
Kemarahan yang meluap-luap membuat Maggie kembali tak sadarkan diri, wanita tua itu kembali terkena serangan jantung setelah mendengar kabar Frey sedang mengandung anak dari pria yang keluarganya sangat dia benci.
Anne, Frey dan Josh serta Andrew masih berjaga di rumah sakit, mereka masih menunggu perkembangan Maggie karena wanita tua itu kini berada di ICU.
Frey duduk sambil bersandar di pundak suaminya, dia merasa sangat lelah dan tubuhnya seakan tak memiliki tenaga. Menyadari hal itu tentu saja membuat Josh khawatir.
"Love, apa sebaiknya kita pulang dulu, kau harus istirahat love. Dari pagi kau juga belum makan," ucap Josh seraya mengusap kepala istrinya.
"Benar apa kata Josh, pulang lah dulu Frey. Kau sedang hamil muda, kau harus banyak istirahat," sahut Anne yang ikut khawatir melihat wajah Frey yang memucat.
"Tapi bagaimana dengan oma," ujar Frey, meski Maggie sangat kejam, namun selama dua tahun tinggal bersama membuatnya tidak bisa untuk tidak peduli.
"Nona muda tenang saja, saya dan nona Anne akan menjaga nyonya Maggie. Lebih baik nona muda pulang dan istirahat," ucap Andrew yang turut membujuk Frey agar wanita hamil itu mau pulang.
Frey kalah, gadis itu akhirnya mau pulang. Karena terlalu khawatir melihat istrinya, Josh memutuskan untuk menggendong istrinya. Frey sempat menolak, namun Josh berhasil membuat wanitanya diam. Frey menyembunyikan wajahnya di dada Josh karena mereka menjadi pusat perhatian di lobby rumah sakit.
Frey segera menarik wajahnya saat dia merasa mual yang teramat sangat. "Josh, turunkan aku, aku ingin muntah!" ucap Frey seraya menutup mulutnya.
"Muntah?" ulang Josh gugup, dia lalu berlari membawa istrinya ke kamar mandi yang ada di dekat lobby.
Josh menurunkan Frey dan membiarkan Frey masuk ke dalam kamar mandi sendiri. Josh menunggu di depan kamar mandi dengan gelisah karena hampir sepuluh menit Frey belum juga keluar. Dari kejauhan Josh melihat petugas keamanan yang berjaga di lobby, Josh menghampiri nya untuk meminta bantuan.
"Pemisi pak, istri saya sedang hamil muda. sudah sepuluh menit di di kamar mandi dan belum keluar, apa boleh saya menyusul masuk ke dalam toilet wanita?" tanya Josh dengan wajah serius. Untung saja ada salah satu petugas keamaan wanita yang mau memantu Josh, petugas wanita itu menemani Josh masuk ke dalam kamar mandi khusus wanita.
"Love kau baik-baik saja?" tanya Josh dari balik pintu kamar mandi. "Love," ulang Josh karena tak mendapat sahutan dari istrinya. "Love buka pintunya atau aku akan mendobraknya!" Josh semakin panik karena tak ada respon dari istrinya. Petugas wanita yang datang bersama Josh lalu masuk ke bilik yang berada di samping bilik Frey dan memanjat kloset untuk mengintip.
"Tuan, istri anda pingsan!" ucapnya panik.
"Apa? Bagaimana ini? Love sadarlah dan buka pintunya sayang!"
Kamar mandi menjadi sangat ramai karena mendengar suara kegaduhan, apalagi ada seorang pria berada di dalam kamar mandi wanita. Petugas keamaan itu keluar dan menghampiri kerumunan untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya.
"Tuan, apa anda bisa memanjat. Kita tidak bisa mendobrak pintunya karena istri anda ada di depan pintu!"
__ADS_1
Josh mengangguk lalu dia berusaha untuk melompati bilik agar bisa menolong istrinya. Setelah perjuangan yang tak mudah akhirnya Josh bisa melompati bilik dan segera menggendong Frey keluar dari kamar mandi.
"Buka mata mu Love, jangan membuat ku takut!" ucap Josh dengan mata berkaca-kaca, dia sangat takut sesuatu yang buruk terjadi pada istri dan calon bayi mereka.
Josh berlari sambil menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke unit gawat darurat. Josh membaringkan tubuh Frey di atas brankar dan membiarkan dokter membawa Frey ke ruang tindakan. Josh mondar-mandir di depan ruang tindakan, rasanya begitu lama menunggu dokter memeriksa istrinya.
Beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dan Josh segera menghampirinya. "Bagaimana kondisi istri dan bayi saya dok?" tanya Josh tak sabaran.
"Kondisi pasien dan bayi nya baik-baik saja. Sangat umum bagi ibu hamil pingsan di saat awal kehamilan. Hanya saja anda harus lebih memperhatikan istri anda. Pasien sedang tidur sekarang, anda sudah bisa menemuinya!"
Josh bisa bernafas lega, setidaknya Frey pingsan bukan karena hal lain. "Terima kasih banyak dok," ucap Josh dengan tulus.
