
Ketegangan menyelimuti mansion keluarga Janzsen, semua anggota keluarga berkumpul membahas masalah yang menimpa perusahaan imbas dari skandal Jimmy Janzsen. Wajah mereka terlihat tegang, Frey yang turut berada di tengah keluarga Janzsen hanya bisa diam dan menyimak.
"Ini semua gara-gara dady," cetus Jovanka seraya melirik tajam dady nya.
"Kau benar Jov, kalau saja dady mu tidak bermain api, semua ini tidak akan terjadi, sekarang kita harus menanggung karma atas perbuatan dady mu " sahut Katherine dengan wajah kesalnya.
"Cukup. Bukan saatnya kita saling menyalahkan," lerai Josh, biar bagaimanapun dia merasa bertanggung jawab karena dialah yang mengizinkan Jovanka saat gadis itu menyebarkan vidio tak pantas milik Jimmy. "Lalu bagaimana dengan tawaran Zantman Group?" tanya Josh pada adik kembarnya.
"Penawaran mereka juga turun, tapi tidak terlalu banyak. Sepertinya mereka memang tertarik dengan J&J Company," jawab Jonathan.
"Kalau mereka membeli 30 persen saham kita, berapa persen yang masih kita miliki?" Josh bertanya lagi.
"30 persen Josh."
"Artinya 50 persen jika di gabung dengan saham milikku?" ujar Josh dan Jonathan hanya mengangguk. "Kita masih menjadi pemilik saham terbesar. Sebelum harga saham semakin jatuh, sepetinya kita harus menerima tawaran dari Zantman Group.
"Sepertinya solusinya memang hanya itu," sahut Lynda yang sejak tadi hanya diam dan menyimak.
.
.
__ADS_1
Setelah sarapan bersama istri kecilnya, Josh kembali ke kamar dan bersiap pergi ke kantor pusat untuk melihat proses penandatanganan penjualan saham kepada Zantman Group. Menurut Jonathan, pemilik Zantman Group akan datang sendiri ke kantor sehingga Josh ingin melihat langsung orang seperti apa yang mau membeli saham perusahaannya dengan harga cukup tinggi.
"Love, aku pergi sebentar ya. Aku akan segera pulang," pamit Josh pada Frey yang sejak tadi mengamatinya.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Frey pelan dan kepala menunduk.
"Aku hanya sebentar love, kau pasti akan bosan di perusahaan," bukan Josh tak mengizinkan Frey ikut, dia hanya tidak tega meninggalkan Frey sendiri di perusahaan, jadi lebih baik Frey tetap di rumah bersama mbok Endang. "Aku akan segera pulang," Josh mengecup kening Frey, pria itu lalu melangkah keluar, namun kakinya berhenti saat Frey menahan lengan jas nya. Josh menoleh dan mendapati mata Frey berkaca-kaca. "What happen love?" tanyanya seraya mengusap wajah Frey.
"Aku takut," jawab Frey yang semakin membuat Josh kebingungan.
"Why?" Josh bertanya dengan hati-hati.
Josh akhirnya mengerti apa yang di takutkan oleh istri kecilnya. Kecelakaan pesawat yang di alaminya pasti menyisakan ketakutan mendalam di hati Freesia.
"Jangan menangis," Josh menyeka air mata yang akhirnya jatuh. "Bersiaplah, aku akan mengajakmu. Jovanka juga pasti ikut, kau bisa bermain bersamanya saat di kantor."
"Kau serius?" Frey mendungak menantap wajah sang suami dengan mata memerah.
"Aku serius love. Tapi kau harus memakai pakaian yang sopan ya. Ketek dan pahamu tidak boleh terlihat, kau mengerti kan!"
Frey mengangguk dengan cepat. "Tunggu sebentar," ucapnya lalu berlari menuju lemari pakaiannya. Beberapa saat kemudian, Frey menghampiri Josh. Pria itu terpukau melihat penampilan Frey yang sederhana namun terlihat sangat cocok untuknya. Gadis itu memakai celana jeans yang di padukan dengan kemeja panjang berwarna putih, sepatu hak tinggi berwarna cream dan sling bag dengan warna senada. Rambut panjag yang sengaja di gerai membuat Frey terlihat seperti wanita dewasa.
__ADS_1
"Beautifull," puji Josh tanpa mengalihkan tatapannya. Istri kecilnya benar-benar cantik.
"Kau yakin?" tanya Freesia malu-malu.
"Tentu saja. Nanti saat di kantor kau tidak boleh berkeliaran. Aku tidak ingin kecantikanmu di nikmati oleh banyak orang," pesan Josh yang begitu posesif.
Frey hanya menggangguk, dia tak mau berdebat karena dia cukup senang saat Josh mengizinkannya ikut ke perusahaan.
Setibanya di perusahaan, kedatangan Josh dan Frey menjadi pusat perhatian ribuan karyawan J&J Company. Tidak sedikit dari mereka yang memuji kecantikan Freesia. Kedua pasangan itu terlihat sangat serasi. Josh menggandeng Frey dengan mesra, dia tak suka saat karyawan laki-laki menatap Frey seolah gadis kecil itu gula-gula yang sangat manis saat di makan. Josh kini menyesal mengajak Frey ke perusahaan.
Josh membawa Frey ke dalam ruangannya meski dia tak bekerja di perusahaan, tapi Jonathan menyiapkan ruangan khusus untuknya."Kau tunggu di sini, kau tidak boleh keluar. Aku takut kau hilang," tegas Josh, sebenarnya hilang hanya alasan. Dengan kecerdasan yang istrinya miliki, Josh yakin Frey tidak akan kesasar, hanya saja Josh tidak rela saat Frey menjadi pusat perhatian para karyawan pria. Josh marah saat ada yang menatap Frey tanpa berkedip.
"Baik sayangku," jawab Frey seraya membenarkan posisi dasi suaminya yang sedikit miring. "Cepat pergi, mereka pasti sudah menunggu," usir Frey secara halus karena dia sudah sangat ingin berkeliling di perusahaan yang super besar ini.
"Jaga dirimu, aku hanya sebentar," Josh mengecup bibir Frey sekilas, lalu keluar dari ruangan tersebut.
Setelah Josh keluar, diam-diam Frey menyusup keluar. Gadis itu berjalan menyusuri sudut demi sudut yang ada di perusahaan milik mertuanya. Frey juga turun ke lantai dasar, gadis itu menatap lobby yang begitu mewah. Dia tak henti-hentinya merasa takjub. "Wah, saat besar nanti. Kau harus memiliki perusahaan sebesar ini Frey," ucapnya seraya menatap karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Kau pasti akan memilikinya gadis muda."
BERSAMBUNG...
__ADS_1