
Setelah menempuh perjalanan selama 21 jam di pesawat dan 2 jam di darat akhirnya Anne sampai di hotel tempat Jo menginap. Anne tak habis pikir kenapa Jo harus melarikan diri sejauh itu, hampir sehari semalam Anne melakukan perjalanan demi bertemu Jo, sungguh melelahkan.
Anne tiba di hotel pukul 10 malam waktu setempat, dia sengaja tak memesan kamar hotel karena tujuannya datang menemui Jo adalah untuk menyerahkan diri..Terdengar muraaahan memang, namun apapun akan Anne lakukan demi membawa Jo kembali ke pelukannya.
Bermodal status palsu, Anne berhasil mendapatkan nomor kamar Jo, wanita itu mengaku sebagai istri Jonathan Janzsen. Anne menekan bel beberapa kali, dia hampir saja mendobrak pintu kamar jika Jo telat sedetik saja untuk membukakan pintu.
"What the fvckk, aku baru saja tidur sialan, beraninya kau meng..." Kalimat Jo menggantung, pria itu mengusap matanya berkali-kali untuk memastikan jika dia tidak salah lihat. Jo lalu tertawa sambil menekan pipi Anne dengan jari telunjuknya. "Shiiitt, aku pasti sedang berhalusinasi."
"Wanita sialaaan, kau sangat menyebalkan," maki Jo pada Anne yang dia pikir hanya sebatas halusinasi. "Apa kau pikir aku terbang jauh-jauh ke Afrika selatan hanya untuk melihat gajah? Damnnn it, aku sedang lari darimu dan beraninya kau selalu mengganggu pikiranku. Bahkan sekarang aku melihatmu dimana-mana. Sial, fvcking it!" Jo masih belum menyadari jika yang dia lihat bukanlah ilusi semata, sepertinya pria itu dalam pengaruh alkohol sehingga tidak bisa membedakan kenyataan dan halusinasi.
"Boleh aku masuk?" tanya Anne, jika saja dia tidak berniat untuk membujuk Jo, mungkin sekarang dia sudah memukul kepala Jo karena berani menyebutnya dengan wanita sialan.
"Hahah, aku pasti sudah gila. Bayanganmu bahkan mau masuk ke kamar hotelku. Mari silahkan masuk Anne!" Jonathan membuka pintu kamarnya dengan lebar, dia mempersilahkan Anne untuk masuk. Jo menatap Anne dengan mata sayu, kesadarannya hampir sepenuhnya habis. "Dia sangat nyata," gumamnya sambil terkekeh, Jo lalu menutup pintu kamar dan menghampiri Anne yang kini sedang duduk di atas ranjang.
"Karena kau hanya bayangan Anne, jadi kau harus menuruti keinginanku ya. Kau tidak boleh menolakku seperti Anne yang asli. Wanita tua itu sangat menyebalkan," Jo mengoceh tak karuan, priaa itu benar-benar kacau.
"Apa? Wanita tua? Kau baru saja menyebutku wanita tua?" Anne mulai meradang, sejak tadi dia berusaha menahan amarahnya namun Jo semakin menguji kesabarannya.
"Hmm, wanita tua. Dan bodohnya aku karena sangat mencintai wanita tua itu!"
Amarah Anne mereda seketika, setidaknya dia tau jika Jo masih mencintainya. Dia merasa lega setelah mencemaskan jika Jo akan berpaling darinya.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Anne seraya menatap wajah Jonathan.
"Saaaaaaaangaaattt cinta!" jawab Jo jujur.
(Bacanya jangan lupa pakai intonasi ya gays)
"Lalu kenapa kau lari dariku?"
__ADS_1
"Ck, kau selalu saja menolakku. Kau sangat jual mahal. Kau selalu mempermainkan aku.. Aku muak menunggu wanita plin plan sepertimu. Harga diriku selalu mau injak-injak. Ibarat kata, kau melepas kepalaku tapi kau menahan kakiku!"
"Aku bersalah Jo, maafkan aku!" pinta Anne setulus hati, dia sangat menyesali sikapnya yang terus berubah-ubah.
"Maaf katamu, tidak semudah itu Anne Zantman!" Jo lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, pria itu lalu menangis dan tertawa secara bersamaan membuat Anne semakin merasa bersalah karena membuat Jo kacau seperti itu.
