IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.129 Salah Orang


__ADS_3

Ivona menyibak kerumunan orang-orang yang tengah meliuk-liukkan tubuh mereka mengikuti hentakan musik. Mengahampiri wanita yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. "Vaya?" panggilnya.


Wanita itu menoleh dan membuat Ivona terperangah, matanya membulat sempurna. "Ma-maafkan aku," ujar Ivona meminta maaf.


Ternyata bukan Vaya. "Maaf," ujarnya sekali lagi sebelum pergi meninggalkan wanita yang disangka Vaya itu.


Ivona masih tak percaya. Ia yakin benar jika tadi yang ia lihat adalah wajah Vaya tapi setelah dihampiri ternyata ia salah orang. Apa pandangannya mulai bermasalah, ataukah karena sampai hari ini Vaya belum ditemukan yang menjadikan dirinya bisa berhalusinasi tentang Vaya.


"Vaya, di mana dia sekarang?" batin Ivona. Ia melangkah pergi dari ramainya orang menari.


Ia tak punya lagi keinginan untuk tetap berada di tempat ini, lagi pula dari awal Ivona memang tidak ingin pergi ke tempat ini. Kakinya terus melangkah meninggalkan bar, pikirannya yang tak fokus membuat Ivona menabrak seseorang tanpa sengaja.


"Ma-maaf, maafkan aku." Ivona segara berjongkok mengambil tas dari wanita yang ia tabrak. Saat akan menyerahkan tas itu, Ivona sekali lagi dibuat kaget.


"Valia?"


"Hai, Iv?" sapa Valia santai dengan mengulas senyum.


Ivona melongok kebalik tubuh Valia, seperti mencari sesuatu.


"Kau mencari Alexander?" tebak Valia. "Sayang sekali, aku sedang tidak bersama Alexander. Aku datang ke sini sendiri." Valia meringis memperlihatkan giginya yang putih.


"Ngomong-ngomong, dengan siapa kau ke sini?" Valia memperhatikan Ivona yang sendirian.


"Aku?" Ivona menunjuk dirinya sendiri.


Valia mengangguk.


"Ah ... itu, aku pergi dengan temanku."


"Teman? pria atau wanita?" Ivona belum sempat menjawab tapi Valia justru kembali bertanya. "Apa dia tampan?"


Ivona menggeleng. "Tidak ... tidak, kau salah paham!"


"Benarkah?" goda Valia. "Apa Alexander tahu kau kemari?"


Ivona kembali menggeleng.


"Oh ... Ivona, kau sedang belajar menjadi anak nakal rupanya? Aku akan melaporkanmu pada Alexander," ucap Valia masih saja menggoda Ivona. Ia tertawa. "Tenanglah, aku hanya bercanda, aku tidak akan melaporkanmu pada Alexander. Aku akan tutup mulut." Valia menarik garis sejajar di depan mulutnya bak menutup resleting.


"Terima kasih," jawab Ivona setengah hati. Ivona tak setakut itu kalaupun Valia mengadu pada Alexander. Tak ada yang Ivona takutkan karena memang dia tidak membuat kesalahan dalam hal ini.


"Apa kau sudah akan pulang?" Valia kembali memperhatikan Ivona.

__ADS_1


"Ya, aku akan pulang."


"Baiklah, hati-hati di jalan."


Ivona mengangguk dan pergi meninggalkan Valia.


"Nona Valia?"


"Ya?" Terdengar suara Valia berbicara dengan seseorang. Ivona yang sudah berjalan beberapa langkah kembali menoleh diam-diam. Ia melihat Valia sedang berbicara pada seorang pria botak bertubuh kekar.


"Tuan sudah menunggu Anda, Nona."


"Baiklah." Valia pun mengikuti pria botak itu masuk ke dalam bar.


Pria botak itu, siapa dia?


Berusaha melupakan pria botak Ivona segera keluar dan menghentikan taksi yang lewat di depannya. Namun, pikiran tentang pria botak dan Valia terus saja mengusik pikirannya. Di dalam taksi tanya tentang Valia masih menguasai pikirannya.


Valia, bukankah dia datang dari luar negeri. Lalu pria itu, bagaimana Valia mengenal pria itu?


Ah, sekarang bukan jaman batu. Komunikasi bisa terjalin di mana saja dan dengan siapa saja. Apa lagi sekarang ada media sosial, sangat mudah menemukan teman dari bebagai negara. Ivona mencoba berpositif thinking. Mungkin saja Valia mengenal pria itu dari media sosial seperti kebanyakan orang.


_________________


Keesokan pagi, Ivona pergi ke kampus seperti biasa dan menjalani rutinitas kampus layaknya mahasiswa pada umumnya. Siang ini ia ada undangan untuk bertemu dengan wakil direktur di institut komputer nasional. Sebenarnya undangan ini sudah cukup lama, bahkan sejak kasus dia mengacaukan sistem keamanan jaringan internet nasional. Namun, baru sekarang Ivona setuju, karena saat itu ia belum siap bertemu banyak orang yang akan mengetahui kemampuannya.


