
Josh kini berada di kantor pusat J&J Company, pria itu berjalan begitu cepat menuju ruangan Jimmy. Tanpa mengetuk pintu Josh masuk ke dalam ruangan Jimmy dan menghampiri sang ayah yang terlihat sedang sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya.
"Ada apa Josh? Tumben kau mampir kemari?" tanya Jimmy seraya menatap putranya.
"Dad, apa dady masih menyimpan daftar korban dalam kecelakaan pesawat sepuluh tahun lalu?" jawab Josh to the point.
"Kenapa kau menanyakannya?" Jimmy terlihat gusar.
"Dimana dady menyimpannya!" ujar Josh dengan lantang.
Jimmy beranjak dari kursinya, pria setengah baya itu berjalan mendekati putranya. "Apa yang ingin kau lihat?" tanya Jimmy dengan tatapan menajam.
"Sepertinya aku tau mengapa Maggie sangat menginginkan perusahaan kita. Jadi aku harus melihat daftar penumpang agar aku bisa memastikannya dad!"
Jimmy tak menjawab lagi, pria itu berjalan menuju lemari penyimpanan dan mengeluarkan sebuah map berwarna hitam. Jimmy lalu memberikannya kepada Josh.
Setelah menerimanya, Josh langsung membuka map tersebut. Pria itu mendikte satu persatu nama penumpang dan kru pesawat yang berada di dalam pesawat naas itu.
"Fedrik Zantman, Seruni, Freesia Lovina Zantman," ucap Josh dengan bibir bergetar, mata memerah serta sekujur tubuhnya gemetaran, tangannya seolah tak memiliki tenaga sehingga map tersebut jatuh dari tangannya.
"Kau kenapa Josh?" tanya Jimmy khawatir. Jimmy meraih map yang jatuh, dia juga mulai membaca satu persatu nama yang tertera di dalam dokumen tersebut
"Fedrik Zantman, Seruni, Freesia Lovina Zantman," eja Jimmy dengan suara tercekat. Nama Zantman benar-benar membuatnya terkejut.
"Kenapa ada nama istrimu di sini Josh? Dan kenapa nama belakangnya Zantman?" tanya Jimmy, meski sebenarnya dia sudah sedikit mengerti akan keadaannya, Jimmy hanya berharap jawab Josh tak sama dengan isi kepalanya.
"Karena Frey adalah cucu Maggie Zantman dad. Maggie Zantman menganggap anak nya meninggal karena kelalaian perusahaan dad," jelas Josh.
"Apa? Dari mana kau tau semua ini?"
"Dady tidak perlu tau. Aku hanya ingin tau, kecelakaan itu murni kesalahan pilot kan dad?" selidik Josh.
"Tentu saja, dari hasil penyelidikan pilot di nyatakan bersalah. surat bunuh diri juga di temukan di rumah pilot itu," jawab Jimmy, wajahnya sedikit menegang seolah tengah menyembunyiikan sesuatu.
__ADS_1
"Dad, aku harap dady rahasiakan ini. Aku juga belum yakin kalau Frey mengetahuinya. Pelan-pelan aku akan mengajaknya bicara dad."
"Ya, dady akan merahasiakannya."
Josh lalu pulang ke rumah, setibanya di rumah Frey sudah bangun dan sedang menunggunya. Gadis itu berlari dan langsung memeluk Josh, dia sangat takut saat Josh pergi darinya.
"Kau dari mana saja, aku takut," ucap Frey seraya memeluk erat suaminya.
"Maaf love aku ada kerjaan mendadak," Josh terpaksa berbohong, dia masih tak yakin akan membahas masalah tersebut dengan Freesia.
"Jangan pernah pergi lagi," pinta Frey sungguh-sungguh.
"Ya aku janji. Apa kau sudah makan?" tanya Josh seraya melepaskan pelukannya.
"Belum."
"Ayo kita makan. Perutmu belum terisi sejak siang!'
"Ayo!"
"Andrew, bagaimana kalau kita memulainya besok?" ujar Maggie dengan seringai di wajahnya.
"Baik nyonya," sahut Andrew.
"Jimmy Janzsen, kehancuranmu akan segera datang!"
.
Pagi-pagi sekali, Jonathan dan Jimmy di buat pusing karena Maggie membatalkan dua proyek besar yang sedang di garap oleh perusahaan mereka. Kedua pria itu benar-benar tak mengerti apa tujuan Maggie sebenarnya. Mereka rugi milyaran rupiah serta harus membayar denda kepada rekan bisnis mereka. Benar-benar kacau.
Jimmy tak tinggal diam, pria itu datang ke ruangan Maggie, karena sejak kemarin Maggie memang sudah menyiapkan ruangan untuk dirinya sendiri.
"Apa maksud anda nyonya Maggie Zantman?" tanya Jimmy setelah menerobos masuk tanpa permisi.
__ADS_1
"Wah, anda sepertinya tidak punya sopan santun," ejek Maggie seraya tersenyum.
"Aku tidak perlu bersikap sopan kepada wanita licik seperti anda. Apa yang anda lakukan sudah merugikan perusahaan!'
"Ini baru awal tuan Jimmy. Aku baru memulainya dan kau sudah mengeluh!"
"Dengar nyonya Maggie Zantman. Apa yang anda lakukan adalah sebuah kejahatan. Jika anda ingin menuntut balas atas kematian anak anda seharusnya anda membunuh saya, bukan menghancurkan perusahaan. Apa anda tidak peduli dengan nasib ribuan karyawan J&J Company?"
"Ck, jadi kau sudah tau. Hem, tidak menyenangkan lagi!" ujar Maggie di ikuti tawa setelahnya.
"Haruskan aku membunuhmu di sini, sekarang?"
"Bunuh saja aku, asal jangan hancurkan perusahaa ini. Banyak nyawa yang bergantung pada perusahaan ini nyonya."
"Hem, akan aku pikirkan dulu! Sebaiknya kau keluar sekarang!"
Jimmy segera pergi dari ruangan Maggie, dia harus memutar otaknya agar semuanya kembali normal.
Sepulang kerja, Jimmy dan Jonathan datang ke rumah Josh, mereka akan merundingkan masalah perusahaan.
"Wanita itu benar-benar gila Josh. Pagi ini aku rugi puluhan milyar karena wanita itu membatalkan dua proyek besar yang sedang aku garap," adu Jo pada saudara kembarnya.
"Bagaimana menurut dady?" Josh menanyakan pendapat dady nya.
"Entah. Kita tidak bisa melawannya sekarang. Dia memiliki uang dan kekuasaan. Apalagi kini dia menjadi pemegang saham terbesar.
"Satu-satunya jalan adalah merebut saham kita lagi?" ujar Josh.
"Tapi bagaimana caranya."
"Tidak tau."
Frey menahan air matanya, gadis itu tak sengaja mendengar percakapan ketiga pria bermarga Janzsen tersebut. Frey merasa bersalah karena Maggie yang melakukan semua itu.
__ADS_1
"Aku akan mengembalikan saham kalian lagi!"
BERSAMBUNG...