
Langit kembali mendung, awan hitam menyelimuti sinar matahari. Sepertinya alam juga tau jika seorang Jonathan tengah gundah, setelah sahamnya terjual pria itu pergi ke rooftop untuk menenangkan pikirannya. Dari atas ketinggian, angin berhembus kencang menyapu wajah tampannya, pria itu menghela nafas berkali-kali, tatapannya lurus namun kosong.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Jonathan, hanya saja dia merasa telah gagal melindungi perusahaannya. Dia marah pada Jimmy, namun dia lebih marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apapun untuk melindungi perusahaannya.
Setelah puas merenung, Jonathan berniat kembali ke kantornya. Namun niatnya urung saat dia melihat seorang wanita tengah berdiri seorang diri, tatapannya yang kosong mendorong Jonathan untuk menghampiri wanita itu, Jo khawatir wanita itu akan melakukan bunuh diri.
"Sebentar lagi pasti hujan akan turun," ucap Jonathan seraya menatap langit yang semakin gelap. Jo lalu menoleh dan tepat di saat bersamaan wanita itu juga menoleh sehingga netra mereka saling bertemu. Angin kencang menyibak rambut panjang wanita itu, menampilkan wajah cantik sang empunya, mata berwarna hazel, hidung mancung serta alis tebal. Bibir ranum berwarna kemerahan mempercantik wajah itu, wajah cantik yang berhasil membuat jantung seorang Jonathan berdebar-debar.
"Sepertinya begitu," jawab wanita itu seraya memalingkan wajahnya, dia kembali menatap langit kelabu.
"Aku Jo," Jonathan mengenalkan diri, pria itu tak bisa berhenti untuk menatap wanita yang ada di sampingnya.
Wanita itu kembali menoleh, dia merapikan rambut yang menutupi wajah cantiknya. "Aku Anne," jawabnya sambil tersenyum.
"Anne, nama yang cantik, secantik orangnya," puji Jonathan tulus, namun wanita bernama Anne itu hanya tersenyum. "Baiklah Anne, aku harus turun. Jangan terlalu lama di atap, kau bisa masuk angin. Semoga kita bisa bertemu kembali," ucap Jo penuh harap.
"Kenapa kita harus bertemu kembali?" tanya Anne.
"Karena di pertemuan kedua, kau akan menjadi milikku."
Jonathan melenggang pergi dengan penuh percaya diri, begitu banyak wanita cantik yang mengelilinginya, namun baru kali ini jantungnya berdebar-debar dan itu karena Anne, wanita yang baru saja dia temui.
Sementara Anne hanya menggelengkan kepalanya, baginya Jonathan hanyalah pria bermulut manis yang kerap menggoda para wanita. "Buaya darat," gumamnya lalu turun dari atap sebelum Maggie mencarinya. Anne memang sengaja ikut ke J&J Company dengan alasan bosan di kurung di rumahnya, sebenarnya Anne hanya ingin berkunjung ke Indonesia dan mencari kabar Freesia. Namun, karena pengawal yang terus mengikutinya, berakhirlah Anne di rooftop J&J Company.
.
.
Frey dan Josh sudah kembali ke rumah, keduanya tengah bersantai sambil menikmati waktu kebersamaan mereka. Frey membaringkan kepalanya di paha Josh, sementara pria itu tengah sibuk dengan laptopnya.
"Love, kapan kau mulai sekolah?" tanya Josh di sela aktivitasnya.
"Besok Josh, semua guru mata pelajaran akan datang ke rumah secara terjadwal," jawab Freesia.
Di sela kemesraan mereka, tiba-tiba mbok Endang menghampiri mereka. "Maaf tuan, ada tamu yang mencari anda dan nona muda," ujar mbok Endang, wanita itu lalu pergi setelah menyampaikan pesan pada majikannya.
"Tamu, siapa ya?" gumam Josh, pria itu lalu menutup laptopnya. Mencium kening Frey sesaat sebelum akhirbya mereka menemui tamu yang datang ke rumah.
Begitu membuka pintu, Josh dan Frey terkejut karena sebuah benda bersegi panjang dengan ukuran yang sangat besar berada di depan rumah. Benda itu juga terbungkus kertas berwarna gold dengan pita berwarna merah di setiap sisinya.
__ADS_1
"Apa ini Josh?" tanya Freesia seraya menatap suaminya. Josh menoleh dan mengangkat kedua bahunya, pria itu juga tak tau benda apa yang ada di hadapannya. Hingga, detik selanjutnya keluar seseorang dari balik lukisan dan membuat Josh dan Frey terperangah.
"Nyonya Maggie."
"Oma." Ucap Josh dan Frey bersamaan, keduanya saling menatap karena bingung bagaimana wanita tua itu bisa sampai di rumah mereka.
"Hallo," sapa Maggie seraya mengangkat tangannya.
"Oma, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Frey masih dengan wajah terkejut.
"Love, kau mengenal nyonya Maggie?" Josh menatap istrinya penuh tanya, bagaimana gadis kecilnya mengenal seorang Maggie Zantman.
