
Supir keluarga Janzsen membawa Freesia ke rumah sederhana yang berada di belakang mansion utama. Freesia ragu untuk turun dari mobil karena dia belum tau jika Lynda tinggal di rumah kecil dengan halaman yang begitu luas dan di penuhi tanaman bunga di berbagai sudut.
"Pak, anda membawa saya kemana?" tanya Freesia demi menghilangkan rasa penasarannya.
"Nona muda, nyonya Lynda tinggal di rumah ini, jadi saya membawa anda menemui nyonya besar," jawab pak supir dengan ramah.
"Oh begitu. Baiklah. Terima kasih banyak pak," Freesia lalu turun dari mobil, di saat yang bersamaan Lynda keluar dari rumah itu dan menyambut kedatangan cucu menantunya. "Graany," panggilnya dengan sebuah senyum, gadis kecil itu lalu meraih tangan Lynda dan mencium punggung tangan wanita tua itu. Lynda sedikit terkejut dengan perlakuan manis Lynda, namun wanita itu teringat jika mereka tinggal di negara yang menjunjung tinggi kesopanan.
"Ayo masuk Frey," ajak Lynda dan hanya di angguki oleh Freesia, gadis kecil itu lalu berinisiatif mendorong kursi roda Lynda dan masuk ke dalam rumah.
Waow," Freesia berdecak kagum saat melihat interior rumah kecil itu yang menurutnya membuat rumah kecil itu terkesan hangat, beberapa barang antik terpajang di lemari kaca membuat gadis kecil itu semakin terpesona akan tatanan rumah itu.
"Kau menyukai rumah ini?' tanya Lynda seraya memperhatikan wajah Freesia yang sedang terkagum-kagum.
"Iya Grann, tempat ini sangat indah dan hangat," jawab Freesia jujur.
"Kau bisa memilikinya saat aku meninggal nanti!"
Seketika senyum di wajah Fresia memudar, gadia kecil itu lalu duduk bersimpu di hadapan Lynda. "Kalau begitu aku tidak ingin memilikinya karena aku ingin melihat Granny panjang umur."
"Gadis yang manis," Lynda mengusap lembut kepala Freesia dan manjadi semakin yakin jika gadis kecil itu memang pantas menjadi pendamping Josh "Duduklah Frey, ada yang ingin aku bicarakan padamu," Freesia lalu berdiri dan duduk di sofa yang berada tak jauh darinya, tak lama kemudian datang seorang pelayan membawakan teh dan cemilan untuknya.
"Terima kasih," ucap Freesia seraya tersenyum saat pelayan itu neletakkan minuman di meja. Pelayan itu hanya mengangguk dan segera pergi.
"Frey, aku hanya ingin tau, apa yang memuatmu mau meneruskan pernikahan dengan Josh? Dia tidak memaksamu kan? Kalian tidak sedang bersandiwara kan?" pertanyaan Lynda sontak membuat Freesia terkejut, namun gadis kecil itu berusaha terlihat tenang meski tidak tau harus berbuat apa. Frey merasa bersalah jika harus membohongi Lynda, namun dia sudah terikat perjanjian dengan Josh untuk merahasiakan pernikahan kontrak mereka
"Karena Frey mencintainya Grann," ya, jawaban ini mungkin yang terbaik, karena Freesia tidak harus membohongi Lynda akan perasaannya.
"Mencintai Josh? Benarkah? Apa kalian sudah kenal sebelumnya?"
__ADS_1
Freesia tersenyum mendengar pertanyaan Lynda yang bertubi-tubi. "Dua atau tiga bulan sebelum pernikahan kami pernah bertemu dan Frey jatuh cinta pada pandangan pertama saat pertama kali melihat Josh di toko bunga Grann. Waktu itu Josh membeli seratus tangkai mawar merah untuk Granny," jawab Freesia tanpa keraguan, sebisa mungkin dia harus membuat Lynda percaya padanya.
"Oh astaga, jadi bunga mawar merah itu dari tokomu?" Freesia hanya mengangguk. "Apa Josh tau kau mencintainya?"
"Ya Grann, dia tau. Untuk itulah kami sepakat meneruskan pernikahan ini dan Josh berjanji akan membuka hati untuk Frey," kali ini Freesia harus berbohong, namun di dalam kalimatnya terselip sebuah doa agar suatu saat nanti Josh membuka hati untuknya.
