
"Ann," ucap Maggie dengan bersusah payah.
"Ya bu, Anne di sini!"
"Aku ingin melihatmu menikah sebelum aku mati!"
Deg...
Anne melirik Andrew, dia lalu menunduk beberapa saat dan kembali menatap wajah sang ibu. "Aku akan menikah, jadi ibu harus sembuh dan melihatku menikah," jawab Anne sambil tersenyum, dia lalu meraih tangan ibunya dan menggenggamnya dengan erat. "Apa ibu tidak ingin melihat cicit ibu lahir? Berjuanglah untuk sembuh dan melihat anak serta cucu ibu bahagia."
"Dimana Frey?" tanya Maggie.
"Frey ada di rumah suaminya. Kondisinya kurang sehat!"
"Aku ingin melihatnya!" pinta Maggie dengan mata berair, Anne mengangguk, dia lalu keluar dari ruangan itu untuk menghubungi Freesia.
Satu jam kemudian Frey datang bersama suaminya, Anne menatap aneh ke arah Fresia pasalnya gadis itu memakai beberapa lapis masker dan menjaga jarak dari Josh.
"Kau kenapa Frey?" tanya Anne penasaran, tidak biasanya dia melihat Frey menjaga jarak dari suaminya.
"Dia muntah kalau mencium bau badanku Ann," Josh menjawab dengan wajah lesu.
Bukannya prihatin, Anne justru mentertawakan curahan hati Josh. "Mungkin anakmu sedang mengujimu Josh, dia ingin tau sesabar apa dady nya dan sebesar apa rasa cinta dady untuk momy nya."
"Anggap saja begitu. Aku akan bertahan agar anakku tau seberapa besar aku mencintai mereka!" jawab Josh dengan penuh percaya diri, mendengar jawaban suaminya diam-diam Frey tersenyum di balik lapisan maskernya, rasanya sangat menyenangkan mendengar pengakuan cinta dari Josh meski bukan untuk yang pertama kalinya.
Setelah berbincang dengan bibinya, Frey dan Josh masuk ke ruangan Maggie, tentu saja dengan jarak aman minimal setengah meter. Frey duduk di samping tempat tidur Maggie, sementara Josh berdiri di dekat pintu bersama Andrew.
"Apa yang terjadi tuan?" tanya Andrew sambil berbisik.
Josh mendekatkan wajahnya ke telinga Andrew. "Bawaan bayi, nona muda mu tidak mau berdekatan denganku!"
__ADS_1
Andrew berusaha menahan tawanya, dia sangat tau apa yang di rasakan Josh karena beberapa bulan yang lalu dia pernah merasakannya saat istrinya sedang hamil muda. Waktu itu dia menyempatkan pulang ke Belanda namun sabg istri justru mengusirnya dengan alasan ketiak nya bau sampah. "Sabar tuan, berdoa saja semoga tidak berlangsung lama!"
Josh hanya bisa menghela nafas panjang dan mengaminkan ucapan Andrew, jika terus begini bisa-bisa Josh terus-terusan sakit kapala karena menahan sesuatu yang sudah lama dia tahan.
"Frey," panggil Maggie dengan pelan.
"Ya oma."
"Apa kau marah padaku?" tanya Maggie seraya menatap cucunya, tatapan itu terasa begitu dalam membuat hati Frey tersentuh, untuk pertama kalinya Frey melihat tatapan Maggie yang begitu lembut.
Frey menggeleng dengan cepat. "Tidak oma, Frey juga berharap oma tidak membenci Frey setelah apa yang Frey lakukan pada oma," jawab Frey, untuk sesaat dia menyesal karena mendekati nenek nya demi kepentingan nya sendiri, namun Frey berharap dengan kejadian waktu itu membuat Maggie tersadar jika menyimpan dendam yang berlarut-larut tidaklah baik untuk dirinya sendiri.
"Aku kecewa, tapi aku tidak bisa marah padamu. Kau melakukannya demi orang yang kau cintai, dan aku melakukan semua hal buruk itu juga demi orang yang aku sayangi, Fedrik!"
Frey memberanikan diri untuk menyentuh tangan Maggie, tangan yang sudah keriput itu terasa dingin. "Oma, tolong lupakan segalanya. Ayah dan ibuku pasti sudah tenang di sana. Ayah pasti akan sedih melihat oma menyimpan dendam sendirian. Apa oma tidak ingin bahagia?"
Maggie tak menjawab, namun buliran bening mulai menetes di sudut matanya. Jika di tanya apa dia ingin bahagia pasti jawabannya adalah ingin. Dia sangat ingin bahagia, setelah kepergian suaminya Maggie merasa kebahagiaannya perlahan hilang. Dia juga harus menelan pil pahit saat kedua anaknya memutuskan meninggalkannya.
