
Menyadari sikap guru lesnya yang mendadak berubah, Ivona segera mencari tahu. Saat Ivona ingin menoleh dan melihat ada apa, guru les itu memanggilnya, "Ivona, kau harus memperhatikan aku saat aku sedang bicara."
"Lihat aku!" ucap wanita itu dengan suara yang ditekan, dan sorot mata mengintimidasi agar Ivona mengikuti apa yang ia katakan.
Ivona semakin curiga dengan sorot mata arogan dari wanita itu.
"Ayo kita mulai lagi," ajak wanita itu. Kemudian kembali menerangkan soal-soal yang tadi diajarkan pada Ivona. Kali ini nada suaranya lebih lembut seakan dibuat-buat.
Ketika wanita itu menjelaskan materinya, diam-diam Ivona mencuri pandang ke arah pintu masuk. Ia melihat Alexander berdiri di sana memperhatikan kegiatannya yang sedang belajar.
Ivona tersenyum menyeringai. Ia tahu sekarang, apa yang menyebabkan guru lesnya ini mendadak berubah jadi peri baik hati, padahal sebelumnya bersikap bak penyihir. Alexander adalah alasannya. Ini saatnya membuat wanita ini benar-benar pergi dari hidupnya.
"Boleh aku bertanya?" Ivona mengangkat tangannya untuk mendapat perhatian dari wanita itu.
"Ya?" Wanita itu sedikit kaget. Ivona yang sedari tadi membuatnya marah kini bersikap kooperatif. Meski dalam hatinya ia meremehkan apa yang akan Ivona tanyakan. Mengingat gadis bodoh ini tak paham-paham saat ia menjelaskan, pasti pertanyaannya pun masih seputar hal yang sama. Ini kesempatannya untuk semakin menampilkan citra dirinya.
"Aku belum paham dengan soal yang ini." Ivona menunjuk satu soal yang Ivona yakini guru les ini akan menemui kesulitan menjawabnya. Ia sengaja melakukannya, karena berharap Alexander segera memecat wanita itu.
"Apa?" pekik wanita itu. Heran, kenapa tiba-tiba Ivona bertanya tentang soal yang di luar materi yang mereka pelajari hari ini.
"Kenapa, apa aku tidak boleh bertanya padamu, gu-ru." Ivona sengaja menekankan kata guru untuk membuat wanita itu tidak bisa mengelak keinginannya untuk menjawab soal yang ia ajukan.
"Te-tentu saja boleh." Wanita itu melirik Alexander. Bagaimana ia akan menolak pertanyaan Ivona di depan Alexander.
"Begini ...." Wanita itu menjelaskan jawaban dari pertanyaan Ivona. Saking gugupnya menjawab ia sampai salah berucap. Wanita itu kaget, saat menyadari dirinya yang salah dalam menjawab soal, ia kembali melirik Alexander yang tengah menatapnya. "Ah ... sial! kenapa bisa begini!" rutuknya dalam hati.
"Semoga saja tidak ada yang menyadari kesalahannya," batinnya memohon.
Wanita itu baru saja akan melanjutkan menjelaskan apa yang Ivona tanyakan, tapi suara Alexander menghentikannya. "Jawabanmu sebelumnya salah, bagaimana bisa kau melanjutkan soal berikutnya sementara soal sebelumnya belum benar."
Wanita itu langsung menutup matanya. Memaki dirinya yang telah ceroboh dalam menjawab soal. Ia sadar ia salah, tapi tidak mau memberikan jawaban yang benar karena ia yakin tidak akan ada yang menyadarinya. Namun ia salah, Alexander rupanya begitu teliti.
Ivona kontan menoleh mendengar suara Alexander.
"Maafkan saya, Tuan. Saya akan memperbaiki kesalahan saya. Saya akan kembali mengajarkan jawaban yang benar pada Nona Ivona." Wanita itu berharap masih ada kesempatan untuknya. Ia belum ingin berhenti dari pekerjaan ini.
__ADS_1
Alexander membawa langkahnya mendekat, ia mengambil rokok dari saku jasnya dan duduk di sofa dengan perlahan. Kakinya menyilang dengan elegan. Tatapannya begitu sempurna untuk membunuh lawan di depannya.
"Ivona, pergilah ke kamarmu!" suruh Alexander.
Sesuai perintah, Ivona segera mengemasi bukunya dan pergi dari sana. Meninggalkan Alexander bersama dengan guru lesnya.