Ivona sudah dijemput oleh staf dari perusahaan tersebut dan dibawa ke institut komputer nasional.


"Silakan, Nona," ujar staf yang membukakan pintu mobil untuk Ivona.


Di depan loby, sudah ada staf lain yang menjemput Ivona. "Selamat datang Nona Ivona, perkenalkan saya adalah Sam, asisten wakil wakil direktur."


Ivona hanya mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.


"Silakan, Nona." Sam berjalan membimbing Ivona ke meeting room.


Dalam perjalananya mengikuti Sam, ada hal mengejutkan yang Ivona lihat. Pria botak tadi malam ada di tempat ini.


"Lewat sini, Nona," ajak Sam untuk berbelok, sehingga Ivona tidak jadi berpapasan dengan pria botak tadi.


"Ma-maaf, apa kau sudah lama menjadi asisten direktur?" Pertanyaan Ivona ini membuat Sam berhenti dan menoleh.


Pria itu tersenyum. "Sebenarnya, aku baru saja diangkat menjadi asisten wakil direktur, Nona. Sebelumnya aku hanyalah staf biasa," jawab Sam jujur. Pria itu kemudian kembali berjalan dan diikuti oleh Ivona.

__ADS_1


"Silakan, Nona," ucap Sam saat membuka pintu meeting room untuk Ivona.


"Terima kasih."


"Sebentar lagi Tuan Dom akan datang."


Baru saja Sam selesai berucap, seseorang masuk ke meeting room. Sam dan Ivona sama-sama menoleh.


"Selamat siang, Tuan," sapa Sam yang ditanggapi anggukan oleh pria itu.


"Pasti ini pria bernama Dom," batin Ivona.


"Halo, Ivona, akhirnya kita bisa bertemu juga. Aku adalah Dom, wakil direktur di institut komputer nasional. Senang bisa bertemu dengan mu." Persis seperti tebakan Ivona.


"Halo, bisa kah kita lebih mempersingkat waktu," ujar Ivona to the point.


Dom tertawa. "Kupikir kau hanya dingin di telepon karena tidak saling berhadapan, tapi yang kulihat sekarang ternyata itu memang sifat aslimu."


Karena Dom tertawa, pria bernama Sam itu pun ikut tertawa meski tidak tahu maksud wakil direkturnya.


"Baiklah Ivona, kita duduk dulu. Kau mau minum apa, biarkan Sam yang membuatnya untuk mu."


"Tidak perlu, aku tidak ingin berlama-lama di sini. Tolong katakan saja apa yang Anda inginkan dari ku?" Rasanya Ivona tidak sabar jika harus berlama-lama di tempat ini.


"Baiklah kalau begitu, kita duduk saja."


Ivona pun mengikuti wakil direktur dan juga Sam untuk segera duduk.


"Aku ingin kita bisa bekerja sama, Ivona. Kau dan perusahaan ini akan mewujudkan stabilitas keamanan jaringan sistem nasional yang akan sulit untuk diretas pihak mana pun. Aku sangat percaya dengan kemampuanmu. Kau telah membuktikan bagaimana mudahnya kau meretas sistem nasional, dengan itu aku juga yakin kau bisa menciptakan sistem keamanan yang mumpuni," terang wakil direktur.


"Aku masih terikat kontrak kerja sama dengan Marcus, aku yakin Anda juga mengenalnya."


Wakil direktur tertawa. "Kerja sama ini bukan hanya melibatkan institut negara ini, tapi juga bekerja sama dengan institut yang dipimpin oleh Tuan Marcus."


Ivona terkejut. Marcus tidak pernah bercerita tentang hal ini.


"Kau pasti bertanya-tanya tentang kenapa Tuan Marcus belum bercerita padamu. Semua ini baru tahap perencanaan kami, Ivona. Kalau kau setuju akau akan mengirimkan surat resmi pada Tuan Marcus. Bagaimana?"


Ivona nampak mempertimbangkan tawaran wakil direktur.


"Sejujurnya, ada masalah dengan sistem negara kita Ivona dan kami sedang menyelidikinya. Aku yakin kerja sama kita dan Tuan Marcus akan menghasilkan stabilitas sistem yang akan mengayomi seluruh warga. Aku mencium sebuah perencanaan jahat yang dilakukan oleh warga kita sendiri. Sebelum mereka berhasil mewujudkan keinginan mereka kita harus segera mencegahnya."


Perencanaan jahat?

__ADS_1


Ivona tidak menyangka jika ia akan diminta untuk penanganan kasus besar yang menyangkut negara. Namun ia ragu apakah harus menerima atau tidak. Jujur saja, Ivona selalu membatasi diri dari mengenal banyak orang, terlebih untuk menutupi kemampuannya dalam bidang komputasi. Kalau ia setuju pasti akan semakin banyak yang tahu tentang kemampuan yang selama ini tak ingin ia perlihatkan pada banyak orang.


"Berikan aku waktu," pinta Ivona.


__ADS_2