
Hingga siang hari hujan tak juga berhenti, Freesia dan kedua temannya pergi ke kantin dan memilih bakso sebagai menu makan siang mereka. Cuaca yang dingin di temani semangkuk bakso berkuah panas adalah kombinasi yang sangat pas.
"Baksonya bulet, mirip Kayli," celetuk Cia sambil terkekeh, begitupun dengan Kayli dan Freesia. Meski Cia sering mengatai bentuk tubuhnya, namun Kayli tak pernah merasa tersinggung karena dia tau Cia hanya bercanda.
"Bulet tapi enak kan?" ujar Kayli seraya mengerlingkan matanya.
"Lumayan," sahut Cia, gadis itu lalu menusuk baksonya. "Maafin gue ya Kay, gue harus gigit loe," ujarnya, lalu memasukkan pentol bakso ke dalam mulutnya.
"Arg, tolong, sakit Cia," Kayli berujar dengan suara sedramatis mungkin, seolah dia adalah bakso yang sedang di kunyak oleh Cia.
"Ck, kalian memang cocok gabung sama Srimulat," sela Freesia seraya tertawa, namun detik selanjutnya tawa ketiga gadis itu redup saat mereka kembali kedatangan ke empat keong racun.
"Apalagi astaga naga?" tanya Cia seraya memutar bola matanya malas. Tak lama kemudian, datang segerombolan murid perempuan dan mengelilingi meja di mana Freesia dan kedua temannya berada.
"Oh jadi ini, gadis miskin yang berharap jadi Cinderela Fril?" ucap salah seorang murid sambil menunjuk kepala Freesia.
"Yups, penjual bunga yang mimpi jadi orang kaya," sahut Frily menghina.
"Eh loe," gadis bernama Angel itu menonyor kepala Freesia dengan keras. Meski amarahnya sudah di ubun-ubun, namun Freesia tetap berusaha tenang, dia lalu berdiri dan menatap nyalang ke arah Angel.
"Ngapain loe melototin gue, nggak terima loe," Angel kembali menonyor kepala Freesia.
"Cantik sih, sayang nggak punya attitude," sindir Frey dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Dasar miskin," umpat Angel, dia hendak memukul Freesia namun Frey lebih dulu menangkis tangan Angel sebelum menyentuh wajahnya.
"Gue emang miskin tapi gue punya attitude, nggak kaya loe, anak orang kaya tapi minim akhlak. Kedua orang tua loe pasti malu punya anak kaya loe!" hardik Freesia dengan tatapan tajam, sungguh dia sudah muak selalu di hina dan di musuhi tanpa tau jelas apa kesalahannya.
Angel menggeram kesal, tanpa Frey sadari Angel memberi kode kepada Frily untuk melakukan sesuatu. Frily mengangguk seraya tersenyum licik, gadis itu mendekat ke arah meja, lalu dengan sengaja menumpahkan mangkuk bakso milik Freesia sehingga kuah yang masih panas itu menyiram paha Freesia.
"Auw," pekik Freesia seraya menghentak-hentakkan kakinya, sementara Frily dan Angel serta rombongannya tertawa terbahak-bahak melihat Freesia kesakitan.
"Gila loe," Cia segera mendorong tubuh Angel dan menghampiri Freesia. "Loe nggak papa kan?" tanyanya khawatir.
"Panas Ci," Freesia mengaduh seraya mengipasi pahanya yang mulai melepuh.
Di sisi lain, Kayli meraih tiga gelas jus buah naga, dengan kekuatan supernya, Kayli menyiramkan ke tiga gelas itu ke arah yang berbeda sehingga Frily, Angel dan teman-temannya terkena cipratan jus buah naga tersebut.
"Dasar gendut sialan," maki Frily seraya membersihkan seragamnya yang kini berwarna merah keunguan.
"Ada apa ini?" ujar sebuah suara, membuat semua gadis terdiam dan menoleh ke arah suara.
"Axel," gumam Frily dan Angel bersamaan.
__ADS_1
Axel yang melihat Freesia merintih kesakitan segera melewati barisan gadis-gadis itu dan menghampirinya. "Frey loe kenapa?" tanyanya panik.
"Frily sengaja numpahin bakso ke paha Frey," adu Cia seraya melirik Frily.
Axel mengeraskan rahangnya, pemuda itu lalu menatap Frily, terlihat jelas kilat amarah dari sorot matanya. "Are you crazy?" bentak Axel dan berhasil membuat Frily ketakutan.
"Bukan gue Axe, dia sengaja numpahin baksonya sendiri dan memfitnah gue," elak Frily dengan tangan bergetar.
"Eh loe bekicot sawah, banyak saksi yang liat kalau loe sengaja numpahin bakso itu ke Frey," ucap Cia membela Freesia.
Axel semakin marah, pemuda itu lalu meraih air mineral yang berada di meja, mencampurkannya dengan bakso milik Cia, tak lupa dia juga menambahkan kecap dan juga saus. "Pilih ngaku atau bakso ini bakan tumpah di kepala loe?" ancam Axel sambil membawa mangkuk bakso di tangannya.
