Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Perasaan aneh


__ADS_3

Axel membawa Frey jalan-jalan mengitari ibu kota, pemuda itu hanya diam dan membiarkan gadis yang dia cintai untuk lebih tenang. Saat melewati sebuah taman kota, tiba-tiba Frey menyuruhnya untuk berhenti.


"Ada apa Frey?" tanya Axel seraya menepikan mobilnya.


"Maaf Axe, tapi gue pengin makan permen kapas itu," frey menunjuk penjual permen kapas yang berada di area taman.


Axel terkekeh, pemuda itu lalu melepas sabuk pengamannya. "Loe tunggu di sini biar gue beliin," Frey hanya mengangguk, Axel lalu turun dari mobil dan menghampiri penjual permen kapas yang Frey inginkan. Beberapa saat kemudian Axel kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa dua permen kapas di tangannya.


"Wah, thanks Axe," bola mata Frey berbinar, gadis itu segera meraih satu permen kapas yang Axel berikan kepadanya. "Axe, gak papa makan di mobil?" tanyanya saat akan membuka bungkus permen tersebut.


"It's okay queen," jawab Axel dengan senyum yang begitu tulus.


"Jangan panggil gue queen, norak Axe! Nama gue Freesia. F-r-e-e-s-i-a," protes Frey, gadis itu bahkan mengeja namanya agar Axel berhenti memanggilnya dengan sebutan aneh. Selain kurang nyaman, Frey juga khawatir keluarga Josh mendengar panggilan Axel kepadanya dan menjadi salah paham.


"Okay okay Freesia Lovina," Axel memilih patuh karena dia tidak ingin membuat mood Frey kembali memburuk. "Let's eat Frey!"


Keduanya lalu menikmati makanan manis itu bersama-sama, sesekali Frey tersenyum saat permen kapas itu meleleh di mulutnya. Axel merasa lega, setidaknya dia bisa membuat Frey tersenyum hari ini. Lalu tanpa Frey sadari, Axel mengambil foto mereka berdua dan mengirimkannya kepada Josh.


'To day, i'm winner!!!!'


Axel tersenyum penuh kemenangan setelah mengirim fotonya dan Frey kepada Josh. Entah mendapat kepercayaan diri dari mana, Axel merasa dia bisa merebut Frey dari Josh suatu saat nanti.


"Loe kesambet? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Frey seraya menatap heran pemuda yang duduk di sebelahnya.


"Ah, gue cuma seneng karena bisa makan permen kapas," jawaban Axel tak sepenuhnya bohong, terlahir sebagai anak orang kaya dan satu satunya membuat kedua orang tua Axel begitu mengatur pola makan Axel, pemuda itu hanya makan masakan yang di buat oleh koki pribadi mereka.


"Emang loe belum pernah makan permen kapas?" Axel hanya mengangguk dengan senyum kikuk.

__ADS_1


"Wajar sih, anak orang berduit kaya loe pasti nggak pernah ngrasain jajanan pinggir jalan kaya cilok, cilor, bakso aci, telur gulung, papeda, cimol dan masih banyak jajajan enak lainnya," cibir Frey dengan lembut.


"Itu semua nama makanan?" Axel bertanya dengan begitu polos.


"Ya iyalah. Loe bener-bener nggak tau itu semua?" Frey tampak begitu terkejut, padahal tadi Frey hanya menggoda Axel, tapi siapa sangka pemuda itu memang tidak tau jajanan pinggir jalan. "Lain kali gue traktir jajan di pinggir jalan ya!"


"Jangan bohong, gue bakal tagih janji loe Frey!"


"Asiaap!"


.


.


Sebelum jam makan siang, Axel dan Freesia sudah berada di mansion utama. Rumah besar itu nampak sepi karena penghuninya sedang melakukan pekerjaan masing-masing. Frey dan Axel berada di meja makan karena kedua bocah itu kelaparan setelah hampir setengah hari jalan-jalan tanpa tujuan. Keduanya duduk bersebelahan dan terlihat begitu akrab. Keduanyq tengah menikmati makan siang mereka.


"Ya hallo," jawabnya tanpa melihat layar sehingga dia tidak tau siapa yang menelfonnya.


"Jov, apa Frey belum pulang sekolah? Kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi?"


Jovanka menarik ponselnya dari telinga dan menatap layar benda pipih itu, rupanya Joshua yang menelfon. "Frey, entah. Sepertinya tadi aku mendengar suaranya," jawab Jovanka setelah menempelkan kembali ponsel ke telinganya


"Cari dia Jov, aku ingin bicara padanya!"


"Kenapa tidak telefon Frey saja, aku sedang sibuk!"


Josh terdengar menghela nafasnya. "Sudah ku bilang ponselnya tidak aktiv!"

__ADS_1


"Kenapa kau marah padaku. Salah sendiri dari kemarin tidak bisa di hubungi. Kakak ipar pasti marah padamu Josh," cobir Jovanka.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu!"


"Apa itu?" Jovanka kembali bertanya, kali ini dia sedikit penasaran, apa yang perlu Josh pastikan sampai pria itu menghilang beberapa saat.


"Bukan urusanmu. Cepat berikan ponselmu kepada Frey, aku ingin bicara kepadanya!"


Samar-samar Jovanka mendengar suara tawa Frey dari lantai bawah. "Sepertinya dia memang di rumah!"


"Cepat berikan Jov!"


Jovanka lalu keluar dari kamarnya, dari tangga dia dapat melihat dengan jelas Frey dan Axel sedang bercanda, seketika timbul niat iseng di kepala Jovanka, gadis itu mengalihkan panggilan menjadi panggilan vidio dan dengan sengaja mengarahkan kamera ke arah Axel dan Freesia.


"Woa, sepertinya mereka semakin dekat. Jika di pikir-pikir mereka sangat cocok. Dua-duanya sama-sama masih muda dan sepertinya Axel juga sangat menyukainya," ucap Jovanka panjang lebar.


Josh yang sebelumnya sudah melihat foto yang di kirim oleh Axel semakin kesal saat melihat kedekatan kedua bocah itu. "Axel hanya peduli dengan temannya," sangkalnya mencoba meredam gejolak aneh di dadanya.


"Sepertinya Axel menganggapnya lebih dari teman. Axel selalu melindungi Frey saat gadis itu terkena masalah. Dan pagi ini mereka berangkat sekolah bersama. Ah, mereka sangat cute," Jovanka menahan senyumnya saat wajah Josh terlihat kesal, kini sepertinya Jovanka menyadari jika Josh sedang cemburu.


"Josh kau masih di sana kan? Jadi bicara sama Frey tidak?" tanya Jovanka karena Josh hanya diam.


"Tidak lagi!" Josh lalu mematikan panggilan, membuat Jovanka tertawa karena sikap kakaknya sangat lucu. Namun saat Jovanka kembali ke kamarnya, ponselnya kembali berbunyi dan Josh kembali menghubunginya.


"Jov, carikan media yang dapat di percaya. Aku akan klarifikasi!"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2