
Seorang gadis cantik yang masih mengenakan gaun pengantin terlelap di atas tempat tidur mewah, setelah hampir satu jam lamanya tak sadarkan diri, gadis kecil itu mulai mengerjapkan matanya dan perlahan kelopak dengan mulu mata lentik tersebut mulai terbuka.
Saat matanya terbuka sempurna, hal pertama yang gadis itu lihat adalah lampu gantung mewah yang berada di langit-langit kamar itu, sang gadis mulai mengedarkan pandangannya saat sadar jika dia berada di tempat asing.
"Kau sudah bangun?" tanya seorang pria dengan suara berat namun terdengar begitu ****.
"A-ku dimana?" tanyanya dengan suara terbata, gadis itu lalu bangkit dari tidurnya dan duduk di atas ranjang.
"Kau di kamarku, kau pingsan setelah kita mengucapkan sumpah pernikahan," jawab pria itu seraya mendekat ke sisi ranjang.
"Josh," pekik sang gadis dengan suara tertahan.
"Ya ini aku nona Freesia."
"Ja-jadi ini nyata, aku tidak sedang bermimpi?" tanya Freesia gugup, gadis itu lalu menunduk dan mendapati tubuhnya masih terbungkus gaun pengantin.
"Tentu saja ini nyata, terima kasih karena kau bersedia membantuku."
"Jadi kita benar-benar menikah?" ulang Freesia dengan bola mata membesar.
Josh hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, pria itu lalu duduk di bibir ranjang dengan tubuh berhadapan dengan Freesia.
"Terima kasih karena kau telah bersedia membantuku, mari kita bicaran masalah ini," ucap Josh dengan tatapan yang begitu menghayutkan.
"Apa yang harus kita bicarakan?" tanya Freesia tak mengerti.
"Tentang pernikahan kita, kita harus membahas kapan harus mengakhirinya bukan?"
"Sebentar tuan Josh, sepertinya ada salah paham di sini. Aku sungguh tidak menyangka jika kita benar-benar menikah. Maksudku, aku pikir aku hanya sedang bermimpi saat kau memintaku untuk menikahimu, karena aku sedang bermimpi jadi aku bersedia menikahimu di alam mimpi, jadi kenapa kita harus mengakhiri pernikahan yang tidak nyata ini," ucap Freesia panjang lebar.
"Tapi kau tidak sedang bermimpi, kita mengucapkan sumpah pernikahan di depan pemuka agama yang artinya pernikahan kita sah di hadapan Tuhan."
"Mustahil, aku seorang pelajar jadi mana mungkin aku menikah," sahut Freesia dengan tawa hambar.
"Pelajar? Apa maksudmu nona Freesia?" Josh mengeryitkan dahinya membuat alis tebalnya hampir menyatu.
"Aku ini masih sekolah, aku masih kelas tiga SMA jadi mana mungkin aku menikah!"
__ADS_1
"What?" saking terkejutnya Josh sampai terlonjak, pria itu berdiri dengan satu tangan berkacak pinggang dan tangan yang lain mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau kau masih kecil?" sentak Josh dengan wajah frustrasi.
"Aku," Freesia bingung harus menjawab apa, semua ini berawal dari kebodohannya yang tak bisa membedakan antara kenyataan dan mimpi. "Karena aku pikir aku sedang bermimpi," lanjutnya dengan suara pelan.
"Mimpi? Kenapa sejak tadi kau selalu membahas tentang mimpi?"
"Itu karena..." Freesia kembali diam, tangan mungilnya saling meremas.
"Jawab!" seru Josh dengan suara meninggi.
"Itu karena aku mencintaimu dan selalu bermimpi jika suatu saat kau akan menikahiku!" teriak Freesia yang tanpa sadar malah mengakui perasaannya.
"Apa? Cinta? Haha..." Josh tertawa mendengar pengakuan gadis kecil itu.
Karena merasa malu dan kesal, Freesia akhirnya turun dari tempat tidurnya, gadis itu berjalan melewati Josh dan pergi ke ruangan tempat dia mengganti baju sebelumnya. Tak berselang lama gadis itu keluar dan penampilannya sudah berubah, Freesia sudah melepaskan gaun pengantinnya dan memakai bajunya sendiri.
