
Kini bukan hanya rumah Josh yang di kerumuni wartawan, para pemburu berita itu juga datang ke mansion utama, untung saja di mansion tersebut begitu ketat sehingga para wartawan itu hanya bisa menunggu di balik pagar dengan tinggi menjulang.
Sudah dua hari sejak Frey menginap di mansion utama, dan dua hari itu pula dia terpaksa tidak masuk sekolah karena wartawan selalu mengejarnya, namun selama itu pula Josh belum memberi kabar, padahal berita tentang keduanya semakin memanas saat terungkap fakta jika Josh sebelumnya akan menikahi model papan atas, Jennifer Scott.
Pagi ini Frey berniat untuk sekolah, tak ada lagi alasan untuk sembunyi. Keluarga Janzsen sudah semaksimal mungkin membungkam media, dan mungkin kini saatnya Frey untuk menghadapi para pemburu berita tersebut.
Frey bergabung dengan yang lainnya di meja makan, semua orang memperhatikan gadis yang kini sudah memakai seragam lengkap itu.
"Kau yakin akan ke sekolah?" tanya Lynda dengan cemas.
"Yakin Grann, sampai kapan Frey harus bolos dan bersembunyi," jawab Frey dengan senyum sendunya.
"Biar aku yang mengantar kakak ipar ke sekolah, aku takut wartawan sialan itu bertanya yang aneh-aneh!" ucap Jonathan yang turut khawatir dengan kondisi Frey, apalagi dia juga tau jika Josh sedang tidak bisa di hubungi.
"Terima kasih Jo, tapi aku akan berangkat bersama Axel. Sebentar lagi mungkin dia datang," tolak Frey karena sebelumnya dia sudah menghubungi Axel untuk datang menjemputnya.
"Ekhem," katherine berdehem dan menarik perhatian semua orang. "Menurutku lebih baik kau bolos saja dulu. Atau kau keluar saja dari sekolah, kau bisa home schooling kan?"
"Tidak nyonya, lagi pula apa salah saya. Kenapa juga saya harus bersembunyi," Frey mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri, jujur saja dia sangat membutuhkan Josh saat ini.
"Bersabarlah sebentar, kami sedang berusaha membungkam media," sahut Jimmy.
"Terima kasih tuan."
"Tenang Frey, aku akan membalas rubah betina itu," kata Jovanka sambil melirik ibunya. "Momy lihat kan, seperti apa calon menantu idaman momy, cantik tapi busuk!"
Katherine hanya diam, selama ini dia memang keliru, namum dia tak menyangka jika Jennifer bisa berbuat nekat, dia bahkan memutar balikan fakta dan menuduh Josh mengkhianatinya di hari pernikahan mereka.
Setelah sarapan bersama, Frey menyalimi semua orang dan pamit untuk ke sekolah. Di luar rumah, Axel sudah menunggunya. Hari ini dia membawa mobil agar para wartawan yang berada di luar mansion tak mengetahui jika Frey pergi ke sekolah.
"Loe baik-baik aja kan?" tanya Axel, pemuda itu begitu khawatir melihat wajah Frey yang sedikit pucat karena kurang tidur.
"I'm fine Axe. Thanks ya, loe mau bantuin gue," ucapnya dengan tulus.
"Gue bakal selalu bantuin loe, ayo kita berangkat!"
Keduanya lalu berankat ke sekolah, saat melewati pintu gerbang utama tubuh Frey bergetar saat melihat banyaknya wartawan yang menunggu di sana.
Perjalanan ke sekolah terasa singkat, Frey kembali merasa takut saat lagi-lagi dia melihat wartawan di luar sekolahnya. Untung saja pihak sekolah memperketat keamanan sehingga para wartawan itu tidak bisa menerobos masuk.
Kedatangan Frey di sekolah tentu saja menjadi buah bibir seantero sekolah, tak sedikit dari mereka yang memandang rendah Frey dan mencibir Frey sebagai wanita murahan.
"Eh lihat, wanita penggoda berani datang ke sekolah!"
"Sepertinya mata Joshua Janzsen sedikit buta, kenapa dia memilih meninggalkan seorang Jennifer Scott dan memilih gadis miskin itu ya!"
"Pasti Joshua di guna-guna!"
Yang bisa Frey lakukan hanyalah menutup kedua telinganya, berpura-pura tuli dan melangkah lebih cepat menuju kelasnya.Setibanya di kelas, Frey kembali mendapat tatapan sinis dari teman sekelasnya, hanya Cia dan Kayli yang menyambutnya dengan baik, kedua gadis itu lalu memeluk Frey sekedar memberi kekuatan pada gadis itu.
__ADS_1
Bell sekolah berbunyi, tak lama kemudian seorang guru masuk ke dalam kelas untuk mengajar, namun momen itu justu di gunakan teman-teman Frey untuk protes.
"Bu, kami tidak sudi sekelas dengan gadis penggoda sepertinya," ujar salah seorang siswi sambil menunjuk Freesia.
"Gadis, hahah. Dia sudah menikah jadi tidak cocok di panggil gadis," cibir yang lainnya.
"Kalau dia tetap berada di kelas lebih baik kami yang pergi," ancam salah satu dari mereka dan segera di sahuti oleh yang lainnya.
