
Semua orang panik, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga setelah mendengar teriakan Jonathan. Bahkan orang-orang suruhan Jimmy turut hadir di tengah keluarga Janzsen.
"Jo, kau yakin momy keluar bersama Frey?" tanya Jimmy dengan wajah khawatir, meski kerap bermain di belakang istrinya, namun dia tetap khawatir saat istrinya tiba-tiba keluar dari rumah setelah 10 tahun mengurung diri di dalam mansion.
"Silahkan periksa CCTV kalau dady tak percaya!"
"Hey kau," Jimmy menunjuk salah satu anak buahnya. "Cek CCTV!"
"Baik tuan."
Tak berapa lama kemudia, layar monitor di ruang keluarga menyala, menunjukan rekaman CCTV seperti yang Jimmy minta. Semua orang kembali terkejut saat melihat Katherine dengan santainya keluar dari rumah..
"Kemana mereka pergi dengan gaun dan dandanan glamor ?" tanya Lynda dengan kening mengkerut.
"Mereka bilang, mereka akan berperang Grann," sahut Jonathan.
"Berperang?" ulang Lynda yang terlihat semakin bingung.
"Jangan bilang...?" Jovanka tidak melanjutkan kalimatnya karena dia tidak yakin Frey dan momy pergi ke tempat yang ada di pikirannya.
"Jangan bilang apa Jov? Kau tau mereka kemana?" Jonathan menimpali.
"Aku tidak yakin sih, tapi mungkin mereka pergi ke rumah Jennifer!"
"Apa!" pekik semua orang secara bersamaan.
"Cepat cari mereka!"
Sementara itu Frey dan Katherine sudah hampir tiba di apartement milik Jennifer. Berbekal informasi yang ada di internet, Frey berhasil menemukan alamat mantan kekasih suaminya. Mobil yang mereka tumpangi berhenti di lobby apartemen, namun Katherine seolah terpaku dengan tangan yang terus bergetar.
"Apa kita pulang saja nyonya? Kita bisa mencobanya lain waktu," ucap Frey, dia tak tega melihat sekujur tubuh Katherine yang bergetar hebat.
"Tidak Frey, aku harus masuk dan mengambil kalung itu!"
"Anda yakin akan baik-baik saja?"
"Hem."
Entah keberanian dari mana, Frey menggenggam tangan Katherine, gadis itu menatap lembut ibu mertuanya yang sedang gusar. "Mom," panggil Frey yang sontak membuat Katherine menoleh. "Bolehkan, Frey memanggil momy?" sorot mata lembut serta tangan hangat Frey seolah menyihir Katherine, wanita itu mengangguk mengiyakan permintaan gadis kecil yang duduk di sampingnya. "Ada Frey di samping momy, kalau momy ragu biar Frey yang menemui wanita itu dan meminta kalung momy."
"Tidak Frey, aku harus menemuinya. Aku harus memberikan pelajaran untuk rubah itu!"
"Baiklah. Mari kita turun. Jangan lupa kaca mata hitamnya mom," menurut Frey kaca mata hitam mungkin membantu Katherine untuk menekan rasa takutnya. "Segera beri tahu Frey kalau momy merasa kurang nyaman!"
Frey lalu keluar dari mobil dan membantu Katherine turun, gadis itu menggenggam tangan Katherine yang terus bergetar. Meski hampir sekujur tubuhnya di basahi keringat dingin, namun Katherine mampu melawan rasa takutnya, dengan langkah kaki yang begitu berat Katherine berhasil sampai di depan unit apartmen milik Jennifer.
__ADS_1
Frey menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, setelah berhasil mengusir kegugupannya, Freesia menekan bel dan beberapa saat kemudian pintu terbuka, menampakan seorang wanita asing yang belum pernah Frey lihat sebelumnya.
"Cari siapa ya?" tanya wanita itu dengan wajah sedikit tegang.
"Apa Jennifer tinggal di sini?" Frey bertanya dengan sebuah senyum di wajahnya.
