
"Jennifer Scott, jangan lupa kau bahkan rela bertelanjang di hadapanku demi menggodaku, dan kau ingin melemparkan semua kesalahanmu kepadaku. Meski aku brengsek tapi aku tidak sudi jika Josh sampai menikahimu!" geram Jimmy tak terima.
"Se-semua itu tidak benar Josh, kau percaya padaku kan?" sangkal Jennifer dengan gugup, air mata penuh kepalsuan berderai di wajahnya yang cantik. "Satu jam lagi kita akan menikah, kau mau memaafkanku kan Josh, aku khilaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi!" lanjut Jennifer mengiba.
"Tidak ada pernikahan lagi Jenn, pernikahan ini batal!"
"Ti-tidak Josh, pernikahan ini tidak boleh di batalkan, maafkan aku Josh," tubuh Jennifer luruh, kini wanita itu bersujud di bawah kaki Joshua.
"Sejak kapan dady mengkhianati momy?" Joshua mengabaikan Jennifer, pria itu kini menatap tajam Jimmy yang berdiri di hadapannya.
"Sekitar dua tahun, tapi dady sungguh tidak tau jika Jennifer adalah kekasihmu Josh, kau tak pernah memperkenalkannya kepada dady."
Josh tertawa hambar, pria itu merasa harga dirinya telah di injak-injak oleh wanita yang selama ini sangat di cintainya, tiga tahun mereka bersama dan dua tahun sudah Jennifer mengkhianatinya, bahkan yang lebih menyakitkan adalah fakta jika Jennifer selingkuh bersama sang dady.
"Aku tidak akan pernah memaafkan kalian!" tegas Josh dengan lantang, garis rahangnya semakin mengeras dan bola mata berwana biru itu tergenang air mata. Dengan perasaan hancur Josh berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel ,namun belum sempat Josh keluar Jennifer menahan kakinya dengan erat.
"Tidak Josh, kau tidak boleh pergi, pernikahan ini tidak boleh di batalkan," rengek Jennifer di kaki Josh.
"Kenapa aku tidak boleh membatalkannya?" tanya Josh dengan suara yang terdengar sangat dingin, suara yang belum pernah Jennifer dengar sebelumnya
"Pernikahan kita akan di liput media Josh, nama besarku akan tercoreng jika tiba-tiba pernikahan ini batal. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, jadi aku mohoh maafkan aku dan mari menikah!"
"Di liput? Kenapa kau tidak pernah memberi tahuku tentang itu?"
Jennifer terdiam untuk mencari alasan, karena sebenarnya dia memanfaatkan pernikahannya dengan Josh untuk mematahkan berita perselingkuhannya bersama Jimny yang sudah terendus media, sebagai model dan artis yang sedang naik daun, Jennifer tentu saja tidak ingin nama besarnya meredup gara-gara skandal perselingkuhannya bersama Jimny yang notabene seorang pengusaha yang sangat sukses.
"Kau memanfaatkan putraku untuk menutupi berita perselingkuhan kita kan?" tebak Jimmy tepat sasaran, sebagai seorang pengusaha yang berpengaruh dia tentu saja tau jika hubungan gelapnya dengan Jennifer mulai terkuak, namun sebelumnya Jimmy sudah menyuap wartawan yang akan membocorkan skandalnya bersama Jennifer.
Mendengar ucapan Jimmy membuat harga diri Josh semakin terluka, dia merasa seperti barang mainan yang dengan mudahnya di permainkan oleh Jennifer. "Aku memang sangat bodoh, aku akhirnya tau mengapa Lynda sangat membencimu," ucap Josh di selingi tawa hambar dan sorot tajam penuh luka.
"Josh pikirkan lagi, pikirkan nama baik keluargamu. Jika kau membatalkan pernikahan ini media pasti akan mencari tau siapa pria yang sudah meninggalkanku di hari pernikahan. Nama baik keluargamu di pertaruhkan Josh, kau pasti tidak mau Katherine, Lynda dan Jovanka menanggung malu karena kau membatalkan pernikahan ini kan?"
__ADS_1
Joshua terdiam sejenak, dia tak terlalu memikirkan nama baik keluarganya yang mungkin akan tercoreng jika tiba-tiba dia membatalkan pernikahannya, yang lebih Josh pikirkan adalah Katherine, bagaimana dia harus menjelaskan semuanya kepada Katherine, bagaimana jika Katherine tau jika selingkuhan suaminya adalah calon menantu yang selalu dia banggakan.
Dengan pikiran yang berkecamuk Josh keluar dari kamar tersebut, pria itu berlari menuju ballroom yang akan di gunakan sebagai tempat pernikahannya, dari kejauhan Josh sempat melihat Axel dan Freesia yang sedang berbincang, namun Josh hanya mengabaikan mereka dan masuk ke dalam ballroom yang di dekorasi dengan megah. Josh berdiri di depan pintu ballroom, pandangannya lurus menatap altar pernikahannya, lalu tatapan Josh beralih pada wanita tua yang duduk di kursi roda dan sedang berbincang dengan beberapa tamu yang mulai berdatangan.
Menyadari kedatangan cucu tersayangnya, Lynda tersenyum dan mengampiri Josh yang masih terdiam di depan pintu.
"Josh apa yang kau lakukan di sini? Pernikahanmu masih 45 lima menit lagi?" tanya Lynda seraya memeriksa jam tangannya.
