
Ivona menjalani hari-harinya di rumah keluarga Iswara. Nyonya Iswara menunjukkan kesungguhannya dalam mendidik Ivona menjadi calon istri. Ia mengajari bagaimana cara melayani suami dan menyenangkannya. Mulai dari menata rumah, memilih makanan untuk suami, sampai mengundang koki untuk Ivona belajar memasak.
Setiap harinya perasaan tulus Nyonya Iswara semakin dirasakan Ivona. Ia merasa benar-benar memiliki seorang ibu. Terkadang sikap manis Nyonya Iswara mengingatkannya akan ibunya yang telah tiada di dunia nyata.
"Hei, kau kenapa?" tanya Nyonya Iswara yang melihat Ivona mendadak diam di sela-sela kegiatan membuat cake.
Mendadak Ivona jadi sentimental saat Nyonya Iswara dengan lembut dan sabar mengajarinya memasak. Jujur saja, Ibu Ivona di dunia nyata tidak pernah memasak apa lagi mengajarinya, kesibukan sang ibu menjadi seorang ilmuwan membuat wanita yang telah melahirkannya itu sangat sibuk. Kendati demikian, ibunya tak pernah kurang dalam hal memberikan kasih sayang.
"Ti-tidak, tidak ada apa-apa, aku hanya ___"
Tiba-tiba Nyonya Iswara memeluk Ivona. "Maafkan aku, ini semua pasti karena dulu aku bersikap tidak baik padamu hingga sekarang kau merasa sikapku aneh, iya, 'kan?"
"Bukan ... bukan seperti itu, aku merasa terharu karena akhirnya aku bisa merasakan memiliki seorang ibu."
"Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan jadi Ibu yang baik untukmu."
Ivona tersenyum.
"Ayo kita lanjutkan."
Ivona mengangguk setuju.
"Setelah kau memecahkan telurnya, tambahkan gula dan pengembang, lalu kocok telur ini hingga berbuih," ujar Nyonya Iswara menjelaskan. "Sejujurnya aku juga tidak pandai memasak, dan ini pertama kalinya aku akan membuat cake, tapi aku sudah membaca di internet tentang resepnya, semoga kita berhasil."
Ivona menatap kaget, Ivona kira ibunya sudah ahli ternyata mereka sama-sama sedang belajar.
"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Nyonya Iswara.
"Ibu yakin semua ini akan berhasil?"
Nyonya Iswara tertawa. "Tentu saja, Sayang. aku sudah melihatnya di internet, jika tidak berhasil nanti kita suruh Thomas saja yang makan."
Tawa mereka langsung meledak ketika membayangkan ekspresi Thomas yang akan menikmati cake uji coba mereka.
________________
Tidak terasa satu bulan sudah Ivona menerima didikan dari Nyonya Iswara. Tepat di hari ini, Nyonya Aleberic akan datang melamarnya secara resmi untuk putra sulungnya—Alexander Alberic.
Semua orang sangat sibuk mempersiapkan kedatangan tamu agung itu. Nyonya besar itu tidak boleh menolak Ivona. Ia harus mengakui jika Ivona memang layak untuk Alexander.
__ADS_1
Ivona sedang berada di dalam kamarnya, merias dirinya di depan cermin. Ivona dibantu oleh sang Ibu tinggal memberi sentuhan terakhir, yaitu memulas bibirnya dengan lipstik warna peach.
"Kau cantik sekali, Sayang," puji Nyonya Iswara. " Aku yakin, Nyonya Alberic tidak mungkin berkata tidak padamu," selorohnya.
Ivona mengulum senyum, pipinya merona mendengar pujian dari sang Ibu.
"Apa Ivona sudah siap?" suara Valia membuat Ivona dan Nyonya Iswara menoleh.
Ivona sengaja mengundang wanita itu di hari bahagia ini. Sejak tadi Valia ada di bawah membantu mempersiapkan kedatangan Alexander dan ibunya.
"Ivona sudah siap, tinggal ganti baju," jawab Nyonya Iswara.
"Baguslah, Alexander dan ibunya sudah datang," ujar Valia.
"Ayo Sayang, segera persiapkan dirimu."
Menuruti kata ibunya, Ivona masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Tinggal Nyonya Iswara dan Valia.
"Apa kabar, Ma?" suara Valia membuat Nyonya Iswara yang sedang membereskan make up mendadak bergeming.
"Kau merindukan aku, bukan?"
Valia mendekat, lalu berbisik, "Aku adalah Va ___"
"Ibu aku tidak bisa menarik resleting ini." Mendadak Ivona keluar dari kamar mandi dan melihat Valia yang sedang menunduk mendekat pada Ibunya. "Kalian sedang apa?" raut Ivona nampak bingung.
"Oh ... ini, Valia ingin membantuku merapikan meja rias." Demi menutupi kegugupannya Nyonya Iswara langsung menghampiri Ivona. "Berbaliklah, aku akan membantumu menarik resletingnya."
