
Setibanya di Jakarta, Josh berniat mengajak Freesia mengunjungi keluarganya di mansion utama setelah mendapat pesan dari Lynda jika mereka akan mengadakan makan malam bersama keluarga besar Janzsen.
Freesia sudah bersiap, gadis kecil itu memakai celana jeans berwarna hitam serta hoodie berwarna peach, dengan rambut di sanggul atas memamerkan leher jenjangnya.
"Ayo Josh," ajaknya pada pria yang sedang duduk di sofa dan memainkan ponsel.
Josh menoleh, pria itu lalu berdiri dan mengamati penampilan istri kecilnya. "Mm Frey, apa kau tak memiliki dress?" tanyanya sedikit ragu.
Freesia menggeleng dengan cepat karena memang dia tak memiliki dress, selama ini Freesia lebih nyaman menggunakan celana panjang dan hoodie kebesaran miliknya.
"Baiklah, ayo kita berangkat," Josh melangkah keluar dari rumahnya dan di ikuti Freesia di belakangnya. Keduanya pun segera meninggalkan rumah menggunakan mobil sport mewah milik Josh.
Di tengah perjalanan tiba-tiba Josh berhenti dan memarkirkan mobilnya di depan sebuah butik. "Kita beli baju dulu ya," ucapnya seraya menoleh kearah Freesia.
"Apa penampilanku membuatmu malu?" tanya Freesia seraya memeriksa penampilannya.
"No, aku menyukai gayamu. Tapi Lynda mengundang keluarga besar Janzsen, jadi kita harus berpakaian sedikit formal. Aku juga akan membeli setelan jas di dalam," jelas Josh dengan cepat, dia tak ingin Freesia salah paham akan maksud baiknya.
"Oke, karena ini makan malam keluarga maka aku tidak akan membuatmu malu," Freesia tersenyum, gadis kecil itu lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam butik mewah.
Di dalam butik, Freesia bingung harus memilih baju mana yang cocok untuknya. Hampir semua pakaian yang ada di dalam butik itu adalah gaun mewah yang menurut Freesia kekurangan bahan. Setelah setengah jam lebih mencari gaun yang sesuai untuknya, akhirnya Freesia memilih halter neck off the shoulder dress berbahan lace warna kuning karena menurutnya hanya dress itu yang tak terlalu terbuka.
"Pilihan yang tepat nona, dress ini akan membuat anda tampil lebih classy," ucap seorang karyawan yang sejak tadi menemani Freesia memilih gaun. "Mari ikut saya, tuan Josh meminta saya untuk merias wajah anda," imbuhnya seraya tersenyum, karyawan itu lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan dan di ikuti Freesia di belakangnya.
Setelah beberapa saat, Freesia keluar dari ruangan itu, penampilan barunya sontak membuat Josh tak bisa berkata-kata, tatapannya lurus tak berkedip sama sekali. Freesia begitu cantik dalam balutan gaun berwarna kuning serta rambut yang sengaja dia gerai hingga menimbulkan kesan lebih dewasa. Josh bahkan tanpa sadar melepaskan ponsel di tangannya saat melihat Freesia berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Bagaimana penampilanku Josh?" tanya Freesia dengan gugup, dia takut Josh tak menyukai penampilannya. "Josh," panggil Freesia lagi karena Josh malah melamun.
"Eh, kenapa Frey?" ujar Josh gugup, pria itu lalu meraih ponselnya yang jatuh di lantai.
"Apa aku cocok memakai baju ini?" ucap Freesia meminta pendapat Josh.
"Sangat cocok, kau sangat cantik!" jawab Josh dengan cepat, namun detik berikutnya dia merutuki kebodohannya karena terang-terangan memuji kecantikan Freesia. Sementara gadis yang di puji tertunduk malu dengan pipi merona.
"Ayo kita pergi," ajak Josh dengan wajah datar, namun sebenarnya perasaannya bergemuruh. Entah apa yang terjadi, hanya saja penampilan Frey yang terlihat lebih dewasa membuatnya sedikit tertarik.
Setibanya di kediaman keluarga Janzsen, seorang pelayan segera mengantarkan Freesia dan Josh ke ruang makan karena seluruh anggota keluarga telah berkumpul. Kedatangan sepasang suami istri itu tentu saja menarik perhatian semua orang, apalagi penampilan Freesia yang begitu berbeda membuat semua yang ada di sana terpana akan kecantikan gadis kecil itu.
