Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Makan malam bersama


__ADS_3

Maggie terkejut dengan kedatangan Anne dan Jonathan. Wanita tua itu semakin terkejut saat pasangan pengantin baru itu mengatakan jika mereka akan tinggal bersamanya, padahal sebelumnya Maggie sudah bersiap untuk tetap hidup sendiri karena dia yakin anak dan cucunya sudah bahagia bersama keluarga baru mereka.


"Kalian yakin?" Maggie bertanya untuk memastikan lagi apakah pendengarannya mulai bermasalah.


"Yakin bu. Lagi pula jarak vila dan perusahaan lebih dekat, bukankah kata ibu aku harus membantu mengelola perusahaan?" jawab Jonathan dengan yakin.


"Ibu," gumam Maggie dengan senyum samar di wajahnya, dia lupa jika pria yang berdiri di samping Anne telah menjadi menantunya. "Ya, kau benar. Kalian tunggulah dulu, biar pelayan menyiapkan kamar kalian!"


Anne dan Jo mengangguk, mereka menunggu di ruang keluarga, namun beberapa detik selanjutnya Maggie mengajak Jonathan ke ruangannya untuk membahas masalah perusahaan.


Di dalam ruang kerja tersebut, Jo dan Maggie duduk berhadapan, Jo masih sedikit gugup menerima tatapan tajam dari ibu mertuanya.


"Apa kau yang memaksa Anne tinggal di sini?" tanya Maggie dengan wajah datar, dia yakin Anne tidak mungkin suka rela tinggal bersamanya.


"Bukan memaksa bu, aku hanya mengajaknya tinggal di sini. Apa ibu keberatan kami tinggal di sini?"


Maggie menggeleng pelan. "Bukan begitu, hanya saja Anne pasti tidak mau tinggal di sini jika kau tidak memaksanya!"


"Aku tidak memaksanya bu, sungguh. Aku harap dengan tinggal satu rumah kita semakin dekat bu!"


"Hem, terima kasih!"


"Hah?" Jo tercengang, dia tak percaya seorang Maggie akan mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Besok ikut aku ke perusahaan, aku akan mengenalkanmu sebagai pemimpin baru dan Andrew akan membantumu. Kau boleh keluar!"


"Baik bu, aku permisi!"


Setelah Jo keluar dari ruangannya, Maggie menarik sudut bibirnya, menciptakan senyum samar namun terlihat oleh Andrew. Pria itu sedikit merasa lega setidaknya nyonya nya mulai bisa tersenyum dan melupakan dendam masa lalunya.


"Sepertinya tuan Jo membawa pengaruh baik untuk nona Anne," ucap Andrew.

__ADS_1


Maggie menoleh dan menatap asistennya. "Hem, aku harap begitu. Kapan kau akan mengajak istrimu pindah kemari?" Maggie berusaha mengalihkan pembicaraan, dia tak suka terlalu suka jika membicarakan tentang hidupnya.


"Dua minggu lagi nyonya. Apa anda yakin akan memberikan jabatan wakil pimpinan kepada saya?"


"Aku mempercayaimu. Aku yakin kau bisa membantu Anne mengembangkan perusahaan. Selama kau pulang ke Belanda, urus semua pekerjaan yang ada di sana, cari orang yang bisa kau percaya untuk membantu mengelola perusahaan kita yang berada di Belanda!"


Ya, sejak Anne menikah Maggie memutuskan untuk menetap di Indonesia, dia juga mengangkat Andrew sebagai wakil pimpinan untuk membantu Jonathan. Entah apa yang membuatnya betubah pikiran, tiba-tiba saja Maggie ingin hidup dekat dengan anak dan cucunya, apalagi dia akan memiliki cicit sebentar lagi. Dia berharap bisa melihat anak Freesia dan melihat Anne hamil. Dia ingin masa tuanya lebih berwarna. Dia tidak ingin hidup kesepian lagi.


Bukan hanya Maggie yang terkejut, Frey juga terkejut saat mendengar berita jika Anne dan Jonathan tinggal di vila bersama oma nya. Padahal Frey tau betul jika bibinya sangat anti tinggal bersama Maggie, namun jauh di dalam lubuk hatinya Frey merasa bersyukur karena artinya Maggie tidak akan kesepian lagi. Dua tahun tinggal bersama Maggie membuat Frey sedikit mengenal watak omanya, wanita tua yang begitu keras kepala dan begitu kejam, namun di balik kekejamannya itu Maggie hanya ingin menutupi kesedihan dan rasa kesepiannya.


