Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Kisah masa lalu


__ADS_3

Freesia mulai sadar dan perlahan membuka matanya. Ingatannya mulai kembali, hal terakhir yang dia ingat adalah saat preman-preman itu memukulnya hingga pingsan karena dia terus memberontak. Freesia perlahan bangun dan duduk dengan bersandar di headboard, gadis itu mengamati sekeliling, dia berada di tempat asing namun jelas bukan tempatnya di sekap sebelumnya.


"Aku dimana?" tanyanya pada diri sendiri, gadis itu meringis saat merasakan bibirnya terasa perih dan sekujur tubuhnya sakit. "Josh, aku takut," lirih Frey, gadis itu meraba lehernya dan tidak menemukan kalung pemberian Josh. "Dimana kalungku?"


Kriekk....


Frey menggigit bibir bagian dalam saat dia mendengar suara pintu terbuka, gadis itu beringsut dan merasa takut, siapa yang akan keluar dari balik pintu, apakah orang itu akan menyakitinya lagi?


Frey memicingkan matanya, mencoba mempertajam penglihatannya dan mencari tau siapa yang tengah berjalan ke arahnya. Seorang pria berpakaian rapi membawa nampan di tangannya. Pria itu tersenyum saat melihat Frey sudah bangun.


"Anda sudah sadar nona? Bagaimana kondisi anda?" tanya Andrew dengan sopan.


"Kau siapa?" Frey bertanya dengan rasa takut.


"Saya Andrew. Anda tidak perlu takut, anda berada di tempat aman," jawab Andrew ramah, pria itu meletakan nampan di nakas yang berada di samping tempat tidur. "Sebaiknya nona makan dulu agar nona cepat pulih."


"Di mana aku?" Frey kembali bertanya.


"Di tempat di mana seharusnya anda berada."


"Apa maksudnya?


"Makanlah nona, sebentar lagi nyonya akan menemui anda. Tidak perlu khawatir, saya tidak menaruh racun di makanan anda!" Andrew tersenyum lalu keluar dari ruangan tersebut.


Frey melirik ke sisi nakas, perutnya terasa lapar namun dia takut mati karena racun. Dia tidak boleh percaya begitu saja dengan pria yang baru di lihatnya sekali kan?


"Tapi gue laper banget," Frey memegangi perutnya yang terus berdemo. "Ah bodo amat, kalau gue nggak makan sama aja gue bakal mati kelaparan," Frey meraih nampan tersebut. Air liurnya hampir menetes melihat nasi dan ayam bakar beserta sambel dan lalapannya. "Wah, tuan Andrew tau saja makanan kesukaan gue," gumam Frey, perlahan dia mulai makan untuk mengobati rasa laparnya.


"Gue harus kuat, gue harus bisa pergi dari tempat ini. Josh pasti sangat khawatir."


Frey kembali naik ke atas tempat tidur saat dia mendengar suara pintu terbuka. Dia berharap Andrew datang dan membantunya pulang. Namun kali ini bukan Andrew yang datang melainkam wanita tua yang sangat amat dia kenali.


"Nyonya Maggie," pekik Frey tertahan. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Frey. Bagaimana Maggie bisa berada di tempat ini? Apakah wanita tua itu yang membawanya kemari?

__ADS_1


"Kau sudah sadar?" tanya Maggie dengan senyum samar di wajahnya, wanita tua itu duduk di kursi yang berada di samping ranjang.


"Apa nyonya yang menolong saya?" tanya Frey tanpa basa-basi.


"Nyonya? Bukankah kita sudah sepakat untuk memanggilku oma?"


"Maaf oma. Bisakah oma mengantar saya pulang? Josh pasti sangat khawatir?" pinta Frey dengan sungguh-sungguh.


"Pulang? Kemana kau harus pulang? Kau berada di rumah sekarang Frey," ucap Maggie dan berhasil membuat Frey bingung.


"Saya harus pulang ke rumah suami saya, tolong antarkan saya pulang!"


