
Bridge Sigriswil, Swiss
Setelah berada dua jam di atas pesawat, akhirnya Josh dan Freesia tiba di sebuah lokasi wisata yang populer di Swiss yaitu jembatan Sigriswill, jembatan yang bernama asli Panoramabrücke Sigriswil ini adalah sebuah jembatan gantung dengan panjang mencapai 340 meter dan tinggi 180 meter dari permukaan tanah. Jembatan ini menawarkan pemandangan Danau Thun yang indah dengan latar belakang Bernese Alps.
Freesia menatap Josh tak percaya, dia tak menyangka Josh akan membawanya ke tempat yang begitu indah dan tak pernah terbanyangkan oleh Freesia sebelumnya.
"Kau mau menyeberangi jembatan itu?" tanya Josh seraya tersenyum, entah mengapa dia menyukai saat mata Freesia berbinar karena bahagia.
"Siapa takut?" Freesia merasa tertantang, menurutnya bukan hal sulit jika hanya menyeberangi sebuah jembatan. Namun dugaan Freesia meleset jauh, saat berada di tengah jembatan tersebut tiba-tiba tubuh Freesia bergetar dan kakinya terasa lemas setelah menyadari jika jembatan tersebut sangatlah tinggi.
"J-J-Josh, apa masih jauh?" tanya Freesia dengan suara terbata, sungguh dia tak punya tenaga lagi untuk sampai di ujung jembatan.
"Masih setengah lagi Frey, kau takut?" selidik Josh seraya menatap tubuh bagian belakang Freesia yang terlihat bergetar. "Kau baik-baik saja kan Frey?" Josh mulai khawatir karena Freesia tak melanjutkan langkahnya.
"A-aku ba-baik-baik saja," bohong Freesia, sekuat tenaga dia mengangkat kakinya, namun kakinya enggan bergerak maju seolah terpaku dengan jembatan tersebut. "Josh aku menyerah, aku kalah," aku Freesia setelah beberapa menit berhenti di tengahjembatan tersebut.
Josh terkekeh mendengar suara Freesia yang terdengar putus asa, pria itu lalu mendahului Freesia dan berjongkok di hadapan Freesia. "Ayo naik sebelum kau pingsan," ucap Josh seraya menepuk punggungnya.
"Na-naik?" ulang Freesia tak percaya.
"Cepat sebelum kau pingsan Frey!"
"Maaf Josh," lirih Freesia, gadis kecil itu lalu naik ke punggung Josh dan mengalungkan kedua tangannya di leher Josh.
Josh lalu mengait kedua paha Freesia dengan tangannya dan mulai menggendong Freesia melewati jembatan gantung tersebut. Selama perjalanan Freesia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Josh, namun perbuatan Freesia malah membuat Josh merasa kurang nyaman saat hembusan nafas Freesia menyapu lehernya dan membuatnya meremang. Meski sedang patah hati,namun Josh tetaplah pria normal bukan, apalagi benda kenyal yang menempel di punggungnya membuat Josh menelan ludahnya berkali-kali.
"Frey apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Josh guna mengalihkan pikiran mesyumnya yang tiba-tiba timbul.
"Ya," jawab Freesia tepat di telinga Josh dan semakin membuat pria itu meremang.
"Kau bukan asli Indonesia kan?"
"Hem, dari mana kau tau?" kini Freesia yang bertanya karena penasaran.
__ADS_1
"Wajahmu tak seratus persen wajah Asia, apalagi saat aku melihat Anne, wajahnya seperti wajah orang Eropa," jelas Josh.
"Kata bibi keluarga ayahku berasal dari Belanda, sementara ibuku dari Indonesia," ucap Freesia menjawab rasa penasaran Josh. "Kalau kau, dari mana kau berasal Josh, kenapa semua keluargamu memiliki mata yang begitu cantik?"
"Kami dari Amerika. Lynda memutuskan pindah ke Indonesia saat dady ku masih kecil dan memulai bisnis di sana."
"Oh begitu."
Tanpa terasa percakapan panjang mereka mengantarkan keduanya ke ujung jembatan. Josh lalu menurunkan tubuh Freesia dengan perlahan.
"Frey apa kau mau melihat salju abadi?" tawar Josh saat melihat Freesia sudah tenang, Josh hanya ingin membahagiakan Freesia sebagai bentuk permintaan maafnya karena telah menyeret gadis kecil itu ke dalam hidupnya.
"Apa tidak merepotkanmu Josh?" Freesia merasa tak enak hati karena merepotkan Joshua.
"Tidak. Ayo kita pergi."
Freesia mengekori Josh dan mereka menaiki bus wisata menuju tempat selanjutnya. Selama di dalam bus wisata Freesia lebih banyak diam dan menikmati pemandangan yang begitu luar biasa. Beberapa menit kemudian mereka tiba di kaki gunung Titlis, salah satu Gunung yg berada di daerah pengunungan Alpen yg berada di Swichzherland, pegunungan yang memiliki Salju abadi yang sangat indah dan menakjubkan.
