IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.61 Bingkai Kenangan


__ADS_3

"Kau, sebagai kepala rumah tangga, kenapa kau membiarkan ini terjadi. Kenapa ada perlakuan tidak adil untuk cucu kandungku?" Kakek menunjuk Tuan Iswara.


"Maafkan aku, Ayah, tapi semua tidak seburuk yang Ayah sangka. Kami punya alasan untuk memberikan uang jajan yang berbeda antara Vaya dan Ivona," jawab Tuan Iswara membela diri.


"Apa tujuanmu membedakan di antara keduanya, kenapa kau dan istrimu tidak bisa menerima kehadiran putri kalian sendiri. Kalian bahkan tidak perhatian pada Ivona," sentak Tuan Besar Iswara.


Nyonya Iswara masih terus menunduk, sementara Tuan Iswara mencoba menjelaskan maksud ucapannya sebelumnya. "Ayah, Vaya dan Ivona awalnya sekolah di tempat yang berbeda. Tentu saja mereka memiliki kebutuhan yang berbeda pula. Vaya yang bersekolah di G-school pastilah punya kebutuhan yang lebih banyak dibandingkan Ivona yang bersekolah di sekolah menengah biasa."


Tuan Iswara sedang membicarakan level sekolah Vaya dan Ivona sebelumnya, di mana Vaya bersekolah di sekolah elite dan Ivona di sekolah biasa.


"Dan sekarang saat mereka sudah sama-sama bersekolah di G-school kau dan istrimu tidak merubah semuanya?" tanya Kakek dengan emosi yang masih tinggi.


Mendengar pertengkaran yang Ivona tidak yakin akan cepat selesai. Ia pun akhirnya menyela, "Kakek, sudahlah, tidak usah memikirkan berapa uang saku yang aku dapat. Aku juga tidak ingin mempermasalahkannya."


Tuan Iswara dan Kakek langsung menatap Ivona, begitu pun Nyonya Iswara yang sedari menunduk kini berani mengangkat pandangannya pada Ivona.


"Tidak bisa begitu, kau adalah cucuku, cucu kandungku. Kau yang lebih berhak mendapatkan semua perlakuan istimewa, bukan Vaya," ucap Kakek.


Vaya tercengang dengan apa yang baru saja ia dengar, Kakek baru saja mengatakan jika dirinya tidak pantas menerima perlakuan istimewa dari keluarga Iswara.


"Tidak apa, Kek. Bagiku semua itu tidak masalah, karena yang terpenting sekarang adalah kesehatan Kakek. Kakek harus tetap sehat dengan menjaga emosi Kakek." Ivona mengulas senyum di bibirnya.


"Oh ... ya, aku punya sesuatu untuk Kakek." Ivona mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, dan menunjukkannya pada Kakek.


"Ini untuk Kakek, mungkin hadiah ini bukan termasuk kesukaan Kakek, bukan pula sesuatu yang mahal, tapi aku membuatnya sendiri dengan tanganku," ucap Ivona saat menyerahkan sebuah kotak pada Tuan Besar Iswara.


Kakek menerima hadiah itu dengan bahagia. Ia menatap haru pada Ivona. "Terima kasih, cucuku," ucap Kakek.


"Boleh aku membukanya?" tanya Kakek.


Ivona mengangguk. "Tentu saja."

__ADS_1


Kakek tidak sabar melihat apa isi dari kotak yang diberikan Ivona, begitu juga semua yang ada di meja makan merasa penasaran ingin tahu hadiah seperti apa yang diberikan Ivona pada kakek. Kakek membuka perlahan kotak yang diberikan Ivona, ia langsung terperangah melihat isi dari kotak itu. Air mata luruh begitu saja dari mata tuanya.


Semua yang menatap kaget, terkejut sekaligus ingin tahu apa yang diberikan Ivona hingga Tuan Besar Iswara menitihkan air mata.


"Kemarilah." Kakek membuka tangannya lebar ingin memeluk Ivona.


Dengan senang hati Ivona beranjak dan memeluk sang kakek penuh sayang. "Kau cucuku, kau adalah cucuku," lirih Kakek, yang semakin membuat semua orang yang menyaksikan bingung.


Ivona menguraikan pelukan itu, "Aku akan selalu jadi cucumu, Kakek," jawab Ivona dengan seulas senyum.


"Apa Kakek suka?" tanya Ivona.


"Sangat suka." Kakek kembali menitihkan air mata, tidak tahan melihat hadiah yang diberikan oleh Ivona. Hal yang sudah lama terlupakan oleh keluarganya kini Ivona mengembalikannya lagi. Temannya, kekasihnya, cinta sejatinya, kini ia bisa mendekap kembali semua itu meski dalam bingkai kenangan.


"Berbahagialah, Kakek. Aku yakin Nenek juga menginginkan hal yang sama untukmu, tetaplah sehat agar Kakek bisa terus menjaga keluarga ini dalam kedamaian," ucap Ivona.