"Aku yakin Josh pasti akan mencintaimu suatu saat nanti Frey," ucap Lynda seraya menepuk punggung tangan gadis kecil itu.
"Josh tidak akan pernah mencintai gadis itu karena cintanya hanya milik Jennifer!"
Lynda dan Freesia menoleh bersamaan, keduanya terkejut melihat kedatangan Katherine. Wanita paruh baya itu segera pergi ke rumah Lynda setelah mendengar kabar jika Freesia datang
"Aku tidak menyuruhmu datang kemari," ujar Lynda dengan tatapan mengintimidasi, dia paling tidak suka ada orang datang ke rumahnya dengan seenaknya.
"Mom," Katherine berdecak kesal, namun wanita itu tak menghiraukan ibu mertuanya dan segera menghampiri Freesia dengan kedua tangan berkacak di pinggangnya "Kau, untuk apa kau datang ke rumah ini?" tanya Katherine dengan tatapan tak bersahabat.
"Mom, kenapa momy sangat menyukai gadis yang tidak jelas asal usulnya ini?"
"Kata siapa asal-usulbya tidak jelas, aku mengenal keluarganya. Salah siapa selalu mengurung diri di rumah, kau bahkan sampai tak mengenali besanmu," sindir Lynda dengan suara yang begitu tenang, sementara Freesia hanya diam mendengar berdebatan kedua wanita itu.
"Teganya momy berbicara seperti itu."
"Pergilah, kau hanya mengganggu kami," Lynda mengusir menantunya tanpa ragu, namun wanita itu enggan pergi dan malah duduk tak jauh dari Freesia.
"Nyonya, penampilan anda sangat keren," puji Freesia, gadis kecil itu memberanikan diri untuk bersuara, berharap dia bisa dekat dengan mertuanya.
"Benarkan, aku memakai dress keluaran terbaru dari brand Cenil, dan ini limited edision," jawab Katherine memamerkan diri.
"Anda benar-benar sangat berkelas nyonya."
__ADS_1
"Tentu saja, kau pasti tidak tau jika aku dulu seorang model profesional sebelum menikah."
"Benarkah? Pantas saja penampilan anda sangat keren, dan anda sangat cantik," Freesia tersenyum karena menemukan titik untuk mendekati mertuanya itu.
"Tentu saja, karena kecantikan inilah Jimmy tertarik kepadaku," Katherine menyibak rambutnya ke belakang, kekesalannya seakan hilang begitum mendengar pujian Freesia.
Sementara itu Lynda tersenyum penuh arti, sepertinya dia tak perlu mencemaskan Freesia karena gadis kecil itu bisa mengatasi penolakan Katherine dengan caranya sendiri.
"Nyonya, apa anda bisa membantu saya mempercantik diri. Saya ingin cantik seperti anda!"
Katherine menatap Freesia dan menelisik penampilan gadis kecil itu, setelah di amati cukup lama, Katherine baru menyadari jika Freesia ternyata memiliki kecantikan di atas rata-rata. "Bisa di atur," jawab Katherine seraya tersenyum, namun wanita itu segera menarik senyumnya saat menyadari dia telah terperangkap dengan pujian Freesia. "Benar-benar gadis picik," batin Katherine.
"Frey, karena sudah hampir gelap bagaimana kalau kau menginap di sini saja? Kau belum mulai sekolah kan?"
"Dua hari lagi Frey baru masuk sekolah Grann."
"Kalau begitu menginap saja di sini, lagi pula Josh tidak di rumah kan?
"Apa boleh Frey menginap di sini?" tanya Freesia ragu.
"Tentu saja, aku malah senang karena memiliki teman untuk bicara."
"Mom, kenapa kau selalu mengusirku dan kau membiarkan gadis itu menginap di sini," protes Katherine tak terima.
"Karena kau begitu berisik. Lebih baik kau pergi sekarang. Suamimu pasti sebentar lagi pulang," Lynda kembali mengusir menantunya yang cerewet itu. Karherine berdecak kesal, namun wanita itu akhirnya pulang untuk menyambut suaminya.
"Gadis licik, tapi dia cukup menarik" batin Katherine seraya melangkahkan kakinya keluar.
BERSAMBUNG...
__ADS_1