
"Hello gadis cantik."
Freesia menatap sepatu heels berwarna merah menyala, gadis itu mengangkat kepalanya dan sedikit mendungak agar bisa melihat siapa wanita yang berdiri di hadapannya. Bukannya takut, Frey malah tersenyum mengejek membuat wanita tersebut geram.
"Kau tersenyum?" tanya nya tak percaya.
"Terus gue harus ngapain? Nagis dan guling-guling?" jawab Frey masih dengan senyum di wajahnya. Meski takut namun dia tak boleh menunjukannya di depan wanita yang menyekapnya.
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Frey, gadis itu lalu menatap wanita yang menamparnya dengan kilat amarah.
"Beraninya tangan kotor loe nyentuh wajah gue," Frey menggeram dengan gigi saling bergemelatukan.
"Wah, kau memang tidak kenal takut ya?"
"Apa yang loe mau dari gue Jennifer Scott?' tanya Frey kemudian, sungguh dia tak tau jika wanita itu masih berani mengusiknya. Benar-benar wanita tidak tau malu bukan.
"Hem. Mudah aja. Tinggalkan Josh dan aku akan melepaskanmu," jawab Jennifer dengan senyum liciknya.
"Hahaha, dasar wanita tidak tau malu. Loe pikir Josh mau balikan sama wanita kaya loe. Tukang selingkuh, maniak dan penjahat kelamin?" Frey menghina Jennifer habis-habisan, sepertinya rasa takutnya berganti rasa marah.
"Dasar sialan," Jennifer kembali menggeram seraya menapar wajah Frey berukang kali, bukannya takut dan menangis, Frey malah menunjukan sikap yang sebaliknya, gadis itu tersenyum dan masih berani menatap tajam ke arah Jennifer meski sudut bibirnya sudah berdarah.
"Kau masih bisa tersenyum. Wah, kau memang gila persis seperti nenekmu ya!"
Deg..
Nenek?
__ADS_1
Seketika senyum di wajah Freesia memudar tergantikan dengan ekspresi penasaran. "Nenek?" tanya nya mengulang ucapan Jennifer.
"Ya, nenekmu. Maggie Zantman," tegas Jennifer dengan senyum miring.
"Maggie Zantman, apa yang loe maksud? Gue nggak ngerti loe ngomong apa?"
"Jadi kau tidak tau kalau kau memiliki seorang nenek. Sayang sekali, padahal sekarang nenekmu sedang berusaha menghancurkan keluarga Josh. Hemm, apa Josh masih mau bersamamu jika dia tau kalau kau adalah cucu Maggie Zantman?"
"Tidak masuk akal," sangkal Frey karena semua yang di ucapkan Jennifer memang tidak masuk akal baginya.
"Kau tidak percaya? Kau tau siapa yang membeli saham J&J company. Dia adalah Zantman Group dan pemiliknya adalah Maggie Zantman, nenek kandungmu Freesia Lovina Zantman," ungkap Jennifer tanpa keraguan. Hampir satu minggu dia di sekap di villa milik Maggie. Entah di sengaja atau tidak, tapi Maggie menceritakan tentang siapa Freesia dan tujuannya membeli saham J&J Company. Awalnya Jennifer mengira jika Maggie berbohong, namun saat Maggie menunjukan sebuah foto kepadanya akhirnya dia percaya dengan semua omongan wanita tua itu.
"Kau pikir siapa yang menyebar foto-fotoku bersama Jimmy? Semua itu adalah rencana nenekmu agar harga saham J&J Company jatuh dan dia akan membelinya bak dewi penolong, padahal dia adalah malaikan pencabut nyawa yang akan menghancurkan J&J Company."
"Wah, loe memang artis yang berbakat Jenn. Sepertinya loe juga cocok jadi penulis naskah," Frey tak ingin percaya begitu saja, mengingat betapa liciknya seorang Jennifer, dia tidak ingin mempercayai apapun yang keluar dari mulut Jennifer.
"Anne? Dari mana loe mengenalnya?" tanya Frey dengan wajah panik, takut jika Jennifer juga melakukan sesuatu yang buruk terhadap bibinya
"Bukannya sudah aku bilang, aku tau semuanya tentang keluarga mu. Pikirkan baik-baik. Semua yang aku katakan adalah fakta. Jika kau mau meninggalkan Josh secara suka rela maka aku akan melepaskanmu!" ujar Jennifer dengan senyum penuh kemenangan, wanita itu lalu keluar dari ruangan pengap tersebut dengan tawa yang menggelegar. Sepertinya tidak ada ruginya juga dia di sekap oleh Maggie karena pada akhirnya dia bisa menekan Freesia dan menghancurkan gadis itu secara perlahan.
Sementara itu, Katherine panik bukan kepalang kerena sampai larut malam menantu kecilnya belum juga pulang. Sampai akhirnya Jonathan datang ke rumah Josh dan menemui Katherine.
"Apa? Di culik?" ucap Katherine dengan bibir bergetar, setelah mengenal Frey lebih jauh dia mulai menyayangi menantunya itu, gadis yang begitu baik dan sangat memperhatikannya. "Jennifer, ini pasti ulah Jennifer Jo," terka Katherine dengan begitu yakin.
"Aku juga berpikir begitu mom. Anak buah ku sedang melacak keberadaan Frey sekarang," jawab Jonathan yang juga memiliki pemikiran yang sama dengan ibunya.
"Apa Josh sudah tau?" tanya Katherine.
Jonathan menggeleng lemah. "Belum mom. Dia pasti akan menggila jika tau Frey di culik."
__ADS_1
"Bagaimana ini, kasihan sekali gadis malang itu. Dia pasti ketakutan," gumam Katherine seraya menggigit ujung jarinya.
"Mom tenang saja. Frey lebih kuat dari yang kita duga, dia.tidak akan selemah itu mom."
.
Sementara itu, Josh baru saja mendarat di pulau Bali. Pria itu bergegas ke hotel karena ingin segera menghubungi istrinya. Setelah membersihkan diri, Josh meraih ponselnya dan melakukan panggilan vidio, namun sudah berkali-kali Josh menghubunginya dan nomornya tidak aktiv.
"Apa dia sudah tidur?" tanyanya pada diri sendiri.
Josh lalu menghubungi Katherine karena ingin menanyakan keberadaan Freesia. Namun sang momy juga tidak menjawab panggilannya.
"Apa momy juga sudah tidur? Mereka pasti lelah, besok pagi saja aku menghubunginya. Huh, padahal aku sangat merindukannya," Josh menaruh ponselnya dengan perasaan kecewa, terpaksa dia tidur sambil menahan rindu kepada istri kecilnya.
Saat Josh hendak menutup mata, tiba-tiba ponselnya berdering. Pria itu tersenyum dan segera meraih ponselnya karena dia yakin jika Frey yang menghubunginya. Namun dia kembali murung saat melihat nomor asing yang menghubunginya.
"Ya hallo," sapa Josh begitu sambungan tersambung.
"Tuan Josh, ini Anne, bibinya Freesia."
"Oh ya Anne. Senang sekali bisa mendengar suara anda. Apa anda sudah bertemu Frey?"
"Sudah. Tapi masalahnya Frey sekarang menghilang. Dia di culik!"
"Apa?"
"Cepat kembali, tolong selamatkan Frey!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1