"Pulang lah Frey, aku ingin istirahat!" usir Maggie secara halus, dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan cucunya.
Frey dan Josh lalu keluar dari ruangan itu, mereka menghampiri Anne yang sedang termenung di kursi tunggu.
"Apa Jo belum ketemu?" tanya Josh.
Anne menggeleng lemah. "Dia seperti di telan bumi. Kemana dia pergi?" jawab Anne penuh sesal dan kesedihan.
"Aku dengar dia mengundurkan diri dari kantor, mungkin dia sedang menenangkan diri Anne. Tunggulah sebentar lagi," ucap Josh memberi saran.
"Bagaimana jika dia tidak kembali?" Anne menatap Josh dengan mata berair, ketakutan itu dia rasakan sejak tau Josh mengundurkan diri dari perusahaan, Anne sangat takut jika Jo akan meninggalkannya unguk selamanya.
"Berarti kalian tidak berjodoh!" Josh menepuk pundak Anne sebelum pergi, sementara Frey hanya bisa memeluk Anne sebagai bentuk penyemangat untuk bibinya.
__ADS_1
"Jangan menangis, Jo pasti akan kembali. Saat itu terjadi, tolong perlakukan dia dengan baik bi," Frey memberi pesan pada bibi nya yang selalu saja bersikap kuno dan tidak romantis sama sekali.
Josh berjalan di belakang Frey dengan jarak satu meter, rasanya ingin sekali dia berjalan di sebelah Frey lalu menggandeng tangannya. Namun mengingat saat Frey pingsan, Josh segera menekan semua keinginannya. Josh akan membalasnya nanti saat Frey sudah tidak menganggapnya bau lagi, dia akan selalu menempel sampai Frey merasa muak.
Di parkiran rumah sakit, tiba-tiba air liur Frey hampir menetes saat dia melihat pohon mangga dengan buah yang begitu banyak. Tiba-tiba saja dia ingin makan mangga di rumah sakit.
"Josh aku mau itu," pinta Frey seraya menunjuk pohon mangga.
"Mangga?" tanya Josh memastikan.
"Iya!"
"Nanti aku belikan, ayo cepat naik mobil!"
"Tidak Josh, kau mau mangga yang itu dan kau yang memetiknya!"
"What? Kau mau aku yang memetiknya? Tapi itu sangat tinggi Frey, aku tidak bisa memanjatnya," bukan tidak ingin menuruti keinginan istrinya, namun melihat pohon mangga yang sangat tinggi sudah membuat Josh merinding, belum lagi bayangan berapa banyak ulat bulu yang ada di pohon itu membuat bulu kuduk Josh meremang.
"Ya sudah aku akan naik sendiri!" ucap Frey kesal.
"Oke, oke. Aku akan memetiknya. Tapi kau tunggu di dalam mobil!"
Frey tersenyum lalu dia masuk ke dalam mobil menunggu sang suami memetikkan buah mangga untuknya. Sementara itu, Josh mencari petugas keamanan dan meminta izin untuk memetik buah mangga. Josh mengatakan yang sejujurnya sehingga pihak keamanan rumah sakit mengizinkannya, dan tanpa sepengetahuan istrinya, Josh menyuruh orang yang memetik buah mangga dan memberikan imbalan untuknya.
Setengah jam kemudian, Josh kembali ke mobilnya. Pria itu membawa kantong plastik berisi mangga muda. Josh masuk ke dalam mobil dan memberikan kantong plastik itu kepada Frey yang duduk di belakang.
"Kau memetiknya sendiri kan Josh?" tanya Frey memastikan.
"Tentu saja, aku hampir saja jatuh!" jawab Josh, dia terpaksa berbohong karena sudah beberapa kali dia berusaha memanjat pohon mangga itu dan dia tetap gagal.
"Ayo cepat pulang Josh, aku sudah tidak sabar ingin makan mangga ini!"
__ADS_1
Josh mengamati Frey dari spion, pria itu tersenyum melihat mata istrinya berbinar hanya karena mangga muda. Josh merasa bersalah karena dia membohingi istrinya, namun memanjat pohon bukanlah suatu hal yang bisa dia lakukan. Jika Frey menyuruhnya untuk lari, dia akan menyanggupinya. Atau jika Frey ingin melihatnya menerbangkan pesawat tempur, mungkin Josh akan menyanggupinya, tapi untuk naik pohon, Josh menyerah, dia tidak bisa melakukannya.
BERSAMBUNG...