
Freesia masih tak percaya jika kini dia sudah berada di dalam pesawat first class yang akan membawanya terbang ke Eropa. Freesia yang baru pertama kali naik pesawat di buat takjub dengan fasilitas yang di dapatkannya di dalam pesawat.
Sebagai penumpang first class Freesia dan Josh di dampingi seorang asisten yang mengurus semua hal. Mulai dari membawa bagasi, membantu proses imigrasi, sampai mengantar ke pesawat. Freesia dan Josh bahkan tidak perlu mengantre saat masuk pesawat karena ada jalur khusus untuk First Class. Tidak sampai di situ, di dalam pesawat juga tersedia kursi empuk dengan pembatas di sekeliling tiap penumpang untuk menjaga privasi. Tersedia layar LCD dengan headphone untuk menonton berbagai hiburan selama perjalanan.
"Josh, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Freesia setelah sekian lama menahan rasa penasarannya, namun kini gadis itu sudah tidak sabar ingin tau kemana destinasi mereka selama di Eropa.
"Kita akan ke Eropa Barat," jawab Josh dan semakin membuat Freesia bingung.
"Eropa Barat?" ulang Freesia.
"Ya, kita akan ke Italia, Perancis, Swiss, Belgia, Jerman dan Belanda."
Freesia menganga, detik selanjutnya gadis itu membekap mulutnya. "Aku tidak sedang bermimpi kan?" tanyanya tak percaya.
"Tidak, anggap saja ini sebagai hadiah karena kau sudah bersedia membantuku," jawab Josh setengah berbohong, Josh tak mungkin mengatakan pada Freesia jika liburan ini memang sudah dia siapkan untuk Jennifer.
"Terima kasih Josh," ucap Freesia tulus, bagi seseorang sepertinya, berlibur ke Eropa hanyalah mimpi besar. Namun kali ini dia benar-benar akan pergi ke Eropa bersama dengan pria yang di cintainya.
Selama perjalanan keduanya saling diam, Josh memilih untuk tidur dan menenangkan perasaannya, sementara Freesia menonton beberapa film untuk mengurangi kejenuhannya.
Setelah menempuh sekitar 17 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di Bandara Charles de Gaulle Paris. Josh segera mengajak Freesia ke hotel yang sudah dia pesan sebelumnya.
"Ini kamarmu, istirahatlah," ucap Josh setelah membukakan kamar hotel untuk Freesia. "Kalau perlu sesuatu aku ada di kamar 205," imbuhnya seraya menunjukan nomor kamar yang berada di kunci akses.
"Hem, kau juga istirahatlah," Freesia lalu masuk ke dalam kamar hotel, gadis kecil itu lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sementara itu, Josh sudah berada di kamarnya. Pria itu menghembuskan nafas berkali-kali saat melihat kamar yang sudah di dekor sedemikian rupa. Ranjang yang di penuhi dengan bunga dan handuk yang di bentuk seperti angsa, beberapa buah lilin yang berada di lantai membentuk hati, serta buket bunga mawar merah yang berada di atas meja. Josh lupa mengabari pihak hotel untuk membuang semua dekorasi tersebut karena Josh pikir dia tidak akan pergi ke tempat ini, tempat yang seharusnya menjadi saksi bagaimana dia dan Jennifer bersatu.
Josh memutuskan untuk mandi, sebelumnya dia sudah menghubungi room service untuk membuang semua sampah di kamarnya. Setengah jam kemudian, Josh keluar dari kamar mandi dan mendapati kamarnya telah bersih dan rapi tanpa ada pernah pernik sedikitpun.
__ADS_1
Josh lalu membaringkan tubuhnya, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang terasa lelah. Namun saat Josh memejamkan matanya, bayangan Jennifer tiba-tiba muncul dan membuatnya kembali membuka matanya.