"Ti-tidak, kalian salah alamat!" wanita itu lalu menutup pintu, namun sebelum pintu benar-benar tertutup kaki Frey lebih dulu mengganjalnya. "Kalian mau apa?" tanyanya gugup.
"Kami hanya ingin bertemu Jennifer. Ada urusan pekerjaan yang belum selesai."
"Tidak ada Jennifer di sini!"
"Siapa yang datang Win?" teriak sebuah suara dari dalam apartemen.
"Wah itu Jennifer. Anda tidak boleh bohong, nanti di marahin Tuhan lo," Frey mendorong pintu dengan kuat sehinga wanita yang merupakan manager Jennifer terpental dan jatuh. Frey langsung manarik tangan Katherine dan menerobos masuk.
Frey dan Katherine segera menghampiri Jennifer yang sedang duduk sambil minum wine. "Wah apartemenmu mewah juga ya," ucap Freesia seraya mengamati isi apartemen tersebut.
Suara yang sangat dia kenali, suara yang begitu Jennifer benci tiba-tiba terngiang di telinganya. Wanita itu lalu mengangkat kepalanya dan terkejut melihat kedatangan Frey dan seorang wanita di sampingnya.
"Kau rupanya, rubah kecil," Jennifer meletakan gelas berisi wine di atas meja, wanita itu lalu berdiri dan menatap tajam ke arah Frey.
"Kalau aku rubah kecil , berarti kau induknya," sindir Frey di sertai senyum mengejek.
"Cih, baguslah kau datang kemari. Aku lebih mudah memberimu pelajaran di sini! Tapi siapa yang kau bawa ini?" kini tatapan Jennifer beralih pada Katherine.
"Dasar gadis sialan," Jennifer menggeram, namun hanya sesaat dan dia kembali menatap Katherine seolah-olah dia memang tak mengenali mantan calon mertuanya. "Ah ya, aku mengenalinya sekarang. Selamat datang momy, lama sekali kita tidak bertemu," Jennifer hendak memeluk tubuh Katherine, namun Katherine lebih dulu mendorong tubuh Jennifer.
"Aku tidak sudi memelukmu. Aku datang karena ingin mengambil kalung yang sudah aku berikan kepadamu!" ujar Katherine dengan tatan jijik.
"Ah, kalung jadul itu. Sepetinya aku sudah membuangnya, kalung kuno seperti itu tidak cocok di leherku."
"Dasar wanita rendahan!" maki Katherine dengan rahang mengeras dan sorot mata penuh kebencian. Katherine begitu marah pada dirinya sendiri karena telah tertipu oleh rubah betinya yang nyatanya menjadi duri di dalam pernikahannya. Dahulu Katherine sangat memuja Jennifer, dia berharap wanita itu menjadi menantunya. Namun hari ini Katherine tau wujud asli Jennifer dan yang tersisa kini hanya sebuah kebencian yang teramat dalam.
Plak....
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Jennifer, Frey sedikit terkejut namun dia bisa memaklumi mengapa Katherine sampai memukul Jennifer.
"Beraninya wanita tua sepertimu menamparku," Jennifer memegangi wajahnya yang terasa panas, tak terima di tampar oleh Katherine, wanita itu hendak membalasnya. Namun sebelum tangannya mendarat di wajah Katherine, sebuah tangan kecil lebih dulu menahan tangannya. Jennifer menatap kesal ke arah Frey karena gadis itu berani menghalanginya. "Lepaskan tanganku!"
Frey memutar bola matanya malas, dia lalu mempererat cekalan tangannya di pergelangan tangan Jennifer membuat wanita itu meringis kesakitan. "Dengar indukan rubah, cepat berikan kalungnya atau aku akan mematahkan tanganmu!!"
"Patahkan saja, kau pikir aku takut!" tantang Jennifer dengan sombongnya.
"Oke kalau itu maumu," dengan sekali gerakan, Frey berhasil memutar pergelangan tangan Jennifer dan membuat wanita itu berteriak kesakitan. Windy yang sudah berada di sana hendak menolong Jennifer, namun wanita itu beringsut mundur saat mendapat tatapan mematikan dari seorang Freesia. "Dengar nenek sihir, kembalikan kalung itu selagi aku memintanya baik-baik!"
