IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab. 127 Red Diamond


__ADS_3

Ivona terus saja memasang wajah cemberut. Mukanya tertekuk, bibirnya mencibir. Ia marah dengan Alexander dan tak ingin bicara pada pria itu. Sepanjang perjalanan Ivona tak mau sedikit pun menanggapi permintaan maaf Alexander.


Ia masih kesal dengan kejadian di resort tadi. Kejadian tentang aset berharga Alexander. Ivona sudah sangat takut terjadi sesuatu pada pria itu karena ketidaksengajaan yang ia lakukan. Bagaimana jika karena ulahnya, berakibat fatal bagi masa depan pria itu. Ivona tak bisa membayangkan nasib pria itu dan wanita di masa depannya jika benar aset berharga pria itu rusak.


Dengan wajah panik, gugup, dan memelas, Ivona terus meminta maaf, dan akan melakukan apa pun sebagai bentuk pertanggungjawaban seperti permintaan Alexander sendiri.


"A-apa yang harus aku lakukan?" tanya Ivona saat itu. Ia tidak tahan melihat Alexander yang terus meringis kesakitan.


"Kau masih bertanya apa yang harus kau lakukan?" sentak Alexander pada Ivona.


"Ma-maafakan aku, aku benar-benar tidak sengaja. Katakan saja apa yang harus aku lakukan?" karena panik Ivona jadi ikut berteriak juga.


Ivona memutar otaknya dengan cepat berpikir tentang cara meredakan sakit seperti yang Alexander rasakan saat ini. Lalu terlintas dalam benaknya tentang ide ini. "Kompres, apa kau mau aku mengambilkan kompres?" tanya Ivona.


Alexander kaget. "Kau mau mengompresnya untukku?"


Langsung saja Ivona menggeleng keras. Kalau yang ini tidak perlu berpikir. Ivona harus langsung menolak.


"Makanya, pikirkan cara lain untuk mengurangi sakitnya!" sentak Akexander lagi.


Ivona berpikir lagi. Harus bagaimana mengurangi rasa sakit di bagian itu jika terkena hantaman. Lama berpikir tapi tak menemukan solusi.


Masih tentang kompres, tapi kali ini Ivona bisa menemukan cara lain untuk mengompres. "Begini saja, aku akan menyiapkan air untukmu berendam, mungkin itu bisa mebgurangi rasa sakitmu." Tiba-tiba ide itu yang terlintas di otak Ivona.


Alexander memikirkan sejenak ide Ivona sebelum berkata, "Terserah kau saja!"

__ADS_1


Ivona segera berlari ke kamar mandi dan mengisi jacuzzi dengan air hangat untuk Alexander bisa berendam. Setelah Ivona masuk ke kamar mandi, Alexander terduduk dengan membekap mulutnya sendiri. Ia menahan tawanya yang ingin meledak. Ia berhasil mempermainkan Ivona.


"Kau memang paling menyenangkan untuk digoda," lirih Alexander sembari meregangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama tidur di atas sofa. Belum lagi tadi harus menjadi kasur bagi Ivona.


Tidak disangka jika Ivona akan kembali secepat itu dari kamar mandi dan melihatnya baik-baik saja. Ivona yang merasa sedang dikerjai oleh Alexander mendelik tajam pada pria itu. Ia menghampiri Alexander dan bertanya, "Kau berpura-pura?"


"Iv, aku akan jelaskan semuanya." Alexander takut juga melihat raut marah Ivona.


"Kau tahu betapa paniknya aku, tapi kau membuat ini jadi lelucon?" teriak Ivona tak terima.


"Iv, ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku hanya ingin bercanda saja denganmu."


"Bercanda katamu! Kau membuatku begitu panik dan takut tapi kau anggap ini bercanda? Kau keterlaluan!" Ivona berpaling. Ia ingin pergi dari dari pria menyebalkan ini.


Belum juga sampai langkahnya pada pintu keluar, Alexander sudah menangkapnya dari belakang. Lengan kekar pria itu melingkari tubuh Ivona dan menahanya. Ivona meronta, ia ingin menghindar dari pria yang telah membuatnya kesal ini. Tetapi rengkuhan Alexander begitu kuat, seakan tak ingin melepaskannya.


Merasa Ivona sudah tenang dalam rengkuhannya, Alexander berbisik, "Jangan pernah pergi dariku. Apa pun yang terjadi, kau harus tetap bersamaku. Kau harus ingat itu."