"Setuju, usir Freesia. Dia mencemarkan nama baik sekolah kita!"
"Anak-anak, tenang. Pihak sekolah sedang merundingkan masalah ini. Kalian juga tidak boleh menuduh teman kalian tanpa bukti. Sekarang kita fokus belajar ya," bu guru mencoba melerai anak didiknya, namun sepertinya tak berguna karena mereka malah mengemasi buku-buku mereka.
"Stop, biar gue yang keluar!" Frey memilih mengalah dari pada semakin membuat keributan.
"Tapi Frey loe nggak salah apa-apa," Cia mencoba mencegah sahabatnya namun Frey hanya mengangguk memberi tanda kepada Cia bahwa semuanya baik-baik saja.
Frey keluar dari kelas dengan langkah gontai, gadis itu seolah tak memiliki tujuan lagi. Di saat seperti ini, dia merindukan Anne, namun Frey terlalu malu untuk menghadapi bibinya. Frey menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, gadis itu berjalan memutari koridor sekolah sambil berpikir kemana dia harus pergi sepagi ini. Namun langkahnya terhenti saat seseorang mencekal pergelangan tangannya dan menariknya menuju parkiran.
"Axe, lepasin!" Fresia mencoba melepaskan tangan Axel.
"Masuk mobil!"
"Ki-kita mau kemana?"
"Kemana pun asal loe seneng!"
"Bodo amat!"
.
.
.
Di mansion utama, Jonathan dan Jovanka bergantian menghubungi Josh, namun nomor kakak mereka tetap tidak bisa di hubungi membuat semua orang merasa frustrasi.
"Kemana dia, tidak biasanya dia tidak bisa di hubungi?" ujar Jo sambil terus menghubungi saudara kembarnya.
"Jo, aku sudah kirim E-mail ke Josh, siapa tau berhasil," sahut Jovanka.
Jonathan lalu duduk di sebelah adiknya yang terlihat sibuk dengan laptopnya. "Apa yang membuat tuan puteri begitu sibuk?" tanya Jonathan penasaran.
"Aku sedang merakit bom untuk menghancurkan Jennifer Scott," jawab gadis itu penuh misteri.
"Coba aku lihat!"
"No, no," Jovanka segera menutup laptopnya, belum saatnya orang lain melihat bom yang akan dia lemparkan ke Jennifer.
"Dasar pelit!"
__ADS_1
"Biarin!"
.
.
.
Di sebuah villa yang berada di pinggir pantai, seorang pria yang memiliki bola mata biru tengah menatap laut dengan tatapan kosong. Pria itu tengah menenangkan diri serta mencari tau apa yang sebenarnya hatinya inginkan.
Ya pria itu adalah Josh, pemilik bola mata berwarna biru yang selalu terlihat teduh. Josh sengaja menghindar dari Frey untuk beberapa saat, dia hanya ingin memastikan jika perasaannya bukan sekedar rasa terima kasih. Saat Jennifer mengkhianatinya, Josh berpikir jika dia tidak akan pernah jatuh cinta lagi, namun nyatanya kehadiran Frey seolah mengobati rasa sakit atas pengkhianatan mantan tunangannya. Gadis kecil itu selalu membuatnya merasa nyaman, saat bersamanya Josh ingin memeluk dan menyentuhnya seolah-olah gadis itu adalah miliknya. Namun di saat Josh ingin mengutarakan perasaannya, tiba-tiba keraguan muncul, untuk itu Josh perlu menjauh agar dia dapat meyakinkan hatinya.
Josh kembali ke kamarnya, hari ini masa cutinya habis dan dia harus kembali bekerja. Josh membuka laptop untuk memeriksa beberapa pekerjaan. Saat dia membuka email, dia mendapatkan pesan dari Jovankan.
"kau dimana capt? Pulanglah, istrimu sedang dalam masalah!"
"Lihatlah berita capt!"
"Capt, apa kau sedang terbang?"
"Hey, Joshua Janzsen, cepat pulang!!!"
"Josh, istrimu membutuhkanmu!"
"Sialan, kenapa kau tidak bisa di bubungi!"
"Telefon aku saat membaca pesanku!!!!!!!!!!"
Frey, sebuah nama yang beberapa waktu terakhir ini selalu mengusik hatinya. Setelah membaca pesan dari sang adik, Josh segera mengaktivkan ponselnya. Dia lalu mencari berita terkini, dan betapa terkejutnya dia saat mendapati namanya dan nama Frey menjadi topik terpanas di berbagai media.
"Frey, maafin aku," Josh lalu menghubungi Jovanka, dia benar-benar panik dan mencemaskan keadaan istri kecilnya.
"Dari mana saja kau ini, oh astaga semua orang hampir gila karena tidak bisa menghubungimu!" Terdengar omelan Jovanka di balik telepon.
"Dimana Frey?"
"Dia sekolah!"
"Apa dia baik-baik saja?"
"Sepertinya tidak!"
"Jov, siapa yang sudah membuat kekacauan ini?"
"Tentu saja mantan kekasihmu!"
"Jennifer," Josh menggeram dengan rahang mengatup dan tangan mengepal. "Aku tidak akan mengampunimu kali ini!!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1