Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Liburan


__ADS_3

Langit malam yang bertaburkan bintang seolah menjadi saksi dimana kedua insan saling bergumul menjadi satu. Deburan ombak di tepi pantai tergerus suara desaaahan dan erangan sepasang suami istri yang sedang memadu kasih. Kedua manusia yang saling mencintai tengah mengejar kenikmatan masing-masing, derit ranjang seolah tau seliar apa permainan keduanya.


"Ahhh," lenguhan panjang yang keluar dari mulut Josh menandakan jika permainan panas mereka telah berakhir, bukan yang pertama melainkan permainan ke tiga. Setelah berhasil menangkap istrinya saat berlarian di tepi pantai, Josh sama sekali tak membiarkan istrinya barang terlelap sedikitpun.


Josh memeluk istrinya dengan erat, keringat membasahi tubuh mereka namun tak menghalangi Josh untuk mendekap tubuh polos istrinya. Sesekali tangan kekarnya beramain-main di pucuk squisy berwarna merah jambu, membuat sang empu menggigit bibir bawahnya menahan desiran yang kembali merayap di tubuhnya.


"Hentikan Josh, aku lelah," protes Freesia seraya memukul tangan suaminya. Josh tak menghiraukan, pukulan Frey bagikan belaian lembut yang membuatnya ingin terus bermain-main di dadaaa sang istri.


"Frey," panggil Josh dengan mesra.


"Hem," Frey menyahutnya dengan gumaman kecil, gadis itu hampir terlelap karena kelelahan.


"Kapan kita akan memiliki bayi?"


Rasa kantuk Frey lenyap seketika,pertanyaan Josh membuat dadanya tiba-tiba terasa penuh sesak. Seandainya Maggie tak pernah datang ke kehidupan mereka, mungkin saja Frey akan menjawab dengan lantang jika dia menginginkan bayi secepatnya. Namun kini, masih banyak hal yang harus Frey lakukan salah satunya mengembalikan saham milik keluarga Janzsen.


"Setelah aku lulus kuliah, kau tidak keberatan kan?" sahut Frey dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja tidak. Aku membaca beberapa artikel di internet, usiamu masih terlalu rentan untuk melahirkan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, aku akan menunggunya sampai kau siap Love," sahut Josh dengan bijak, seandainya Frey memilih untuk tidak hamil dan memiliki anak pun Josh akan menerimanya. Baginya menikah bukan hanya sekedar memproduksi bayi, meski tanpa anak di antara mereka, Josh akan tetap mencintai istrinya. Dia tidak ingin menjadi pria yang egois dengan memaksa Frey mengandung selama sembilan bulan dan menahan sakitnya saat melahirkan.


"Terima kasih karena kau mau menunggu sampai aku siap Josh," ucap Frey dengan tulus, gadis itu mengangkat telapak tangan Josh yang berada di dadanya lalu mengecup punggung tangannya.


"Sama-sama Love. Tidurlah, besok kita jalan-jalan dan belanja," ujar Josh seraya mengecup pundak istrinya.


"Hem. Selamat tidur sayang," ucap Frey dengan lembut. Josh tersenyum, dia semakin mempererat pelukannya. Keduanya lalu terlelap di bawah selimut yang sama.


.


.


Matahari telah meninggi, Frey menggeliat saat merasa suhu di kamarnya mulai terasa panas. Saat membuka matanya, dia tak menemukan keberadaan sang suami, Frey lalu duduk dan menarik selimut hingga menutup dadanya yang terbuka, dia mengamati sekeliling namun dia tak menemukan Josh di manapun.

__ADS_1


Frey lalu menutuskan untuk mandi, sekujur tubuhnya terasa remuk redam karena Josh menggempurnya tanpa ampun. Gadis itu berendam di dalam air, rasanya sangat menyegarkan dan menenangkan.


Setengah jam kemudian, Frey keluar dari kamar mandi. Gadis itu tersenyum melihat sang suami sedang menyiapkan sarapan di atas meja. Mendengar suara langkah kaki Freesia, pria itu menoleh lalu tersenyum kepada sang istri.


"Sarapanmu Love," Josh menggapai tangan Frey lalu menuntun gadis itu untuk duduk. Freesia teramat bahagia karena Josh memperlakukannya dengan sangat manis.


