
Otak Ivona bekerja keras, memikirkan cara bagaimana ia harus lepas dari tali pengikat yang tak telihat. Matanya melirik pada laptop di atas meja, di mana ada gambar dirinya dan Alexander, juga banyak anggota rapat yang terus menatap mereka penuh tanya.
"Sssttt." Ivona memanggil Alexander yang terus saja menatapnya. Dengan gerakan mata, Ivona memberitahu tentang rapat yang masih berjalan.
"Apa?" tanya Alexander tanpa suara.
Ivona kembali memicingkan mata, mengkode tentang kamera yang masih menyala.
Alexander mengerti sekarang, ia pun menoleh ke arah kamera. Di lihatnya di layar laptop yang menampilkan gambar seluruh anggota rapat, yang masih terperangah dengan drama Alexander dan gadis yang tidak jelas asalnya ini.
Alexander berdehem dengan keras agar seluruh anggota rapat tersadar dari apa yang mereka lihat. Alexander berpura-pura membetulkan dasi dan juga jasnya, mengatur raut wajahnya agar kembali terlihat berwibawa. "Baiklah, kalau sudah tidak ada lagi pertanyaaan, aku anggap kalian semua mengerti apa yang tadi aku jelaskan. Aku tutup rapat hari ini sampai disini. Selamat siang." Alexander langsung keluar dari rapat online tersebut.
Kini Ivona yang menatap Alexander, ia melihat pria itu menarik napas lega. Ivona bisa memahami perasaan malu yang dirasakan Alexander sekarang. Alexander yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita ini, mendadak jadi pria penggoda bak cassanova. Oh ... apa kata dunia?
"Lanjutkan lagi tugasmu," ucap Alexander demi mengalihkan pikirannya yang masih kacau karena ulahnya sendiri.
Tak ingin berdebat apalagi balik menggoda, Ivona memilih menyibukkan diri kembali dengan tugas sekolahnya meskipun sebenarnya ia sudah menyelesaikannya tadi. Alexander pun langsung membuka berkas-berkas miliknya dan membuat matanya sibuk diantara angka-angka yang ia lihat. Pria itu benar-benar bertobat dari menggoda Ivona, karena setelah selesai rapat tadi ia lebih tertarik pada berkas-berkas yang tadi ia bawa dari meja kerjanya, dari pada menggoda gadis yang sejujurnya menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Aku keluar, dulu," pamit Ivona saat ponselnya berdering.
Ivona mencari tempat di mana ia bisa menerima panggilan dari Beny.
"Halo," sapa Beny cepat diseberang sana saat panggilannya diangkat oleh Ivona.
"Halo, ada apa?" jawab Ivona.
"Apa kau sudah melihat berita hari ini?"
__ADS_1
"Berita apa?" tanya Ivona dengan nada malas.
"Berita tentang dirimu. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak, tapi berita itu begitu heboh di dunia maya."
"Katakan saja, jangan bertele-tele!"
"Maafkan aku sebelumnya, berita itu tentang _____"
"Sudah bicara saja," potong Ivona cepat.
"Go-gosip itu, tentang dirimu yang katanya adalah anak haram.
"Apa?" pekik Ivona.
"I-iya, gosip itu memberitakan kalau kau adalah anak haram keluaga Iswara dan keluarga Iswara sengaja menutupi hal ini demi menjaga nama baik mereka, tapi kau justru memanfaatkan mereka demi keuntunganmu."
Tentu saja Vaya tidak akan terima jika hal itu sampai terjadi. Posisinya sebagai putri tunggal keluarga Iswara akan terancam jika status Ivona diungkap ke publik. Hal lain, yang membuat Ivona sedikit tidak percaya adalah Vaya bertindak secepat ini, dalam satu hari saja, gadis itu langsung membuat berita heboh ini.
"Halo, kau masih di sana, 'kan?" panggil Beny.
Ivona bergeming, ia masih memikirkan tentang Vaya yang begitu nekat membuat berita palsu tentang dirinya.
"Ivona, kau mendengarkan aku ... Ivona." Beny terus memanggil-manggil Ivona.
Namun, Ivona justru menutup telepon dan kembali ke ruangan Alexander.
Di seberang sana Beny kecewa karena Ivona mematikan panggilannya secara sepihak, tapi ia juga khawatir akan gadis itu. Kenapa berita buruk selalu menyertai kehidupan gadis yang menurutnya sangat baik itu. Beny ingin sekali menemui Ivona, dan menjadi teman untuk gadis itu berbagi duka. Namun, apalah daya jika ternyata Ivona tidak menganggapnya spesial.
__ADS_1
Ivona kembali ke ruangan Alexander dengan tergesa. Ia segera menghampiri pria yang masih sibuk dengan berkas-berkas di tangannya, dan berkata, "Bolehkah aku meminjam laptopmu sebentar?"
Alexander mendongak. "Untuk apa?"
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu."
Melihat raut serius di wajah Ivona, Alexander menggeser laptop miliknya pada Ivona. Gadis itu segera duduk dan membuka situs pencarian. Ia menggunakan kata kunci "Ivona Keluarga Iswara". Benar saja, tak lama kemudian berbagai artikel tentang dirinya muncul berderet di layar datar itu.
Ivona membaca setiap artikel yang mencatut namanya sebagai judul. Ia terus menggulir berita itu, ternyata benar apa kata Beny. Setiap berita yang tertera di sana, semua menjelek-jelekkan tentang dirinya.
Ivona menahan geram melihat semua berita palsu itu, dan lebih geram lagi saat harus mengingat Vaya. Gadis itu belum jera juga rupanya, ia masih terus berusaha mengusik hidup Ivona.
Rahangnya mengeras saat ia membaca komentar-komentar netizen yang disinyalir adalah penggemar berat Vaya. Mereka seakan menggila, dengan munculnya berita itu, dan menulis komentar pedas untuk Ivona.
"Dasar rubah licik, berani-beraninya menikung dari belakang. Kembalikan apa yang menjadi hak Vaya."
"Gadis tidak tahu malu, anak j*lang tapi sok-sokan mau jadi putri raja."
"Hei ... J*lang kecil, kembalikan semua milik Vaya!!!"
"Anak haram saja masih berani menampakkan diri. Harusnya kau sembunyi di gua saja, atau tenggelamkan dirimu ke dasar laut!"
Semua hinaan dan cacian mereka benar-benar tanpa disaring. Mereka menulis seakan tidak peduli dengan dampak yang ditimbulkan oleh jari-jari mereka.
Padahal mereka tidak tahu kebenaran dan fakta yang sesungguhnya, tapi mereka semua mengamuk seperti orang yang paling tahu saja. Menyalahkan Ivona, dan menuduhnya telah berbuat curang pada Vaya, merebut semua hak gadis itu dari keluarga Iswara. Tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan benar-benar membuat Ivona tidak tahan.
"Vaya!!!" geram Ivona dalam hati.
__ADS_1