IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.66 Anak Pungut


__ADS_3

Ivona kembali pada semua orang yang menunggunya di ruang keluarga setelah mengirim berkas laporan medis Kakek Iswara, dan mendapatkan jadwal operasi untuk kakek.


"Bagaimana Ivona, apa kata dokter pilihanmu?" tanya Kakek cemas.


"Ada kabar baik, Kek, kata dokter penyakit Kakek bisa sembuh dengan operasi, dan aku sudah membuat jadwal operasi dengan dokter Spencer dua Minggu lagi di Royal Hospital, itu pun kalau Kakek setuju," jawab Ivona tenang.


"Benarkah, apa menurutmu dokter itu bisa dipercaya?" tanya Kakek.


"Tentu saja, Kek. Aku tidak akan sembarangan memilih dokter untuk Kakek, aku sudah mencari tahu latar belakang dan rekam jejak profesi dokter Spencer. Dia dokter yang terpercaya," jawab Ivona meyakinkan.


Kakek Iswara tersenyum lega, pada akhirnya ia akan menjalani operasi demi kesembuhannya. "Baiklah, kalau begitu segera hubungi dokter itu dan buat janji dengannya."


"Baik, Kek." Ivona baru saja mengeluarkan ponselnya, saat Tuan Iswara tiba-tiba berkata, "Tunggu dulu, Ayah, kita belum memastikan sendiri siapa dokter itu dan bagaimana cara kerjanya. Dia dokter dari luar negeri, kita tidak boleh sembarangan mengambil keputusan," sergah Tuan Iswara saat Ivona akan menghubungi dokter Spencer.


"Papa benar, Kek. Kita tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan yang besar ini, karena semua ini menyangkut nyawa Kakek," timpal Vaya.


"Kita harus menyelidiki dulu siapa dokter yang dipilih Ivona ini, karena kita semua tahu bukan jika Ivona jarang sekali bergaul dengan teman-temannya, lalu bagaimana bisa anak ini mengenal seorang dokter hebat dari luar negeri. Bukankah hal itu patut dipertanyakan?" imbuh Nyonya Iswara.


Kakek Iswara yang awalnya begitu yakin, karena ucapan anak dan menantunya, juga Vaya membuat ia sedikit goyah. Ia ingin sekali percaya pada Ivona, tapi apa yang dikatakan Tuan dan Nyonya Iswara juga benar adanya.


Tuan dan Nyonya Iswara serta Vaya, mereka bertiga saling melempar pandangan dengan senyum tipis terukir di bibir mereka, seolah mereka bertiga telah berhasil mempermainkan pikiran Kakek. Tanpa sengaja, Ivona menangkap senyum licik mereka.


"Tidak ada salahnya kita mencari tahu terlebih dahulu sebelum yakin untuk membuat keputusan yang besar ini, Ayah. Kita tidak boleh langsung percaya pada orang yang baru kita lihat, apa lagi cuma kita dengar namanya." Tuan Iswara masih berniat menghasut Kakek.


Nampak raut ragu di wajah Kakek Iswara.


"Baiklah, aku juga setuju jika kalian ingin melakukan penyelidikan terlebih dahulu pada dokter Spencer," ucap Ivona pada akhirnya.


"Tentu saja kau harus setuju, kau pikir siapa dirimu, heh!" ucap Vaya berusaha menyalahkan Ivona.


"Kau bertanya tentang siapa aku, lalu bagaimana dengan dirimu yang hanya sekedar anak angkat!" balas Ivona. Ia sudah berusaha menahan sejak tadi tentang sikap Vaya, tapi kali ini Vaya harus diberi pelajaran.

__ADS_1


"Ivona!" teriak Nyonya Iswara. "Kau tidak pantas berkata seperti itu pada Vaya!" tegasnya.


Ivona terperangah. "Lalu bagaimana aku harus menyebutnya, haruskah aku bilang jika Vaya adalah anak pungut?" Ivona balas berteriak.


"Ivona!" teriak Nyonya Iswara sekali lagi. Nyonya Iswara melayangkan tangannya pada Ivona tapi belum sampai tangan itu menyentuh pipi Ivona, tangan Ivona lebih dulu menahannya.


"Apa begini seorang ibu memperlakukan putri kandungnya. Apakah anak pungut itu lebih berharga dari seorang putri yang Ibu lahirkan?" tanya Ivona dengan sorot mata tajam tertuju pada Nyonya Iswara.


Nyonya Iswara tidak bisa menjawab pertanyaan Ivona yang bertentangan dengan batinnya.


Tidak mendapatkan jawaban, Ivona menghempaskan tangan Nyonya Iswara begitu saja dan berlari keluar, meninggalkan semua orang yang hanya terdiam menatap kepergian Ivona. Alexander yang melihat Ivona pergi langsung menyusul gadis itu.


"Apa kau akan terus lari?" tanya Alexander saat Ivona sudah berada di area halaman mansion Iswara.


Ivona berhenti.


"Sampai kapan kau akan lari? sampai Vaya merebut semua yang kau miliki?" ujar Alexander yang membuat Ivona semakin bergeming.


