
Hari berganti hari, tak terasa hampir setahun Frey berpisah dari Josh. Kini Frey sudah resmi menjadi seorang mahasiswi di salah satu kampus terbaik di Indonesia, Frey terpaksa melupakan mimpinya untuk kuliah di Harvard karena dia harus kuliah sambil belajar mengelola perusahaan.
Sementara itu, Maggie sedang di buat pusing oleh Anne. Wanita itu menolak perjodohan bisnis yang Maggie rencanakan dan memilih kabur dari vila dan kembali membuka Anne Florist yang sudah lama dia tinggalkan.
Hari-hari Anne tentu terasa berat karena tabunganya habis untuk modal usaha, dia harus kembali dari nol lagi untuk melanjutkan usahanya.
Hari ini adalah hari pertama Anne membuka toko bunganya dan sudah hampir siang belum ada satupun pelanggan yang datang. Anne duduk di kursi kayu sambil merenung, kenapa dia harus kembali mengalami masa sulit, haruskan dia menerima tawaran Maggie untuk menikah?
"Tidak-tidak, aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai," gumamnya mencoba menepis pikiran dangkalnya untuk kembali ke rumah Maggie.
Terlalu lama merenung membuat Anne kelaparan, wanita itu lalu keluar dari tokonya untuk mencari makan siang yang murah di sekitar tokonya. Anne berjalan sambil menunduk dan menghitung dedaunan kering yang berjatuhan, dan tanpa dia sadari dia menabrak seseorang hingga keningnya terasa panas.
"Maaf saya tidak sengaja," ucap Anne seraya membungkukkan tubuhnya sebagai tanda permintaan maaf. Saat Anne mengangkat kepalanya, wanita itu terkejut melihat dua pria berdiri di hadapannya, yang lebih membuatnya terkejut kedua pria itu sangat mirip, sama-sama memiliki mata berwarna biru.
"Anne, kau tidak papa?" tanya salah satu pria tersebut.
"Aku baik-baik saja Josh. Bagaimana kabarmu?" ya kedua pria itu adalah Josh dan Jonathan, keduanya sedang mencari tempat untuk Katherine karena wanita itu bersikeras ingin membuka toko roti setelah hampir setahun belajar membuat roti.
"Aku baik. Bisa kita bicara sebentar. Di sebelah sana ada kafe."
Anne melirik Jo sejenak, dia masih kesal dengan Jo setalah ciuman setahun lalu, namun dia juga tidak bisa menolak Josh karena dia merasa bersalah pada Josh. Akhirnya Anne mengikuti Jo dan Josh ke kafe yang ada di dekat sana.
"Bagaimana kabarmu Ann, kenapa kau ada di sini?" tanya Josh setelah mereka berada di kafe.
"Seperti yang kau lihat Josh, kau baik. Aku kembali ke sini dan membuka toko bungaku," jawab Anne apa adanya.
"Kenapa? Bukannya kau sudah bekerja di perusahaan milik ibumu?" tanya Josh karena penasaran mengapa anak konglomerat seperti Anne memilih menjual bunga.
"Kau tau sendiri aku tidak memiliki kemampuan bekerja di kantor Josh. Dan aku memilih pergi karena ibu ingin menjodohkanku."
Mendengar kata perjodohan, Jonathan mengepalkan kedua tangannya, meski terlihat acuh namun pria itu masih sangat menyukai Anne. Namun karena keadaan, Jo memilih menyipan rapat-rapat perasaannya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Frey, kenapa kau meninggalkannya sendirian?" Josh mulai khawatir, dia juga takut kalau Frey akan di jodohkan dengan orang lain karena selama ini dia memilih menunggu Frey dan berharap Frey kembali kepadanya.
"Tidak perlu khawatir, Frey lebih tangguh dari yang aku kira. Dia bisa menangani Maggie dengan baik!"
"Cih, tanggung dari mana. Dia memilih hidup enak dengan neneknya dan meninggalkan suaminya," cibir Jonathan, dia masih kesal pada keputusan Freesia.
