
Freesia dan Josh duduk saling berhadapan di ruang keluarga, keduanya masih saling diam untuk beberapa saat hingga Josh mengeluarkan selembar kertas serta pena dari tas kerjanya.
"Baca dan tanda tangani," ucap Josh seraya memberikan kertas serta pena tersebut kepada Freesia.
Frey meraih kertas tersebut, matanya melebar seiring kalimat yang di bacanya di bagian paling atas. "Surat perjanjian pernikahan."
"Ya, kau baca dengan teliti, jika ada yang membuatmu keberatan kau bisa merubahnya atau menambahi point yang kau inginkan!" ucap Josh.
Dengan seksama Freesia membaca surat perjanjian tersebut. Sejauh ini belum ada point yang merugikannya, malah semua terkesan menguntungkan gadis kecil itu, dan yang paling membuatnya senang adalah Josh benar-benar menyetujui lamanya waktu pernikahan kontrak mereka, yaitu lima tahun.
"Mengajukan pendaftaran pernikahan?" eja Freesia dengan keras, gadis kecil itu lalu menatap Josh dengan seksama.
"Ya, kita harus melakukannya agar mempermudah point selanjutnya."
Freesia lalu kembali fokus pada kalimat selanjutnya. "Setelah pihak A dan pihak B resmi berpisah, maka pihak B akan mendapatkan rumah, mobil beserta uang senilai 500 juta rupiah," Freesia kembali menatap Josh. "Apa ini tidak berlebihan Josh? Maksudku aku hanya butuh kau membiayaiku sampai aku lulus kuliah?"
"Semua itu pantas kau dapatkan Frey, kau bahkan rela mengorbankan waktumu demi membantuku, dan kita harus mendaftarkan pernikahan kita agar kelak aku bisa memberikan semua itu untukmu," jawab Josh tanpa keraguan.
"Hem, terserah kau saja," Freesia tak ingin berdebat, dia kembali membaca surat kontrak tersebut, sesekali bibirnya melengkung, menciptakan sebuah senyuman samar yang tak di ketahui oleh Josh.
"Kedua belah pihak di larang menjalin hubungan dengan siapapun selama kontrak berlangsung. Sentuhan fisik di perbolehkan selama itu dalam keadaan darurat," Freesia tersenyum penuh arti. "Capt, sepertinya point ini akan sedikit merugikanku?" ucap Freesia, namun niatnya hanya menggoda Josh saja karena dia juga menyukai point tersebut.
"Kau bisa merubahnya nona Freesia."
"Karena aku ingin membantumu jadi aku rasa aku tidak keberatan jika hanya sekedar peluk dan cium," Freesia lalu meraih pena dan menandatangani surat perjanjian itu.
"Dan ini untukmu," Josh memberikan sebuah black card kepada Freesia. "Kau bisa memakainya untuk kebutuhanmu."
"Apa aku boleh beli sepeda?" tanyanya dengan wajah berbinar.
"Sepeda?"
"Ya, untuk pergi ke sekolah aku butuh sepeda."
"Kau tidak butuh mobil?"
__ADS_1
"Hahahah, tidak. Aku tidak bisa mengemudi."
"Aku akan mengajarinya."
"Tidak Josh terima kasih, aku hanya butuh sepeda!"
Josh mengamati punggung Freesia yang menjauh, pria itu menyimpan kembali surat yang sudah di tanda tangani oleh Freesia. "Gadis yang menarik," gumam Josh seraya mengangkat ujung bibirnya.
.
.
Sore hari, setelah belajar Freesia mengelilingi rumah karena bosan, sebenarnya dia bukan sekedar berkeliling karena niatnya adalah mencari keberadaan Josh. Gadis kecil itu tersenyum lebar saat menemukan Josh di ruang olahraga. Freesia menempel pada pintu, layaknya cicak yang sedang mengincar mangsanya, gadis itu tak berkedip saat melihat Josh sedang melakukan gerakan yang memamerkan otot tangan dan lengannya, apalagi saat ini Josh tidak memakai baju, sehingga enam kotak roti sobeknya terpampang dan sayang untuk di lewatkan.
