Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Ruang rapat


__ADS_3

"Tapi bagaimana mungkin, maksudku, aku sudah lama sekali tidak bisa keluar dari rumah. Bagaimana caranya kau membawaku keluar?"


"Dengan cinta," jawaban Frey tentu saja membuat Katherine bingung.


"Cinta?" ulang Katherine untuk memastikan maksud perkataan menantu kecilnya.


"Mungkin ini terdengar aneh, tapi saya benar-benar ingin membantu nyonya untuk sembuh. Saat saya tak sengaja mendengar tentang kondisi nyonya, saya merasa sedih dan turut merasakan apa yang nyonya rasakan. Dan secara tidak langsung, nyonya juga mempercayai saya sehingga nyonya mengikuti saya sampai di sini. Dan anggap saja rasa empati saya serta kepercayaan nyonya sebagai awal rasa cinta di antara kita. Jangan terlalu membenci saya nyonya, saya tidak memiliki maksud buruk kepada Josh dan keluarga anda," Frey mengucapkan kalimat sindiran itu dengan wajah tersenyum. Sementara Kantherine diam sesaat, mencerna setiap perkataan Frey yang menggetarkan hatinya. Sejak awal, Katherine memang tak membenci Frey, dia hanya kecewa karena Josh tidak menikah dengan Jennifer dan malah membawa gadis kecil itu sebagai gantinya.


Katherine menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya, rasa sesak di dadanya seolah teruarai satu persatu, wanita itu melepas sandal yang melindungi kakinya dan berjalan di atas aspal tanpa alas kaki. "Akhirnya aku bisa keluar," teriaknya dengan perasaan yang begitu lega.


"Stt," Frey menempelkan jari di bibirnya, memberi isyarat agar Katherine tidak berteriak. "Nyonya, nanti pak satpam bangun!"


"Biarkan saja, biarkan mereka tau kalau aku sudah bisa keluar dari rumah," Katherine tersenyum dengan begitu lebar, saking bahagianya, wanita itu sampai berputar-putar di tengah jalan seolah dia sedang menjadi bintang Bollywood. Frey hanya diam dan mengamati kebahagiaan Kantherine, melihat betapa senangnya wanita itu, Frey tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Kantherine saat dia tau jika calon menantu idamannya adalah selingkuhan suaminya sendiri.


"Nyonya, ayo kita masuk. Udaranya semakin dingin, nanti anda sakit."


Katherine kembali memakai sandalnya dan menghampiri Freesia. "Tapi aku masih ingin di luar, aku ingin berjalan lebih jauh lagi."


"Lakukan perlahan nyonya, besok saya akan menemani anda keluar."


"Kau serius kan?"


"Iya, dua rius malah. Ayo kita masuk nyonya."


Katherine akhirnya menurut, keduanya kembali ke dalam rumah tanpa seorang pun yang mengetahui jika mereka keluar. Kini mereka sudah berada di lantai dua, tepat dimana kamar mereka berada. Frey hendak kembali ke kamarnya, namun panggilan Katherine membuat langkahnya berhenti dan kembali menoleh ke arah Katherine.


"Terima kasih Frey," ucapan Kantherine terdengar ketus, namun dia benar-benar tulus saat mengatakannya, dia masih terlalu gengsi untuk bersikap ramah kepada Frey, gadis yang selalu dia tolak kehadirannya.


"Sama-sama nyonya," Frey kembali tersenyum, gadis itu lalu masuk ke dalam kamar setelah memastikan Katherine kembali ke kamarnya.


.


.


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama. Seperti biasanya, hanya keheningan yang menemani waktu sarapan mereka. Namun, hal yang tak terduga terjadi, semua mata tertuju pada Katherine saat wanita itu mengambil Taco dan menaruhnya di piring Freesia.


"Anak kecil perlu makan yang banyak agar cepat tumbuh besar!"

__ADS_1


Semua orang menatap Katherine tak percaya, Jonathan bahkan sampai menjatuhkan Taco nya karena dia benar-benar terkejut dengan sikap Katherine pagi ini. Bahkan Katherine sampai berani melanggar peraturan Lynda untuk tidak bicara saat makan.


"Terima kasih nyonya," jawab Frey dengan pelan, jujur saja dia merasa canggung, namun dia juga bersyukur karena Katherine mulai bersikap baik padanya. Mereka lalu melanjutkan sarapan mereka dalam keheningan.


"Jov, aku tidak salah lihat kan tadi?" tanya Jonathan setelah menyelesaikan sarapannya.


"Maybe no," jawab Jovanka cuek, namun sebenarnya dia juga penasaran apa yang membuat momy nya bersikap baik kepada Freesia.


"Kakak ipar, apa yang terjadi di antara kalian, kenapa momy tiba-tiba baik?" Jonathan akhirnya bertanya kepada Frey karena kebetulan dia duduk di sebelah kakak iparnya itu.


"Aku memantrai nyonya Katherine."