"Granny apa kau merestui pernikahan ini?" bukannya menjawab Joshua justru melempar pertanyaan kepada Lynda.
"Asal kau bahagia maka aku akan bahagia, aku merestuinya karena kau sangat bahagia saat bersamanya," jawab Lynda pelan, meski tak menyukai Jennifer namun Lynda tak ingin menghancurkan kebahagiaan Joshua.
"Terima kasih Gran,n" ucap Josh dengan mata berkaca-kaca.. "Grann, apa momy tidak datang?" tanyanya memastikan.
"Tidak. Sebelumnya dia sudah bersiap, namun kakinya kembali tak bisa di gerakkan saat akan keluar dari pintu utama. Dia masih belum bisa melawan rasa takutnya, aku harap kau mengerti kondisi momy mu Josh."
Ya, sudah10 tahun lamanya Katherine mengurung dirinya di rumah besar mereka. Setelah selamat dari kecelakaan pesawat yang di tumpanginya membuatKatherine mengalami trauma yang cukup parah, Katherine menutup dirinya dari dunia luar, wanita itu selalu ketakutan setiap kali akan keluar dari rumah, bayang-bayang saat kecelakaan pesawat itu terjadi selalu menghantuinya.
Josh mengangguk patuh, pria itu lalu keluar dari ballroom tersebut dengan perasaan gundah. Josh tak ingin mengecewakan Lynda dan juga Katherine, namun Josh juga tak mungkin kembali bersama Jennifer. Josh merasa beban berat berada di pundaknya, nama baik keluarganya berada di tangannya sekarang.
"Apa yang harus aku lakukan, Granny pasti akan sangat malu dengan teman-temannya jika pernikahan ini batal," gumam Josh seraya mengusap wajahnya dengan kasar, di saat yang bersamaan Josh mendengar suara Freesia yang tengah berpamitan dengan Axel. "Aku hanya perlu menikah dan menjaga nama baik Lynda," entah apa yang ada di pikiran Josh, pria itu tiba-tiba mengejar Freesia yang hendak pergi.
"Josh, kau mau kemana?" teriak Axel saat saudara sepupunya itu melewatinya begitu saja.
Josh tak mengindahkan pertanyaan Axel, pria itu mempercepat langkahnya dan berhasil menahan Freesia.
"Nona Freesia, tolong bantu aku. Menikahklah denganku sekarang!"
Freesia membelalakan matanya, gadis itu begitu terkejut mendengar ucapan pria yang sudah lama di tunggunya. "Anda baik-baik saja kan?" tanya Freesia dengan jantung yang berdetak begitu cepat.
"Kau sudah menikah?" tanya Josh tanpa menjawab pertanyaan Freesia.
__ADS_1
Freesia menggeleng dengan cepat, jangankan menikah pacar saja dia tidak punya.
"Kau memiliki kekasih?" tanya Josh lagi dan hanya di jawab oleh gelengan kepala.
"Baguslah kalau begitu. Aku tau ini sedikit tidak masuk akal, tapi aku butuh bantuanmu sekarang. Kau mau membantuku kan?"
Freesia yang masih linglung hanya bisa menggangguk, bahkan saat Josh menarik tangannya dan membawanya pergi Freesia hanya bisa pasrah.
"Aku pasti sedang bermimpi. Ya ini mimpi. Oh Tuhan, aku tak ingin bangun. Setidaknya biarkan aku menikahinya meski hanya di dalam mimpi," batin Freesia kegirangan, gadis kecil itu mengira jika dia tengah bermimpi, karena jika ini dunia nyata tak mungkin Josh mengajaknya menikah.
.
.
.
Sementara di kamar hotel, Jennifer yang telah berpakaian rapi sedang duduk berhadapan dengan Jimmy.
"Bujuk Josh untukku, maka aku akan merahasiakan hubungan ini dari Katherine!" ucap Jennifer mencoba bernegosiasi.
"Tidak akan!" tolak Jimmy dengan cepat.
"Kau akan hancur jika aku memberi tahu perselingkuhan kita kepada istrimu yang payah itu,"Jennifer belum menyerah, dia berusaha mengancam Jimmy.
"Maka kau akan lebih hancur dariku jika kau berani berbicara kepada Katherine! Jaga sikapmu itu Jenn, kau salah memilih lawan!" Jimmy beranjak dari duduknya, pria itu menatap tajam wanita yang selama dua tahun terakhir selalu memuaskannya di atas ranjang. "Jangan pernah ganggu keluargaku lagi. Jika kau berani mengusik keluargaku maka kau akan tamat!" hardik Jimmy di sertai ancaman, pria itu lalu keluar dari kamar tersebut.
"Sial, sial, sial," Jennifer menggeram seraya mengepalkan kedua tangannya. Bagaimana bisa semuanya hancur. Bagaimana bisa dia tidak tau asal usul Joshua yang sebenarnya. Jennifer tak pernah menyangka jika Joshua adalah putra pertama dari keluarga Janszen, keluarga konglomerat pemilik maskai penerbangan terbesar di Indonesia. Yang Jennifer tau Joshua hanya seorang pilot, bahkan Joshua selalau mengajaknya pulang ke rumah kecil yang di tempati Lynda.
Sementara di ruangan lain, seorang wanita duduk sambil menatap layar laptopnya yang menyala. Wanita cantik itu lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Selamat menikmati kehancuranmu Jennifer Scott!'
__ADS_1
BERSAMBUNG...