"Shi*t, damn it," umpat Josh penuh kekesalan. Pasalnya setiap Josh mengingat Jennifer, maka Josh akan mengingat saat Jennifer tengah bercinta dengan Jimny tepat di depan matanya. Bayang-bayang pengkhianatan kedua orang yang Josh sayangi sungguh membuat pria itu trauma dan enggan untuk jatuh cinta lagi. Karena hal itulah Josh setuju untuk menikah kontrak selama lima tahun, Josh yakin dia tak akan pernah mencintai Freesia.
Josh mengenakan mantelnya karena di Paris saat ini sedang musim dingin, pria itu lalu pergi ke kamar Freesia karena ingin mengajak Freesia jalan-jalan.
Josh menekan bel beberapa kali sampai akhirnya Freesia membukakan pintu.
"Ada apa Josh?" tanya Freesia, gadis kecil itu mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.
"Ayo kita jalan-jalan," ajak Josh sambil tersenyum.
"Em, tapi Josh, masalahnya aku tak membawa mantel. Aku tidak tau jika di sini sedang musim dingin."
"Kau tunggu di sini sebentar, aku akan membelikan beberapa mantel untukmu."
"Maaf merepotkanmu Josh."
"Hay Kay," sapa Freesia setelah panggilan vidio berlangsung.
"Frey loe dimana?" cecar Kayli seketika.
"Gue di rumah lah, di mana lagi coba," jawab Freesia bohong.
"Jangan bohong loe, kita ada di depan rumah loe sekarang."
"What?" pekik Freesia tertahan, seketika dia menjadi gugup karena telah berbohong kepada kedua sahabatnya
"Frey."
__ADS_1
Freesia terkejut saat mendengar seseorang memanggil namanya, detik selanjutnya wajah Kayli berganti dengan wajah seorang pria berambut pirang dengan bola mata berwarna biru.
"A-Axel," ucap Freesia terbata. "Loe ngapain sama Kayli?" tanyanya penasaran.
"Kenapa Frey, apa gue nggak boleh berteman dengan mereka?" bukannya menjawab, Axel malah melemparkan pertanyaan kepada Freesia.
"Tentu saja boleh, hehe," Freesia tersenyum hambar.
"Frey loe dimana sekarang dan jelasin sama kita apa yang sebenarnya terjadi? Kita ke toko bunga dan Anne bilang aku pergi dari rumah," kali ini Cia yang mencecarnya setelah berhasil merebut ponsel dari tangan Axel.
"Apa Axel tidak memberi tahu mereka? Tapi kenapa Axel bersama Cia dan Kayli?" batin Freesia bertanya-tanya.
"Jawab Frey," ujar Cia tak sabar.
"Gue bakal ceritain semuanya setelah gue pulang. Intinya sekarang gue ada di Eropa, dan buat kalian selamat berlibur ya!"
Freesia segera mengakhiri panggilan tersebut, tak lupa dia juga mematikan ponselnya agar Kayli tak kembali menelfonnya.
"Maafin gue girls," gumam Freesia, dia merasa bersalah karena telah membuat kedua sahabatnya khawatir. Freesia yakin jika saat ini pasti Cia dan Kayli sedang berusaha menghubunginya lagi.
Freesia melempar ponselnya secara asal saat bel kamarnya kembali berbunyi. Freesia membuka pintu dan mengizinkan Josh untuk masuk ke kamarnya setelah melihat tangan pria itu penuh dengan tas belanja.
"Kenapa banyak sekali Josh?" tanya Freesia seraya menatap beberapa tas belanja yang kini berada di lantai.
"Kau akan membutuhkannya selama di sini."
"Maaf merepotkanmu Josh," ucap Freesia tak enak hati.
"Tidak masalah. Anggap saja ini upah untukmu."
__ADS_1
Mendengar kata upah seketika menyadarkan Freesia akan posisinya. "Tidak masalah, setidaknya aku akan memilikimu dalam lima tahun ke depan, dan selama itu pula akan ku pastikan kau mencintaiku Josh!"
BERSAMBUNG...