"Aku bertemu oma Maggie saat di kantor Josh," jelas Freesia. "Kau juga mengenal oma?" Frey balik bertanya.
"Tentu saja, dia yang membeli saham perusahaan kita," jawab Josh setengah berbisik. Frey hanya bisa menutup mulutnya, menutupi keterkejutannya karena kebetulan tersebut.
"Silahkan masuk nyonya Maggie," Josh mempersilahkan tamunya untuk masuk. Maggie hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Wanita tua itu lalu duduk di sofa setelah Josh menyuruhnya. "Love, tolong beri tau mbok Endang untuk membawakan teh kemari," ucap Josh dan Frey mengangguk.
"Istri anda sangat manis tuan Josh," puji Maggie begitu Frey pergi ke dapur.
"Terima kasih atas pujiannya nyonya. Dia memang sangat manis," sahut Josh yang turut memuji istrinya.
"Mungkin ini yang di sebut jodoh nyonya. Pertemuan dan pernikahan kami sudah di rencanakan oleh Tuhan."
"Jodoh? Ya, ya, tapi terkadang apa yang kita anggap jodoh belum tentu jodoh terbaik yang Tuhan berikan."
Josh tak menanggapinya, baginya tidaklah penting untuk membahas masalah pribadinya dengan orang lain, apalagi wanita asing yang tiba-tiba datang meski entah dari mana asalnya.
"Apa yang membawa anda kemari nyonya Maggie?"
"Saya memenuhi janji saya. Mengirim hadiah pernikahan untuk anda dan istri anda," ujar Maggie, wanita tua itu menepuk tangannya dua kali dan para pengawalnya segera membawa masuk benda berukuran besar ke dalam rumah. Frey yang baru datang dari dapur kembali kebingungan karena benda besar itu di bawa masuk.
"Teh nya oma," ucap Frey seraya meletakan cangkir berisi teh di atas meja.
"Terima kasih anak cantik. Oma datang membawa hadiah untukmu. Bukalah!"
"Hadiah untuk saya?"
"Ya, bukalah!"
__ADS_1
Frey menatap Josh sekilas, pria itu mengangguk memberi tahu sang istri jika dia mengizinkan istrinya untuk membuka hadiah tersebut. Dengan hati-hati Frey merobek kertas berwarna gold hingga benda berbentuk persegi panjang itu terbuka sempurna.
"Lukisan," batin Frey setelah berhasil membuka bungkus tersebut. Frey mundur beberapa langkah, gadis itu menatap lukisan tersebut. Namun, ada sesuatu yang menyentuh hatinya, lukisan sepasang suami istri dengan anak perempuan yang duduk di antara kedua orang tuanya membuat Frey merasa aneh. Bahkan tanpa Frey sadari, air matanya berjatuhan.
"Kenapa kau menangis love?" tanya Josh saat menyadari istrinya menangis.
Frey menoleh ke samping tepat dimana Josh berada. "Entah, aku hanya merasa sedih saat melihat lukisan ini Josh," jawab Frey seraya mengusap air matanya.
"Jangan menangis lagi," Josh membantu Frey mengusap air matanya, dia lalu membawa Frey kembali duduk.
"Lukisan yang bagus nyonya. Terima kasih untuk kado yang anda berikan. Kami akan menyimpannya dengan baik," ucap Josh tulus, meksi dia tidak tau maksud dan tujuan Maggie memberi hadiah, namun apa salahnya menghargai pemberian orang lain.
"Syukurlah kalian menyukainya. Hm, kalau begitu wanita tua ini harus pergi karena masih banyak urusan," Maggie beranjak dari kursinya, wanita itu berjalan menuju pintu dan di ikuti oleh Josh dan Freesia. Namun saat mereka belum sampai di pintu, Katherine lebih dulu masuk dengan membawa dua koper besar.
"Momy," pekik Frey.
Katherine melirik Maggie sekilas, wanita itu lalu melewati Maggie dan segera memeluk Freesia. "Apa momy boleh tinggal bersama kalian?" tanyanya sambil menangis.
"Apa yang terjadi mom?" tanya Josh penasaran.
"Momy tidak mau tinggal bersama dady mu lagi Josh," Katherine melepaskan pelukannya dan menatap wajah putranya dengan tatapan menyedihkan.
"Kita bahas nanti mom. Masih ada tamu," bisik Josh.
Katherine lalu menghapus air matanya, wanita itu berbalik dan mencoba tersenyum kepada Maggie.
"Maaf mengganggu waktu bertamu anda nyonya," ucap Katherine seraya menundukan kepalanya.
"No problem. Saya juga sudah mau pulang!" jawab Maggie.
"Mom, beliau adalah nyonya Maggie Zantman, orang yang membeli saham kita," jelas Josh.
"Oh begitu rupanya. Senang bertemu anda nyonya," Katherine mengulurkan tangannya ke depan Maggie, namun sesuatu yang melingkar di tangan Katherine justru menarik perhatian Maggie. Sebuah gelang berliontin daun semanggi.
"Dari mana anda mendapatkan gelang itu?"
"Ah ini, ini milik seseorang yang menyelamatkan hidup saya."
BERSAMBUNG...
__ADS_1