
Waktu terasa berjalan begitu cepat, tak terasa sudah dua minggu sejak pertemuan terakhirnya dengan Joshua. Meski mengetahui fakta jika pria idamannya akan segera menikah, namun Freesia tetap saja menunggu kedatangan Josh di toko bunga, gadis kecil itu berharap bisa melihatnya meski tak bisa memilikinya.
Kondisi kaki Freesia telah pulih, gadis itu kembali mengayuh sepedanya untuk pergi ke sekolah. Hari ini Frey datang lebih awal untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian sementer awal. Freesia adalah tipe manusia yang lebih suka belajar mendadak, dia lebih memilih tidur cepat dan bangun lebih awal agar bisa belajar saat dini hari.
Frey telah tiba di kelasnya, di bukanya satu persatu buku yang sudah di pelajarinya pagi tadi. Fokus Freesia terpecah saat mendengar langkah cepat seseorang, Freesia mendongak dan mendapati Axel tengah berjalan menghampirinya.
"Morning Frey," sapa Axel dengan wajah datar, meski sebenarnya dia berusaha menahan senyumnya.
"Goedemorgen (Selamat pagi)," jawab Freesia menggunakan bahasa Belanda yang dia pelajari dari Anne.
"Je bent zo mooi vanmorgen (kau sangat cantik pagi ini)," puji Axel yang juga menguasai bahasa Belanda.
"Barusan loe muji gue?" Freesia mentap Axel tak percaya.
"Gue? Muji elo? Kuping loe rusak kali," sangkal Axel dengan senyum mengejek.
Freesia mendelik kesal, meski tak terlalu lancar dalam berbahasa Belanda namun dia cukup yakin jika tadi Axel memujinya cantik, namun karena tak ingin berdebat dengan pemuda yang di anggapnya sombong itu, Freesia memilih kembali belajar dan mengacuhkan Axel yang masih berdiri sambil menatapnya.
Entah berapa lama Axel berdiri sambil memperhatikannya, yang Freesia tau pemuda itu menghilang saat sekolah mulai ramai dan kelasnya mulai penuh.
"Pagi amat Frey?" tanya Cia yang baru saja tiba di kelas.
"Frey pasti belajar," tebak Kaily tepat sasaran. "Loe kaya nggak kenal Freesia aja sih," kali ini Kaily berbicara pada Cia.
"Ya maaf, gue lupa," sahut Cia sambil menggaruk tengkuknya.
"Oh ya liburan semester nanti loe kemana Kai?" tanya Cia yang tiba-tiba teringat jika sebentar lagi mereka akan libur.
"Mamy ngajak pulang kampung."
"Ke Beijing Kai?" tanya Freesia.
Kaily hanya mengangguk malas, gadis itu tak terlalu suka pulang ke kampung halaman ibunya karena gadis bertubuh gempal itu belum fasih berbahasa Mandarin.
"Wah seneng banget ya jadi loe Kai," ujar Freesia, terselip rasa iri di hatinya.
"Males gue, Mandarin gue belum lancar. Kaya orang beg*o kalau di sana," Kayli menghembuskan nafasnya berat, sungguh dia tak ingin pergi ke kampung ibunya. "Kalo loe kemana Frey?"
"Gue mau keliling Eropa," cetus Freesia asal-asalan.
"Seriusan loe?" Cia menatap serius sahabatnya.
"Tapi bohong, haha."
"Ah elah, gue pikir beneran!" kata Cia kesal.
__ADS_1
"Kalau loe mau kemana Ci?"
"Gue di rumah aja, nonton Spongebob!"
"Udah tua masih aja nonton begituan," ejek Freesia.
"Dari pada elo nonton Masha and the bear!" sahut Cia tak mau kalah.
"Lebih parah lagi si gendut nontonnya upin ipin!"
Ketiga gadis itu saling mentertawakan kebiasaan masing-masing yang masih hoby menonton film kartun meski mereka sudah remaja. Ketiganya baru saja diam saat bel masuk di bunyikan, mereka lalu duduk di kursi masing-masing dan bersiap mengikuti ujian semester.
.
.
.
