
Joshua menatap Freesia yang berjalan pincang masuk ke dalam rumah nya, saat gadis itu tak terlihat lagi, Josh baru sadar jika dia bahkan tidak tau siapa nama gadis itu. Ketika di rumah sakit, dia mendaftarkan nama gadis itu dengan nama adiknya.
"Setidaknya aku sudah bertanggung jawab," gumam Joshua, pria itu lalu meninggalkan komplek perumahan milik Freesia.
Sementara itu, Freesia mengendap-endap masuk ke dalam rumah yang sudah gelap, bak seorang maling, Freesia berjalan ke kamarnya tanpa meninggalkan suara apapun.
Namun belum sempat dia sampai di kamarnya, lampu tiba-tiba menyala. Freesia memejamkam matanya sejenak, mencoba menenangkan dirinya yang kini tengah tertangkap basah.
"Dari mana saja kamu?" tanya Anne tak bersahabat.
Freesia terbalik dan tersenyum bodoh di depan bibinya. "Ah, anu, itu, Frey habis jalan-jalan sama Kaily dan Cia bi," bohong Freesia.
"Oh ya, bibi baru saja menelfon mereka dan mereka bilang tidak pergi bersamamu?" sahut Anne seraya menatap tajam keponakannya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
Freesia gelagapan, entah alasan apa lagi yang harus dia berikan kepada bibinya. "Maaf bi, sebenarnya Frey dari rumah sakit," tak ada pilihan lain selain berkata jujur, gadis itu lalu mendekati bibinya dan meriah tangan sang bibi yang terlipat di dada. "Jangan marah ya," rayu Freesia dengan senyum termanisnya.
"Kenapa kau pergi ke rumah sakit?" tanya Anne, kemarahan nya berganti menjadi rasa khawatir.
"Sebenarnya kaki Frey terkilir karena di serempet mobil, dan..."
"Apa? Kau di terserempet mobil? Apa lukanya parah? Kenapa tidak memberi tahu bibi kalau kau kecelakaan! Oh Astaga, kau harus lebih hati-hati Frey!" potong Anne dengan rentetan pertanyaannya. Wanita itu terlihat panik saat memeriksa seluruh tubuh keponakannya.
"Aku baik-baik saja bi, sungguh!" jawab Freesia menenangkan bibinya. "Pria yang menyerempetku memaksaku ke rumah sakit, jadi aku tidak sempat pamit sama bibi," imbuh Freesia menjelaskan kejadian sore tadi.
"Bibi hanya sangat takut, bibi pikir kau pergi meninggalkan bibi."
Freesia melangkah lebih dekat, gadis kecil itu lalu memeluk bibinya. "Mana mungkin aku pergi, bibi satu-satunya keluarga yang aku punya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Meski kadang tak memiliki jalan pikiran yang sama, nyatanya kedua wanita beda generasi itu saling menyayangi satu sama lain, keduanya saling tergantung karena sejak dulu selalu hidup berdua.
__ADS_1
"Sebaiknya kau istirahat," ucap Anne seraya mengurai pelukan keponakannya, dengan hati-hati Anne menuntun Freesia masuk ke dalam kamarnya.
"Tidurlah," pangkas Anne setelah membaringkan tubuh Freesia di atas tempat tidur.
"Selamat malam bi," ucap Freesia seraya tersenyum.
"Selamat malam gadis nakal!"
Sementara di sebuah rumah mewah dengan halaman yang begitu luas, Josh memarkirkan mobilnya setelah mengantar Freesia ke rumah sakit. Pria itu masuk ke dalam rumah besar tersebut, setibanya di dalam rumah rupanya Jennifer sedang menunggunya.
"Josh, kau ini dari mana? Satu jam lebih aku menunggumu!" sungut Jennifer dengan wajah kesalnya.
Joshua segera menghampiri calon istrinya, pria itu lalu memeluk Jennifer dengan penuh kasih sayang. "Sorry, aku ada urusan sebentar," jawab Josh pelan.
"Urusan apa?" cecar Jennifer penasaran.
