IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab. 137 Misi Penyalamatan


__ADS_3

Para pengawal itu menggiring Ivona untuk masuk ke sebuah ruangan yang lebih mirip dengan penjara. Tempat itu ada di lantai paling atas bangunan ini. Dengan kasar salah seorang pengawal mendorong Ivona agar segera masuk.


"Masuk!" teriak salah satu pengawal.


Saat ini tak ada yang bisa Ivona lakukan selain hanya mendelik marah pada pengawal yang berlaku kasar padanya.


Greyson yang sedari tadi meminpin langkah mereka, berdiri bersedekap tangan. Matanya tajam menatap Ivona. "Apa kau masih punya niat untuk kabur, hah?"


"Kau tidak akan bisa lari dari tempat ini karena kau tidak akan bisa mengalahkan para pengawalku." Greyson tertawa yang diikuti oleh para anak buahnya tak terkecuali si pria botak.


"Awasi dia dengan ketat, jika dia berusaha untuk kabur lagi tembak saja kakinya tapi jangan bunuh dia. Bagaimanapun dia harus berguna untuk ku. Dia belum menjalankan tugasnya untuk mengisi rekeningku!" ujar Greyson pada para anak buahnya.


"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir ulang tentang rencana kaburmu. Aku tidak akan segan-segan melukaimu jika kau berani melawan perintahku." Kali ini Greyson berbicara pada Ivona, yang ditanggapi sinis oleh gadis itu.


Ponsel pria botak berdering dan di hadapan semua orang ia mengangkat panggilan itu. Semua orang di sana terdiam untuk memberi ruang pada si pria botak. Setelah mematikan sambungan teleponnya ia memberi tahu Greyson, "Tuan, suruhan dokter Austin sudah ada di luar."


"Suruh dia masuk, siapkan tempat untuknya!"


Si pria botak mengangguk, lalu pergi lebih dulu. Kini tinggal Greyson dan pada pengawalnya. "Ingat perintahku, jangan sampai gadis ini pergi lagi." Greyson lalu pergi menyusul si pria botak diikuti para pengawalnnya. Tinggal dua orang yang berjaga di sana di depan pintu jeruji yang digunakan untuk mengurung Ivona.


Greyson masuk ke sebuah ruangan di lantai dua, ada seorang wanita cantik yang sudah menunggunya. Pria itu langsung berjalan mengambil sebuah botol whisky dan menuangkannya ke dalam dua gelas piala. Ia menyodorkan satu gelas pada wanita yang duduk di depannya, dan mengajaknya bersulang.


"Apa kau sudah merindukanku, Sayang?" goda sang ahli komputasi.


Wanita itu justru tidak menyukai candaan Greyson, rasanya ia ingin muntah jika mengingat kelakuan menjijikkan si tua bangka ini. Namun, apalah daya, wanita itu harus tetap tersenyum seperti pesan dokter Austin.


Melihat senyum di bibir wanita yang akhir-akhir ini menghangatkan ranjangnya, Greyson semakin bersemangat untuk mendekati wanitanya. Setelah meneguk cairan kecoklatan dalam gelas pialanya dalam sekali teguk, Gresyson langsung menyerang wanita itu tanpa ampun.


Pria tua itu ingin melepas sejenak kekesalannya karena ulah Ivona yang menipunya untuk kabur. Wanita itu menyambut Greyson dengan setengah hati, tidak ada minat sama sekali yang ia tunjukkan pada pria tua itu. Ia hanya sekedar menjalankan kewajibannya sebagai timbal balik atas kebaikan dokter Austin.


"Apa pesan yang kau bawa?" tanya Greyson setelah menyelesaikan segala urusan kelelakiannya.


Wanita itu segera mengambil jubah tidur dan memakainya. "Dokter Austin bilang, kau harus segera mentransfer uangnya, karena penelitiannya tidak bisa ditunda lagi."


Greyson tersenyum miring. Ia harus cepat membuat Ivona mengerjakan tugasnya, karena setelah sistem keamanan diperbaiki ia mengalami kesulitan untuk meretas akun perbankan. Sebab itulah, ia ingin memanfaatkan Ivona. Ia yakin gadis itu punya kemampuan meretas lebih hebat darinya. Greyson terus menatap wanitanya masuk ke kamar mandi menenteng baju yang ia kenakan sebelumnya.


Sementara itu, Alexander terus memacu mobilnya dengan tidak sabar. Anak buah di belakangnya pun mengikuti dengan gesit lari sang pemimpin.


Kemarahan dalam dadanya memuncak. "Kalau terjadi sesuatu pada Ivonaku, jangan harap aku akan membiarkanmu hidup!" janjinya pada diri sendiri.


Alexander dan anak buahnya langsung menerobos masuk gerbang utama sebuah vila mewah milik Greyson. Bangunan berlantai tujuh yang berdiri di tengah hutan itu begitu mencolok karena bangunannya di design mirip dengan mercusuar. Entah apa tujuan pria itu membangun bangunan aneh itu di tengah hutan seperti ini.