"Oh my Godness," pekik Freesia seraya menutup mulutnya, pemandangan di depannya sungguh membuat gadis kecil itu merasa seperti sedang bermimpi.
"Mau naik kereta gantung?" Josh menunjuk kereta gantung yang berlalu lalang menuju punjak gunung Titlis.
"Kenapa harus takut, ada aku bersamamu!"
Freesia mengangkat kepalanya, gadis kecil itu lalu menatap wajah Josh yang mampu menyihirnya, wajah tampan itu benar-benar membuatnya tenang.
"Baiklah."
Freesia akhirnya memberanikan diri menaiki kereta gantung menuju puncak Titlis. Setelah membeli tiket, kedua orang itu sudah berada di dalam kereta gantung dan siap menjelajahi pengunungan Alpen yang tertutup salju abadi. 40 menit perjalanan menuju puncak Titlis mereka habiskan untuk menikmati panorama lembah serta pegunungannya yang semakin terlihat mempesona dan menakjubkan saat mereka tiba di atas puncak gunung.
"Pemandangannya sangat indah Josh," ucap Freesia penuh kekaguman ketika mereka tiba di puncak. Matanya berbinar dan senyumnya mengembang membuat wajah cantiknya semakin memesona.
"Ya sangat indah," sahut Josh seraya menatap wajah Freesia, tanpa dia sadari yang di puji indah adalah wajah Freesia, bukan pemandangan yang Freesia maksudkan.
__ADS_1
Hari semakin sore, keduanya memutuskan untuk turun dan mencari penginapan di sekitar kaki gunung sebelum melanjutkan perjalanan mereka untuk menjelajahi Eropa Barat. Ketika turun, Freesia mengambil banyak foto yang akan dia pamerkan kepada kedua sahabatnya.
"Josh, apa kau mau foto denganku?" tanya Freesia tanpa ragu, dia sangat yakin Josh tak akan menolaknya.
"Tentu," Josh menjawabnya dengan senyuman, pria itu lalu berlindah tempat dan duduk di sebelah Freesia.
Tak ingin menyiakan kesempatan langka, Freesia menyenderkan kepalanya di bahu Josh dan bersiap mengambil foto. "Aku harap kau tak salah paham Josh, kita harus berfoto sedekat ini agar Lynda mempercayai hubungan kita," kata Freesia memberi alasan, nama Lynda memang cara terampuh untuk lebih dekat dengan Josh. Benar-benar gadis kecil yang picik bukan?
"Hem," Josh hanya bergumam dan berusaha tersenyum lebar agar hasil foto mereka terlihat bagus.
"Josh lihat, hasilnya sangat bagus," Freesia menunjukan hasil foto mereka sehingga jarak mereka semakin dekat.
"Wah kau sangat mahir mengambil foto ya," puji Josh seraya menatap Freesia, di saat yang bersamaan Freesia menoleh sehingga tatapan mereka saling beradu.
Kereta gantung hendak mendarat sehingga terjadi guncangan yang cukup membuat Freesia dan Josh kehilangan keseimbangan, wajah keduanya saling bersitubruk dengan posisi bibir saling menempel. Dengan tidak sengaja mereka kembali berciuman untuk yang kedua kalinya.
Untuk sesaat keduanya saling diam, merasakan bibir hangat yang saling menempel.
"Maaf Frey," Josh menjauhkan wajahnya, pria itu melihat sekeliling untuk menghilangkan debaran di jantungnya.
Freesia tak bisa berkata-kata, gadis kecil itu meraba bibirnya dengan wajah bersemu merah. Oh ayolah, gadis kecil itu mengharapkan ciuman yang lebih dalam.
"Ayo kita turun!"
"Hem."
Freesia kembali mengikuti langkah Josh, kecanggungan jelas terasa di antara mereka berdua. Hingga keduanya berhenti di sebuah penginapan yang berada di kaki gunung.
Josh dan Freesia masuk ke dalam penginapan tersebut dan menghampiri wanita tua yang berjaga di penginapan tersebut.
"Permisi, apa masih ada kamar yang kosong?" tanya Josh dengan ramah.
"Hanya tersisa satu kamar saja," jawab wanita tua itu seraya menunjukan sebuah kunci yang tersisa.
"Hem, kalau begitu kami akan mencari penginapan yang lain, kami butuh dua kamar!" Josh hendak pergi namun wanita tua itu menahannya.
__ADS_1
"Anak muda, penginapan di sekitar sini hampir semuanya penuh, hari juga hampir gelap, biasanya badai datang saat menjelang gelap, lebih baik ambil kamar ini dan berbagi dengan kekasihmu!"
BERSAMBUNG...