Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Foto


__ADS_3

Libur tahun baru telah usai, kini saatnya kembali ke sekolah dan Frey akan segera di sibukan dengan persiapan ujian yang tinggal beberapa bulan lagi. Pagi ini Frey dan Josh sarapan bersama, sebuah pemandangan indah yang baru saja di lihat oleh mbok Endang, setelah beberapa hari bekerja di rumah besar itu, akhirnya dia bisa melihat sepasang suami istri itu duduk bersama.


"Apa Axel akan menjemputmu lagi?" tanya Josh setelah dia menghabiskan sarapannya.


Frey menghabiskan susu di gelasnya, gadis itu lalu mengangkat kedua bahunya. "Entah, mungkin iya," jawabnya tak jelas.


"Kenapa kau tak menolaknya?" ucap Josh dengan raut wajah yang berbeda, pria itu terlihat kesal.


Frey melirik ke kiri dan ke kanan, setelah memastikan mbok Endang berada di dapur, Frey mendekatkan wajahnya ke telinga Josh. "Axel mengancamku akan membongkar rahasia pernikahan kita kalau aku menolaknya," jelas Frey sambil berbisik.


"Dasar keparat kecil!" umpat Josh dengan tangan terkepal.


Frey menjauhkan wajahnya, gadis itu menatap Josh tak percaya. "Aku tak menyangka kau bisa berkata kasar Capt," ucap Frey dengan tatapan meledek.


"Aku manusia biasa Frey, aku bisa berkata kasar, aku juga bisa memakanmu jika aku mau," sahutnya dengan tatapan menggoda.


"Hiiii serem, aku takut," Frey terkekeh, gadis itu lalu beranjak dari kursinya. "Aku berangkat ya," pamitnya sambil berlalu, namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba Josh menghadang jalannya.


"Begitu caramu berpamitan?" kata Josh seraya menatap wajah Freesia.


"Lalu aku harus bagaimana? Mencium tanganmu atau memelukmu dulu sebelum aku berangkat?" tanya Freesia.


"Aku suka keduanya, lakukanlah."


"Eh."


Josh mengulurkan tangannya, sementara Frey menatap bingung tangan yang melayang di udara. "Katanya mau mencium tanganku!" tegas Josh mengingatkan istri kecilnya.


"Kau serius?" Frey masih tak percaya dengan sikap Josh.


"Hem, cepat! Tanganku pegal!"


Frey lalu meraih tangan Josh dan mengecup punggung tangannya, gadis itu lalu menghambur ke dalam pelukan Josh karena pria itu sudah merentangkan kedua tangannya.


"Sekolah yang rajin, kalau kau lulus dengan nilai terbaik, aku akan menguliahkanmu di manapun kau mau!" ucap Josh seraya mengusap rambut Frey yang tergerai.


Frey menarik tubuhnya, dia lalu menatap Josh dengan binar bahagia. "Kau serius?" tanyanya dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Josh. "Aku akan belajar dengan rajin agar kau mengirimku ke Harvard!"


"Hem. Oh ya, aku ada penerbangan sore nanti. Seminggu lagi aku baru pulang, jaga dirimu baik-baik. Kalau kau bosan, pergilah ke rumah Lynda!"

__ADS_1


"Hufh," Frey merengut sedih. "Aku pasti akan merindukanmu," ucapnya seraya melepaskan pelukannya.


"Aku akan menelfon kalau berada di hotel!"


"Hem. Safe flight Capt!" ucap Frey di iringi sebuah doa di dalam hatinya.


Cup..


Kecupan mendadak mendarat di bibir Freesia. "Sana berangkat, nanti kau telat!"


Frey mengangguk, gadis itu lalu keluar dari rumah. Benar saja, di luar rumah Axel sudah menunggunya.


"Axe, hari ini gue ingin naik sepeda," kata Freesia, dia hanya tidak ingin terjadi kesalah pahaman lagi di sekolah.


"Why?"


"Berat badan gue naik, gue harus berolahraga Axe!" jawab Frey memberi alasan.


"Tapi loe masih terlihat cantik Frey, tubuh loe masih terlihat ideal."


"Perut gue bergelambir Axe, gue bahkan beli seragam baru karena seragam lama udah nggak muat," Frey menunjuk seragam barunya, untung saja dia menuruti keinginan Josh untuk mengganti seragam, sehingga kini bisa di jadikan Frey untuk menolak tumpangan Axel.