Tindakan Alexander dan anak buahnya ini berhasil memicu alarm keamanan untuk berbunyi memanggil semua yang ada di dalam vila.


"Ada penyusup!" teriak seorang penjaga berbarengan dengan suara alarm yang terus meraung.


Anak buah Alexander tak membiarkan mereka para penjaga vila Greyson untuk menghalangi pemimpin mereka, dengan sigap mereka melepaskan tembakan untuk menumbangkan para penjaga.


Alexander yang sudah tidak sabar tidak berniat turun dari mobilnya, ia terus memacunya hingga mendobrak pintu masuk vila. Penjaga yang ada di depan pintu jatuh terpental karena ulah Alexander. Mobilnya baru berhenti setelah menghantam tangga.


Raut murka tergambar jelas diwajahnya ketika pria rupawan itu turun dari mobilnya. "Walker, keluar kau sekarang!" Teriakannya menggema keseluruh ruangan.

__ADS_1


Anak buah Greyson Walker berderap turun, saat itu juga Alexander tak membiarkan mereka sampai padanya. Desing peluru langsung menghadang mereka yang hendak turun.


Alexander melompati bagian depan mobilnya untuk bisa naik ke lantai atas. Dengan senjata yang sudah ia persiapkan, Alexander terus berusaha menumbangkan anak buah Greyson yang mencoba menghalanginya. Diikuti beberapa anak buahnya, Alexander menyisir setiap ruang yang ada di lantai dua.


"Tuan, Greyson ada di sini," teriak salah seorang anak buahnya yang berhasil menemukan Greyson Walker.


Alexander segera berlari menuju salah satu ruang di mana anak buahnya telah menemukan Greyson. Alexander masuk dan mendapati Greyson yang masih setengah telanjang ketakutan karena sebuah senjata laras panjang menempel di pelipisnya.


Alexander langsung menghajar Greyson tanpa ampun. "Katakan di mana Ivona?"


Greyson dengan wajah yang sudah babak belur, tak mampu lagi menjawab. Dalam hatinya ia sedang merutuki anak buahnya yang tidak memberitahunya jika ada serangan yang datang, terlebih saat anak buah Alexander mendobrak pintu saat ia sedang tidak siap. Bahkan berpakaian pun belum sempat, tapi ia langsung ditodong dengan senjata.


Kenapa ia bisa sial begini, baru beberapa saat yang lalu ia bersenang-senang dengan wanita muda yang membuatnya ketagihan, dan sekarang ia sudah harus menghadapi maut di depan mata. Wanita itu ... di mana dia sekarang. Kenapa tidak terlihat sama sekali, ia juga belum keluar dari kamar mandi.


Alexander tidak tahan melihat kebungkaman Greyson, ia pun memukul Greyson sekali lagi. "Katakan di mana Ivona!" sentaknya lebih keras.


Mata Alexander menangkap botol Whisky di atas meja, juga dua gelas piala di sana. Kemudian menilik penampilan Greyson yang tak biasa.


"Ada orang lain di kamar ini selain Walker. Cari dia!" titah Alexander.


Anak buahnya langsung bergegas. Mereka tak menemukan siapa pun bahkan di kamar mandi pun tidak ada.


"Tidak ada siapa pun, Tuan," lapor anak buahnya.


"Siapa yang bersamamu tadi?" Alexander mencengkeram leher Greyson.


"Ha-hanya se-seorang ja-ja lang," jawab pria tua itu terbata.


"Sekarang katakan di mana Ivona berada!"


Greyson belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan untuk Alexander.


"Alexander, kalau kau berani menyentuh Tuan Greyson aku akan menghabisi gadis ini sekarang juga," teriak seseorang dari luar.


Alexander yang mendengar langsung memerintahkan anak buahnya untuk menjaga Greyson. Semua anak buah Alexander menyingkir ketika melihat si pria botak menyandera Ivona.


Alexander yang marah melihat sebuah pistol menempel di kepala kekasihnya langsung berlari menghampiri.


"Berhenti atau kuledakkan kepala gadis ini!" ujar pria botak.


Seketika Alexander berhenti.


"Lepaskan Tuan Greyson!" suruh si botak.


Alexander memberi isyarat pada anak buahnya untuk melepaskan tua bangka itu. Dengan langkah tertatih Greyson Walker mendekati anak buahnya—yang tak lain adalah si botak.


"Buang senjata kalian!" titahnya lagi setelah merasa Greyson aman bersamanya.


Tak punya pilihan lain, Alexander yang sudah melupuhkan hampir semua anak buah Greyson harus menurut pada perintah pria botak demi Ivona. Ia pun membuang senjatanya ke arah pria botak.


"Ambil senjata mereka Tuan," ujar pria botak pada Greyson.

__ADS_1


Pria tua itu mengikuti instruksi orang kepercayaannya, ia memungut semua senjata yang dilemparkan oleh Alexander dan anak buahnya. Pria botak dan Greyson, membawa Ivona dengan langkah mundur keluar dari lantai dua tempat itu.


