Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Kalung turun temurun


__ADS_3

Josh dan Jennifer duduk bersebelah di restoran yang juga di kunjungi Freesia dan bibinya. Jennifer sama sekali tak melepaskan Josh, wanita itu bergelanyut manja di lengan Josh, sementara Josh hanya tersenyum melihat tingkah calon istrinya.


"Sayang, setelah menikah nanti aku ingin honeymoon ke Eropa," pinta Jennifer dengan manja.


"As your wish dear," jawab Josh tanpa keraguan, pria itu lalu mengecup pucuk kepala Jennifer. Joshua sangat mencintai Jennifer karena wanita itu telah menemaninya selama tiga tahun terakhir, apapun akan dia lakukan demi membahagiakan Jennifer.


Sementara di kursi yang lain, Freesia terkejut mendengar ucapan wanita yang duduk di sebelah Josh.


"Apa? Menikah?" gumam Freesia dengan mulut menganga, gadis kecil itu tak percaya jika pria impiannya akan segera menikah.


"Jadi dia yang bernama Lynda," sambung Freesia saat mengingat seratus tangkai munga mawar merah beserta ucapan cintanya kepada seseorang bernama Lynda.


"Frey kau ini kenapa?" tanya Anne yang sontak membuat Freesia terkejut.


"Eh, itu, anu bi," Freesia bingung harus menjawab apa.


"Anu,itu, apa maksudmu? Cepat habiskan makananmu, kita harus cepat ke toko bunga!"


"Iya bi."


Freesia bahkan sudah tak bernafsu melihat steak yang ada di atas piringnya, namum demi menghargai niat baik bibinya, Freesia terpaksa menghabiskan makanannya. Setelah makanan mereka habis, Anne membantu Freesia berjalan keluar menuju mobil mereka.


Dari tempat duduknya, Josh tak sengaja melihat kepergian Freesia dan Anne, pria itu memperhatikan langkah kaki Freesia dan segera mengingatkannya pada gadis yang di serempetnya.


"Tidak mungkin dia," batin Josh mengelak pemikirannya.


"Josh, kapan aku bisa bertemu tuan Janszen," tanya Jennifer penuh harap, pasalnya selama mereka berpacaran belum sekalipun Jennifer bertemu dengan tuan Janszen, ayah dari Josh.


"Dady akan pulang saat kita menikah," jawab Josh lembut, tangannya yang kekar membelai wajah calon istrinya dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


"Kenapa dady mu sangat sibuk sih, aku bahkan belum pernah bertemu dengannya selama kita bersama," keluh Jennifer dengan wajah masam.


"Jangankan dirimu Jenn, aku saja sangat jarang bertemu dady, kita sama-sama sibuk bekerja."


Jennifer menghela nafas berat, namun detik selanjutnya wanita itu tersenyum. "Baiklah, aku akan bersabar sampai hari pernikahan kita. Semoga dady mu menyukai aku ya!"


Josh mengusap kepala Jennifer, mata birunya menatap wajah calon istrinya dengan tatapan penuh cinta. "Tentu saja, aku yakin dady akan sangat menyukaimu. Sekarang lebih baik kita makan dulu, lalu kita akan pergi ke rumah karena Jovanka sudah menunggu kita."


"Jovanka? Untuk apa dia datang ke rumah kita?" tanya Jennifer dengan nada tak suka. "Maksudku kenapa Jovanka tidak bilang padaku kalau mau datang, aku kan bisa menyiapkan cake kesukaannya," Jennifer meralat kalimat pertamanya, dia tak ingin Josh tau jika dia tak terlalu menyukai calon adik iparnya.


"Kita makan dulu, setelah itu kita pergi ke toko kue langganan Jovanka."


Keduanya lalu makan dengan tenang. Setelah selesai mereka meninggalkan restoran dan menuju rumah yang akan mereka tempati setelah menikah nanti. Sebelum pulang, mereka mampir di toko kue langganan keluarga Janszen.