"Aku sangat lapar," Freesia meraih piring berisi sandwich lalu segera melahapnya karena cacing-cacing di perutnya sudah protes ingin di beri makan.


Josh laku duduk di samping istrinya dan menemani sang istri sarapan. Setelah selesai sarapan keduanya jalan-jalan di sekitar penginapan. Josh menggandeng tangan istrinya dengan mesra, pria itu enggan melepaskan Frey karena sejak tadi banyak pria asing yang menatap Frey penuh rasa kagum dan hal itu membuat Josh merasa tidak nyaman.


Setelah seharian berkeliling dan belanja, keduanya kembali duduk di pantai. Menikmati momen indah saat matahari kembali ke peraduannya. Langit berwarna orange di atas hamparan laut biru terlihat begitu mempesona, lukisan alam yang sulit untuk di lewatkan.


.


Seminggu sudah sejak mereka berlibur, pagi ini Josh dan Frey akan kembali ke Jakarta karena Josh harus kembali bertugas setelah masa cutinya habis. Frey juga harus mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas. Kali ini Frey di temani Josh di dalam pesawat karena pria itu kini murni menjadi penumpang.


"Rasanya sangat menyenangkan duduk berdua bersamamu Josh, aku tidak takut lagi saat pesawat akan terbang dan mendarat," ucap Frey seraya menggenggam tangan istrinya.


"Aku memaafkanmu," Frey terkekeh, gadis itu lalu kembali menatap awan dari atas ketinggian.


Setelah dua jam menempuh perjalanan udara dan setengah jam perjalanan darat, akhirnya Frey dan Josh sampai di rumah mereka. Namun rumah nampak sepi, Katherine menginap di hotel bersama Jovanka karena wanita itu kesepian di rumah seorang diri.


Frey dan Josh pergi ke kamar mereka untuk beristirshat. Josh nampak sangat kelelahan, pria itu langsung tidur begitu bertemu dengan kasur. Sementara suaminya tidur, Frey membongkar kopernya dan mengeluarkan baju kotor. Setelah selesai, Frey duduk di meja rias, gadis itu menatap selembar kertas dan pena yang tergeletak di atas mejanya.


Frey menutup wajahnya dengan kedua tangan, setelah sekian lama diam, gadis itu lalu meraih pena tersebut dan mulai menulis di atas kertas putih yang masih kosong. Buliran demi buliran air matanya jatuh satu persatu membasahi wajah ayunya. Sesekali Frey menoleh ke tempat dimana Josh berada, dan saat itu juga air matanya tak berhenti menetes.


.


.


Katherine pulang ke rumah saat Frey mengatakan jika mereka telah kembali. Mereka menikmati makan malam mereka, kebetulan Jovanka juga datang mengantar Katherine.

__ADS_1


"Frey, kau terlihat sangat lelah?" tanya Jovanka di iringi senyuman nakal dari gadis itu.


"Yah beginilah nasib wanita bersuami Jov," jawab Frey seraya menyibak rambut panjangnya.


"Kau membutku iri kakak ipar!"


"Kalau begitu menikahlah Jov," sahut Katherine seraya menatap putrinya.


"Mom, karir ku sedang melesat, aku tidak ingin menikah sekarang!"


"Nanti kau jadi perawat tua Jov," goda Katherine.


"Amit-amit mom!"


Makan malam mereka di iringi canda tawa, Frey begitu bahagia sampai dia merasa tidak rela untuk meninggalkan mereka semua. Namun demi kebahagiaan mereka, Frey harus mengalah.


Setelah makan malam Frey kembali ke kamarnya. Gadis itu menyusul sang suami yang lebih dulu duduk di atas ranjang.


"Kau sibuk?" tanya Frey, suaminya menoleh dan menggeleng.


"Tidak, hanya sedang memeriksa jadwal. Besok sore aku harus bekerja, tidak papa kan?"


"Aku tidak ingin berpisah, tapi kau harus mencari nafkah. Jadi aku akan membiarkanmu pergi kali ini," jawab Frey dengan senyum.


"Terima kasih Love!"


"Josh apa aku boleh minta sesuatu?"


"Tentu, katakan?"


"Aku....

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2