"Rumahmu di sini Frey!"


"Apa maksud anda?" tanya Frey kebingungan.


"Aku rasa Jennifer sudah menceritakannya kepadamu?"


Deg...


"Jangan bercanda nyonya. Saya harus pulang sekarang!"


"Aku tidak pernah bercanda Freesia Lovina Zantman! Kau pasti bertanya-tanya kan? Baiklah, aku akan menceritakannya perlahan!"


Meski Frey tak mau percaya, namun nalurinya menyuruhnya untuk mendengarkan semua cerita Maggie. Gadis itu mulai penasaran dengan masa lalu yang tidak dia ingat. Selama ini Anne selalu menolak untuk menceritakan masa lalunya.


"Aku mempunyai dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Dia Fedrik Zantman dan Annastasya Zantman. Kau pasti mengenal Annastasya Zantman kan? Bini Anne? ucap Maggie memulai ceritanya.


"Anda mengenal bibi Anne?"


"Tentu saja, dia putriku!"


"Tidak mungkin. Selama ini bibi bahkan tidak pernah bercerita jika kami masih memiliki keluarga," ujar Frey mencoba mengelak ucapan Maggie.

__ADS_1


"Karena bibimu sedang marah dengan oma, itu sebabnya dia melarikan diri bersamamu!"


"Kenapa bibi Anne marah?"


Maggie menghela nafas panjang, wanita itu akan kembali bercerita tentang masa lalu mereka. "Semua berawal saat Fedrik bertemu dengan ibumu. Fedrik menentangku dan memilih menikahi ibumu secara diam-diam. Mereka lari dan tinggal di Indonesia. Sampai akhirnya insiden itu terjadi. Usiamu mungkin 8 tahun saat itu. Saat kedua orang tuamu meninggal dalam kecelakaan pesawat."


"Kecelakaan pesawat?" tanya Freesia dengan bibir bergetar.


"Ya. Apa kau tau siapa yang menyebabkan kedua orang tuamu meninggal?" Frey hanya menggeleng.


"Janzsen, keluarga itu yang menyebabkan orang tuamu meninggal!"


"Apa?" pekik Frey tak percaya. "Bukannya anda bilang mereka meninggal karena kecelakaan pesawat, lalu kenapa anda menyalahkan kekuarga Janzsen?"


"Karena pesawat itu milik keluarga Janzsen. Keserakahan mereka membuat putraku mati. Mereka membeli pesawat bekas yang tak layak terbang!"


"Jangan bicara omong kosong nyonya Maggie!" sangkal Frey tak terima keluarga suaminya di tuduh.


"Aku tidak bohong Freesia. Mereka yang telah membunuh kedua orang tuamu. Kau bisa bertanya pada Anne jika kau tidak percaya padaku!"


Tubuh Frey bergetar hebat, namun dia berusaha untuk untuk tetap tenang. "Lalu apa maksud anda tiba-tiba datang dan menceritakan semua ini pada saya?"


"Sejak lama aku selalu mengawasi kalian. Aku marah saat tau kau menikah dengan salah satu anggota keluarga Janzsen. Aku menceritakan ini agar kau tau siapa sebenarnya keluarga Janzsen itu. Orang tuamu meninggal karena mereka, bukankah kau harus balas dendam!"


Frey tersenyum simpul. "Balas dendam. Untuk apa? Orang tuaku pasti sudah tenang di alam sana!"


"Lalu bagaimana dengan ingatanmu yang hilang? Kau tidak ingin mengingat masa-masa indah bersama orang tuamu?"


"Hilang ingatan? Aku? Jangan konyol nyonya Maggie!"


"Kau bahkan tidak ingat jika kau berada di pesawat itu kan? Kasihan sekali!"


"Aku berada di pesawat itu?"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Like, komen, vote dan jangan lupa tebar hadiah yak yak heheh... Aku kasih tiga bab nih...


__ADS_2