
Josh tak memperdulikan lagi pekerjaannya, yang ada di kepalanya saat ini hanya Frey dan Frey. Dia harus segera kembali ke Jakarta. Karena tak ada penerbangan dini hari ke Jakarta, terpaksa Josh menggunakan kekuasaannya. Pria itu menghubungi Jimmy dan menyuruh sang dady untuk mengirimkan helikopter ke Bali.
Dua jam kemudian, helikopter pribadi milik Jimmy tiba di Bali, Josh tidak ingin membuang waktu dan segera kembali ke Jakarta. Selama perjalanan pulang, kepalanya di penuhi ketakutan yang teramat sangat. Seharusnya Josh tidak pergi saat Frey menahannya, seharusnya dia menuruti keinginan istri kecilnya. Josh benar-benar menyesal.
Jam lima pagi Josh tiba di rumahnya. Di sana sudah ada Katherine, Jonathan dan bahkan Lynda. Dengan langkah yang begitu panjang, Josh menghampiri saudara kembarnya.
"Apa yang terjadi? Bukankah kau mengantarnya sampai ke rumah?" tanya Josh dengan wajah memerah, pria itu marah kepada Jonathan karena pria itu mengajak Frey bertemu, jika Frey langsung pulang mungkin sajaa dia tidak akan di culik.
"Sorry Josh. Aku sangat sibuk, jadi aku menyuruh supir mengantarkan Frey pulang. Aku sangat menyesal Josh," jawab Jonathan apa adanya, dia akan menerima kemarahan Josh karena dia merasa memang semua itu adalah kesalahannya.
Josh mencengkeram kerah Jo dan menatapnya tajam. "Kalau sampai Frey terluka, aku tidak akan mengampunimu Jo," ucapnya dengan nada mengancam.
"Lepaskan adikmu Josh. Jo tak sepenuhnya salah, dia juga sangat menyesal karena tidak mengantar Frey pulang. Tapi asal kau tau Josh, dia sudah mencari istrimu seperti orang gila, dia bahkan baru datang setelah memeriksa CCTV di sepanjang jalan," Katherine mencoba melerai, wanita itu melepaskan cengkeraman tangan Josh di kerah Jo. Sungguh dia tidak suka saat kedua putranya bertengkar.
"Jadi bagaimana, apa kau menemukan pentunjuk?" Josh bertanya dengan lebih lembut.
"Mereka memakai plat mobil palsu. Kami mencoba melacak ponsel Frey dan menemukannya di pinggir jalan," jawab Jo seraya menyerahkan ponsel milik Frey kepada Josh.
"Love, kau di mana?" gumam Josh dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Jo, kau sudah menyelidiki Jennifer?" ujar Lynda, sejak mendengar berita Frey di culik, satu-satunya orang yang dia curigai hanyalah Jennifer.
"Sudah Grann, aku sudah mencari ke apartemennya tapi dia tidak ada di sana. Kata managernya sudah seminggi lebih Jennifer tidak pulang ke apartmennya."
"Kerahkan anak buahmu, cari keberadaan Jennifer. Aku yakin, wanita ular itu yang menculik Freesia!"
"Baik Grann!"
Sementara itu, Anne terus menempel pada ibunya. Anne yakin jika Maggie lah yang sudah menculik Frey.
"Sudan aku katakan, bukan aku yang melakukannya Ann," ucap Maggie kesal karena sepanjang malam Anne terus mengikutinya, Anne bahkan sampai ikut tidur di kamar Maggie.
"Terserah kau saja Ann, ibu lelah!" Maggie menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Sebenarnya dia juga merasa senang karena Anne terus mengikutinya. Maggie lalu teringat masa lalu, Anne adalah gadis yang sangat patuh, dia juga sangat menempel kepadanya. Bahkan Anne tidak bisa tidur jika tidak tidur dengan ibunya.
"Ann," panggil Maggie begitu lembut, wanita itu lalu menyibak selimutnya dan menoleh ke samping, tepat dimana putrinya berada.
"Apa?" jawab Anne, tatapan lembut sang ibu membutnya sangat merindukan masa-masa sebelum ayahnya meninggal. Dahulu Maggie sangat dekat dengan anak-anaknya, namun setelah suaminya meninggal, dia mulai sibuk mengurus perusahaan dan mulai menjauh dari anak-anaknya. Maggie lebih sering menyendiri dan menjadi pemarah.
"Bagaimana caramu bertahan setelah kabur dari rumah?"
__ADS_1
"Ibu pasti sudah tau jawabannya. Aku tau ibu mengawasiku selama ini kan?"
"Haha, benar juga."
Maggie menatap langit-langit kamar, dia ingin berbicara lebih banyak lagi namun dia merasa canggung. "Tidurlah, dulu kau selalu merengek untuk tidur bersama ibu."
"Itu dulu bu. Sekarang aku sudah tua. Lebih baik katakan saja dimana ibu menyembunyikan Frey!"
"Ck, ibu tidak tau Anne. Tanya saja pada Andrew kalau kau tak percaya. Ibu lelah Ann, ibu mau tidur. Jangan bicara lagi!" Maggie kembali menutup selimut hingga kepala. Anne menghela nafas, wanita itu lalu keluar dari kamar sang ibu.
Setelah putrinya keluar, Maggie kembali membuka selimutnya. Wanita tua itu duduk dan bersanda di headboard. Maggie meraih ponselnya dan menghubungi Andrew.
"Ya nyonya," ucap Andrew membuka percakapan.
"Cari tau siapa yang menculik cucuku," ujarnya memberi perintah.
"Baik nyonya."
BERSAMBUNG...
__ADS_1