Kejadian sebelum pulang tadi memang membuat Ivona benar-benar marah. Bahkan setelah mendengar bisikan mesra Alexander, tak menyurutkan amarah Ivona. Ia masih belum bisa memaafkan pria menjengkelkan itu. Sebab itulah dari pada harus mendengar permintaan maaf Alexander yang tak ingin ia jawab, Ivona memilih untuk tidur saja. Ia biarkan Alexander mengemudi tanpa teman diskusi.


Mulai dari satu jam perjalanan tadi, sampai akhirnya tiba di vila milik Alexander di Victoria, Ivona terus saja tertidur. Alexander yang tidak tega membangunkan kekasihnya itu memilih untuk menggendong Ivona masuk ke kamar milik pria itu.


Setelah menidurkan Ivona dan menyelimutinya, Alexander duduk di tepi ranjang. Menatap Ivona yang tak terusik meski tadi digendongnya.


"Maafkan aku, Iv, aku tidak punya niat sama sekali membuatmu marah. Entah kenapa menggodamu seakan jadi kesenangan untukku." Alexander tersenyum menatap kekasihnya.

__ADS_1


"Jika kau tahu, bahwa selama ini aku selalu menghindar dari makhluk bernama wanita, itu karena aku hanya menunggumu. Kau gadis yang berbeda. Kau membuatku merasakan getar aneh dalam jantungku. Kau seakan memberi nyawa pada rasa yang disebut cinta." Alexander berbicara seolah sedang mendongeng untuk Ivona.


"Ya ... aku baru menyadari jika perasanku padamu adalah sebuah cinta meski aku tak pernah bisa menjelaskan kenapa aku jatuh cinta padamu." Alexander masih tersenyum, mengingat pertama kali ia menyadari jika perasaannya pada Ivona adalah cinta.


"Biarkan saja aku tak menemukan alasanku mencintaimu, karena bagiku, cinta tidak memerlukan alasan." Alexander kembali mengusap kepala Ivona dengan lembut.


Ia memindai ulang wajah Ivona. Mulai dari mata, hidung, hingga bibir ranum yang kemarin sempat ia cicipi untuk pertama kalinya. Tatapannya turun ke leher putih susu milik Ivona.


Mendadak fantasi liar dalam oraknya yang sudah lama tidak pernah ada muncul begitu saja. Alexander hanya bisa tersenyum sendiri dengan apa yang tergambar jelas dalam otaknya. "Aku berjanji akan menjadikanmu milikkku di kehidupan mana pun."


Pria itu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku jasnya. Sebuah benda ia ambil dari sana dan dipakaikan pada sang kekasih. Sebelum pergi, Alexander mengecup lembut kening Ivona.


"Tidurlah, kita bertemu lagi esok hari."


Ivona tidak menyadari semua yang Alexander lakukan karena gadis itu benar-benar terbuai oleh mimpi di alam bawah sadarnya. Ia baru kembali ke dunia ketika pagi sudah tiba. Matanya mengerjap, mencari tahu di mana ia saat ini.


Retina matanya belum bisa menangkap jelas bayangan tentang ruangan di mana ia berada, tapi indera penciumannya langsung bisa mengenali di mana ia saat ini dari aroma candu yang ia rasakan.


Ivona tersenyum. Pasti Alexander yang membawanya kemari, karena seingatnya ia tertidur di mobil sejak berangkat dan tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya hingga ia terbangun.


Ia pun bangkit dan merasakan sesuatu yang aneh menggantung di lehernya. Ivona meraba benda apa itu. Matanya melirik ke bawah di mana sebuah liontin berwarna merah tergantung indah di lehernya. Ivona berlari melihat cermin.


Senyum bahagia kembali terukir di bibirnya. "Apa aku harus memaafkanmu?" ujar Ivona dalam hati. Tangannya terus memegangi batu mulia berwarna merah itu.


"Baiklah, aku memaafkanmu, Tuan Alexander Alberic." gumamnya setelah memikirkan kebaikan pria itu.

__ADS_1


Ivona segera bergegas turun. Tak sabar ingin bertemu dengan Alexander dan mengatakan kalau dia sudah memaafkan pria itu, sekaligus mengucapkan terima kasih untuk hadiah indah yang Alexander berikan. Namun, semangat yang sebelumnya menggebu untuk segera bertemu Alexander hirap seketika saat ia melihat Alexander sedang duduk dengan seorang wanita.


__ADS_2