
Siang telah berganti malam, Frey tak di izinkan pulang oleh Lynda sehingga gadis kecil itu akan menginap di mansion dalam dua hari ke depan. Lynda juga memberi tahu Frey, jika pihak sekolah akan melakukan rapat komite sekolah untuk memutuskan nasibnya di sekolah. Frey kini berada di kamar Josh, kamar yang di dominasi warna grey dengan wangi valina di dalamnya, sungguh kamar itu membuat Frey semakin merindukan suami kontraknya.
Sepertinya Tuhan mendengar suara hatinya, tak berselang lama, ponsel Frey berbunyi, sebuah panggilan vidio dari Josh. Sebelum mengangkat panggilan tersebut, Frey merapikan rambut serta berlatih tersenyum selebar mungkin, Frey tidak ingin Josh khawatir jika melihatnya bersedih.
"Hay Capt," sapa Frey begitu panggilan tersambung, di layar ponselnya terlihat jelas wajah yang sedang dia rindukan.
"Hay, bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Josh di seberang sana.
"Membosankan seperti biasanya. Apa yang sedang kau lakukan?" Frey sengaja mengalihkan percakapan mereka, membahas masalah sekolah membuatnya merasa sedih dan marah pada saat yang bersamaan.
"Aku baru sampai di hotel, aku sangat lelah."
"Sebaiknya kau istirahat sekarang."
"Kau tidak suka aku menelfon?" terlihat jelas wajah masam Josh di layar ponsel Frey.
"Tentu saja tidak, kan katanya tadi lelah. Kalau lelah ya istirahat kan?"
"Hem, baiklah. Aku akan istirahat. Jaga dirimu baik-baik," ucap Josh sebelum dia mengakhiri panggilan vidionya.
Frey merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size, gadis itu lalu memeluk bantal guling yang seketika membuatnya merasa nyaman. "Seandainya kau di sini, ah aku semakin merindukanmu," gumamnya seraya membayangkan jika bantal guling itu berubah menjadi Josh. Tanpa sadar Frey mulai terlelap, tubuh dan jiwanya butuh istirahat setelah seharian ini tenaga dan otaknya terkuras habis.
Hiks...hiks...hiks...
Frey mengerjapkan matanya saat mendengar suara wanita menangis, dia mempertajam pendengarannya dan suara itu semakin menjauh. "Masa iya di rumah mewah ada mbak kunti?" batinnya merasa takut.
Klik...klak...klik...klak....
Frey memeluk erat gulingnya, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. "Itu bukan boneka Cello kan? Ah tentu saja bukan, boneka Cello kan hanya ada di novel horor karyanya kak Meli Meilia, aku pasti hanya berhalusinasi," Frey meyakinkan dirinya jika dia hanya salah dengar, namun suara langkah kaki itu malah semakin terdengar jelas di telinganya. "Aish, dasar setan sialan," Frey menyibak selimutnya, dengan setengah keberanian yang dia miliki, gadis itu mengintip keluar dari balik pintu. Frey membelalakan matanya saat dia melihat seorang wanita memakai gaun berwarna merah dengan rambut panjang terurai sedang berjalan menuruni tangga, sesekali wanita itu mengeluarkan suara isak tangis.
"Mbak kunti ganti warna baju, sepertinya merah lebih cocok. Kasian mbak Kunti pasti lagi galau," Frey melirik ke kiri dan ke kanan, di sudut ruang kamar Josh dia menemukan hiasan kayu berbentuk Salib, Frey membawa benda itu keluar dan memberanikan diri mengikuti mbak kunti bergaun merah.
"Tuhan lindungi hambamu yang cantik ini, amen," kini jarak Frey dan mbak Kunti semakin dekat, namun Frey menghentikan langkahnya saat melihat wanita bergaun merah itu duduk di kursi meja makan dan sedang menikmati martabak manis. "Apa ini, apa mbak Kunti juga lapar karena terlalu banyak menangis?"
Suara gumaman Frey rupanya terdengar oleh wanita itu, perlahan wanita itu mulai menoleh ke arah Frey berada.
"Kyaaaa....."
__ADS_1
Frey dan wanita itu berteriak dalam waktu yang bersamaan, namun seketika Frey sadar jika wanita bergaun merah itu bukanlah mbak Kunti seperti dugaannya.
"Ny-nyonya," pekik Frey tertahan, melihat Katherine dalam keadaan kacau membuatnya terkejut. Frey melangkah lebih dekat. "Apa yang anda lakukan pagi-pagi buta begini?" Frey melirik jam dinding, waktu menunjukan pukul tiga dini hari.
"Aku lapar," jawabnya seraya mengusap kasar air mata di wajahnya.
"Boleh saya duduk?" tanya Frey dan Katherine hanya mengangguk. Frey meraih tisu dan mengusap wajah ibu mertuanya tanpa izin. "Tangan anda kotor, nanti bisa-bisa wajah cantik anda berjerawat kalau anda menyeka air mata anda dengan tangan kotor itu," ucapnya sambil tersenyum.
"Apa aku cantik?" Katherine bertanya seraya menatap mata Freesai.