Mendengar penjelasan calon suaminya, Jennifer mulai melunak, wajah kesalnya kini hilang dan di gantikan oleh senyum manis namun penuh kepalsuan. "Kau memang pria yang sangat baik, aku sangat beruntung memiliki mu," pujian Jennifer terdengar tulus.
"Aku juga sangat beruntung memiliki mu Jen. Aku sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu Josh," balas Jennifer jujur, namun meski Jennifer mencintai Josh, nyatanya wanita itu tak cukup dengan satu cinta, dia masih bermain api dengan beberapa pria yang mampu memberikannya kemewahan dan kenikmatan. Selama menjalin kasih bersama Josh, pria itu selalu menolak keinginannya untuk bercinta. Dengan alasan terpaksa, Jennifer mencari pria kaya yang mau menidurinya dan memberikannya uang.
***
Di ruang kelas yang masih sangat sepi, Freesia duduk seorang diri seraya menatap kakinya yang masih terasa sakit. Pagi-pagi sekali, Anne memaksanya mengantar ke sekolah, karena tak mau membuat Anne khawatir, akhirnya Freesia menerima tawaran Anne dan berakhir menjadi siswa teladan yang datang lebih awal dari petugas kebersihan sekolah.
"Bibi Anne, kau memang luar biasa. Sekarang apa yang harus aku lakukan di sini?" gerutu Freesia, netranya mengedar ke seluruh ruangan yang masih kosong.
__ADS_1
Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba terdengar derap sepatu yang terdengar semakin dekat. Freesia menatap pintu sambil menunggu siapa pemilik langkah yang terdengar berat itu.
"Axel,"cicit Freesia saat melihat seorang pemuda melewati depan kelasnya.
Axelio, ketua OSIS super keren dan super tampan yang menjadi idola hampir seluruh siswi di SMA Angkasa. Tak hanya itu, Axelio juga memiliki IQ di atas rata-rata, sehingga kata sempurna selalu mengikuti setiap namanya di sebut. Sayangnya, meski banyak gadis yang mengejarnya, namun pemuda yang biasa di panggil Axel itu tidak tertarik sama sekali untuk menerima cinta dari teman sekolahnya, sehingga isu Axel seorang Gay tersebar luas di sekolah Elit milik J&J Company. Sebuah perusahaan raksasa yang memiliki maskapai penerbangan terbesar di Indonesia, tak hanya itu J&J Company juga memiliki yayasan sekolah berstandar Internasional yang banyak di lirik para orang tua dari keluarga konglomerat.
Lalu bagaimana si miskin Freesia bisa bersekolah di sekolah Elit itu?
Freesia merupakan gadis yang sangat pintar, karena kepintarannya Freesia berhasil mendapatkan program beasiswa penuh yang di berikan J&J Company kepada siswa miskin yang berprestasi.
"Kenapa dia berangkat pagi sekali?" ucap Freesia bermonolog, tak biasanya dia melihat Axel berada di sekolah selagi ini. Karena meski tampan dan pintar, nyatanya Axel memiliki kebiasaan buruk yaitu datang telat ke sekolah, namun pihak sekolah tak berani menegurnya karena pemuda itu keponakan dari pemilik sekolah tersebut.
"Frey," panggil seseorang dan sontak membuat Freesia terkejut.
"Oh astaga Axel, loe hampir bikin gue jantungan!" ucap Freesia kesal.
"Sorry, abis gue lihat loe melamun. Tumben loe pagi-pagi udah datang?" Axel yang awalnya berdiri di ambang pintu kini berjalan mendekati Freesia, pemuda itu lalu duduk di sebelahnya.
Freesia menatap Axel bingung, tak biasanya pemuda itu mau berbicara dengannya. "Loe kesambet setan dimana? Tumben Loe mau ngobrol sama manusia, dan lagi seharusnya gue yang nanya sama loe, si raja telat ada angin apa berangkat pagi-pagi sekali?" jawab Freesia panjang kali lebar.
"Gue ada urusan," jawab Axel singkat, netra birunya menatap lembut gadis berambut cokelat yang duduk di sebelahnya.
"Urusan apa?" tanya Freesia penasaran.
"Urusan hati, gue pengin berduaan sama loe."
BERSAMBUNG...
__ADS_1