__ADS_1
"Cih, dasar gadis miskin beraninya kau menyuruhku!"
"Aish, jangan menguji kesabaranku," Frey mendesis kesal, sepertinya susah berbicara dengan wanita bebal seperti Jennifer. Frey lalu melirik Windy. "Tolong carikan kalung milik momy ku ya, kalau tidak ketemu akan aku pastikan tangannya patah saat ini juga!"
"Ba-baik, aku akan segera mencarinya. Jangan sakiti Jennifer," Windy berlari masuk ke dalam kamar Jennifer, ancaman Frey sepertinya cukup menamutkan.
"Momy, hahah. Sejak kapan kalian menjadi ibu dan anak. Bukannya dulu kau sangat membenci gadis ini, sekarang kau mengizinkannya memanggilmu momy. Tapi kalian cocok sih, sama-sama bo**doh!"
"Ya ya, kami memang bodoh, hanya kau saja yang pintar. Pintar merebut suami orang, pintar mendesah dimana mana. Oh astaga, kau bahkan mendesah di parkiran mobil ya. Kau tak ada bedanya dengan an*jing liar, berkembang biak di sembarang tempat!"
"Gadis sialan," Jennifer menggeram, amarahnya semakin memuncak setelah mendapat penghinaan dari Frey secara bertubi-tubi, namun dia tak bisa berbuat apapun karena tangannya masih di pelintir oleh Freesia.
"Tolong lepaskan Jennifer. Ini kalung yang kalian cari," Windy menyerahkan kalung tersebut kepada Katherine.
"Benar itu kalungnya mom?" tanya Frey dan Katherine segera mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kami permisi," Frey melepaskan tangan Jennifer, gadis itu lalu menggandeng tangan Katherine dan membawanya keluar dari apartemen tersebut.
"Aku akan membalas kalian. Akan aku buat kalian menangis darah!"
Frey dan Katherine tak memperdulikan ocehan Jennifer, keduanya keluar dari lobby dan berjalan begitu anggun menuju mobil yang telah terparkir di depan lobby apartemen. Katherine merasa begitu lega karena setidaknya dia bisa melampiaskan kemarahannya dengan memukul wajah Jennifer.
Di depan lobby mereka terkejut karena anak buah Jimmy berhasil menemukan mereka dan membawa mereka pulang ke mansion.
"Terima kasih banyak Frey," ucap Katherine dengan tulus.
"Sama-sama mom."
Setibanya di mansion utama, keduanya langsung di interogasi oleh Lynda di ruang keluarga. Di sana juga ada Jimmy dan Jonathan yang turut penasaran sejak kapan Katherine bisa keluar rumah.
"Sejak kapan kau bisa keluar dari rumah?" tanya Lynda dengan wajah datar, namun dia merasa bersyukur karena Katherine berhasil melawan traumanya.
"Beberapa hari yang lalu."
"Siapa yang membantumu?"
"Freesia!" jawab Katherine dengan kepala tertunduk.
Namun belum sempat Lynda menanyakan lebih jauh lagi, tiba-tiba Jovanka turun dari kamarnya dan menyalakan televisi. Dia bahkan menaikan volume suaranya
"Jovanka, di mana sopan santunmu!" sentak Lynda namun tak di perdulikan olehnyaa.
*Breaking news...
Pesawat J&J Airlines dengan nomor penerbangan JJ123 di kabarkan tergelincir saat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta, pesawat tersebut keluar landasar dan berhenti setelah menabrak perumahan penduduk. Belum di ketahui berapa jumlah korban dalam insiden tersebut. Menurut pihak maskai, pesawat tersebut di kendari oleh pilot Jashua Janzsen dan co-pilot James robin*."
Frey terpaku di tempatnya, sekujur tubuhnya seolah membeku. Nafasnya seakan berhenti dan jantungnya mendadak tak berfungsi. "Tidak mungkin," ucapnya sebelum jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Panjang ni partnya, kasih hadiah yak biar othor seneng haha