IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.99 Pusat Perhatian


__ADS_3

Tommy membawa Ivona menemui tetua keluarga Smith. "Selamat malam, Tuan Edward. Saya ucapkan selamat ulang tahun untuk Anda."


"Terima kasih," jawab Edward. Pria yang sedang merayakan ulang tahun ke delapan puluh tahun itu adalah Kakek dari Smith. Keluarga mereka memiliki bisnis di bidang pertambangan logam, yang membuat mereka berada dijajaran orang-orang kaya Victoria.


Ivona yang berdiri di sisi Tommy, begitu menarik perhatian Tuan Edward. "Siapa, dia, apa dia pacar barumu?"


Tommy tertawa menanggapi. "Perkenalkan, gadis ini bernama Ivona. Dia adalah adik kandungku," jawab Tommy jujur.


Tetua keluarga Smith itu sangat terkejut, bukankah putri keluarga Iswara adalah teman sekelas Smith. Anak yang pandai bermain piano itu.


"Kalau dia adikmu, lalu siapa yang selama ini kami kenal sebagai putri dari keluarga Iswara?"


"Ceritanya sangat panjang, Tuan, akan menghabiskan waktu jika saya harus bercerita." Tommy mengakhiri jawabannya dengan senyuman, seolah apa yang ia ucapkan tadi hanyalah sekadar gurauan.


"Baiklah, saya rasa tamu Anda semakin banyak. Saya mohon ijin untuk menemui keluarga saya terlebih dahulu."


Tuan Edward hanya mengangguk, tapi masih saja memandangi Ivona. Begitu juga dengan Smith yang sejak tadi berdiri di samping kakeknya. Matanya tak lepas dari Ivona barang sekejap.


"Cantik," lirih Smith, yang terdengar oleh kakeknya.


Tommy kembali membawa Ivona berjalan, menyapa setiap orang yang ia kenal. Pada mereka, Tommy mengatakan tentang status Ivona yang merupakan adiknya. Ivona sendiri hanya bisa diam, bertemu orang-orang ini seolah membangkitkan lagi SCD-nya.


"Ibu dan Ayah ada di sana, kita ke sana?" ajak Tommy.


Ivona hanya bisa mengangguk pasrah. Penampilan Ivona yang mengenakan gaun warna maroon, benar-benar mencuri perhatian setiap mata yang memandang. Tidak terkecuali, seseorang yang sedang duduk di bar. Ia terus memperhatikan Ivona sejak gadis itu mulai memasuki ballroom.


Pria itu menyunggingkan senyumnya, sembari menenggak wine di tangan kirinya. "Cobalah untuk menghindar," gumamnya pada diri sendiri. Kemudian minta seorang bartender untuk mengisi lagi gelasnya.


"Hai, Bu ... hai, Yah." Tommy memeluk orang tuanya bergantian. Sementara Ivona berdiri canggung di dekat mereka.


"Anak, nakal! kenapa kau tidak pulang?" Nyonya Iswara langsung menjewer telinga Tommy. Putra keduanya itu langsung berpura-pura meringis kesakitan.


"Ampun, Bu. Aku tidak akan mengulanginya."


Tommy memang tidak pulang sejak ia datang dari luar negeri. Dari bandara, ia langsung ke sekolah Ivona, kemudian mengajak adiknya itu makan di restoran jepang yang berakhir dengan kemarahan Ivona yang membuatnya memilih lari ke bar dan menghabiskan malam di sana.

__ADS_1


Tuan Dan Nyonya Iswara bercengkerama dengan Tommy, hingga mereka lupa jika ada Ivona, Thomas dan juga Vaya bersama mereka. Thomas dan Vaya tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang tuanya dengan Tommy. Kedua orang itu terus saja menatap Ivona.


Thomas menatap kagum pada adiknya, dan merasa iri pada Tommy yang berhasil membawa Ivona ke pesta ini. Padahal sebelumnya ia sudah berusaha dan tetap saja ditolak oleh Nyonya Iswara.


Sedangkan Vaya, gadis itu menatap benci pada Ivona. Harusnya malam ini dirinya lah yang menjadi pusat perhatian, bukan si gadis gila ini. Ia bahkan sudah membayar make up artis paling mahal dan terkenal untuk acara ini, gaun yang ia kenakan pun sudah ia pesan jauh-jauh hari pada designer yang terkenal, tapi apa. Orang-orang justru terpana dengan penampilan Ivona yang memesona.


"Hai, Iv," sapa Thomas, yang membuat Tuan dan Nyonya Iswara juga Tommy berhenti bercengkerama. "Kau sangat cantik malam ini," puji Thomas, yang dibalas senyum tipis oleh Ivona.


Tuan Iswara langsung mengarahkan pandangannya pada putri kandungnya itu. Thomas tidak salah memuji, Ivona memang luar biasa cantik malam ini. Bahkan tadi banyak kolega yang bertanya tentang siapa Ivona ketika gadis itu baru saja datang. Sayangnya, Tuan Iswara tidak punya cukup keberanian untuk mengakui Ivona sebagai putri kandungnya.


"Hai, Bu ... Hai, Yah," sapa Ivona meski ia malas melakukannya.


"Hai, Iv," jawab Tuan Iswara.