"Tentu saja, saat dewasa nanti, saya ingin menjadi wanita cantik seperti anda," jawab Frey jujur, karena pada dasarnya memang Katherine sangat cantik. Di usianya yang sudah tak muda lagi, wanita itu memiliki kulit wajah yang terawat. "Tapi nyonya, wanita cantik seperti anda di larang menangis, apalagi makan martabak saat dini hari, bisa bahaya jika berat badan anda naik."
Katherine reflek melemparkan kembali potongan martabak yang berada di tangannya. Wanita itu lalu menatap kesal menantu kecilnya itu. "Kau mempermainkanku ya, kau pasti senang melihatku menangis seperti ini kan?"
Frey menggeleng dengan cepat. "Tidak nyonya, saya hanya tidak suka melihat wajah cantik itu di hiasi air mata, bukanlah lebih indah jika anda tersenyum?"
"Tidak ada alasan untukku tersenyum," jawabnya ketus, namun terdengar lebih lembut dari pada sebelumnya
"Benarkah? Padahal anda memiliki segalanya, aku sampai iri."
"Iri?" ulang Katherine.
"Kasian sekali hidupmu," tanpa sadar Katherine mengambil tisu dan memberikannya kepada Frey.
"Terima kasih nyonya."
"Hem." Katherine membuang nafas kasar, wanita itu lalu beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar. Frey hanya mengamati dan mengikuti dari belakang, dia tau jika Katherine pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Anda mau jalan-jalan di luar?"
Katherine menoleh, Frey sudah berada di sampingnya. "Pagi-pagi begini?" tanyanya dengan wajah terkejut.
"Saat saya sedih, saya akan berjalan kaki sejauh mungkin, setelah saya merasa lelah, saya akan tidur dan saat bangun kesedihan saya sudah berkurang. Anda mau mencobanya?"
"Tapi ini masih pagi!"
"Justru karena ini masih pagi jadi tidak ada yang melihat anda."
__ADS_1
"Tapi kau melihatku."
"Iya juga ya. Hem, anggap saja saya angin berlalu."
Setelah berpikir beberapa saat, Katherine akhirnya membuka pintu utama dan keluar ke halaman rumahnya. Angin pagi yang berhembus seolah tak dia rasakan, wanita itu berjalan mengelilingi air mancur yang berada di halaman rumah besarnya, di temani Frey yang mengikuti di belakangnya, wanita itu kembali meneteskan air matanya.
"Kenapa kau tak membenciku?" tanyanya setelah sekian lama diam dan larut dalam kesedihan.
"Kenapa saya harus membenci anda?" Frey melangkah mendahului Katherine, tanpa sadar wanita itu mengikuti langkah kaki Freesia.
"Sejak pertama kali bertemu, aku selalu memusuhimu, apa kau tak marah padaku?"
Frey tetap berjalan dengan santai. "Kadang saya sedikit kesal, tapi saya tau, anda bersikap demikian karena anda ingin Josh mendapatkan pasangan yang terbaik. Kalau saya sudah memiliki anak, saya pasti akan bersikap seperti anda," jawabnya jujur, meski Katherine selalu menghinanya, namun dia tak membenci wanita itu. "Saya harap anda sedikit lebih bersabar. Hanya lima tahun, ya hanya lima tahun saja nyonya, setelah itu anda tidak akan melihat saya lagi?"
"Apa maksudmu?"
"Saya dan Josh menikah secara kontrak, kami terikat dalam hubungan yang saling menguntungkan. Josh menikahi saya karena tidak mau keluarganya menanggung malu dan saya menikahi Josh karena saya butuh uang," entah apa yang mendorongnya, Frey tiba-tiba berkata jujur kepada Katherine, namun Frey merasa sedikit lebih lega setelah menceritakan kebenarannya.
"Kau serius?" tanya Katherine tak percaya.
"Aku serius, tapi nyonya harus menjaga rahasia ini ya. Kalau sampai Lynda tau, tamat sudah riwayatku!"
"Beraninya kau menyuruhku," sahut Katherine.
Frey terkekeh. "Saya hanya minta tolong nyonya. Dan kita sudah sampai!
Katherine menatap ke depan, wanita itu terdiam di tempat karena tak percaya dengan apa yang di lihatnya. "Aku berada di jalan raya," ucapnya terbata.
"Hem, selamat nyonya. Akhirnya anda bisa keluar dari rumah," sahut Frey dengan senyum di wajahnya
Katherine menoleh ke belakang, menatap bangunan megah yang selama sepuluh tahun terakhir mengurungnya karena trauma masa lalun. Berbagai pengobatan sudah wanita itu jalani, Psikiater terbaik pun sudah di datangnya demi menyembuhkan traumanya dan hasilnya tetap nihil. Namun, bersama gadis asing yang sangat dia benci, dia berhasil melewati tembok megah yang selama ini mengurungnya, dia bahkan kini berada di jalan beraspal yang sudah sangat lama tak dia injak.
"Frey, aku bisa keluar?" tanyanya masih dalam kondisi tak percaya.
"Ya nyonya. Saya tidak tau luka seperti apa yang anda derita, namun saya yakin anda bisa melewatinya!"
"Tapi bagaimana mungkin, maksudku, aku sudah lama sekali tidak bisa keluar dari rumah. Bagaimana caranya kau membawaku keluar?"
__ADS_1
"Dengan cinta."
BERSAMBUNG...