Pukul sebelas siang, Freesia dan kedua temannya telah menyelesaikan ujian di hari pertama. Ketiga gadis itu berjalan beriringan menuju parkiran sekolah yang di dominasi oleh mobil mewah. Di antara barisan mobil mewah itu, terselip sebuah sepeda butut yang terparkir di bagian paling ujung.
Setelah Cia dan Kayli pulang dengan mobil jemputan mereka, Freesia berjalan seorang diri ke tempat sepedanya berada. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat seorang wanita tua tengah kesulitan menggerakkan kursi rodanya. Tanpa berpikir panjang, Freesia berlari menghampiri wanita tua itu dan membantunya dengan mendorong kursi roda yang di naiki wanita tua itu.
"Nenek mau pergi kemana?"tanya Freesia dengan ramah. Gadis itu berdiri di belakang wanita tua itu.
"Apa nenek sendirian?" tanya Freesia lagi, melihat kondisinya i tak seharusnya wanita tua itu pergi seorang diri.
"Supir saya sedang mengambil air di dalam mobil."
"Oh, kalau begitu biar saya antar ya nek."
"Terima kasih!"
Tak butuh waktu lama untuk tiba di ruang kepala sekolah, Freesia berhenti mendorong kursi roda tersebut, gadis itu lalu berputar dan sedikit membungkukkan tubuhnya saat dia berada hadapan wanita tua itu.
"Kita sudah sampai nek, apa nenek butuh bantuan lagi?"
Wanita tua itu hanya diam sambil menatap gadis kecil yang telah membantunya. Netra birunya melelisik setiap jengkal wajah Freesia, lalu wanita itu tiba-tiba tersenyum dan berhasil membuat Freesia kebingungan.
"Terima kasih gadis cantik. Siapa namamu?" ucap wanita tua itu dengan ramah, padahal sebelumnya dia hanya mengucapkan kata-kata singkat.
"Freesia nek," jawab Freesia.
"Nama yang cantik, persis dengan orangnya. Saya Lynda, kau bisa memanggilku Granny.
"Lynda?" ulang Freesia, rasanya nama itu tak terlalu asing baginya.
__ADS_1
"Panggil saja Granny."
"Baiklah Granny. Apa Granny perlu batuan lagi?"tanya Freesia tanpa rasa canggung.
"Tidak Freesia, terima kasih untuk bantuanmu."
"Baiklah kalau begitu saya pamit pulang," sebelum pergi Freesia mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan membukanya agar mempermudah Lynda. "See you Granny," Freesia melambaikan tangannya, gadis itu lalu berlari meninggalkan Lynda yang masih terpaku menatapnya.
"Gadis yang baik, andai saja dia sudah besar, aku pasti akan menjodohkannya dengan Josh!"
.
.
.
Di sebuah hotel bintang lima, Jennifer dan Windy yang merupakan managernya sedang memeriksa persiapan pernikahannya yang tinggal dua minggu lagi. Jennifer memeriksa Ballroom yang akan di pakai untuk acara pernikahannya,di tempat itu pula Jennifer dan Josh akan mengadakan pesta pernikahan yang terbilang mewah.
"Jenn, ponselmu," Windy memberikan ponsel Jennifer yang sejak tadi berbunyi.
Jennifer segera meraih ponselnya, wanita itu tersenyum saat melihat nama Josh terpampang di layar ponselnya. "Hallo dear," sapa Jennifer dengan suara manja.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Josh di seberang telefon.
"Aku sedang memeriksa hotel Josh. Persiapannya sudah hampir 50 persen."
"Oh, sudah makan?"
"Tentu saja sudah. Apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku baru saja mendarat dan merindukanmu!"
Jennifer tersipu,tak bisa di pungkiri jika Josh memang telah memiliki hatinya, hanya saja Jennifer tak cukup hanya dengan bermodal kata cinta, meski dia mencintai Josh, namun Jennifer lebih mencintai uang Jimmy. "Aku juga merindukanmu Josh. Tapi aku berusaha menahannya."
"Aku mencintaimu Jenn."
"Aku juga mencintaimu Josh."
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa di hari pernikahan sayang."
Jennifer menghembuskan nafas berat, wanita yang selalu perpakaian sexy itu kembali memberikan ponselnya kepada sang manager.
"Seandainya dia kaya raya!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1