
Ivona menatap para pengawal yang menunggu jawaban darinya. Namun, ia enggan memberitahukan pada mereka tentang dirinya, "Apa itu menjadi hal yang penting untuk kalian ketahui?" Ivona justru melempar pertanyaan yang lain.
"Kami hanya ingin tahu namamu, kenapa tidak kau katakan saja!" ucap salah satu pengawal dengan menyentak.
Ivona yang sekarang bukanlah gadis yang suka dipaksa, apalagi oleh orang-orang semacam mereka. Suara pengawal yang menyentaknya membuat Ivona memilih untuk tidak menggubris pertanyaan pengawal itu, Ivona justru berniat pergi dari tempat yang sudah terasa membosankan. Kesenangannya sudah berakhir saat para pengawal itu datang.
Langkahnya hampir menjauh, saat Ivona melihat seorang pria tampan berdiri di depannya. Pria yang dulu menolongnya dari dua situasi berbeda adalah Pria yang sama dengan pria yang berdiri di hadapannya saat ini. Tatapan keduanya beradu, dan Ivona sedikit terhenyak saat mendapati pria yang juga tengah menatap ke arahnya. Aura dingin pria ini begitu dominan, membuat Ivona merasa pria yang ia temui di bar ini sepertinya bukanlah pria yang baik.
Tatapan dingin Alexander membuat Jonas yang melihatnya langsung merasa senang. Ia yakin jika Alexander datang untuk menolongnya. Namun, belum juga berucap, Jonas melihat perubahan ekspresi dari pria itu. Alexander tersenyum, kemudian berjalan ke hadapan Ivona. Pria serupa dewa itu membuat Ivona sedikit mundur dengan langkahnya yang mengikis jarak.
Alexander yang sudah berdiri tepat di hadapan Ivona langsung menyentil kening Ivona seolah menghukum gadis itu. Masih dengan senyum tipisnya, ia bertanya, "Bagaimana bisa kau datang ke sini?"
Semua orang yang mendengar pertanyaan Alexander yang tertuju pada Ivona merasa terkejut. Mereka tidak menyangka jika Alexander mengenal gadis ini, bahkan terlihat cukup akrab untuk seorang Alexander yang terkenal tak tersentuh wanita itu.
Melihat keakraban yang baru saja ditunjukkan Alexander, seketika tubuh teman-teman Jonas bergetar ketakutan, mereka takut jika Alexander tahu bahwa tadi mereka tadi berniat melecehkan dan ingin memukul gadis ini. Mereka saling tatap untuk berjanji tidak akan menceritakan apa yang baru saja mereka lakukan pada Ivona. Diam adalah pilihan bijak jika mereka masih ingin ada nyawa di tubuh mereka.
__ADS_1
"Aku sudah berusia sembilan belas tahun, jadi aku berhak pergi ke mana pun aku mau," elak Ivona, yang disambut kekehan dari Alexander.
"Begitu, ya?" goda Alexander. "Lalu mereka?" Alexander menyapukan pandangannya ke sekeliling Ivona, di mana ada Jonas dan teman-temannya yang masih nampak ketakutan.
Tatapan dingin Alexander, membuat Jonas tergeragap ketakutan. Ia berusaha menyembunyikan kesalahan yang baru saja ia lakukan. Alexander membuatnya seolah tertangkap basah sedang berbuat dosa.
"Tunggu sebentar, ada sesuatu yang perlu aku urus," ucap Alexander pada Ivona.
Alexander memerintahkan anak buahnya untuk membawa Jonas dan kawan-kawannya masuk ke dalam private room. Layaknya titah raja, para pria berseragam serba hitam itu menjalankan perintah tanpa bantahan. Jonas dan teman-temannya digiring masuk ke private room.
"Tunggulah di sini, aku akan segera kembali." Begitulah pesan Alexander sebelum meninggalkan Ivona sendirian sebuah ruangan yang disebut private room.
Alexander pergi ke ruang pribadi di mana anak buahnya membawa Jonas dan teman-temannya.
Di ruangan itu, Jonas tidak menyangka jika gadis yang menjadi mantan korban kenakalannya memiliki suatu hubungan dengan Alexander.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pintu ruang privat terbuka, Alexander berjalan ke hadapan Jonas. Di sebuah sofa Alexander duduk dengan keangkuhannya yang tak terbantahkan. Ia datang dengan raut murka tergambar jelas di wajahnya. Tanpa berucap pun sorot mata Alexander sudah bisa berbicara dengan jelas jika ia akan menghabisi siapa pun yang berani mengusik Ivona.
Aura kemarahan Alexander membuat Jonas berlutut di hadapan pria dingin itu dengan ketakutan. Ia memohon pengampunan atas khilaf yang baru saja ia buat. Mengusik orang terdekat Alexander adalah kesalahan besar. "Ma-maafkan saya, Tuan, saya tidak tahu jika gadis itu adalah kekasih Anda," ucap Jonas dengan bibir bergetar. Ada alasan kenapa Jonas menyebut Ivona sebagai kekasih Alexander, tentu saja karena sikap manis yang ditunjukkan Alexander pada gadis itu. Untuk pertama kalinya ia melihat sikap Alexander tidak seperti apa yang sering orang bicarakan.
"Saya janji tidak akan lagi menyentuh orang-orang di sekitar Anda," jelasnya untuk menarik pengampunan dari Alexander.
Alexander mendengarkan penjelasan Jonas, sembari menikmati sebatang rokok yang baru ia ambil dari saku jasnya.
"Saya mohon, Tuan, ampuni saya," pinta Jonas dengan kepala tertunduk.
Seolah tidak peduli dengan penjelasan Jonas, Alexander hanya mengangkat tangannya, mengetukkan jarinya ke rokok untuk membuang abu rokok. Ia menjadikan kepala Jonas sebagai asbak, kemudian kembali menyesap nikotin di jarinya.
"Tolong lepaskan saya, Tuan. Bukankah Anda mengenal baik ayah saya. Demi hubungan pertemanan dengan ayah saya, saya mohon lepaskan saya," mohonnya lagi.
Jonas yang masih tertunduk, tiba-tiba memekik kesakitan. "Aarggghh ...." Suara kesakitan itu memenuhi privat room saat ia merasakan pundaknya terasa panas terbakar.
__ADS_1
Alexander dengan sengaja mematikan rokok di atas pundak pemuda itu.