Tuan Besar Iswara semakin menangis deras, dengan ucapan Ivona. Tidak pernah ada yang tahu pesan mendiang istrinya kecuali dirinya. Di akhir hidup sang istri, ia pernah berpesan, persis seperti apa yang Ivona ucapakan.


"Aku bahagia Ivona, aku bahagia. Terima kasih untuk hadiahmu, aku akan selalu menjaganya," ucap Kakek berusaha tegar.


Ivona mengambil kembali hadiah dalam dekapan Kakek. "Minumlah, teh chamomile ini akan membuat Kakek lebih tenang." Ivona mengulurkan teh yang ia ambil di atas meja.


Semua menatap heran pada Tuan Besar Iswara, juga hadiah yang kembali diambil dan didekap orang tua itu. Ivona memberikan hadiah berupa foto Tuan dan Nyonya Besar Iswara yang terbingkai indah, bingkai yang ia buat sendiri.


Tuan Iswara bahkan sempat terkejut melihat potret ibunya. Sudah lama sekali sejak ibunya tiada, ia tidak pernah menyebut atau bahkan mengungkit soal ibunya. Kini Ivona seolah mengingatkan kembali kenangan bersama saat ibunya masih ada.


Thomas dan Nyonya Iswara juga sama terkejutnya mengetahui hadiah yang diberikan Ivona. Hanya Vaya yang terlihat kesal setelah mengetahui hadiah Ivona.


"Kakek, tidakkah hadiah yang kuberikan jauh lebih bagus. Aku memesannya langsung dari luar negeri sesuai kesukaan Kakek, harganya pun tidak murah. Sangat jauh berbeda dengan bingkai dan foto usang yang diberikan oleh Ivona," sela Vaya.


Kakek langsung menatap tajam Vaya. "Lancang, kau!" pekik Kakek.

__ADS_1


"Kakek, aku hanya ingin Kakek tahu jika hadiah yang kuberikan jauh lebih berharga dari hadiah yang diberikan Ivona. Aku menghabiskan ratusan ribu dolar untuk membelinya, sementara Ivona hanya menggunakan kayu bekas untuk membuatnya," Vaya mencoba menjelaskan.


"Diam, kau!" hardik Kakek, yang membuat tubuh Vaya seketika gemetar mendengarnya.


Semua juga ikut kaget melihat kemarahan Tuan Besar Iswara tersebut.


"Kakek, tenanglah." Ivona mencoba menenangkan Kakeknya. "Tidak baik untuk kesehatan Kakek jika menuruti emosi."


Kakek, mulai mengatur napasnya agar kembali stabil. Apa yang dikatakan Ivona benar. Tidak seharusnya ia memperturutkan emosinya yang akan berimbas pada kesehatannya.


Vaya yang sempat gemetar karena kemarahan Kakek, kini menatap marah pada Ivona yang berada di sisi Kakek. Dulu ia merasa dirinya akan menjadi nona besar satu-satunya di Keluarga Iswara jika tidak ada Ivona. Kakek Iswara juga tidak akan bersikap begini padanya.


"Maafkan aku, Kakek," ucap Vaya. Tidak mengapa jika kali ini ia harus mengaku salah asalkan sikap Kakek bisa berubah terhadapnya.


"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, maafkan atas kelancanganku," ucap Vaya memohon. Vaya terus berusaha agar disukai Kakek Iswara.


Kakek masih enggan menatap Vaya karena ucapan anak itu tadi, yang mengatakan foto mendiang istrinya adalah foto usang.


"Kek, Vaya sudah meminta maaf. Maafkan dia, dengan memaafkan akan mengurangi beban di hati Kakek," ucap Ivona.


Ivona sedang memainkan perannya menjadi gadis yang baik, kalau Vaya bisa menipu semua orang aktingnya yang licik, ia bahkan lebih ahli memanipulasi emosi seseorang. Ivona menyeringai pada Vaya yang nampak merasa bersalah. Vaya, Tuan dan Nyonya Iswara sangat kesal melihat sikap Ivona.


Mereka sempat menangkap kilatan seringai di bibir Ivona yang seolah-olah telah mengejek mereka.


"Benar apa kata Ivona, Kek. Maafkan saja Vaya, kalau nanti dia masih berani bersikap lancang baru Kakek boleh memberinya pelajaran," timpal Thomas.


Kakek belum mengambil keputusan untuk Vaya, saat seorang pelayan datang dan memberitahukan jika ada tamu yang mencari Tuan Iswara. "Permisi Tuan, ada dua orang tamu yang ingin bertemu dengan Tuan Iswara," ucap pelayan itu.


"Suruh mereka masuk," jawab Tuan Iswara.


Tidak lama, dua orang tamu itu masuk. Semua orang melihat dua pria muda yang berjalan ke arah mereka, tapi pandangan mereka terpusat pada pria yang memiliki paras rupawan dibandingkan yang lainnya. Terutama Ivona, ia sampai tercengang melihat siapa yang datang sebagai tamu ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2