"Jaga bicaramu Jo. Aku yakin Frey juga tidak menginginkan ini semua, dia pasti memiliki alasan mengapa memilih ikut bersama Maggie," tegur Josh yang tak terima Jo membicarakan hal buruk tentang Freesia.
"Kau ini bodoh atau bagaimana si Josh, kau masih saja membelanya!"
"Jangan lupa Jo, kedua orang tua Frey meninggal karena kelalaian dady!"
"Terserah kau saja!" karena kesal Jonathan memilih pergi dari kafe tersebut, setiap kali membicarakan Frey mereka pasti akan berdebat.
"Maafkan Jo ya Ann, dia kadang tidak dewasa," ucap Josh tak enak hati.
"Tidak masalah Josh, aku tau kenapa dia bersikap begitu."
"Baik Josh, terima kasih!"
Setelah Josh pergi, Anne juga kembali ke toko bunganya, dia batal makan siang karena perutnya sudah terisi slice cake dan segelas ice capucino yang di belikan Josh saat di kafe.
Anne tersenyum lebar saat lonceng angin yang terpasang di pintunya bergemerincing, tak lama setelah itu pelanggan pertama masuk ke dalam toko bunganya.
"Apa anda menjual bunga Lily?" tanya pelanggan pertamanya
"Ya," jawab Anne ramah.
"Tolong rangkai secantik mungkin!"
"Baik, tunggu sebentar!"
__ADS_1
Tak lama setelah itu, toko bunga Anne sangat ramai, Anne bahkan sampai kewalahan melayani pelanggan seorang diri. Meski lelah, namun Anne sangat senang karena toko bunganya ramai dan artinya dia bisa menyambung hidup.
Anne berbaring di sofa seraya meluruskan kakinya yang terasa pegal, wanita itu tersenyum bahagia karena hampir semua stok bunganya habis terjual hari ini. Anne akan tidur sebentar dan nanti malam dia akan belanja di pasar bunga untuk mengisi stok tokonya.
Sementara di tempat lain, seorang pria menatap mobilnya yang kini terisi penuh dengan berbagai jenis bunga. Pria itu membuang nafas kasar karena tak tau harus berbuat apa dengan bunga-bunga tersebut.
"Bagikan saja pada orang-orang yang lewat Jo!'
Jonathan Janzsen, pria itulah di balik larisnya toko bunga Anne. Jo sengaja menyuruh orang asing untuk menyamar menjadi pelanggan dan memberikan imbalan. Jo merasa sedih saat melihat Anne begitu lesu karena tokonya sepi, dia tak tega dan akhirnya terlintas ide konyol itu.
"Kalau kau begitu menyukainya kenapa kau menahan diri Jo?" tanya Josh tak mengerti.
"Kau tau sendiri aku dan Anne tidak mungkin bersama!" tegas Jo.
"Why? Apa masalahnya?"
"Aku sangat membenci Maggie Zantman Josh!" Jo menekan setiap kata-katanya.
"Jo, kau lihat sendiri Anne memilih pergi dari Maggie. Itu artinya dia tak sejalan dengan ibunya. Kalau kau memang menyukainya maka kejar dia, pertahankan dia agar selalu ada di sisimu!"
"Cih, pandai sekali kau mengguruiku, padahal kau sendiri tidak mempertahankan Frey dan membiarkan dia pergi!"
Josh tersenyum penuh arti. "Kata siapa aku tak berjuang. Kami sedang berjuang bersama-sama! Sudahlah, aku ada janji dengan wanita cantik!" Josh lalu meninggalkan Jonathan yang masih terlihat bingung dengan perkataan Josh.
"Apa maksudmu berjuang bersama-sama. Dan siapa wanita cantik yang akan kau temui?" teriak Jonathan namun Josh hanya melambaikan tangannyan dan terus berjalan meninggalkan saudara kembarnya.
"Dasar sialan, kenapa kau membuatku bingung. Dan bunga-bunga ini, apa yang harus aku lakukan dengan bunga-bunga ini!" Jo mendegus kesal, kedua tangannya berkacak pinggang karena pusing dengan nasib bunga yang memenuhi mobilnya.
"Anda bisa menjualnya kepada saya tuan!"
BERSAMBUNG....
__ADS_1