"Voila, kau sangat cantik kakak ipar," puji Jonathan seraya mengamati penampilan Freesia dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Terima kasih Jo," jawab Freesia canggung, pasalnya tatapan Jonathan membuatnya sedikit risih.
"Axel," pekik Freesia tertahan, ayolah gadis itu lupa jika Axel juga bagian dari keluarga Janszen.
"Duduklah," ucap Josh seraya menarik kursi untuk Freesia.
"Terima kasih."
"Hem," Josh lalu menyusul duduk di sebelah Freesia.
"Kau terlihat sedikit berbeda Frey?" ujar Lynda dengan senyum, namun wanita tua itu menyukai penampilan Freesia yang menurutnya terlihat lebih dewasa.
__ADS_1
"Tantu saja, gadis licik itu pasti sudah menghabiskan uang Josh untuk mempermak penampilannya dan berfoya-foya," sahut Katherine culas.
"Kakak ipar, bukankah itu sudah menjadi kewajiban Josh untuk memenuhi kebutuhan istrinya, lalu apa salahnya nona Freesia membelanjakan uang itu untuk mempercantik diri, toh semua itu juga kembali kepada Josh. Seorang wanita harus pandai mempercantik diri agar suaminya tidak bermain dengan wanita lain," celetuk Willy di sertai sebuah sindiran, pasalnya Willy mengetahui skandal perselingkuhan Jimmy.
"Jadi maksudmu aku tidak pandai mempercantik diri sehingga Jimmy bermain api dengan wanita lain?" Katherine merasa tersindir dengan ucapan Willy.
"Kakak ipar, Willy tak bermaksud begitu, tolong maafkan ucapan istriku," sela Jerry Janzsen, putra kedua keluarga Janzsen dan juga seorang pengusaha terkenal di Indonesia. Berbeda dengan Jimmy yang meneruskan bisnis keluarga, Jerry lebih memilih memulai usahanya sendiri dengan di dampingi Willy sejak keduanya belum menikah. Sikap Jerry juga berbeda dengan kakaknya, Jerry adalah sosok pria yang sangat setia kepada pasangannya.
"Kapan kita mulai makan?" tanya Axel dengan kesal, dia sengaja datang ke rumah neneknya karena mendengar Freesia akan datang, Axel hanya ingin bertemu Freesia namun malah mendengar perdebatan antar orang dewasa.
"Kau sudah lapar nak?" Willy bertanya kepada Axel, putra tunggal yang selalu dia banggakan.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, mari kita mulai makan!" ucap Lynda dan segera di angguki oleh anak dan cucunya.
Semua orang lalu menikmati makan malam mereka dengan khidmat, tak ada yang bicara sedikitpun, hanya dentingan sendok yang saling berbenturan, menciptakan sebuah melodi khas di ruang makan.
"Wah, masakannya sangat enak."
Ucapan Freesia sontak membuat semua orang menatapnya, Freesia tiba-tiba kikuh dan merasa aneh saat semua tatapan tertuju padanya. "A-ada apa? Apa aku salah bicara?" tanyanya seraya menatap Josh.
"Di keluarga Janzsen, semua orang di larang bicara saat sedang makan. Rakyat jelata sepertimu pasti tidak tau adab saat makan kan? Orang tuamu pasti tidak pernah mengajarimu hal sepele seperti ini," jawab Katherine seraya menatap jijik kepada Freesia, wanita itu sungguk tidak menyukai Freesia.
"Jaga bicaramu Kathe!" tegur Jimmy secara langsung. Sikap Katherine yang suka seenaknya sendiri dan begitu sombonglah yang membuat Jimmy muak dan mencari wanita lain di luaran.
"Maafkan saya nyonya, saya belum terbiasa berada tengah keluarga besar Janzsen. Dan apa yang anda katakan adalah kebenaran, orang tua saya memang tak pernah mengajari saya hal sepele seperti ini karena mereka meninggal saat saya masih kecil. Kedepannya saya akan memperbaiki diri, mohon bimbingannya," Freesia lalu berdiri dari duduknya, gadis kecil itu membungkukkan tubuhnya sebagai tanda jika dia meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Namun jauh di lubu hatinya, gadis kecil itu merasa sedih karena Katherine telah menghinanya di depan semua orang dan Josh tak membelanya sama sekali.
__ADS_1
BERSAMBUNG...