IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.100 Memukau


__ADS_3

Ivona menatap ragu pada Caroline, tapi sang artis tidak peduli dengan keraguan Ivona. Ia justru membawa Ivona naik ke atas panggung dan mendudukkannya di depan piano.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ivona tanpa suara, yang ditanggapi Caroline dengan senyuman menenangkan.


"Hadirin sekalian, aku akan mempersembahkan sebuah lagu yang aku yakin belum pernah kalian dengar sama sekali, dan aku memilih Ivona sebagai pianis yang akan mengiringiku," ujar Caroline bersemangat. Ia melirik Ivona sekilas.


Semua tamu undangan memandang remeh Ivona, pasalnya mereka baru kali ini melihat gadis itu. Penampilannya tadi ketika datang memang memesona bahkan mengalahkan Vaya, tapi apakah ia mampu bermain musik sebaik Vaya.


Di tempat duduknya, Vaya yang awalnya kesal karena Caroline memilih Ivona, sekarang sudah bisa menerima kenyataan. Setelah ia pikir-pikir ini adalah kesempatan baik untuk membuat Ivona dipermalukan di hadapan semua orang dan juga keluarga Iswara. Kini ia bisa tersenyum menang, duduk santai menikmati hiburan yang akan ditunjukkan Ivona. Pasti sangat seru mendengar cemoohan dan cibiran dari orang-orang kepada Ivona.


Ia juga sudah bisa membayangkan betapa malunya keluarga Iswara nanti jika melihat kemampuan bermusik Ivona. Vaya tersenyum dalam hati, dan mengucapkan terima kasih pada Caroline Wilson karena telah memilih Ivona. Mungkin kali ini takdir berpihak padanya. Ia diberikan kesepakatan untuk melihat rivalnya semakin terpuruk dalam hinaan.


"Sebelumnya aku ingin kalian semua bertepuk tangan untukku, kalian tahu bukan kalau aku sangat suka penghargaan dan pujian," ujar Caroline berkelakar.


Suara gemuruh tepukan pun menggema di ballroom yang disewa khusus untuk acara ulang tahun ini.


"Terima kasih," ujar Caroline setelah mendapatkan tepuk tangan yang ia inginkan. "Sekarang berikan penghargaan juga untuk Pianisku!" seru Caroline.


Para hadirin terdiam, mereka benar-benar ragu untuk sekadar memberikan sebuah penghargaan dalam bentuk tepuk tangan.


"Halo, apa kalian masih hidup?" kelakar Caroline lagi. "Aku hanya meminta kalian bertepuk tangan, bukan menyuruh kalian untuk minum racun," imbuhnya masih dengan nada gurauan.


"Oh ... ayolah, jangan terlalu pelit. Kalian semua bahkan tidak kehilangan satu sen pun untuk bertepuk tangan."


Para tamu justru saling tatap satu sama lain. Mereka sungguh ragu untuk memberikan tepuk tangan untuk Ivona.


Pria yang duduk di bar menjadi orang pertama yang memberikan tepuk tangannya. Sontak ia menjadi perhatian semua orang.

__ADS_1


Dari atas panggung Caroline berseru, "Ya ... begitu." Sembari memperagakan tepuk tangan yang ia inginkan.


Thomas dan Tommy menjadi orang berikutnya yang memberikan tepuk tangan. Kemudian disusul beberapa orang selanjutnya hingga seluruh tamu di ballroom memberikan tepuk tangannya pada Ivona, kecuali Vaya dan juga Tuan dan Nyonya Iswara.


Vaya menjadi kesal karena melihat para tamu yang memberikan tepuk tangan untuk Ivona. Ia menatap Nyonya Iswara, memperlihatkan kekesalannya. "Tenanglah, tidak ada yang bisa bermain piano sebaik dirimu. Apa lagi Ivona, dia bahkan belum pernah menyentuh alat musik itu walau sekali pun," ujar Nyonya Iswara menenangkan.


Suara gemuruh tepuk tangan perlahan berhenti, berganti alunan merdu dari tuts-tuts piano yang ditekan oleh jari jemari Ivona. Suara merdu Caroline langsung menyambutnya dan melantunkan bait demi bait lagu yang begitu indah. Benar ucap Caroline tadi, mereka belum pernah mendengar lagu seindah ini.


Banyak yang tidak percaya, gadis yang sebelumnya mereka remehkan justru adalah gadis yang luar biasa dalam membuai telinga mereka. Seolah dimanjakan oleh alunan surgawi, mereka begitu terpukau oleh permainan musik dari Ivona.


