Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Pangeran cicak


__ADS_3

Seminggu sudah sejak Frey tinggal di vila milik Maggie, selama itu pula Frey belajar managemen bisnis bersama pengajar profesional. Frey tak mengeluh sama sekali, dia justru terlihat bersemangat. Karena semakin cepat dia belajar mengelola perusahaan maka semakin cepat pula Maggie menyerahkan saham J&J Company kepadanya.


Setelah makan malam bersama keluarganya, Frey duduk di balkon bersama Anne. Kedua wanita itu tengah meratapi nasib mereka, namun mereka tak bisa bicara banyak hal karena di vila tersebut tembok pun memiliki telinga.


"Bagaimana belajarmu?" tanya Anne seraya menatap langit malam yang berkabut.


"Lancar. Tidak serumit yang aku pikir. Mungkin dua atau tiga tahun aku sudah menguasainya," jawab Frey menyombongkan dirinya. "Bagaimana dengan bibi, apa bibi tidak ingin bekerja di perusahaan?" kini Frey yang melempar pertanyaan kepada bibinya.


"Bibi sudah tua, otak bibi sudah tidak berfungsi lagi. Percuma saja bibi belajar. Bibi hanya ingin menanam dan menjual bunga" jawab Anne lesu, dia sungguh merindukan harumnya bunga-bunga yang selalu menemaninya setiap waktu.


"Bicara saja pada oma, minta modal untuk membuka toko bunga. Oma pasti setuju."


"Kau tidak dengar, wanita tua itu ingin aku bekerja di perusahaan. Bagaimana aku bisa bekerja di perusahaan sementara keahlianku hanya merangkai bunga," Anne merasa putus asa, dia tidak sedikitpun memiliki niat untuk bekerja di perusahaan.


"Kalau begitu menikah saja," celetuk Frey dan berhasil memancing amarah bibinya.


Anne menoleh ke arah Frey dengan mata melotot. "Dasar bocah gila!"


"Bi, aku saja sudah pernah menikah. Masa bibi kalah," Frey tersenyum mengejek, usia Anne kini menginjak 30 tahun dan belum sekalipun Frey melihat bibinya berkencan. "Atau bibi ikut kencan buta saja, seperi yang ada di drama Korea itu bi!"


Plak...


Anne memukul kepala Frey dengan keras, ucapan keponakannya sungguh mekukai harga dirinya, wanita mana yang mau melajang di usia 30 tahun, sungguh tragis bukan.


"Tunggu saja, aku pasti akan membawakan paman untukmu!"


Percakapan antara bibi dan keponakan terus berlanjut, tanpa mereka sadari Maggie berdiri di belakang tembok seraya mendengarkan Anne dan Frey bercerita. Tanpa Maggie sadari, senyum terbit di wajah tuanya. Di balik niatnya membawa Frey kembali, dia sungguh bahagia karena akhirnya bisa berkumpul dengan anak dan cucunya.


.


.


"Oma, apa boleh Frey pergi shooping bersama Cia dan Kayli?" Frey sedang merayu Maggie agar dia di perbolehkan untuk keluar dari vila.


"Kau yakin hanya bersama Cia dan Kayli?" selidik Maggie dengan tatapan penuh kecurigaan.


"Yakin oma. Kalau oma tidak percaya oma bisa ikut. Seminggu di sini berat badanku bertambah, bajuku tidak muat semua oma," dalam hal mencari alasan, sepertinya Frey perlu di acungi jempol karena berhasil membujuk Maggie.

__ADS_1


"Bawa dua pengawal bersamamu."


"Oke oma!"


Frey sudah berada di pusat perbelanjaan bersama Cia dan Kayli, ketiga gadis itu berkeliling mencari barang yang mereka butuhkan. Toko demi toko mereka masuki dan tangan mereka sudah di penuhi dengan tas belanja berisi baju dan sepatu mahal.


"Pengawal loe nggak capek apa?" tanya Cia seraya melirik dua pria berjaz hitam yang berada di belakang mereka.


"Biarin aja, itung-itung olahraga," sahut Frey santai.


"Eh kita kemana lagi?" tanya Kayli seraya menatap kedua sahabatnya.


"Toko baju olahraga!" jawab Cia dengan senyum penuh arti. Frey dan Kayli ikut tersenyum lalu mereka berlari menuju toko yang menjual berbagai keperluan olahraga.