"Kau mau kemana?" Josh menahan tangan Freesia saat gadis itu hendak keluar dari kamar tersebut.
"Aku mau pulang, bibiku pasti khawatir karena aku belum pulang!"
"Tidak bisa. Kita harus selesaikan masalah ini dulu!"
"Pernikahan kalian sah karena kalian sudah mengucapkan sumpah di hadapan Tuhan!"
Freesia dan Josh menoleh bersamaan, keduanya terkejut melihat kedatangan Lynda.
"Granny," ucap Josh dan Freesia bersamaan, lalu keduanya saling menatap.
"Kau mengenal Lynda?" tanya keduanya yang kembali bersamaan.
"Lynda adalah nenekku, dari mana kau mengenalnya?" tanya Josh penasaran.
"Freesia pernah menolongku saat aku pergi ke sekolah," sahut Lynda menjawab rasa penasaran Josh.
"Tuan Josh, kau percaya kan jika aku masih kecil, jadi aku mohon biarkan aku pergi. Dan soal pernikahan ini, kita bisa membatalkannya karena kita belum mendaftarkan pernikahan ini!"
Josh menghembuskan nafas beratnya, pria itu tidak tau harus berbuat apa. Di sisi lain dia tak ingin menghancurkan masa depan seorang gadis, namun di sisi lainnya dia juga tidak ingin keluarga besarnya menanggung malu karena pernikahannya hanya bertahan satu jam lamanya.
__ADS_1
"Baiklah, kau bisa pergi sekarang. Setidaknya kau sudah membantuku menggantikan Jennifer!"
"Tapi Josh, kau tidak boleh mempermainkan sebuah pernikahan!" sela Lynda yang tak terima dengan keputusan cucunya.
"Granny, cepat atau lambat pernikahan ini memang harus berakhir karena kami tak saling mencintai!"
"Lalu kenapa kalian harus menikah jika pernikahan ini hanya bertahan dalam hitungan menit saja?"
Josh bungkam, lidahnya mendadak kelu, pria itu ragu untuk mengatakan kejadian yang sebenarnya kenapa dia harus meminta Freesia untuk menikah dengannya.
"Jawab aku Josh!" ujar Lynda penuh penekanan.
"Karena aku tidak ingin keluarga Janszen menanggung malu, Jennifer membatalkan pernikahan kami," jawab Josh setengah berbohong, meski sangat kecewa dengan Jennifer namun dia tak ingin mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Dia yang membatalkan pernikahan ini atau kau yang membatalkannya karena kau tau dia bermain gila dengan dady mu?"
"Grann, bagaimana kau..."
"Jimmy sudah mengatakan semuanya Josh. Seharusnya kau tidak perlu menikahi Freesia jika akhirnya kalian harus berpisah, pada akhirnya keluarga kita akan tetap menanggung malu. Apa kata orang lain jika mereka tau kalian berpisah setelah satu jam menikah?"
Josh dan Freesia sama-sama diam. Freesia merasa bersalah karena terlibat dalam permasalahan ini, seandainya otaknya berfungsi dengan baik dan menolak Josh sejak awal, mungkin semuanya tidak akan serumit ini. Namun karena kebodohannya, Freesia harus terlibat dalam kehidupan seorang Joshua Janszen.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Anne pasti akan mengutukku jika dia tau aku telah menikah," ucap Freesia setelah sekian lama diam, meski Josh sudah melepaskannya namun setelah mendengar ucapan Lynda gadis itu di terpa rasa bersalah yang begitu besar. Sebagai gadis yang hampir dewasa, bukankah keren jika Freesia mempertanggung jawabkan kebodohannya.
"Freesia, aku tau kami jahat dan egois. Tapi bisakah kalian mempertahankan pernikahan ini demi menjaga nama baik keluarga kami. Dan soal orang tuamu, aku yang akan menjelaskannya secara langsung."
"Aku sudah tidak punya orang tua grann."
"Astaga, maafkan aku Freesia, aku tidak bermaksud membuatmu sedih," Lynda merasa tak enak hati, wanita tua itu lalu mendekati Freesia dan meraih tangan mungilnya.
"It's okay grann."
"Lalu siapa Anne?"
"Dia bibiku."
"Baiklah kalau begitu, aku akan bicara pada bibimu!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...