Vaya, Tuan dan Nyonya Iswara, juga Tommy dan Thomas, mereka sampai terperangah mendengarkan indahnya permainan Ivona. Satu keluarga itu saling tatap seolah bertanya dari mana Ivona mempelajari semua permainan pianonya ini.


Vaya yang merupakan pecinta piano bahkan terheran-heran karena Ivona menggunakan teknik bermain piano yang begitu sulit dipelajari. Ia sendiri bahkan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa mempelajarinya dulu. "Apakah Ivona diam-diam memperhatikan dirinya saat berlatih, kemudian mencuri ilmunya?" Vaya berpikiran buruk dan kotor tentang Ivona.


Tepuk tangan kembali bergemuruh dari semua tamu undangan ketika musik yang Ivona mainkan berhenti. Bedanya kali ini, mereka memberikan tepuk tangan dengan suka rela tanpa diminta lagi oleh Caroline. Mereka semua memandang takjub pada permainan piano Ivona.


"Lagi ... lagi ... lagi." Mereka berteriak bagaikan sedang menonton konser musik saja.


Vaya menatap ke sekelilingnya, melihat antusias tamu undangan akan permainan piano Ivona. Bahkan Tuan dan Nyonya Iswara yang awalnya menatap remeh pada Ivona kini bisa menyunggingkan senyum melihat euforia tamu undangan. Terbesit rasa bangga pada putri yang tak pernah mereka anggap, Ivona membuatnya tercengang akan bakatnya yang tak terlihat.


"Mama," panggil Vaya dengan suara rendah.


Nyonya Iswara menoleh pada Vaya yang terlihat tidak suka. "A-ada apa, Sayang?" Nyonya Iswara sampai gugup, takut ketahuan Vaya jika ia pun menikmati permainan musik Ivona.


"Apa Mama juga mulai mengagumi Ivona?"


"Bu-bukan begitu, Sayang. Mama tetaplah penggemar beratmu, fans sejatimu. Kau akan selalu jadi idola Mama dalam bermain piano, Vaya." Nyonya Iswara berusaha menghibur Vaya.

__ADS_1


Vaya sedikit lega mendengarnya meski ia tidak yakin sepenuhnya akan ucapan Nyonya Iswara. Tidak ingin melihat kenyataan jika hari ini banyak sekali orang yang memuji dan mengagumi Ivona, Vaya lebih memilih menghindar.


"Aku ke toilet dulu," pamitnya pada Nyonya Iswara.


Wanita yang tak lagi muda itu, hanya mengangguk mengiyakan. Setelah kepergian Vaya, Ibu kandung Ivona itu kembali menikmati alunan merdu yang dihasilkan oleh jari-jari Ivona. Sedikit bebas karena Vaya tidak ada di sampingnya.


Vaya yang belum terlalu jauh dari tempat duduk keluarganya menyempatkan diri untuk menoleh dan melihat dari jauh mereka semua. Ia sangat marah mendapati Nyonya dan Tuan Iswara yang terlihat hanyut dalam alunan merdu permainan musik Ivona. Ia menghentakkan kakinya karena kesal.


"Dasar Munafik!" umpatnya pada dua orang yang telah membesarkannya itu.


Vaya segera menjauh dari tempat yang membuat emosinya semakin ingin meledak. Kalau bukan karena harus menjaga image, pastilah Vaya sudah mengamuk dan menghancurkan tempat ini, mengumpat orang-orang yang menurutnya munafik, bermuka dua, berkepala ular.


Sampai di dekat toilet, Vaya mengambil ponselnya. Ia menekan angka-angka yang akan menghubungkannya pada seseorang yang ia yakini akan mendukungnya dengan tulus, dan tidak akan pernah berkhianat padanya. Yang pastinya juga, orang ini bukan orang munafik seperti orang-orang yang ada di dalam sana.


"Angkat!" geram Vaya karena panggilannya tidak segera terhubung. Ia mencoba kembali menelepon orang itu, dan gagal. Barulah pada panggilan ketiga sambungan teleponnya bisa terhubung.


"Halo, kau ke mana saja. Aku meneleponmu dari tadi," cerocos Vaya dengan tidak sabar.


"Maafkan aku, Vaya, aku sedang sibuk."


"Ah ... sudahlah, aku tidak ingin mendengar alasanmu. Aku ingin kau membantuku!" sentak Vaya.


"Bantuan?" tanya orang diseberang telepon.


"Ya ... bantu, aku ingin memberikan pelajaran bagi keluarga Iswara!" jawab Vaya tegas.


"Apa?" tanya orang di ujung telepon tak percaya.

__ADS_1


Vaya mungkin sudah gila dengan pemikirannya.


__ADS_2