IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.115 Bawa Dia Kalau Kau punya Uang


__ADS_3

Ivona semakin sibuk dengan persiapan kompetisi yang semakin dekat. Meski semua materi sudah ia kuasai, tapi ia harus tetap bersikap normal dengan belajar. Sampai detik ini tidak ada yang tahu kecerdasan Ivona yang di atas rata-rata.


"Ternyata berpura-pura itu tidak semudah yang kubayangkan," gumamnya pada diri sendiri.


Di sela-sela waktu belajarnya, Ivona memilih untuk berbicara dengan Marcus lewat pesan singkat. Marcus masih berusaha keras membujuk Ivona agar pindah ke negaranya, tapi Ivona masih bersikeras untuk menetap di tempat kelahirannya.


[Kau benar-benar tidak tertarik pindah ke negaraku. Di sini kau akan dilindungi, dan kecerdasanmu akan sangat dihargai.]


Tulis Marcus dalam pesannya.


[Aku masih ingin berada di tempat ini karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan. Lagi pula sekolah di sini cukup menyenangkan.]


Balas Ivona.


[Bukankah sebentar lagi kau lulus? lalu bagaimana dengan tawaran dokter Spencer, apa kau juga tidak tertarik?]


[Aku tertarik, tapi tidak untuk saat ini.]


Ivona begitu sibuk berbalas pesan dengan Marcus. Sementara di luar ada tamu yang membuat Alexander harus menahan geram.


"Jadi apa sebenarnya tujuanmu kemari?" tanya Alexander yang duduk berhadapan dengan Rio Iswara. Tangannya dilipat di depan dada, matanya tajam menatap lawan bicaranya, aura dingin menguar dari setiap kata yang terucap.


"Aku ingin menjemput Ivona. Kurasa ia tidak pantas tinggal bersamamu di sini," jawab Rio.


Alexander membuang muka dengan seringai dibibirnya. "Apa maksud mu menjemputnya. Apa keluargamu tidak memberitahumu?"


Rio terdiam.


"Kalau memang belum, biar aku beri tahu. Aku sudah menukar ivona dengan uang demi menyelamatkan perusahaan kalian. Dalam perjanjian itu, keluarga kalian tidak lagi berhak untuk mengambil Ivona dari rumah ini tanpa seijinku."


"Ivona bukan barang, kenapa kau memperlakukannya layaknya barang dagangan!" Rio terlihat marah mendengar kalimat Alexander yang seolah merendahkan adiknya.


"Kalau kau ingin bertanya, kenapa tidak kau tanyakan pada keluargamu itu? Aku hanya menawarkan dan mereka terima begitu saja. Perjanjian itu bahkan disetujui sendiri oleh Tuan Besar Iswara, kakekmu."


"Kau!" Tangan Rio mengepal, menahan geram akan kesombongan Alexander.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin kau katakan, silakan keluar!" usir Alexander.


"Aku tidak akan pergi sebelum aku membawa Ivona bersamaku!"


"Kalau begitu, kembalikan semua uang yang telah aku berikan untuk pemulihan perusahaan keluarga kalian, baru kau boleh membawanya pergi."


Rio langsung terdiam, sedangkan Alexander tertawa. "Kenapa, kau tidak punya, bukan?"


"Pikirkan dulu sebelum kau bicara padaku. Pintu keluar ada di sana!" Alexander menunjuk arah pintu keluar.


Rio tahu, jika keluarganya telah menandatangani perjanjian itu dengan Alexander, tapi Rio tidak bisa percaya dengan Alexander. Ia tidak yakin pria itu tidak punya niat terselubung dibalik ucapannya ingin melindungi Ivona di rumahnya. Bagaimanapun Rio tidak bisa percaya begitu saja pada orang asing meskipun Alexander adalah teman adiknya.

__ADS_1


Rio menatap marah pada Alexander sebelum meninggalkan vila milik Alexander. Di saat Rio keluar, di saat itu juga Ivona keluar dari kamar. Ia sempat melihat Rio sekilas.


"Apa itu tadi Rio?" tanya Ivona yang menuruni tangga.


"Ya."


"Kenapa kau tidak memberitahuku jika dia datang?"


"Dia hanya ingin bertemu dengan ku," Alexander berbohong.


"Untuk apa?"


"Hanya memberitahu kalau besok kakekmu sudah bisa dibawa pulang dan dirawat di rumah."


"Benarkah?" Mata Ivona berbinar mendengarnya.


Alexander mengangguk. Sebenarnya ia tahu bukan dari Rio, tapi dari Tommy yang tadi mengirimkan pesan untuknya.


"Berarti mulai besok aku akan tinggal bersama kakek, bukan?"


"Hanya sampai kakekmu sembuh?"


"Maksudmu?"


"Kau akan kembali ke sini setelah kakekmu sembuh!" Alexander tidak ingin lagi melanjutkan pembicaraan ini. Ia memilih untuk langsung pergi.


_____________________


G-School


Semua siswa membicarakan Ivona yang akan mengikuti kompetisi fisika mewakili sekolah mereka. Semua berbisik meragukan kemampuan Ivona.


