
Dua malam Freesia menginap di tempat Lynda, pagi ini gadis itu kembali ke rumah Josh karena harus kembali bersekolah setelah dua minggu libur. Setibanya di rumah, Freesia segera ke kamarnya untuk bersiap-siap. Setengah jam kemudian Freesia turun ke dapur untuk sarapan.
"Pagi non," sapa mbok Endang seraya menaruh segelas susu untuk nona mudanya.
"Pagi mbok," Freeisa tersenyum ramah, seperti sebelumnya gadis itu kembali mengajak mbok Endang untuk sarapan bersama.
Setelah sarapan, Freesia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki karena sepeda bututnya tertinggal di rumah Anne sementara di rumah Josh tak ada kendaraan yang bisa dia tumpangi untuk pergi ke sekolah.
"Aish, Kamvret, gue telat," Freesia segera berlari setelah memeriksa jam tangannya, sekitar lima menit lagi pintu gerbang sekolah akan tertutup dan Freesia tidak boleh sampai telat. Freesia berhenti beberapa kali untuk mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal, saat dia akan lari lagi, tiba-tiba sebuah motor sport menepi di dekatnya. Freesia menatap aneh ke arah pemilik motor sport yang sedang membuka kaca helm-nya.
"Axel," ucap Freesia dalam hati, setelah pengakuan Axel beberapa hari yang lalu, Freesia merasa canggung saat mereka kembali bertemu.
"Naik, cepat!" ujar Axel seraya menepuk jok belakang.
"Tidak usah Axe, gue masih sanggup lari," tolak Freesia secara halus.
"Dua menit lagi pintu gerbang di tutup, sekenceng apapun loe lari loe bakal telat! Ayo cepat naik!"
Freesia kembali melirik jam tangannya, terpaksa gadis itu menepis kecanggungan di hatinya dan naik ke atas motor Axel.
"Pegangan," titah Axel namun tak di hiraukan oleh Freesia. Axel tersenyum smrik, pemuda itu segaja melepas kopling sehingga tubuh Freesia terhentak ke depan, Axel lalu menarik gas dan membuat Freesia reflek memeluk tubuhnya. "Jangan panggil gue Axel kalau gue nggak bisa dapetin loe," batin Axel dengan senyum penuh kemenangan.
Kedatangan Axel dan Freesia tentu saja menarik perhatian seluruh siswa SMA Angkasa, desas desus mengenai hubungan mereka mulai tersebar. Banyak yang menganggap mereka begitu serasi, namun tak sedikit dari mereka yang menganggap jika Freesia pasti telah menggoda Axel, cowok super cool yang selalu menolak ajakan kencan pasa gadis di sekolah itu.
Freesia berlari ke kelasnya karena merasa risih dengan tatapan fans fanatik Axel, gadis itu sampai merinding karena merasa mereka akan memakannya. Setibanya di kelas, tatapan horor kembali Freesia terima, namun kali ini dari kedua temannya yang sudah pasti meminta penjelasan mengapa Anne mengusirnya.
"Sumpah gue bakal cerita, tapi nggak sekarang. Nanti jam istirahat gue bakal ceritain semuanya!' sebelum Cia dan Kayli bertanya, Freesia lebih dulu membungkam mulut kedua sahabatnya.
.
.
.
Di kantin sekolah, ketiga gadis remaja duduk saling berhadapan dengan di temani tiga piring spageti dan tiga gelas ice lemon tea. Kayli dan Cia sengaja duduk bersebelahan agar mereka bisa menatap wajah Freesia dan menginterogasi sahabatnya itu.
"What happen Freesia Lovina?" tanya Cia dengan tatapan tajam, setajam silet.
Freesia menyedot ice lemon tea miliknya, gadis itu lalu mengatur nafasnya sebelum bercerita kepada kedua temannya.
__ADS_1
"I'm married," jawabnya dengan wajah serius.
Hening... ...
"Hahah...." Cia dan Kayli tertawa terbahak-bahak, keduanya bahkan sampai menangis karena mengira Freesia hanya sedang melucu.
"Wah otak loe udah geser kayaknya," Cia beranjak dari duduknya, gadis tomboy itu lalu duduk di sebelah Freesia dan menempelkan punggung tangannya di kening Freesia.
"Gue masih waras girl, dan gue serius!" tegas Freesia lagi.
"Oke oke, loe serius, terus loe nikah sama siapa? Sugar dady? Crazy rich Jakarta? Or Axel?" sahut Cia masih dengan senyum tak percaya.