"Wah, mantramu pasti sangat sakti."


"Tentu saja."


"Ajari aku memantrai gadis-gadis cantik dan sexy agar mereka mau denganku," bisik Jonathan.


"Jo, wajahmu sudah lebih dari cukup untuk menyihir para gadis," sahut Frey yang secara langsung memuji ketampanan Jonathan.


Frey hanya mengangguk. "Tapi lebih tampan suamiku."


"Kami itu Beti, beda tipis!"


"Ya ya, terserah kau saja!"


.


.


Dua hari sudah Frey menginap di mansion keluarga Janzsen, selama dua hari itu pula hubungannya dengan Katherine semakin membaik. Di malam kedua Frey menginap, dia kembali menemani Katherine keluar rumah, bahkan di malam itu mereka berjalan sejauh dua kilo meter agar sampai di jalan raya karena Katherine memaksa ingin melihat kendaraan berlalu lalang.


Hari ini, rapat komite sekolah akan di gelar. Frey akan ke sekolah berama Lynda dan juga Jimny selaku ketua yayasan SMA Angkasa. Setelah sarapan, Frey menunggu Lynda di ruang tamu, gadis itu tampak gelisah, dia berjalan mondar-mandir seraya menggigit ujung jarinya.


"Kau gugup?" tanya seseorang, Frey menoleh dan mendapati Katherine berdiri di belakangnya.


"Saya takut nyonya, bagaamana kalau saya di keluarkan dari sekolah?"

__ADS_1


"Lynda pasti tidak akan membiarkan itu terjadi, jangam gugup. Wajahmu semakin jelek," tukas Katherine, ingin sekali dia mengusap kepala Frey namun dia masih terlalu gengsi untuk melakukannya.


"Terima kasih banyak nyonya," Frey tersenyum seraya menatap wajah Katherine.


"Untuk?"


"Nyonya membuat saya lebih tenang. Sepertinya Lynda sudah siap, kalau begitu saya pamit," Frey mengulurkan tangannya, niat hatinya dia ingin mencium tangan Katherine, namun wanita itu malah salah mengartikan.


"Aku tidak bawa uang cash, tunggu sebentar aku akan mengambilkan uang jajan untukmu," Katherine hendak pergi namun Frey segera menahannya.


Frey terkekeh, ekspresi wajah Katherine sangat lucu. "Saya tidak minta uang nyonya, saya hanya mau berpamitan," Frey lalu meraih tangan Katherine dan mencium pungung tangannya. "Saya berangkat nyonya, jangan lupa berlatih keluar sendirian ya!" Frey lalu berjalan keluar, menghampiri mobil Lynda yang sudah menungginya di depan rumah.


Sepeninggal Frey, Katherine masih tak bergeming, wanita paruh baya itu mengamati tangannya yang baru saja di cium oleh Freesia, sebagai wanita yang tumbuh dalam budaya barat, mencium tangan tentu saja aneh bagi Katherine, tapi anehnya Katherine merasa senang saat Frey melakukannya, dia merasa Frey sangat menghargainya. Hatinya terasa hangat oleh sikap gadis kecil itu.


"Sepertinya aku tau kenapa Josh memilihmu."


Di ruang rapat SMA angkasa, Frey hanya bisa menunduk dan sesekali menjawab saat para petinggi sekolah membombardir dirinya dengan begitu banyak pertanyaan. Frey begitu gugup, bahkan sekujur tubuhnya di penuhi keringat dingin.


"Jadi, siapa laki-laki yang bersamamu di hotel itu Freesia Lovina?" tanya kepala sekolah.


"Dia orang yang memesan bunga pak," ya jawaban itu lah yang lagi-lagi Frey ucapkan, dia tak mempunyai jawaban lain karena takut akan merugikan Josh dan keluarga Janzsen. Belum lagi, Lynda yang sejak tadi memilih diam membuat Frey merasa semakin tertekan, Frey mengira jika Lynda akan membelanya, namun dugaan Frey salah, sepertinya dia memang akan di keluarkan dari sekolah.


"Jawab sejujur-jujurnya Freesia, mana mungkin orang memesan bunga pukul dua dini hari?"


Tubuh Frey semakin menegang, dia meremas buku-buku tangannya hingga memerah. "Josh, tolong aku," batinnya dengan mata berkaca-kaca.


"Katakan siapa pria itu atau kau akan di keluarkan dari sekolah!"


Krieekk...


Di saat yang bersamaan, pintu ruang rapat terbuka. Suara bariton langkah kaki seorang pria berseragam pilot menggema di ruangan tersebut. Frey membelalakan matanya, dia lalu mengucek matanya berkali-kali, memastikan jika dia tak salah lihat.


"Siapa anda?" tanya kepala sekolah seraya menatap pria itu.


"Saya Joshua Janzsen, saya pria yang berada di dalam foto itu, dan saya adalah suami Freesia Lovina."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2