Diantara mereka ada Jeany, siswi yang sebelumnya mewakili G-school. Dia menatap marah pada Ivona, tapi tak bisa berbuat apa pun karena ia tidak punya keberanian untuk memprotes keputusan Mr.Harry.


"Iv, apa kau tahu kalau hari ini semua sedang membicarakan keikutsertaanmu dalam kompetisi fisika?" Beny berdiri tepat di samping meja Ivona.


"Mereka semua tidak sabar melihat hasilnya. Ada yang masih tidak percaya tentang kau yang menjadi wakil G-school." Benny terlihat sedih mengatakannya.


"Tapi kau jangan khawatir, aku akan selalu mendukungmu. Apa pun hasilnya." Sebuah senyuman terkembang di bibir Beny sebagai bentuk support untuk Ivona.


"Bagiku kau selalu jadi pemenang." Beny menutup mulutnya sendiri, seakan tak percaya ia berani mengatakan kalimat menggelikan itu.


Di samping Ivona, ada William yang terus memperhatikan Beny. Tidak disangka jika monster gendut itulah yang bisa menjadi teman dekat bagi Ivona. William bahkan tahu jika Beny lah yang selalu menemani Ivona ketika sedang melakukan bimbingan belajar. William sampai heran, apa istimewanya Beny dibandingkan dirinya. Kenapa Ivona bersikap dingin padanya tapi tidak pada si monster—Beny.


Selain William, sejak tadi Jeany juga memperhatikan Beny. Bukan orangnya yang Jeany perhatikan tapi berita yang dibawa Beny. Berita tentang Ivona yang menjadi perbicangan menjadi wakil di kompetisi fisika, harusnya ia yang diperbincangkan seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi karena kehadiran Ivona semua jadi beralih pada gadis itu.


Tidak tahan melihat Beny yang terus-terusan memuji Ivona, Jeany memilih menghindar. Ia keluar dari kelas dengan perasaan menahan amarah.

__ADS_1


Ternyata ada yang menyadari sikap Jeany. Dialah Kelly, murid yang tidak suka dengan Ivona sejak Ivona masuk ke sekolah ini. Kelly mengajak Jessica untuk menyusul Jeany diam-diam. Ia terus mengikuti Jeany dan menemukan gadis itu berdiri di atas gedung sekolah. Jeany menatap hampa ke bawah. Kakinya bergetar saat hendak memanjat dinding pagar gedung itu.


"Jeany, apa yang akan kau lakukan?" seru Kelly.


Jeany pun kaget melihat ada Kelly dan Jessica di belakangnya.


"Untuk apa kalian ke sini, apa kalian mengikutiku?"


"Harusnya kami yang bertanya, untuk apa kau berada di tempat ini. Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan mencoba memanjat pagar itu?"


"Itu bukan urusan kalian!" sentak Jeany pada Kelly. "Pergi saja kalian dari sini, jangan ganggu urusanku!"


Kelly dan Jessica saling menatap melihat sikap aneh Jeany.


"Ka-kau tidak akan berbuat bodoh, bukan?" ujar Kelly.


"Apa pun yang akan aku lakukan itu adalah urusanku, bukan urusanmu!" tegas Jeany.


"Jeany, kau jangan berpikiran pendek hanya karena tidak terpilih mewakili sekolah kita. Jangan jadi bodoh." Kelly berusaha menebak apa alasan Jeany ingin memanjat pagar rooftop.


"Tau apa kau tentang hidupku, hah!" sentak Jeany. "Kalian tidak mengenalku, kalian juga tidak tahu apa yang terjadi denganku. Pergi saja kalian dari sini!"


"Jeany, kami tidak akan pergi tanpamu. Kita bisa bicarakan semua baik-baik. Aku bisa membantumu menemukan solusi, tidak dengan cara seperti ini," bujuk Kelly.


"Solusi katamu? Apa kau bisa membuat Ivona mundur dan menggantinya dengan aku, hah?"


Kelly dan Jessica terdiam.


"Tidak bisa bukan. Sudahlah pergi sana, dan urus saja urusan kalian sendiri!"


"Tidak, aku tidak akan pergi dan membiarkanmu bertindak bodoh!" Kelly menatap Jessica. "Ayo!"


Secara bersamaan Kelly dan Jessica langsung maju dan menangkap Jeany.


"Lepaskan, apa yang kalian lakukan?" Jeany meronta.


"Kami tidak akan melepaskanmu." Jessica berusaha menyeret Jeany pergi dari rooftop gedung sekolah.


Meski dengan usaha yang sangat melelahkan tapi akhirnya Kelly dan Jessica berhasil membawa Jeany menjauh dari rooftop. Namun, Jeany terus meronta, ia menolak apa yang dilakukan Kelly.


Karena tidak tahan dengan Jeany yang tidak mau diajak bicara. Kelly dengan sengaja menampar Jeany dengan kuat, hingga gadis itu berhenti meronta. "Diamlah!"


Jeany yang ketakutan melihat raut muka Kelly akhirnya terdiam pasrah.


"Jangan bertindak bodoh, aku akan membantumu menyingkirkan Ivona!" tegas Kelly.


Mendengar apa yang Kelly katakan Jeany bingung harus apa, tapi ia merasa senang ada yang ingin membantunya.

__ADS_1


__ADS_2