
Maggie Zantman akhirnya sadar setelah hampir satu jam lamanya wanita tua itu pingsan. Begitu membuka mata, hal terakhir yang dia ingat adalah kabar duka tentang kematian Freesia. Wanita tua itu lalu menangis tersedu-sedu, baru kali ini Anne melihat ibunya menangis, Anne akhirnya sadar, sekeras apapun watak Maggie, dia tetaplah seorang ibu dan seorang nenek.
"Jangan menangis bu, Frey baik-baik saja sekarang," ucap Anne seraya menggenggam tangan Maggie. Wanita itu menoleh ke arah putrinya dengan mata berair.
"Apa maksudmu Ann?"
"Frey kembali bu, dia masih hidup!"
"Benarkah? Kau tidak bohong kan?"
Anne menggeleng sambil tersenyum, dia lalu memeluk tubuh Maggie. "Ayo kita menemuinya bu!"
Anne mendorong kursi roda Maggie menuju ruang ICU karena Frey masih belum di pindahkan ke bangsal umum. Begitu pintu terbuka, Maggie seolah bisa bernafas lagi setelah melihat Frey sedang tersenyum dan bercengkerama bersama Josh.
Frey menoleh saat mendengar pintu terbuka, matanya tiba-tiba berair melihat Maggie sedang menatapnya penuh syukur. Josh sudah menceritakan segalanya, apa yang terjadi padanya dan tentang Maggie yang pingsan setelah mendengar kabar kematiannya.
"Oma," pekik Anne dengan senyum haru.
"Gadis nakal," ucap Maggie dengan air mata bercucuran, Anne mendorong kursi rodanya lebih dekat sehingga Maggie bisa menjangkau Frey.
"Maaf membuat oma khawatir," sesal Frey, dia meraih tangan Maggie dan menggenggamnya dengan erat.
"Jangan mengulanginya lagi, aku tidak akan mengakuimu sebagai cucuku kalau kau sampai pergi lagi!"
"Hem, Frey janji oma, Frey tidak akan pergi lagi!"
__ADS_1
.
.
Di sebuah bangunan tua yang di penuhi debu dan sarang laba-laba, Jennifer duduk di sebuah kursi dengan kaki dan tangan terikat serta mulut yang di lakban. Wanita itu belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang di suntikan Andrew kepadanya sebelum mereka kembali ke Indonesia.
Andrew dan Jimmy duduk di hadapan Jennifer dengan kaki terlipat dan tangan bersedakap di dada. Jimmy menatap Jennifer penuh kebencian, dia menyesal pernah terikat pada wanita licik seperti Jennifer.
Jennifer mulai mengerjapkan matanya, dadanya terasa sesak karena dia di sekap di ruangan yang pengap dan berdebu. Jennifer terbatuk-batuk di balik lakban hitam yang membekap mulutnya. Wanita itu terkejut saat menyadari tangan dan kakinya terikat, yang lebih mengejutkan lagi ketika dia ingat jika Andrew dan Jimmy berhasil menangkapnya.
"Eumpp, eummp, euuump," Jennifer meronta, dia berteriak namun suaranya tak keluar. Lalu dengan kasar Andrew melepas lakban yang merekat di bibir wanita itu.
"Lepaskan aku!" teriak Jennifer begitu mulutnya terbuka, wanita itu menatap tajam Andrew dan Jimmy secara bergantian.
"Aku mohon lepaskan aku Jimm, aku akan melakukan apapun agar kau mau melepaskanku!" pinta Jennifer dengan tatapan memohon.
"Benarkah? Apapun?" Jennifer mengangguk dengan semangat, di seperti memiliki secercah harapan.
"Baiklah!"
"Sungguh? Kau sungguh akan melepaskanku?" tanya Jennifet kegirangan.
"Hem. Setelah kau aku lepaskan. Naiklah mobil yang sudah aku siapkan. Setelah itu berkendaralah ke area rel kereta api dan hentikan mobilnya di tengah perlintasan. Tunggu sampai kereta datang dan menabrakmu. Bagaimana, apa kau setuju?"
Raut wajah Jennifer berubah seketika, wanita itu menampakan kemarahannya. "Badjingan kau Jimmy!"
__ADS_1
"Kau hanya punya dua pilihan Jenn. Bunuh diri atau ku bunuh!!"
Jennifer meneguk ludahnya dengan kasar, dia tak menyangka Jimmy memberinya pilihan yang yang akhirnya tetap sama, dia akan tetap mati meski dengan cara yang berbeda. Tanpa terasa buliran bening menetes di wajah cantiknya, keserakahannya akan uang membuatnya berakhir seperti ini. Kehilangan pria yang sangat mencintainya, kehidupannya hancur, dia juga berbuat kriminal lalu dia akan berakhir dengan mati sia-sia.
"Bagaimana Jenn? Mana yang kau pilih?" tanya Jimmy dengan senyum menyeringai di wajahnya.
Jennifer diam sejenak, dia lalu memberanikan diri untuk menatap Jimmy. "Tolong selamatkan aku, aku berjanji akan menjadi budakmu selamanya Jimm," tidak ada yang bisa Jennifer lakukan selain memohon dan berharap kedua pria itu akan mengampuninya.
"Seharusnya kau pikirkan hal ini sebelum kau mencelakai keluargaku Jenn!"
"Aku menyesal Jimm. Aku sangat marah karena Josh menjadikanku sebagai pelaaacuuuur!"
"Kenapa kau harus marah, aku rasa Josh melakukan hal yang sepatutnya. Bukankah sebelumnya kau kerap menjual tubuhmu pada pria kaya?"
Skakmat...
Jennifer tak bisa berkilah lagi, wanita itu hanya bisa menangisi nasibnya yang kurang beruntung.
"Sepertinya aku tak punya pilihan lain Jimm," gumam Jennifer putus asa.
"Hem," Jimmy hanya bergumam.
"Baiklah Jimm. Aku sudah memutuskannya. Aku akan mengakhiri hidupku!"
BERSAMBUNG..
__ADS_1