Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Kehancuran Jennifer


__ADS_3

Hingga pagi, hujan badai masih mengguyur di sertai petir yang bergemuruh. Frey menatap keluar dari jendela kamar Josh, langit yang tertutup awan gelap seolah sedang menggambarkan perasaannya. Hujan yang tak mereda seolah mewakili air matanya. Suara guntur memekakan telinga, namun tak sedikitpun Frey menutup indera pendengarannya, gadis yang awalnya begitu takut dengan petir kini memiliki keberanian seolah tengah menantangnya.


"Josh," hanya satu sama yang keluar dari mulutnya, sebuah nama yang telah di mantrai akan menjadi miliknya, nama yang bertengger di hati sejak pertama mendengarnya.


Suara ketukan pintu mengakhiri lamunan Frey, gadis itu menoleh tepat saat Katherine masuk ke dalam kamarnya, membawa sebuah nampan berisi bubur serta segelas susu. Sejak kamarin belum sedikitpun perutnya terisi makanan.


"Kenapa kau tidak turun?" tanya Katherine, setelah meletakan nampan di atas nakas, wanita itu berjalan mendekati Frey.


"Saya tidak lapar nyonya," jawab Frey pelan.


"Nyonya? bukankah kemarin kau ingin memanggilku momy? Aku tidak keberatan kau memanggilku momy," ujar Katherine seraya menatap wajah Frey yang sembab.


"Terima kasih banyak mom," Frey mengulas senyum meski harus dia paksakan, seandainya Josh ada bersamanya mungkin hari ini akan menjadi hari paling membahagiakan karena akhirnya Katherine menerimanya sebagai anggota keluarga.


"Hem. Lebih baik kau makan dulu, saat hujan reda kita menyusul Jo ke bandara. Katanya mereka sudah berhasil mengevakuasi beberapa korban!"


"Momy serius?"


"Tentu saja. Ayo makan dulu," Katherine menuntun Frey menuju tempat tidur, wanita itu lalu mengambil mangkok berisi bubur dan menyerahkannya kepada Freesia.


"Terima kasih mom," Frey kembali mengucapkan terima kasih, lalu dia mulai menyuapkan sendok demi sendok ke dalam mulutnya. ya, dia harus makan dan memiliki tenaga untuk menunggu kedatangan Josh.

__ADS_1


"Habiskan ya, momy tunggu di bawah," Frey hanya mengangguk, saat Katherine mengusap kepalanya gadis itu merasakan sebuah kehangatan di dalam hatinya.


Setelah menghabiskan sarapannya, Frey lalu mandi dan bersiap-siap. Saat nanti hujan badai berhenti dia akan segera ke bandara untuk mencari kabar tentang Josh. Setelah rapi, Frey keluar dari kamarnya, dia menghampiri Lynda yang sedang berbincang bersama Katherine di ruang tamu. Frey lalu duduk di sebelah Katherine saat wanita itu menepuk sofa di sebelahnya.


"Frey, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Lynda setelah Frey duduk.


"Ya Grann."


"Bagaimana caranya kau mengobati trauma yang Katherine derita selama ini?" sejak kemarin Lynda sangat ingin menanyakan hal tersebut kepada cucu menantunya.


"Bukan Frey yang mengobatinya Grann, tapi momy yang berjuang melawan rasa takutnya," sahut Frey seraya menatap wajah Katherine.


"Momy?" Lynda hampir tak percaya saat Frey memanggil Katherine dengan sebutan momy.


"Syukurlah kalau kau berpikir demikian."


Ketiga wanita berbeda generasi itu kembali bercengkerama. Hari ini Lynda terlihat lebih cerewet dan banyak bercerita, wanita tua itu hanya ingin menghibur dua wanita lain yang juga tengah bersedih karena belum mendengar kabar dari orang terkasih mereka.


Di apartemen milik Jennifer, wanita itu tengah duduk sambil menonton berita di televisi. Wanita itu terlihat sedih dan tanpa sadar menitikan air matanya. Tiga tahun menjalin kasih bukanlah hal mudah bagi Jennifer untuk melupakan Josh. Hatinya terasa sakit saat mendengar berita tentang kecelakaan yang Josh alami. Namun di sisi lain Jennifer juga merasa lega, karena berita tentang kecelakaan Josh membuat pemberitaan tentang dirinya menghilang.


"Jangan bodoh Jenn, seharuanya kau senang kalau Josh mati. Jika kau tidak bisa memilikinya bukankah lebih baik jika Josh pergi?" ucap Jennifer seorang diri, wanita itu kembali menenggak wine langsung dari botolnya. "Sial, kenapa habis!"

__ADS_1


Jennifer lalu beranjak dari duduknya, dia meraih dompet dan kaca mata hitam lalu keluar dari apartemennya untuk membeli wine. Setibanya di lobby, Katherine terkejut melihat beberapa wartawan berada di sana. "Sial, kenapa mereka masih ingin mengejarku," Jennifer berbalik dan lari, namun belum sempat sampi di lift, wartawan sudah lebih dulu mengerumuninya.


"Jen, apa benar vidio yang beredar adalah dirimu?"


"Jen, bisa kau katakan siapa pria yang ada di dalam vidio tersebut?"


"Jen, kenapa kau berbohong dan mengatakan jika Joshua Janzsen yang berkhianat?"


Wartawan mencecar Jennifer dengan berbagai pertanyaan. Wanita itu hanya bisa diam dan menunduk, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Jennifer mencoba keluar dari kerumunan wartawan, beruntung Windy datang dan menyeret tangan Jennifer sehingga wanita itu bisa kembali ke kamarnya tanpa di ikuti oleh wartawan tersebut.


"Kenapa kau keluar. Sudah aku bilang untuk sementara kau tidak boleh keluar," ucap Windy dengan kesal.


"Wine ku habis, aku hanya ingin membeli lagi!" jawab Jennifer tak kalah kesal.


"Mulai hari ini aku tak boleh beli wine mahal lagi!"


Jennifer menatap managernya kesal. "Kenapa?"


"Kau bangkrut sekarang. Agency memecatmu dan semua kontrak iklammu batal. Semua tabunganmu habis untuk mengganti rugi!"


"What?" Jennifer mendelik tak percaya.

__ADS_1


"Kau hancur Jenn. Benar-benar hancur tak tersisa!"


BERSAMBUNG...


__ADS_2