"Okey!" Freesia lalu menaiki sepedanya, dan benar saja Axel mengikutinya sampai di sekolah.


Kedatangan Freesia kembali menarik perhatian siswa SMA Angkasa, bahkan mereka saling berbisik dan tertawa saat Freesia melewatinya. Frey mencoba untuk acuh, dia berpikir mungkin karena dia berangkat bersama Axel sehingga mereka kembali bergunjing.


Frey kembali merasa aneh, saat berjalan menuju kelas tak sedikit siswa yang menatapnya jijik, bahkan sampai ada yang meludah di hadapan Freesia. Frey tak mau ambil pusing, gadia itu berlari menuju kelasnya.


Setibanya di kelas, teman-teman kelasnya juga melemparkan tatapn jijik, Frey segera menghampiri Kayli dan Cia yang sedang sibuk memeriksa sesuatu.


"Kay, Cia, apa yang terjadi, kenapa mereka menatapku seperti itu?" tanya Freesia seraya menatap sekeliling.


"Lihat ini Frey," Cia menyerahkan beberapa lembar foto.


Frey membekap mulutnya tak percaya, bagaimana bisa foto saat dia bersama Josh di hotel tersebar di sekolah. Frey ingat betul, foto yang tersebar tersebut adalah saat dia dan Josh sedang berbicara dengan manager serta security hotel, dan di sana juga ada satu orang lagi.


"Jennifer," geram Freesia seraya meremas foto tersebut. Pantas saja teman-temannya menatap jijik ke arahnya, mereka pasti berpikir jika Frey sudah menjual diri. Padahal di foto itu Josh dan Frey hanya berdiri bersebelahan, namun karena mereka berada di hotel, sudah jelas akan mengundang berbagai spekulasi negatif.


"Dari mana kalian mendapat semua foto ini?" tanyanya dengan kilat amarah.

__ADS_1


"Pas gue dateng, foto-foto ini sudah terpasang di mading Frey," sahut Kayli.


"Penyihir jahat, awas saja. Loe salah nyari musuh!" ucap Frey dengan rahang mengeras, gadis itu lalu menyobek semua fotonya dan Josh saat mereka ada di hotel.


"Frey, loe di panggil guru BK!" ucap seorang siswi yang tiba-tiba datang ke kelas Freesia.


Cia dan Kayli menatap Frey khawatir. "Loe nggak papa?" tanya mereka bersamaan.


"Hem, gue nggak papa. Gue ke ruang BK dulu ya!" Frey meninggalkan kelas dan bergegas pergi ke ruang BK. Segala ketakutan memenuhi kepalanya, bagaimana jika beasiswanya di cabut, atau bahkan dia di keluarkan dari sekolah?


Tok..tok..tok..


Frey mengetuk pintu, tak lama kemudian seseorang menyuruhnya untuk masuk. Frey berdiri di hadapan seorang guru wanita bermuka sangat dengan kaca mata membingkai mata tajamnya. Gadis itu bahkan sampai gemetaran saat sang guru BK menatapnya dengan tajam.


"Freesia Lovina, kau tau kenapa saya memanggil mu ke ruangan saya?" tanyanya dengan suara mengintimidasi.


"Saya tau bu, tapi foto itu tidak benar bu!" jawab Freesia.


"Lalu bagaimana kebenarannya?"


Lidah Freesia mendadak kelu, gadis itu tak mungkin menceritakan kalau dirinya sudah menikah dan malam itu dia bersama suaminya.


"Apa kebenarannya Frey!" ulangnya lagi penuh penekanan.


"Saya mengantar bunga ke hotel itu bu, tapi saya di hadang security, dan pria yang ada di sebelah saya adalah si pemesan bunga itu," Freesia terpaksa berbohong demi dirinya dan juga Josh. Jika pernikahannya sampai terungkap, bukan hanya Frey yang akan terkena batunya, Josh pasti akan di kecam karena menikahi gadis berusia 18 tahun.


"Mengantar bunga? Jam 2 pagi? Jangan bohong Frey. Lebih baik kau jujur, atau kau mau di keluarkan dari sekolah?"


"Jangan bu!"


"Cepat ceritakan yang sebenarnya!"


Frey hanya bisa menunduk, bibirnya kembali terkunci dan dia tidak bisa mengatakan apapun lagi.


"Saya mengantar bunga bu," jawabnya setelah sekian lama diam.


"Sepertinya kau sudah bosan sekolah Frey!"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2