Freesia lalu meletakkan tangan kanannya di meja, memamerkan sebuah cincin bertahtakan berlian yang melingkar di jemarinya, hari ini Freesia sengaja memakai cincin itu karena tau jika kedua temannya tidak akan percaya tanpa sebuah bukti. "Kalian ingat Kapten Josh?" tanya Freesia kepada dua temannya.
"Pria seratus tangkai bunga?" tebak Kayli tetap sasaran.
"Ya, aku menikah dengannya!"
Cia dan Kayli yang tadinya tak percaya kini mulai serius menyimak cerita Freesia.
"Gimana ceritanya loe nikah sama om om itu?" Cia menatap serius sahabatnya,gadis itu ingin segera mendengar cerita lengkapnya.
"Wah gila loe, loe bener-bener udah hilang akal," celetuk Cia setelah Freesia menyelesaikan ceritanya.
"Gue kira itu cuma mimpi Cia, sumpah gue sampai pingsan saat gue sadar itu semua nyata!"
"Terus apa yang terjadi dengan bibi Anne?" Kayli bertanya setelah cukup lama diam dan hanya menyimak.
"Keluarga Josh datang toko bunga dan memberi tahu bibi Anne kalau gue udah nikah. Dan ya begini hasilnya, gue di usir dari rumah."
"Terus loe tinggal dimana sekarang?" tanya Cia dengan wajah cemas.
"Gue tinggal di rumah Josh."
"Bareng sama Josh?" cecar Kayli dan Freesia hanya mengangguk.
"Oh my Godness."
"Astaga naga."
__ADS_1
Cia dan kayli menggelengkan kepalanya seolah tak percaya jika kini sahabatnya sudah menikah di usianya yang baru 18 tahun.
"Terus loe udah anu anu?" tanya Cia ambigu.
"Anu-anu apa Ci?" sahut Kayli dengan wajah polos.
"Anu-anu," Cia menyatukan kedua ujung jari telunjuknya dan menggerakkannya seolah jemari itu sedang berciuman.
"Loe udah ciuaman!" teriak Kayli yang berhasil menarik perhatian pengunjung kantin, Cia langsung berpindah dan membekap mulut Kayli.
"Udah apa belum Frey, gimana rasanya. Apa enak?"
"Cia, loe ngomong apa si," jawab Freesia dengan wajah bersemu merah, gadis kecil itu kembali membayangkan saat dia berciuman dengan Josh dan saat Josh memeluknya sepanjang malam saat dia demam.
"Astaga naga, wajah loe kaya tomat busuk, itu artinya loe udah anu-anu sama om itu," tebakan Cia semakin membuat Freesia salah tingkah.
"Cuma ciuman Cia, nggak lebih!"
"What? Oh my god, ceritain gimana rasanya ciuman?" Cia begitu barsemangat, namun sebelum Freesia menjawab, beberapa siswi menghampiri meja Freesia dan kedua temannya.
"Eh tukang bunga," panggil salah seorang siswi berambut hitam.
"Apa," sabut Freesia malas, Freesia sudah tau maksud kedatangan mereka pasti ada hubungannya dengan Axel.
"Loe ngapain berangkat bareng Axel?"
Freesia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan, gadis itu lalu berdiri dan menatap ke empat gadis yang sedang menatapnya penuh kemarahan. "Bukan urusan loe!" jawab Freesia cuek. "Girls, cabut!" Freesia melirik kedua temannya dan mengajaknya pergi dari kantin.
Freesia melewati empat gadis itu begitu saja, namun langkah Freesia tertahan saat salah satu dari empat gadis itu menarik rambutnya dengan kasar.
"Denger ya tukang bunga, loe itu cuma cewek miskin yang beruntung karena bisa sekolah di sini, loe jangan mimpi jadi Cinderella dan berharap Axel jadi pangeran loe! Dasar miskin!" hina gadis bernama Frily, salah satu anak pejabat yang sudah naksir Axel sejak mereka duduk di bangku kelas satu.
Tak terima dengan perlakuan Frily yang kasar, Freesia membalas menarik rambut panjang Frily dan menatapnya dengan tajam. "Buka kuping loe lebar-lebar, gue sama Axel nggak ada hubungan apa-apa, tadi pagi gue telat dan Axel nawarin tumpangan. Dan satu hal lagi, gue emang penjual bunga yang miskin, tapi duit gue seratus persen halal, dari pada loe, anak pejabat korup. Jangan loe kira semua orang nggak tau kalau bapak loe lagi kena masalah karena nilep duit rakyat!"
"Loe, beraninya loe menghina dady gue!" Frily melayangakan tangannya, gadis itu berniat menampar wajah Freesia namun seseorang menahannya.
"Berani loe nyentuh Freesia, gue pastiin jari-jari loe latah satu per satu!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1