"Axe, loe jangan bercanda," Frily menatap kuah bakso yang berwarna merah kecoklatan.
"Gue serius! Satu, dua, ..."
"Angel yang nyuruh geu," aku Frily, dia terpaksa membuka mulutnya karena tak ingin mandi kuah bakso.
"Fril, elo," Angel menatap Frily tak percaya, bisa-bisanya Frily menumbalkannya. "Bukan gue Axe, Frily yang merencanakan semuanya. Kalau loe nggak percaya loe bisa tanya temen-temen gue."
"Bener Axe, Frily yang nyajak kita buat ngerjain Frey," sahut salah satu teman Angel.
"Loe," Axel mengeraskan rahangnya, tanpa ampun pemuda itu menyiramkan bakso tepat di atas kepala Frily sehingga sekujut tubuh gadis itu bermandikan kuah berwarna merah kecoklatan, jangan lupakan bihung yang menyatu di atas kepala Frily bak sebuah mahkota.
"Kalian semua dengarin gue baik-baik. Mulai detik ini, siapapun yang berani mengganggu Freesia maka kalian akan menanggung akibatnya!"
Semua murid SMA Angkasa yang berada di kantin hanya bisa mengangguk, menuruti perintah Axel. Melihat bagaimana pemuda itu menyiram Frily tanpa ampun, membuat siapapun enggan untuk mendekati Freesia apalagi mengganggunya.
"Kita ke UKS sekarang!"
Cia dan Kayli membawa Freesia ke UKS, ke tiga gadis itu masih belum percaya dengan apa yang mereka lihat. Setibanya di UKS, luka Freesia segera di obati oleh dokter yang bertugas.
"Axe, kayanya loe udah keterlaluan deh," kata Freesia setelah lukanya di obati.
"Biar mereka kapok. Gue udah janji kan, bakal bikin mereka nggak gangguin loe lagi. Sekarang loe percaya kan gue sayang sama loe!"
"What?" pekik Cia dengan mulut menganga dan bola mata yang melebar sempurna. "Kay, gue nggak salah denger kan?" Cia menyikut lengan Kayli.
"Kayanya enggak deh Ci. Axel sayang Freesia. Oh my Godnes, gue mau pingsan!"
"Axe, makasih karena loe peduli sama gue. Tapi loe juga harus ingat siapa gue. Gue mau istirahat, loe lebih baik kembali ke kelas," usir Freesia dengan tatapan yang sukar di jelaskan.
"Oke, gue bakal pergi. Tapi loe harus ingat, gue selalu ada buat loe!" Axel lalu meninggalkan UKS setelah mengucapkan kalimat romantis itu. Setelah kepergian Axel, kedua teman Freesia segera mendekat.
__ADS_1
"Axel tau loe udah nikah?" tanya Cia penasaran.
"Ya, Josh dan Axel adalah saudara sepupu!"
"Omaigot, jadi sekarang loe jadi rebutan dua cowok ganteng," ucap Kayli asal.
"Josh bahkan nggak nganggep gue ada!"
.
.
.
Freesia memutuskan izin dan pulang lebih cepat, gadis itu memesan taxi online untuk membawanya pulang. Setibanya di rumah, Freesia berjalan dengan sangat hati-hati karena pahanya masih terasa panas.
"Frey kau sudah pulang?" tanya Josh yang entah dari mana datangnya.
"Hem," jawab Frey singkat, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Kau kenapa?" Josh menyadari cara Freesia berjalan sedikit aneh, terlebih lagi Frey pulang lebih cepat dari biasanya.Josh lalu mengejar Freesia dan menghadang langkah gadis itu. "Kau sakit?" tanyanya lagi namun Freesia hanya menggeleng.
Josh berniat memeriksa kaki Freesia, saat itu juga dia melihat kulit paha Freesia melepuh. "Astaga, kenapa pahamu melepuh?"
"Kesiram bakso," jawab Freesia singkat.
"What? Bakso? Kenapa bisa begitu?" Josh mencecar Freesia dengan bebagai pertanyaan.
"Kecelakaan!"
"Kau harus segera ke rumah sakit!"
"Tidak perlu, lukaku sudah di obati!"
"Tidak, tidak, kita harus ke rumah sakit sekarang!"
"Tidak Josh, aku mau istirahat saja!" Freesia kembali menolak.
"Oke fine, aku akan mengantarmu ke atas!"
Freesia hanya diam, tak merespon ucapan Josh. Namun detik selanjutnya gadis itu berteriak saat merasa tubuhnya melayang di udara. "Josh apa yang kau lakukan?" pekik Freesia saat menyadari Josh menggendongnya ala pengantin. Karena tak ingin jatuh, Freesia lalu mengalungkan tangannya di leher Josh, gadis itu juga menyembunyikan wajahnya di dada Josh. Seketika rasa marah, kesal dan sakit yang dia rasakan seolah meluap, aroma Vanila yang keluar dari tubuh Josh membuatnya merasa lebih tenang.
"Kau selalu membuatku tenang Josh!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...