jadi Frey momy pasti akan mengamuk dan mamaki semua orang, tapi gadis itu tidak melakukannya. Dia benar-benar memiliki hati yang bersih!"
"Karena itulah Josh mencintainya mom!"
Di dalam kamar, Frey menangis seorang diri. Sebenarnya dia juga tidak tau apa yang dia tangisi karena sudah sangat lama dia mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya.
Lelah menangis, tiba-tiba Frey ingin memeluk suaminya. Tak peduli jika nanti dia akan muntah atau pingsan, saat ini Frey hanya butuh pelukan dari Josh.
Frey meraih ponselnya lalu menghubungi Josh, dan tak butuh waktu lama Josh segera masuk meski pria itu hanya berdiri di ambang pintu untuk menjaga jarak aman.
"Kau butuh sesuatu Love?" tanya Josh dengan wajah panik karena tiba-tiba Frey menelfonnya dan menyurhnya ke kamar secepat mungkin.
__ADS_1
"Josh," panggil Frey dengan pelan.
"Ya Love, katakan apa yang kau butuhkan!"
"Peluk aku!" pinta Frey seraya mengangkat kedua tangannya.
"Tapi aku bau Love, bagaimana kalau kau muntah!" tolak Josh penuh pertimbangan.
"Aku hanya ingin di peluk olehmu Josh!"
Melihat wajah sendu istrinya membuat Josh tak tega, perlahan pria itu melangkahkan kakinya mendekati sang istri, karena tak ada respon negatif seperti mual dari istrinya, Josh terus melangkahkan kakinya hingga mengikis jarak di antara mereka.
Frey menghambur ke dalam pelukan suaminya, dia kembali menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang suami. Josh mengusap kepala Frey dengan lembut, membiarkan sang istri meluapkan kesedihannya.
"Lampiaskan Frey, luapkan amarahmu. Aku bersedia menerima kemarahanmu, tapi jangan pernah tingalkan aku," ucap Josh sesaat setelah Frey berhenti menangis.
Frey melelaskan pelukannya, gadis itu mendungakan kepalanya dan menatap Josh. "Bagaimana aku bisa meninggalkanmu sementara untuk bisa bersamamu aku harus berjuang melewati segala macam rintangan. Aku tidak akan pernah melepaskanmu Josh, sedikitpun tak pernah terlintas di benakku untuk meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu Josh!"
Air mata meluncur begitu saja di wajah Josh, dia sangat beruntung karena bertemu gadis seperti Freesia, gadis yang memiliki hati bak malaikat.
"Aku juga sangat mencintaimu Love, aku sangat mencintaimu sampai aku takut kau akan meninggalkanku suatu hari nanti. Berjanjilah untuk selalu bersamaku Love!"
Frey mengangguk, gadis itu lalu menangkup wajah suaminya dan mencium bibir sang suami dengan lembut. Keduanya lalu larut dalam ciuman yang hangat, sampai mereka lupa jika Frey tak merasa mual lagi saat bersama dengan suaminya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1