Cia dan Kayli sibuk memilih setelan olah raga yang cocok, sementara Frey sedang memilih baju renang karena Maggie memiliki kolam renang yang sangat luas di vilanya.


"Apa boleh di coba?" tanya Frey pada karyawan toko.


"Tentu saja, kamar gantinya ada di sebelah sana," pelayan toko tersebut menunjuk kamar ganti yang berada di sudut ruangan.


"Terima kasih," Frey berlari menuju kamar ganti dan segera mencoba baju renang yang dia pilih.


Setengah jam kemudian, Frey keluar dari kamar ganti. Cia dan Kayli sudah menunggunya.


"Lama banget si loe di kamar ganti, loe ngapain aja?" cecar Kayli dengan wajah kesal karena dia sudah sangat kelaparan dan Cia melarangnya untuk menyusul Frey di kamar ganti.


"Gue abis nyobain baju renang dan cosplay jadi model hot," jawab Frey sekenanya.


"Cosplay jadi model kok di kamar ganti, percuma dong nggak ada yang liat," cibir Kayli sambil menjulurkan lidahnya.


"Kata siapa nggak ada yang lihat? Di dalam kamar ganti ada pangeran cicak yang liatin gue, pangeran cicak itu sampai ngiler liatin bodi gue yang hot. Pangeran cicak itu bahkan merayap di dada gue, kayanya dia nafsu liat gue!"


"Hahaha," Kayli tertawa hingga mengeluarkan air mata. Menurut Kayli semenjak Frey berpisah dengan Josh, gadis itu jadi sering melantur dan membicarakan hal-hal konyol.


"Terus cicaknya ne..neen nggak Frey?" sahut Cia dengan senyum penuh makna.


"Nyicip dikit!"

__ADS_1


"Hahaha."


Cia tak bisa menahan tawanya, gadis itu hampir saja mengompol jika tidak cepat-cepat pergi ke kamar mandi. Frey dan Cia hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Kayli.


"Thanks Cia," ucap Frey.


"Sama-sama."


Setelah puas berbelanja, ketiga gadis itu lalu makan bersama. Cia kembali membahas tentang cicak yang merayap di dada Freesia, gadis itu kembali terpingkal-pingkal.


"Sudah Kay, nanti loe ngompol loh," Cia memperingatkan temannya yang sejak tadi tak berhenti tertawa.


"Abisnya lucu banget sumpah," Kayli menyeka air matanya karena terlalu banyak tertawa.


"Makan dulu ndut, besok gue ceritain yang lucu-lucu lagi," Frey menjejali mulut Kayli dengan kentang goreng agar gadis itu berhenti tertawa.


Setelah puas berbelanja dan makan, Frey harus berpisah dengan kedua sahabatnya. Mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing setelah berpelukan.


Setibanya di rumah, Maggie sudah menunggunya di ruang utama. Wanita itu sedang melihat drama korea dengan di temani Andrew.


"Aku pulang," ucap Frey dengan riang, rupanya shooping benar-benar membuat mood nya membaik, apalagi setelah cosplay menjadi model dan di tontom oleh pangeran cicak.


"Wah, oma suka drama juga?" Frey duduk di samping Maggie setelah menaruh tas belanjanya di lantai


"Hem," sahut Maggie, wanita itu lalu melirik tas belanja Frey. "Kau membeli banyak barang?"


"Iya oma, aku juga membelikan baju untuk oma dan bibi," Frey menunduk dan mencari paper bag yang berisi baju untuk Maggie. "Ini untuk oma. Frey akan memebelikan yang lebih mahal saat Frey bisa mencari uang sendiri," ujar Frey seraya memberikan paper bag tersebut untuk Maggie.


"Terima kasih."


"Oma tidak perlu berterima kasih, lagi pula itu uang oma, hehe. Sudah malam, Frey mau ke kamar dulu. Selamat malam oma!" Frey lalu kembali ke kamarnya sementara belanjaannya di bawakan oleh seorang pelayan.


"Apa dia bertemu orang lain?" tanya Maggie setelah Frey masuk ke kamarnya.


"Tidak nyonya. Nona Freesia hanya bertemu dengan kedua temannya. Sepertinya nona muda serius dengan ucapanya untuk tidak menemui tuan Josh lagi, bahkan nona muda sudah mengganti nomor ponselnya," jawab Andrew memberi laporan.


Maggie tersenyum penuh kemenangan. "Begitulah anak muda. Mereka akan mudah melupakan dan mencari sesutu yang baru."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2