Anne memeriksa Jo saat dia tak mendengar rancauan dari mulut Jo, rupanya pria itu tertidur. Anne lalu menyelimuti tubuh Jo, setelah itu dia memutuskan untuk mandi karena tubuhnya sangat lengket.
Setelah mandi, Anne memakai baju tidur yang cukup tipis. Menurut Frey baju tidur itu sangat ampuh untuk merayu pria yang sedang marah. Karena sudah bertekad untuk menyerahkan diri, Anne menerima saran dari keponakannya dan membeli baju tidur yang hampir transparan itu.
"Aku akan membunuhmu jika ini tidak berhasil Frey," gumam Anne, dia lalu menyusul Jo ke dalam selimut dan memeluk tubuh Jo dari belakang. Karena lelah, Anne akhirnya terlelap dan tidak tau apa yang terjadi setelahnya.
Nyanyian burung bersahut-sahutan mengusik sepasang manusia yang masih terlelap di balik selimut tebal. Entah sejak kapan, namun kini posisi mereka sudah berubah. Jo tertidur menghadap Anne dan memeluk tubuh Anne seperti bantal guling.
Anne mulai menggeliat, dia melirik jam di dinding yang menunjukan pukul tujuh pagi. Anne hendak bangun namun tangan Jo masih melingkar di pinggangnya. Anne menatap wajah damai Jo yang masih terlelap, perlahan jemari lentiknya mulai menyusuri wajah tampan Jo, mulai dari alis, pipi, hidung dan berakhir di bibir ranum yang kerap mencuri ciuman darinya.
"Morning Jo," sapa Anne sambil menunjukan senyum terbaiknya.
Jo memejamkan matanya, dia lalu membuka matanya lagi, memejamkan lagi dan membukanya lagi. "Aku benar-benar sudah gila," gumam Jo.
"Kenapa Jo?"
"Tolong jangan siksa aku Anne, aku mohon! Kenapa bayanganmu selalu menggangguku!"
Anne terkekeh karena Jo masih belum menyadari jika wanita yang tidur di sampingnya adalah Anne asli. "Aku bukan bayangan Jo, aku Anne yang asli!" ucap Anne.
"Tidak mungkin. Anne asli tidak mungkin perduli padaku dan menemuiku sampai sejauh ini!"
"Aku akan membuktikannya kalau aku Anne yang asli!" Anne menangkup wajah Jo dan mencium bibir Jo tanpa permisi. Jo membelalakan matanya saat dia merasakan bibir hangat Anne yang menempel di bibirnya, bahkan kini lidah Anne memaksa menerobos masuk ke dalam mulut Jo membuat pria itu tersadar jika yang sedang menciumnya adalah Anne asli, bukan sekedar halusinasinya.
__ADS_1
Jo mendorong tubuh Anne hingga ciuman mereka terlepas, pria itu beranjak dari tempat tidurnya dan menatap Anne tak percaya.
"Pergi dari sini," entah apa yang di pikirkan Jo, pria itu tiba-tiba mengusir Anne.
Anne terkejut, wanita itu lalu turun dari tempat tidur dan menghampiri Jo. "Aku minta maaf Jo, aku menyesal. Tolong beri aku kesempatan sekali ini saja!" ucap Anne dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf? Kesempatan kedua? Kau pikir semudah itu Ann?" jawab Jo dengan tatapan nyalang.
"Aku akan melakukan apapun yang kau minta asal kau kembali kepadaku dan bersedia menikahiku!"
"Melakukan apapun?" tanya Jo dan Anne mengangguk.
"Apa kau bersedia tidur denganku?"
Deg...
Meski sudah bertekad menyerahkan diri, namun tetap saja mendengar kalimat itu membuat Anne merinding dan sedikit takut.
"Pergilah, aku tau kau tidak akan pernah melakukannya!"
"Ayo lakukan!" jawab Anne dengan tangan bergetar. Wanita itu lalu menarik tali baju tidur yang ada di pundaknya hingga baju transparan itu terlepas dari tubuhnya dan menyisakan braaaa serta under wear berwarna hitam.
"Sentuh aku Jo, aku menyerahkan diri!"
BERSAMBUNG...
Gays, hari ini aku up 1 bab aja soalnya aku ada acara di luar kota.. Bab ini pun aku tulis selama di perjalanan karena aku takut kalian berpaling dariku kalau aku nggak up..
Hihi, happy weekend all.. Love yo all ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1