"Jov," sapa Jennifer setengah berteriak, wanita itu berlari menghampiri seorang gadis dengan rambut pirang dan bermata biru.


"Hay Jenn," balas Jovanka, gadis itu lalu memeluk calon kakak iparnya.


"Kau datang sendirian?" tanya Jennifer yang segera melepas pelukan calon adik iparnya.


"Ya. Aku hanya mampir karena momy ingin memberikan ini kepadamu," Jovanka merogoh tas mewahnya, gadis itu lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan memberikannya kepada Jennifer.


"Apa ini?" Jennifer manatap kotak tersebut dengan penuh tanya.


"Buka saja," ujar Jovanka.


Jennifer membuka kotak tersebut, wanita itu sedikit terkejut melihat sebuah kalung bertahtakan berlian, namun sayangnya Jennifer tidak terlalu tertarik karena menurutnya model kalung itu sudah sangat kuno. "Kalung siapa ini Jov?" tanyanya seraya menatap sang adik ipar.


"Milik momy, dan momy ingin kakak memakainya. Kalung ini adalah kalung turun temurun keluarga Janszen," jawab Jovanka apa adanya.

__ADS_1


"Oh my god, aku sangat terharu," ucap Jennifer bohong, mana mungkin sebuah kalung kuno membuat wanita yang gemar mengoleksi perhiasan itu terharu, dia bahkan tidak tertarik sama sekali.


"Baiklah karena tugasku sudah selesai maka aku harus pergi!"


"Kenapa tidak masuk dulu Jov," tahan Josh saat adiknya akan pulang.


"Tidak kak, aku ada pemotretan!" tolak Jovanka, setelah mencium pipi sang kakak, gadis itu lalu pergi meninggalkan kakak dan calon kakak iparnya.


Setelah kepergian adiknya, Joshua meraih kalung yang berada di tangan Jennifer dan berniat memakaikannya di leher sang kekasih.


"Apa yang kau lakukan Josh?" tanya Jennifer terkejut.


"Aku akan memakaikan kalung ini."


"Tidak Josh. Maksudku aku akan memakainya nanti saat kita sudah menikahah," kilah Jennifer karena dia enggan memakai kalung yang tak menarik baginya.


"Kenapa harus menunggu sampai kita menikah. Sejak kau menerima lamaranku itu artinya kau sudah menjadi bagian dari keluargaku Jenn."


"Dengar Josh, aku hanya ingin memakainya di hari pernikahan kita, setelah itu aku akan memakainya seumur hidupku!"


"Baiklah kalau begitu. Oh ya besok sebelum aku berangkat bertugas, aku akan mengajakmu menemui momy. Kau mau kan?"


"Tentu saja sayang!" Jennifer tersenyum meski hatinya merasa kesal. Dia mengingat kembali saat pertama kali Josh mengajaknya menemui momy serta neneknya di rumah mereka yang tak terlalu besar. Kedatangannya waktu itu tak di sambut baik oleh sang nenek yang dengan terang-terangan menolak hubungannya bersama Joshua. Sejak kejadian itu, Jennifer merasa kesal tiap kali Josh membawanya pulang ke rumah.


Sementara di toko bunga, Freesia duduk termenung di kursi yang berada di belakang meja kasir. Gadis kecil itu terlihat murung dan sesekali menarik nafas yang terdengar begitu berat.


"Memang sih sebelum janur kuning melengkung aku tidak boleh menyerah, tapi melihat calon istrinya saja aku sudah insecure. Wanita itu sangat cantik, dada dan bokongnya juga sangat montok. Berbeda dengan milikku yang tepos ini," Freesia bergumam seraya menunduk dan memperhatikan dadanya yang tak terlalu besar itu, lagi-lagi gadis kecil itu menghela nafas berat karena mengakui kekalahannya.


"Sepertinya mantraku kurang mujarab. Semoga saja pernikahannya batal!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2