Malam ini Maggie mengundang Frey dan Josh makan malam di villa, Frey sangat antusias karena ini kali pertama mereka berkumpul dalam suasana yang tak terlalu canggung. Frey terlihat begitu bersinar memakai dress selutut yang memamerkan perut buncitnya karena kini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh. Josh memeluk Frey dari belakang dan mengusap perut istrinya penuh kelembutan.


"Lihat nak, momy mu sangat cantik. Saat kau lahir nanti kau pasti akan secantik momy," ucap Josh dengan senyum tak henti-hentinya mengembang.


"Tapi aku ingin dia mirip denganmu Josh. Aku ingin matanya biru seperti matamu, aku ingin hidungnya mancung seperti hidungmu. Pokoknya aku ingin dia sepertimu," jawab Frey, wanita hamil itu berbalik dan menatap wajah suaminya, jemari lentiknya mulai membelai setiap jengkal kulit wajah sang suami. "Mata ini, aku sangat menyukainya," sambung Frey sambil mencium mata kelopak mata suaminya.


"Hem, apa kau sangat menyukaiku?" goda Josh.


Josh menutup mulut Frey jengan jari telunjuknya. "Apa yang kau bicarakan! Kau tidak boleh mengatakan hal buruk seperti itu. Kita akan panjang umur dan selalu bersama, menyaksikan anak-anak hadir di dunia, melihat mereka dewasa dan menikah!"


"Ah, pasti sangat menyenangkan Josh!"


"Hem, pasti sayang!" Josh mengecup bibir Frey singkat. "Kau sudah siap kan, ayo kita berangkat!"


"Ayo!"


Josh menggandeng tangan Frey keluar dari kamarnya di lantai bawah Katherine tersenyum melihat anak dan menantunya begitu mesra.


"Momy yakin tidak mau ikut?" tanya Frey penuh harap karena dia ingin mengajak Katherine untuk makan malam bersama.


"Lain kali Frey, gunakan waktu kalian untuk saling mendekatkan diri," jawab Katherine seraya mengusap kepala menantunya. "Oy ya, momy ingin memberikan ini. Momy tau ini sangat terlambat, tapi momy harap kau menyukainya!" katherine mengeluarkan sebuah kalung, dia lalu memakaikan kalung tersebut di leher menantunya.

__ADS_1


"Mom, kalung ini?" Frey menunduk dan mengamati kalung yang sudah melingkar di lehernya. Kalung yang tak asing baginya karena dulu dia pernah mengambilnya dari tangan Jennifer.


"Hem, kalung itu milikmu sekarang honey!"


"Terima kasih mom," Frey begitu senang, dia lalu memeluk Katherine dengan erat, kini dia telah mengganggap Katherine sebagai ibu kandungnya sendiri karena Katherine memperlakukannya dengan sangat baik.


"Sudah cepat kalian berangkat. Titip salam momy untuk oma Maggie ya!"


"Baik mom."


Setengah jam kemudian keduanya sudah sampai di vila, mereka langsung ke ruang makan karena Maggie sudah menunggu kedatangan mereka.


"Oma," sapa Frey seraya memeluk Maggie, namun Maggie segera melepaskan pelukan Frey karena takut perut Frey kenapa-napa.


"Gadis nakal, kasian bayimu kalau kau membungkuk seperti itu," tegur Maggie.


"Tidak papa Oma, bayiku juga ingin memeluk nenek buyutnya!"


"Kau bisa saja. Sudah cepat duduk, kau pasti sudah lapar!"


Setelah Frey duduk kini giliran Josh yang menyapa Maggie, untuk pertama kalinya Maggie tersenyum tulus pada Josh. Mereka lalu duduk di kursi masing-masing dan bersiap menikmati makan malam mereka.


"Pengantin baru sangat lengket," goda Frey sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Ck, kau pengantin lama juga masih sangat lengket," jawab Anne tak mau kalah dari keponakannya.


"Pastinya, kita akan selalu lengket selamanya. Benarkan Love?" sahut Josh dengan sombongnya.


"Aku dan Anne juga akan lengket selamanya," ucap Jo menimpali.


"Sudah, sudah. Makan dulu baru setelah itu kalian saling pamer kelengketan kalian!" Sela Maggie dengan wajah yang terlihat sangat bahagia, dia masih tak percaya jika kini dia berkumpul bersama anak dan cucunya. Rasanya begitu hangat dan membahagiakan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2