
Setelah makan malam, Frey dan Axel duduk di taman yang berada di depan rumah. Frey yakin Axel ingin mengatakan sesuatu padanya sehingga pemuda itu nekat pulang meski kuliahnya belum libur.
"Frey," panggil Axel pelan, pemuda itu menoleh dan menatap Frey yang juga tengah menatapnya.
"Kenapa?"
"Aku akan menetap di Australia," ucap Axel sambil menunduk.
"Apa maksudmu Axe?"
"Tugasku untuk menjagamu sudah selesai, kau sudah bahagia bersama Josh dan Abel, hubungan kedua keluarga kita juga sudah membaik!"
"Tapi kenapa harus menetap di sana?" tanya Frey tak mengerti.
"Frey, bohong kalau aku bilang aku baik-baik saja. Sejauh ini aku mencoba untuk menghilangkan rasa bersalahku atas apa yang menimpamu dan kedua orang tuaku. Tapi sekuat apapun aku berusaha aku tidak bisa untuk bersikap baik-baik saja Frey. Setiap melihatmu aku membayangkan penderitaan yang kau rasakan setelah kepergian kedua orang tuamu, aku merasa sangat buruk Frey, aku tersiksa!" ucap Axel dengan mata berair.
Frey menepuk punggung Axel dengan pelan. "Berhenti menyiksa dirimu sendiri. Aku baik-baik saja sekarang Axe. Kau tidak bersalah Axe, jangan bersikap seperti ini. Aku tidak ingin kehilangan sahabat sepertimu!"
"Kau tidak akan kehilanganku Frey. Aku hanya berusaha untuk menenangkan diri. Nanti, suatu saat nanti saat hatiku merasa lebih baik aku berjanji akan pulang dan menemuimu. Nanti saat aku merasa baik-baik saja saat mengingatmu aku pasti akan mengunjungimu sebagai sahabat baikmu! Maafkan aku yang egois ini Frey, tapi izinkan aku untuk menenangkan diriku!"
Frey memeluk Axel, dia tak tau jika luka yang Axel alami separah itu, padahal Axel tak seharusnya merasa beralah, namun pemuda itu justru harus menanggung kesalahan orang tuanya. "Hem, pergilah, namun segera kembali saat kau merasa lebih baik. Tolong jangan terlalu larut dalam perasaan bersalah itu Axe, aku baik-baik saja sekarang. Aku memiliki kalian di sampingku, sungguh aku tidak ingin kau tersiksa seperti ini!"
Keduanya menangis meski tanpa suara, titikan air mata cukup mewakilkan kesedihan keduanya. sementara itu, Josh dan Jerry ikut bersedih mendengar ucapan Axel, andai saja Jerry tau jika kesalahannya akan menyakiti putranya, dia pasti akan lebih berani untuk mengakuinya. Namun nasi sudah menjadi bubur, Jerry hanya berharap Axel tak terlalu menyalahkan diri karena Axel tak ada sangkut pautnya dengan kesalahan Jerry.
Setelah makan malam, Frey dan Josh sudah berada di kamar mereka. Baby Abel pun sudah tidur setelah Frey memberinya Asi. Pasangan suami istri itu duduk di atas tempat tidur sambil menatap box bayi di mana baby Abel berada. Frey memang memutuskan untuk tidak memisah kamarnya dan sang bayi, baginya dua bulan berpisah dari Abel sudah lebih dari cukup, Frey bahkan bersikeras tidak ingin menggunakan jasa babysiter namun Josh memaksanya karena tidak ingin Frey kelelahan.
"Love, aku mungkin akan berhenti menjadi pilot," ucap Josh dengan wajah sendu, baru kali ini Frey melihat wajah suaminya seperti itu.
__ADS_1
Frey menoleh dan menatap sang suami. "Kenapa Josh?" tanya Frey seraya menggenggam tangan suaminya.
"Penglihatanku berkurang semenjak kecelakaan Love, dan kacamata sama sekali tidak membantu," setelah beberapa saat menyimpan rahasia akhirnya Josh mengatakan kerisauannya.
"Maksudmu apa sayang?"
"Luka di kepalaku menyebabkan beberapa syaraf mataku terganggu, aku sudah berkonsultasi dengan dokter mata dan saraf, tapi mereka tak bisa berbuat apapun. Setelah aku pikir, mungkin ini saatnya aku berhenti menjadi pilot," jelas Josh.
"Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya? Kau tidak boleh menyerah secepat itu sayang, menjadi pilot adalah mimpimu, bagaimana kau bisa menyerah secepat itu?" mata Frey mulai berkaca-kaca, sungguh dia tidak ingin suaminya menyerah.
"Love, menjadi pilot adalah mimpiku sebelum bertemu denganmu. Sekarang mimpiku adalah hidup bahagia bersama mu dan Abel," ujar Josh dengan senyuman tulus.
"Tapi sayang, aku...
Josh menutup mulut Frey dengan telunjuk tangannya. "Aku ingin memperjuangkan impian baruku yaitu menghabiskan waktuku bersama kalian."
"Sayang," panggil Frey dengan mesra.
"Hem," jawab Josh seraya mengecup pucuk kepala istrinya.
"Apa kau tidak merindukanku?" ucap Frey dengan suara menggoda.
"Sangat Love!"
"Apa kau menginginkanku?" Frey menjauhkan tubuhnya dan menatap sang suami dengan tatapan yang sukar di jelaskan.
"Sangat. Apa sudah boleh?" tanya Josh penuh harap, hampir tiga bulan lamanya dia berpuasa.
__ADS_1
"Sudah!" Frey mengangguk pelan.
"Kau yakin Love? Apa lukamu tidak sakit lagi?"
"Kata dokter luka bekas operasinya sudah kering sempurna," jawab Frey. "Dan aku sudah memakai kontrasepsi, jadi kau tidak perlu pakai pengaman lagi," bisik Frey seraya meniup telinga Josh.
"Let's play baby!"
Josh segera mencium bibir istrinya dengan mesra, akhirnya setelah penantian beberapa bulan dia bisa kembali menyentuh istrinya. Tangan Josh mulai bergerak liar di dadaaa sang istri, dia mulai memijat dan memainkan squisy kenyal favoritnya.
"Love, ukurannya semakin besar. Aku suka," ucap Josh dengan suara serak.
"Hem," Frey hanya bergumam menikmati permainan lidah Josh di pucuk squisynya, Josh sudah mirip dengan Abel yang senang sekali menyesap dadaaanya.
Permainan semakin panas, pasangan suami istri itu saling bergerak liar dan mengejar puncak kenikmatan yang beberapa bulan ini mereka tahan. Suara erangaan dan desaahaan sedikit tertahan karena mereka tak ingin membangunkan bayi Abel. Hingga beberapa menit kemudian keduanya merasa terbang ke nirwana.
"Terima kasih Love, aku mencintaimu!"
"Aku juga sangat mencintaimu Josh!"
...THE END......
Hai hai, terima kasih buat kalian semua yang sudah menemaniku dari awal sampai kisah ini berkahir... Tanpa dukungan dari kalian mungkin aku tidak bisa menyelesaikan novel ini..
Meskipun novel ini udah tamat, aku akan menambah beberapa extra part tentang kisah Jo dan Anne dan pengenalan alur untuk novel selanjutnya yaitu kisah Luke dan Jovanka..
Jangan lupa follow akun aku ya biar ada notif saat aku membuat karya baru...
__ADS_1
Peluk jauh untuk kalian semua, i love you all ❤️❤️❤️❤️