"Awas non, air liurnya jatuh."
"Eh," Freesia menoleh ke sumber suara, kulit wajah gadis kecil itu seketika memerah karena tertangkap basah sedang mengintip suaminya. "Mbok Endang ngapain di sini?" tanya Freesia dengan bisik-bisik.
"Mbok mau nanya, tuan dan non mau makan malam apa, nanti mbok siapin?" jawab mbok Endang seraya berbisik.
Freesia mengetuk pintu yang sudah terbuka, lalu dia masuk dan menghampiri Josh. "Josh, kau ingin makan malam pakai apa, mbok Endang akan menyiapkannya?"
Josh mengakhiri sesi olahraganya, pria itu meraih handuk kecil dan menyeka keringat di wajah serta tubuhnya. "Aku akan masak sendiri," jawabnya datar.
"Emm, kau tidak mau makan malam bersamaku ya," ucap Frey kecewa
"Bukan begitu..."
"Ah tidak masalah, aku bisa makan bersama mbok Endang. Kalau begitu aku permisi," Freesia lalu keluar dari ruangan olahraga, rupanya mbok Endang masih menunggu di delan pintu. "Mbok bisa bikin Seblak?"
"Bisa dong non. Tapi bahan-bahannya nggak ada."
"Asik, masak seblak ya mbok. Tapi dua porsi aja, buat aku sama buat mbok. Kita belanja sekarang mbok, di depan ada minimarket."
"Tuan Josh bagaimana?"
__ADS_1
"Dia mau masak sendiri. Ayo kita belanja mbok, aku sudah ingin makan seblak!"
Freesia dan mbok Endang lalu pergi ke minimarket untuk berbelanja, keduanya berjalan kaki sambil bercanda layaknya seorang teman yang sudah kenal lama. Setengah jam kemudian keduanya sudah berada di rumah dan bersiap untuk memasak.
Freesia menemani mbok Endang memasak, berharap dia bisa memasak suatu saat nanti, dengan seksama Freesia memperhatikan cara membuat makanan pedas khas Jawa Barat itu.
"Sudah jadi non," ucap mbok Endang,wanita itu lalu memindahkan seblak buatannya ke dalam mangkuk.
"Ayo kita makan mbok," ajak Freesia antusian.
"Maaf non, mbok nggak bisa. Tuan ada di rumah, takut tuan marah," tolak mbok Endang tak enak hati.
"Jangan begitu mbok, Josh tidak akan marah. Ayo temani aku makan."
Mendengar rengekan nona mudanya membuat mbok Endang tidak tega dan akhirnya mau menemani Freesia makan. Saat keduanya sedang menikmati makanan mereka, Josh datang ke dapur dengan penampilan yang lebih segar, di lihat dari rambutnya yang basah, pria itu baru saja mandi.
"Apa yang kau makan Frey?" tanya Josh seraya mengamati makanan berkuah merah dan kental.
"Seblak," jawab Freesia tanpa mengalihkan perhatiannya..
"Itu makanan tidak sehat, jangan terlalu sering memakannya!"
Freesia menaruh sendoknya, gadis kecil itu lalu menatap Josh dengan seksama. "Apanya yang tidak sehat Josh, jelas-jelas di dalam seblak ada sayur, telur, ceker ayam dan juga sosis," ujar Freesia mendikte semua bahan untuk membuat Seblak.
"Warnanya sangat merah, pasti itu pedas, dan bahaya untuk lambungmu."
"Ya, ya aku tau Capt."
"Oh ya mbok, lain kali jika Frey minta masak yang aneh-aneh jangan di turuti, mbok Endang hanya perlu memberinya makanan sehat!"
"Aku tidak setuju," tolak Freesia dengan cepat.
"Aku tidah butuh persetujuanmu!" jawab Josh mantap.
"Dasar egois!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...