Alexander menyulut rokok di jarinya, lalu menghisap aroma tembakau itu melalui mulutnya. Dari sana, Alexander mengepulkan asap tembakau itu keluar. Sorot matanya berubah dingin, begitu juga dengan aura di sekitar pria itu.
Wanita itu masih tetap diam menatap Alexander yang tak kunjung bicara. Suasana semakin menyeramkan saat Alexander menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Pergilah, aku tidak membutuhkanmu lagi di sini."
Ucapan Alexander langsung memutus segala rencana yang telah wanita itu susun sebelumnya. "Tu-tuan, saya bisa menjelaskan semuanya. Tolong berikan saya kesempatan sekali lagi. Saya janji saya akan melakukan pekerjaan saya dengan lebih baik. Saya tidak akan mengulangi kesalahan seperti tadi. Saya Mohon, Tuan."
"Aku bilang pergi!" Sentak Alexander.
"Tuan, saya mohon, berikan saya kesempatan lagi," mohon wanita itu. Ia benar-benar tidak rela jika harus berakhir hari ini juga.
"Pergi atau aku akan meminta penjaga untuk menyeretmu!"
"Rico!"
"Ya, Tuan."
"Singkirkan wanita ini!"
"Ya, Tuan," jawab Rico berat.
"Tuan, saya mohon. Saya bisa bekerja lebih baik." Wanita itu masih berusaha membuat Alexander berubah pikiran.
Asisten Rico memegang lengan wanita itu, dan menatapnya seolah memberitahu jika ia harus menyerah. Alexander tidak akan merubah keputusannya.
"Pergilah," ucap Rico pelan, seolah membujuk. Wanita itu akhirnya menyerah, ia gagal membujuk Alexander.
"Apa kau yang memilihnya?" tanya Alexander setelah wanita itu pergi.
__ADS_1
Rico menunduk. "Maafkan saya, Tuan. Saya telah salah memilih orang."
Alexander mematikan rokoknya setelah mendengar pengakuan dan penyesalan dari asistennya. Ia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Rico ke lantai atas.
Di kamarnya di lantai dua, Ivona menahan dagunya dengan satu telapak tangannya,dan satu tangannya lagi memegang pulpen yang ia gigit ujungnya. Gadis itu nampak serius mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Alexander mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa menunggu si pemilik kamar mengijinkannya. Pria itu langsung mengambil satu bangku untuk bisa duduk di sebelah Ivona.
Meski baru pulang dari kantor dan belum sempat membersihkan diri, ketampanan pria itu masih tetap sempurna. Aroma tubuhnya pun masih bisa menjadi candu bagi Ivona. Seakan peluh tak mengurangi sedikit pun kadar ketampanan dari pria di sampingnya ini.
Ivona menyadari kehadiran Alexander di sampingnya. Masih dengan menopang dagu dan pulpen yang tergigit di antara bibirnya, gadis itu menatap Alexander.
"Apa ada kesulitan?" tanya Alexander.
Bukannya menjawab Ivona justru lebih lekat menatap pria itu. Memperhatikan dengan seksama wajah tampan seorang Alexander. Pria ini adalah bukti kuasa Sang Pencipta, yang telah mengukir ketampanan tiada cela pada makhluknya.
Pantas saja, semua wanita tergoda ingin memilikinya. Mendekatinya dan menjadi bagian dari seorang Alexander Alberic, karena sungguh, tidak akan ada kaum hawa yang mampu menolak pesona Alexander. Termasuk guru lesnya tadi.
"Hei ... apa yang kau pikirkan?" Alexander menjentikkan jarinya di depan wajah Ivona. Mengembalikan pikiran gadis itu dari melanglang buana.
"Eh ... iya, ada apa?" tanya Ivona tersentak.
"Apa ada yang sulit?"
"Apanya?" tanya Ivona bingung.
Alexander lebih bingung, gadis ini belum sadar rupanya.
"Apa kau menemui kesulitan dalam mengerjakan tugasmu?" jelas Alexander.
"Aku akan mencarikan guru les privat baru untukmu, agar ada yang membantumu mengerjakan pekerjaan rumahmu," sambungnya saat Ivona masih terdiam.
"Kau ingin guru les yang seperti apa, katakan saja. Aku akan mencari guru les seperti yang kamu sukai."
Spontan Ivona menjawab, " Aku suka yang sepertimu."
__ADS_1
Alexander sedikit tidak mengerti dengan jawaban Ivona.