"Sama-sama. Setelah pasien bangun pasien sudah boleh pulang. Saya permisi!"
Setelah dokter pergi Josh segera masuk ke dalam ruangan di mana istrinya berada. Dengkuran halus yang keluar dari mulut Frey semakin membuat Josh merasa lega. Pria itu lalu duduk di kursi yang berada di samping brankar, dia lalu meraih tangan istrinya dan mencium punggung tangan Frey dengan lembut.
"Jangan pernah membuatku takut lagi Frey, aku hampir gila melihatmu pingsan di kamar mandi," gumam Josh seraya menggenggam erat tangan Frey.
Tak lama berselang, Frey akhirnya bangun. Dia tersenyum melihat Josh yang sedang menatapnya. Sudah sangat lama dia tak melihat Josh begitu membuka mata, dia merindukan saat-saat bersama Josh dan mungkin saja semua itu akan segera terjadi. Frey akan kembali tinggal bersama Josh, tidur bersama Josh dan setiap kali membuka mata hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan suaminya.
"Aku haus," jawab Frey dengan pelan.
Josh lalu meraih gelas yang sudah dia siapkan sebelumnya, dia lalu membatu Frey duduk dan membantunya untuk minum. Setelah minum Josh kembali membaringkan tubuh istrinya.
"Kau tidak lapar?" tanya Josh lagi, dia terdengar lebih cerewet dari sebelumnya.
"Aku ingin makan pasta," jawab Frey seraya meneguk ludahnya.
"Kau tunggu sebentar, aku akan membelinya," Josh hendak pergi namun Frey menahan tangannya. "Kau ingin yang lain?"
Frey menggeleng, dia terlihat ragu untuk mengucapkannya. "Aku ingin kau yang memasaknya," ucap nya setelah seperkian detik diam.
Josh terkekeh, dia lalu kembali duduk dan merapikan anak rambut yang menempel di wajah Frey. "Baiklah nona, tapi kau harus menghabiskan infus itu lalu kita pulang dan aku akan memasak pasta untukmu!"
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar ingin memakannya!"
Setengah jam kemudian Frey sudah di izinkan pulang. Dia sengaja tak mengabari keluarganyaa karena dia ingin Frey beristirahat dengan tenang. Setelah kondisi Frey lebih baik, Josh akan mengatakan kepada semua orang apa yang sebenarnya terjadi.
Namun apa yang di rencanakan Josh gagal sudah, setibanya di rumah, semua anggota keluarga Janzsen sudah berkumpul untuk menyambut kepulangan Freesia, rupanya Katherine sudah menceritakan tentang pengorbanan Freesia agar bisa merebut saham J&J Company dari tangan Maggie Zantman.
"Wellcome home," terika Jovanka dan Jonathan seraya meniup peluit lidah layaknya sedang merayakan pesta ulang tahun.
Frey tersenyum bahagai, akhirnya setelay sekian lama dia bisa berkumpul lagi dengan keluarganya. Satu persatu anggota keluarga Janzsen mulai memeluk Frey secara bergantian. Mereka juga mengucapkan terima kasih dan mereka juga meminta maaf karena telah salah paham pada Frey.
Jovanka memeluk Frey sambil menangis tersedu-sedu, di antara keluarga yang lain dia lah yang paling membenci Frey saat gadis itu pergi.
"Maafkan aku ya Frey, aku sudah salah paham padamu. Sebagai gantinya aku akan mengajakmu parti lain kali," ujar Jovanka setelah melepas pelukannya.
"No Jov. Ku tidak boleh mengajak Frey pergi kemanapun!" sahut Josh tak terima.
"Why? Dasar pelit!" Jovanka menggerutu kesal.
"Karena ada keponakanmu di dalam sana," jawab Josh seraya mengusap perut Frey.
"Maksdumu ada bayi di dalam perut Frey?" tanya Jovanka dengan bola mata hampir keluar.
"Hem. Frey sedang hamil. Usia kandungannya kini menginjak sepuluh minggu," jelas Josh sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
"Oh astaga, aku akan menjadi nenek," pekik Katherine, wanita itu terlihat sangat senang. "Selamat atas kehamilanmu Frey," ucapnya seraya menghapus air mata bahagianya.
"Selamat Frey. Akhirnya aku akan mempunyai cicit," sahut Lynda dengan wajah bahagianya.
"Wait, wait. Kalian kan berpisah selama dua tahun. Bagaimana Frey bisa hamil?" tanya Jonathan yang masih bingung dengan berita kehamilan kakak iparnya.
Jovanka menonyor kepala Jonathan ke samping. "Dasar bodoh, momy kan sudah cerita. Mereka diam-diam sering bertemu. Tentu saja mereka melakukannya saat bertemu," jawab Jovanka mewakili Josh dan Frey.
"Melakukan apa Jov?" tanya Jonathan lagi yang terkesan polos.
__ADS_1
"Dasar stupid. Tentu saja make a baby!"
BERSAMBUNG...