"Jika apa yang kau lakukan itu benar, maka perjuangkan sampai apa yang kau inginkan tercapai."


"Tahu apa kau tentang hidupku, hah!" ucap Ivona ketus.


"Aku tahu semuanya, aku juga tahu tentang kau si anak pungut," jawab Alexander.


Seketika Ivona menoleh, mendelik tajam pada pria itu. "Aku bukan anak pungut!" tegas Ivona.


"Benarkah?" goda Alexander. "Lalu kenapa tidak kau tunjukkan jika kau bukan anak pungut. Kenapa kau memilih lari?" Alexander berjalan mendekat.


Di dalam mansion keluarga Iswara, Vaya sedang menangis hebat karena perkataan Ivona. Melihat Nyonya Iswara yang tidak tegas menjawab pertanyaan Ivona membuat Vaya sedikit merasa takut jika Nyonya Iswara berpaling membela Ivona.


"Kenapa Mama diam saja. Kenapa tidak menjawab pertanyaan Ivona, apa sekarang Mama juga menganggapku anak pungut?" Vaya mengeluarkan air mata palsunya.

__ADS_1


"Kalau benar begitu, sebaiknya aku pergi saja. Tidak ada yang menganggapku di sini, aku hanyalah orang asing bagi kalian!" Vaya pun berlari keluar.


Melihat Vaya berlari, Tuan dan Nyonya Iswara mengejar Vaya keluar untuk menenangkan Vaya.


"Vaya, tunggu, Sayang!" teriak Nyonya Iswara. "Mama bisa menjelaskan semuanya, Sayang."


"Vaya, jangan pergi!" sergah Tuan Iswara.


Vaya pun berhenti. Tuan dan Nyonya Iswara segera menghampiri Vaya. "Sayang, jangan tinggalkan mama." Nyonya Iswara langsung memeluk Vaya. Dengan segala usaha mereka membujuk Vaya agar kembali.


Di sisi lain, Ivona tersenyum tipis saat melihat keharmonisan tiga anggota keluarga itu. Menyadari arah pandang Ivona, Alexander pun mengikutinya. Melihat hal yang pasti menyakitkan bagi Ivona membuat tatapan Alexander penuh dengan rasa berang. Seperti inikah keluarga gadis yang ia beri perlindungan di rumahnya, keluarga yang buta mata hatinya, yang tidak bisa melihat siapa putri kandung dan siapa yang harus tersingkir. Sungguh miris.


Alexander memasang badannya untuk menghalangi pandangan Ivona. Ia langsung menarik gadis itu untuk bersembunyi dibalik tubuh kekarnya. Ivona yang tidak mengerti dengan maksud Alexander mencoba mendongak, tapi kembali Alexander menenggelamkan wajah Ivona ke dalam dada bidang pria tersebut.


"Tidak ada yang menarik untuk dilihat, Nana," lirih Alexander.


Sekarang Ivona mengerti maksud pria ini, Alexander ingin melindunginya. Menahan pandangannya untuk mengurangi luka dihatinya. Ivona bukan gadis lemah nan cengeng, tapi melihat keluarga yang memperlakukan si pemilik tubuh asli dengan tidak adil bahkan dengan sengaja menyisihkannya, membuat ia tidak tahan juga untuk menangis. Bagaimana bisa seorang keluarga justru memilih orang lain dibandingkan putri kandung mereka sendiri.


"Menangislah, jika itu bisa mengurangi beban di hatimu," ujar Alexander. Ivona terus menumpahkan tangisnya, hingga tanpa sadar gadis itu memegang ujung jas Alexander. Sementara pria itu, justru melingkarkan tangannya memeluk Ivona, erat.


Tuan dan Nyonya Iswara akhirnya berhasil menenangkan Vaya, mereka membujuk Vaya dengan segala iming-iming kasih sayang. Tentu hal itu membuat Vaya merasa senang, karena nyatanya ia masih memiliki tempat istimewa di hati kedua orang tuanya.


"Ayo kita masuk, Sayang," ajak Nyonya Iswara.


Vaya menghapus air matanya, dan berkata, "Kalian masuk saja dulu, aku ada urusan sebentar."


Vaya pun pergi meninggalkan Tuan dan Nyonya Iswara. Vaya merasa sombong karena telah dibujuk oleh orang tuanya, dan mau mencari Ivona untuk membuat Ivona lebih sadar jika orang tuanya tak sedikitpun berpihak pada gadis gila itu.


Saat menemukan di mana Ivona berada, langkahnya justru terhenti seketika, seolah ada paku yang tertancap di kakinya dan membuatnya tak bisa beranjak. Ia yang ingin membuat kejutan untuk menyadarkan posisi Ivona justru mendapatkan kejutan saat melihat Ivona sedang berada dalam dekapan seorang Alexander Alberic.


Kecemburuan di hati Vaya membuncah, kemarahannya pada Ivona kembali bergejolak. Gadis ini tidak lagi mementingkan sikap Tuan dan Nyonya Iswara lagi, karena sekarang Vaya bisa melihat jika Alexander lebih bisa diandalkan. Ivona kembali membuatnya merasa iri.

__ADS_1


__ADS_2