Langkahnya terhenti karena ada mobil Alexander di sana. "Tuan, kemudikan mobilnya."


Lagi-lagi Greyson yang sudah babak belur mengikuti apa kata anak buahnya itu. Ia berjalan lebih dulu untuk mengemudikan mobil Alexander.


Setelah memundurkan mobilnya, si pria botak membawa Ivona masuk dan segera mobil melaju.


"Kejar mereka!" teriak Alexander. Pria itu juga langsung lari mengejar Greyson dan anak buahnya yang kabur. Alexander tak melewatkan kesempatan untuk mengambil senjata yang tergeletak.


Melihat ada mobil di depan, Alexander langsung membawanya. Layaknya film action, mobil yang dikendarai oleh Greyson dan mobil Alexander saling berkejar-kejaran. Namun, kemampuan menyetir Greyson tidak bisa dibandingkan dengan Alexander, pria muda itu lebih lihai membawa kereta besi itu di jalanan.


Tak butuh waktu lama untuk Alexander menghadang laju mobil Greyson. Alexander keluar dari mobilnya dan berdiri di tengah lajunya mobil yang dikendarai Greyson.


"Tabrak saja, Tuan!" suruh si botak pada Greyson.


Pria tua itu tentu saja takut. Bagaimanapun nyawa taruhannya jika ia menabrak mobil Alexander di depannya. Tetapi ia juga tak ingin tertangkap Alexander karena akan sama saja, sama-sama kehilangan nyawa.


Melihat mobil yang tak henti melaju, Alexander langsung menembak ban mobil yang dikendarai Greyson. Mobil sempat oleng namun Greyson langsung menginjak pedal rem agar mobil tak terbalik. Alexander melepaskan satu lagi tembakan untuk memecahkan sisi lain dari ban mobil yang dikendarai Greyson.


Si pria botak tak bisa berbuat apa pun selain membawa Ivona keluar setelah mobil berhenti. "Kalau kau tak membiarkan kami pergi, aku akan menghabisi nyawa gadis ini!" ancam si botak.


Ivona yang masih dalam penyanderaan belum bisa banyak membantu karena dua tangannya terborgol ke belakang. Alexander tidak takut dengan ancaman si botak ia justru menembak satu kaki Greyson dan hal itu membuat Greyson memekik kesakitan.


"Tuan!" teriak pria botak.


Ivona tak membuang kesempatan, kepanikan pria botak ia manfaatkan untuk lari. Ivona menginjak kaki si pria botak dengan keras yang otomatis cengkeraman pria itu mengendur dan Ivona bisa lari pada Alexander. Sama halnya dengan Ivona, Alexander langung menembak tangan si botak saat pria itu mengarahkan senjatanya pada Ivona. Satu peluru berhasil bersarang di lengan si botak hingga senjatanya terjatuh.


Tak ingin lawannya kabur, Alexander kembali menghadiahi timah panas pada kedua kaki si pria botak juga Greyson. Mereka berdua memekik kesakitan bersamaan darah yang mengucur dari kedua kaki mereka.


Ivona berlari ke pelukan Alexander. "Kau tidak apa-apa?"


Ivona mengangguk.


Ivona yang masih berada dalam pelukan Alexander mendadak kaget saat mendengar Alexander kembali melepaskan tembakan. Saat ia menoleh, tubuh si pria botak sudah rubuh ke tanah. Alexander telah menembaknya saat pria itu kembali mencoba untuk menembak Ivona yang berada dalam pelukannya.


Melihat orang kepercayaannya mati di depan matanya, Greyson langsung memohon ampun. "Ja-jangan bunuh aku, aku tidak ingin mati," ujarnya ketakutan.


Alexander menatap Ivona, gadis itu menggeleng. "Jangan bunuh dia," lirih Ivona.


Melihat Ivona, Alexander urung menembak si tua Greyson. Ia justru menatap tangan Ivona yang masih terborgol. Di saat yang sama polisi berdatangan menuju lokasi Alexander dan Ivona.


Thomas juga ada dalam mobil polisi itu. Kakak ketiga Ivona itu langsung berlari dan memeluk Ivona. "Iv ... kau baik-baik saja, 'kan?"


"Maafkan aku yang datang terlambat," ujarnya penuh sesal.


Seorang petugas polisi datang menemui Alexander, dan membantu Ivona terlepas dari jerat borgol. "Maafkan keterlambatan kami, Tuan Alexander. Kami berjanji akan mengusut kasus ini dengan tuntas," ujar polisi tersebut.


Ivona melihat bagaimana polisi mengamankan Greyson, lalu beralih menatap Thomas yang mengajaknya berbicara.


"Ayo kita pulang, Iv," ajak Thomas.

__ADS_1


Ivona berganti menatap Alexander. "Aku ingin pulang bersamamu."


Thomas tersentak. Ivona menolak pulang dengannya.


__ADS_2