Sementara Nyonya Iswara justru melengos dan beralih menatap Vaya. Sejujurnya ia tak menampik pujian Thomas pada Ivona, tapi ia juga harus menjaga perasaan Vaya.


Tommy melihat kecanggungan di antara keluarganya, sebab itu ia ingin mencairkannya. "Apa kalian semua sudah makan?"


Seluruh anggota keluarga menggeleng.


Saat menunggu pelayan menyajikan makanan mereka, Kakek Iswara datang menghampiri. Ivona yang menangkap kehadiran Kakek Iswara pertama kali.


"Kakek." Ivona berdiri dan menghampiri kakek Iswara yang berjalan dengan dikawal seorang body guard.


"Nana." Kakek Iswara memeluk Ivona. "Bagaimana kabarmu, apa kau baik-baik saja?"


"Tentu, Kek." Ivona segera mengarahkan Kakek Iswara menuju meja kelurganya. Semua anggota keluarga berdiri menyambut kedatangan anggota keluarga tertua.


"Selamat malam, Tuan-tuan dan Nyonya-nyona. Malam ini kita berada pada acara ulang tahun Tuan Edward Smith. Mari kita semua ucapkan selamat kepada beliau." Seorang Mc membuka acara pesta itu.


"Untuk acara malam ini, akan ada persembahan dari putri cantik keluarga Iswara. Dia akan menampilkan kemampuannya yang luar biasa dalam bermain piano. Mari kita sambut Vaya Iswara."


Semua hadirin di pesta itu bertepuk tangan menyambut Vaya.


"Kek, Vaya ijin naik ke atas panggung."

__ADS_1


Kakek Iswara hanya mengangguk. Ia melihat antusias tamu yang tidak sabar melihat penampilan Vaya. Memang, bakat Vaya sudah dikenal banyak orang, dan tidak dipungkiri jika kemampuan Vaya menambah gengsi keluarga mereka.


Ivona menatap raut kagum setiap orang yang mendengar permainan musik Vaya. Tommy yang menyadari hal itu, seketika menepuk tangan Ivona. "Kau tidak perlu rendah diri, Vaya memang hebat dalam bermain musik, tapi aku yakin kau pun punya bakat yang bisa kau gali," ujar Tommy menghibur.


Ivona tak menanggapi sama sekali omong kosong Tommy. Biarkan saja semua orang mengira dirinya bodoh, karena itu bukanlah hal merugikan baginya.


Terdengar tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan ketika Vaya menyelesaikan permainan pianonya. "Terima kasih." Vaya sedikit membungkukkan badannya sebelum turun dari panggung.


MC kembali bersuara, "Setelah kita mendengar permainan surga dari Vaya Iswara. Kita masih punya seseorang lagi yang akan membuat kalian terpesona."


"Cobalah tebak, siapa tamu kita malam ini?" teriak MC.


Banyak tamu yang bertanya-tanya, tentang siapa seseorang yang akan membuat mereka terpesona.


"Baiklah, kurasa kalian semua tidak sabar untuk tahu. Mari kita sambut, artis multitalenta kita Caroline Wilson," seru MC.


Semua mata terkejut melihat kehadiran artis tersebut di atas panggung.


"Selamat malam semuanya, apa ada yang merindukan kehadiranku?" ucap Caroline berkelakar. "Pasti kalian merindukan aku, bukan?"


Semua hadirin tertawa dengan candaan yang dilempar oleh Caroline.


"Baiklah, malam ini aku tidak ingin banyak bicara. Aku akan mempersembahkan sebuah lagu yang baru akan aku rilis malam ini. Kalian semua yang hadir di pesta ini harus merasa bangga karena menjadi orang pertama yang akan mendengar lagu Caroline Wilson." Wanita itu tertawa untuk memancing tawa tamu undangan.


"Tapi sebelumnya, aku ingin ada seseorang yang mengiringiku bernyanyi. Kira-kira siapa yang pantas untuk mengiringi seorang Caroline bernyanyi?"


Semua tamu langsung menyebut nama Vaya. "Vaya ... Vaya ... Vaya."


Vaya yang sudah kembali duduk langsung merasakan tingkat kepercayaan dirinya meningkat kala semua menyebut namanya. Ia akan dipilih oleh Caroline, penyanyi idolanya. Memangnya siapa lagi yang lebih pantas darinya untuk mengiringi seorang Caroline Wilson, tidak ada!


"Boleh aku sendiri yang memilihnya?" ujar Caroline dari atas panggung. Sang artis kemudian turun dari panggung dan mencari orang yang pantas untuk mengiringi dirinya bernyanyi. Ia melewati setiap orang yang ia lihat, hingga sampailah langkahnya pada meja keluarga Iswara. Semua sudah bisa menebak, pastilah Vaya yang terpilih.


"Kau, aku ingin kau yang menjadi pengiringku," ujar Caroline menunjuk Ivona.


Wanita itu mengajak Ivona untuk berdiri dan dilihat oleh banyak mata. Semua menatap tidak percaya dan bertanya tentang siapa gadis yang dipilih oleh Caroline ini. Bukan hanya tamu undangan, keluarga Iswara saja tidak bisa percaya akan hal ini.

__ADS_1


Kenapa Ivona, kenapa bukan Vaya, yang dipilih oleh Caroline Wilson?


__ADS_2