Tak banyak tanya lagi Ivona langsung berbalik.
Nyonya Iswara menata kembali penampilan Ivona dan merapikannya. "Kau sangat cantik, Sayang," puji Nyonya Iswara sembari mengusap lembut pipi Ivona.
"Ivona, kau harus segera keluar, kakekmu dan ayahmu sudah menunggu di bawah. Aku yakin Alexander tak sabar melihatmu," ujar Valia mengingatkan.
"Kau keluar saja dulu. Ibu bereskan meja sebentar, nanti Ibu menyusul," ujar Nyonya Iswara.
"Baiklah aku keluar lebih dulu." Ivona mengambil sepatunya, lalu mematut dirinya di cermin sekali lagi.
"Sempurna!" Nyonya Iswara kembali mengusap pipi Ivona.
__ADS_1
Setelah yakin dengan penampilannya, Ivona keluar sendiri. Senyumnya tak pernah pudar menghiasi bibirnya, meski begitu perasaannya saat ini begitu gugup. Bagaimanapun ia akan bertemu Nyonya Alberic lagi setelah satu bulan berlalu.
Langkahnya melambat ketika ia sudah mulai menuruni anak tangga. Ivona menatap ke bawah di mana ada Alexander di sana. Sejak sebulan ia pindah ke kediaman Iswara, sejak itu juga ia membatasi diri untuk bertemu dengan Alexander. Semua ia lakukan karena menuruti kata ibunya. Katanya supaya perasaan yang terjalin semakin kuat, karena saat jauh itulah hubungan itu sering diuji.
Ivona tidak tahu apakah hubungannya semakin erat ataukah tidak, tapi pria itu semakin posesif saja. Mereka memang jarang bertemu, tapi Alexander tak pernah absen menanyakan kabar Ivona. Banyak pesan yang selalu pria itu sampaikan jika Ivona akan pergi ke kampus. Contohnya saja, 'jangan macam-macam dengan pria lain, aku menaruh banyak mata-mata untuk mengawasimu!' atau 'Tidak boleh dekat-dekat dengan pria mana pun, jarak aman yang harus dijaga adalah dua meter.', semua hal itu terasa lucu bagi Ivona tapi ia menyukainya. Ia suka sikap Alexander yang begitu posesif padanya.
"Kenapa belum turun?" Nyonya Iswara langsung menggandeng Ivona saat mendapati putrinya itu masih bergeming di atas tangga. Ia tersenyum. "Oh ... Ibu tahu, kau malu, ya. Baiklah, ayo ibu temani." Dengan digandeng oleh ibunya, Ivona turun menemui Alexander dan Nyonya Alberic.
Melihat Ibunya sendiri, Ivona bertanya, "Di mana Valia?" lirih Ivona saat berjalan menuruni anak tangga.
"Valia sedang ke kamar mandi jadi aku tinggalkan dia sendiri," jawab Nyonya Iswara dengan mengulas senyum.
"Oh ...."
"Kakak!" seru Evan yang langsung menghampiri dan memeluk Ivona saat gadis itu sudah turun dari tangga. "Aku merindukanmu."
Ivona jadi canggung sendiri dengan sikap calon adik iparnya ini. Setiap kali bertemu Evan selalu seperti ini. Padahal mereka tidak terlalu akrab, tapi bocah ini begitu nyaman bersama Ivona. Tidak hanya Evan, Max—si anjing pun—ikut berlari dan menggonggong di depan Ivona.
"Diamlah, Max!" seru Evan menoleh pada anjingnya, tapi Max tak menurut. Anjing itu terus saja menggonggong seolah ingin juga mendapat pelukan dari pemiliknya.
"Max, diam!" sentak Evan lagi.
"Evan!" seru Nyonya Alberic ketika melihat putranya berteriak di rumah orang lain.
"Bukan aku, Mom, tapi Max," protes Evan tak terima jika ia yang disalahkan.
"Biarkan saja, namanya juga anak kecil," sela Kakek Iswara.
Nyonya Alberic tersenyum malu karena ulah sang putra bungsu.
Tak ingin Evan kena marah, Ivona pun memanggil Max. "Kemarilah, Max!" panggil Ivona dengan suara rendah. Anjing itu langsung berlari lebih mendekat pada Ivona.
Gadis itu berjongkok memeluk Max dan mengusap bulu anjing alaskan itu, lalu menciumnya. Kemudian beralih pada Evan yang sudah cemberut.
"Kau cemburu?" goda Ivona.
Evan memalingkan wajahnya. Ia merajuk.
Ivona lalu mencium pipi Evan, dan memeluk anak itu. "Aku juga merindukanmu," bisik Ivona yang langsung membuat mata Evan berbinar.
__ADS_1
Nyonya Alberic dan anggota keluarga Iswara menatap keakraban Ivona dan Tuan Muda kecil itu. Namun, diantara semuanya ada mata yang menatap tidak suka melihat keakraban Ivona dan juga adik Alexander itu.